Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 121 : Pertarungan Tiga Raja Bagian Akhir


Tubuh Law terkoyak oleh sebuah tebasan cakar yang mana membuat baju dan perutnya mengalirkan darah. Pedang di tangan Law tidak berhenti bergetar, itu bukan karena ia merasa takut melainkan barusan ia terus dipaksa bertahan dengan sekuat tenaga.


Raider menjilat tangannya yang seluruhnya telah berubah menjadi monster. Dia melesat maju.


"Matilah."


Law memosisikan dirinya untuk menahan terjangan padanya tubuhnya terhempas ke belakang bersamaan pedang yang hancur berserakan.


"Kau memang kuat, tapi sayangnya senjatamu tidaklah cocok. Jika kau memiliki pedang yang lebih bagus kurasa kau akan membuatku terpojok."


Tubuh Law terinjak-injak hingga ia memuntahkan darah sambil mengerang kesakitan sampai sebuah suara menghentikan penderitaannya.


"Kurasa itu sudah cukup, membuat seorang komandan berakhir seperti itu bukannya terlalu berlebihan."


"Kau?"


Dari kejauhan Souma berjalan santai dengan pedang di pinggangnya dan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya, matanya berwarna merah seterang darah.


"Ayanokyojin Souma telah datang untuk membantu."


"Bagaimana kau bisa masuk ke dunia yang kuciptakan? Ini tidak masuk akal."


"Dunia yang kau ciptakan kah, aku tidak berpikir seperti itu, ini hanya dimensi buatan yang termasuk dalam salah satu sihir ruang jika seseorang mampu membuat hal sama bukanlah hal sulit untuk berpindah-pindah."


"Kau mau bilang bahwa kau bisa melakukan sihir sama sepertiku."


"Begitulah, jadi dengan cara ini juga kau lolos dari lab penelitian keluarga Duke dan Marquez waktu itu."


"Sejauh mana kau tahu?"


"Tidak banyak, saat kedua bangsawan itu membuat proyek manusia super, kau juga terlibat di dalamnya bukan sayangnya pihak kerajaan memilih untuk merahasiakannya."


"Jadi begitu haha kau benar-benar orang yang merepotkan. Itu benar, aku juga terlibat di dalamnya fakta bahwa kau ada di sini dengan kata lain kedua orang bodoh itu telah mati seharusnya aku membuat suntikan itu sedikit lebih lama."


Souma hanya diam membisu, dia melihat Law yang babak belur dan mendesah pelan, dia memang tidak beruntung.


Dia melanjutkan.


"Sebenarnya apa yang kalian buat di lab itu dan hilangnya Stella Evergarden apa ada kaitan dengan semuanya?"


"Kenapa aku harus mengatakannya padamu, aku jelas tidak akan membicarakannya."


Sekali lagi Raider melesat maju, dia meregangkan otot-otot tangannya hingga pergerakannya hampir tidak terlihat, Raider muncul di belakang Souma untuk memberikan tebasan cepat, dengan santai Souma menangkisnya kemudian menangkis serangan di depan samping dan atas.


Suara dentingan terdengar semakin jelas dalam kesunyian tersebut, Raider muncul dengan jarak yang sangat dekat, sebelum dia bisa melancarkan serangan tangannya terpotong dua bagian.


"Ta-tanganku."


Dia mundur dengan darah yang menyembur dari tangannya, sebelum dia menyadari sesuatu kepalanya terpenggal ke udara. Law yang memperhatikannya tidak bisa menahan keterkejutannya.


Orang di depannya jelas monster.


Souma mengarahkan tangannya dan tubuh itu mulai menyatu kembali di mana Raider kembali hidup.


Ketika dia kebingungan tubuhnya terbelah menjadi dua bagian.


Souma kembali menghidupkannya kembali dan secara terus menerus membunuhnya tanpa ampun.


"Tunggu, tunggu.... gaaaakh."


Darah menyembur ke udara dan Souma hanya memandang dengan tatapan dingin yang mengerikan, tubuh Raider di buat ulang dan dia hidup untuk 10 kali.


Kini pedang Souma menusuk bahunya..


"Tunggu, aku akan bicara tolong jangan lakukan lagi... di lab itu, kami menguji obat yang kami buat pada Stella awalnya tubuhnya kejang-kejang namun dia berhasil selamat dari eksperimen, saat itu matanya berubah menjadi merah lalu membunuh semua orang di lab dan mulai meminum darah mereka sebelum menghancurkan segalanya, dia adalah nenek moyang dari vampir."


"Jadi begitu."


Pedang diangkat lalu diayunkan.


Tebasan itu mengakhiri nyawa Raider selamanya. Ruangan itu sedikit demi sedikit mulai retak kemudian pecah menjadi kepingan kaca hingga keduanya bisa keluar dari cermin.


Law masih tak percaya dengan orang di depannya. Selama ini dia bersikap acuh tak acuh bahkan terlihat tak peduli dengan sekelilingnya namun sebenarnya menyimpan kekuatan yang melebihi siapapun.


"Sebenarnya kau ini apa?"


"Tak perlu memikirkannya kalau begitu aku dan Undine akan pulang sekarang, kuserahkan sisanya."


"Aku mengerti."


Untuk pertama kalinya Law tidak ingin mengeluh apapun pada orang di depannya soal menyerahkan tanggung jawab padanya.