
"Nah Undine, sebenarnya kenapa kamu begitu terobsesi dengan ledakan?"
Sementara Risela membuka jalan di depan, Anna bertanya demikian.
"Saat kecil ibuku bilang bahwa ledakan bisa menyelesaikan masalah. Ketika ayah dan ibuku bertengkar, ibuku meledakan rumah kami hingga sejak itu mereka tak bertengkar lagi."
Wajah Risela maupun Anna tampak pucat dan sama-sama berkata di dalam hatinya di waktu bersamaan.
"Aku kasihan pada ayahnya."
Anna mulai menunjukkan jalan yang tepat sesuai penglihatannya dari udara, ketika mereka sampai Undine telah bersiap merapal mantra.
"Aku sudah siap."
"Lakukan."
Booom.
Ledakan luar biasa terjadi jauh dari ketiganya, belalang yang bahkan tidak menyadari serangan tersebut hanya harus menerima kematiannya dalam sekejap.
"Aku akan memberikan nilai 10 untuk ledakan barusan."
"Kurasa aku juga," tambah Anna, namun sejujurnya mereka telah menghancurkan setengah dari hutannya hanya menunggu waktu sampai dewan guild mendatangi mereka untuk meminta pertanggung jawaban.
Sementara ketiga anggota itu tertawa senang, tubuh Souma langsung menggigil.
Dia sedang menjaga toko sendirian dengan pelanggan yang telah mengantri sejak pagi.
"Aku merasakan firasat buruk."
"Kau baik-baik saja Souma?" tanya salah satu pelanggannya.
"Mungkin aku terkena demam."
"Dewa Alchemist bisa demam juga."
"Yah... aku ini hanya manusia biasa, punya harta punya hati jangan samakan dengan pisau belati."
"Malah nyanyi kah?"
"Terima kasih pembeliannya, selanjutnya."
Anna, Risela dan Undine turun untuk memeriksa kawah bekas ledakan mereka, tidak ada sedikitpun bekas yang ditinggalkan bahkan sedikitpun potongan dari makhluk yang mereka lawan sama sekali tidak tersisa. Ketika mereka merasa lega dari kejauhan asap debu tampak naik ke udara.
Pepohonan yang berdiri tegak mulai berjatuhan oleh sesuatu yang tidak bisa mereka percayai yaitu seekor gurita raksasa yang berjalan layaknya seperti sebuah kereta api.
Ia hanya mengenakan celana boxer serta kemeja lengkap dengan dasi di balik jasnya.
"Haha siapa yang berani menghancurkan anak-anakku, kalian tak sayang nyawa kah.. saat aku turun tangan maka kalian tidak akan mendapatkan kesempatan."
Risela berkata di waktu yang sama.
"Lihat Anna, Undine sudah kukatakan dia memiliki gurita.. bayangkan pelecehan seperti apa yang akan kita alami."
"Oi, dengerin kalau gue sedang ngomong.. sampai di mana tadi."
Anna mendesah pelan sementara Undine menatap dengan pandangan menilai hingga pria di atas gurita itu bertanya dengan pipi memerah.
"Kenapa dia? Sejak tadi dia menatap ke arahku, apa dia jatuh cinta padaku."
"Tidak, aku cuma berfikir apa daging gurita sangat enak."
Mungkin karena mengerti apa yang dikatakan Undine, gurita itu tampak memerah, asap hitam muncul dari mulutnya.
"Jadi kau tidak jatuh cinta padaku, jadi cewek jangan PHP.. aku ini punya hati yang rapuh."
"Maafkan mereka berdua, tolong pengenalannya dipersingkat saja," atas pernyataan Anna pria itu mulai menjelaskan setelah berdeham sekali.
"Pokoknya biar aku perkenalkan, namaku Ban Aspal ilmuwan jenius yang bisa membesarkan hewan apapun melalui percobaannya."
"Anna bagaimana ini?" potong Risela.
"Gue sedang ngomong dengerin napa, terserahlah... Tako, serang mereka."
"Gaaaaah."
Dalam bahasa manusia itu artinya oke.
Dua tentakel gurita terayun pada ketiganya, Anna dan Undine berguling untuk menghindar sementara Risela dengan tubuh kuatnya menangkap tentakel itu selagi terengah-engah dengan nafas berat.
"Aah... aaah... aaah... cepat tuan gurita lakukan apapun yang ingin kau lakukan tapi ingatlah perlakuan kejam apapun tak bisa merenggut hatiku."
"Hentikan Risela, kita dalam situasi bertarung," teriak Anna sedangkan wajah profesor itu memucat.
"Dasar gadis sableng, Tako."
Dengan sekali ayunan tubuh Risela diterbangkan ke langit dan menghilang.
"Aaaaaaaah."