
Di balik pohon Souma dan Law bisa melihat bagaimana sebuah kastil berdiri dengan megah, bangunan itu dicat dengan warna hitam dan memiliki beberapa penjaga di area luarnya yang termasuk vampir.
"Jadi bagaimana kita akan menyelinap ke dalam?" tanya Law.
"Aku pikir kau harus menjadi umpan sementara aku menyelinap masuk."
"Kalau begitu sama saja dengan boong, kita langsung saja muncul di sini tanpa perlu melewati jebakan."
"Anggap saja pelatihan untukmu."
"Oi."
"...."
"Aku tidak mau jadi umpan."
"Apa boleh buat."
Souma meletakan tangannya di tanah dan orang-orang berbentuk Law bermunculan hingga mencapai 100 buah.
"Makhluk mengerikan harus dilawan dengan makhluk mengerikan juga."
"Yang kau bicarakan itu wajah diriku oi."
Souma menjentikkan jarinya dan pasukan golem Law mulai menerjang ke depan selagi berlari aneh, mereka menggerakkan tangan mereka seperti ombak selagi membuka mulutnya, benar itu memang mengerikan.
Law sudah tidak bisa mengatakan apapun lagi, jelas orang di sampingnya memang sengaja melakukannya.
"Serangan musuh, cepat panggil pasukan yang lebih banyak."
"Baik."
Souma menciptakan golem yang berbeda, kini mereka berbentuk singa raksasa dengan wajah Law serta naga hydra dengan sembilan kepalanya yang sama.
"Kau benar-benar merubahku jadi makhluk aneh."
"Paling tidak ini cukup membantu, musuh pasti langsung berfikir ingin memukulnya saat melihat wajahmu."
"Yos setelah ini aku akan menghajarmu."
Souma tersenyum masam lalu keduanya berteleportasi ke bagian luar kastil, hari sudah gelap dan hanya beberapa jam lagi untuk menuju tengah malam atau sejujurnya waktu mereka lebih pendek karena bulan sudah lebih dulu muncul di banding yang diharapkan.
"Mari bergegas."
Tepat keduanya akan berlari ke lorong, seorang wanita muncul, dia terbang menggunakan payung dengan beberapa hiasan bintang di setiap sudutnya.
"Ada penyusup, maaf kalian berdua, kalian tidak bisa lewat semakin jauh."
Wanita itu berambut pirang bor dengan gaun putih mengembang.
"Dia sepertinya sangat kuat, biar aku yang menghadapinya kau pergi duluan.. Oi, dengerin gue kalau gue ngomong."
Souma sudah ada di depan meninggalkan keduanya jauh di belakang.
"Cih padahal barusan aku ingin bersikap keren."
Wanita di depan Law memiringkan wajahnya selagi tersenyum dengan ujung taring menyeruak dari bibirnya yang tipis.
"Kau pasti idiot."
"Akan kuhajar siapapun kau, aku sudah punya empat pedang sekarang."
"Walau kau kasar aroma darahmu terasa lezat, mau bercinta denganku."
"Hah? Akan kubunuh kau."
Wanita itu menjilat lidahnya nakal.
Lorong ini memiliki jalan yang panjang di mana ornamen yang ditempatkan di sampingnya adalah patung-patung manusia yang dibuat sedemikian rupa, ketika para penjaga menemukan Souma dia tanpa ragu menebas leher mereka. Jika kepalanya terpenggal vampir juga akan mati tanpa bisa meregenerasi kembali.
Dia berbelok ke kiri dan kemudian berlari setelah mendengar teriakan memekakkan telinga dari atas kastil. Tidak aneh bahwa akan ada seseorang yang menunggunya di bawah tangga dan dia adalah Asetasius yang dengan santai menunjukan bilah pedang di tangannya.
Dibanding Law wanita di depannya lebih terlihat seperti komandan kesatria sesungguhnya dengan mata tajam serta tubuh yang jelas terlatih.
Dia menerjang ke depan dengan pedang yang diarahkan lurus tertuju pada Souma yang ditahan baik melalui katananya.
Percikan kembang api muncul di udara kemudian wanita itu memutar tubuhnya satu putaran selagi menendang Souma hingga dia menukik menembus ruangan di sebelahnya.
"Aku yakin yang barusan tidak cukup untuk membunuhmu jadi bangunlah."
"Sesuai yang diharapkan dari ras vampir atas, kalian memang kuat," balas Souma selagi menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor.