Martial Art Heaven Peak

Martial Art Heaven Peak
BAB 44. Langkah Angin


Wu Sheng yang mengikuti arah perginya Gruxiao pun akhirnya berhenti di sudut ruangan yang sangat berdebu dan kotor.


"Kenapa kau membawaku kemari, Gru? Apakah kau tidak tau jika tempat ini telah dilupakan? Tak akan ada yang bisa diharapkan disini!" ucap Wu sheng dengan wajah bingung.


Gruxiao yang berhenti di tempat tersebut pun menarik pakaian Wu Sheng untuk memintanya melihat ke arah yang dituju.


"Apa ini? Ada buku yang menjadi pengganjal rak buku ini! Apakah buku ini yang kau maksud Gru?” tanya Wu Sheng dengan ekspresi wajah yang bingung.


“Gruuuu.... Grruuuu!” ucap Gruxiao dengan suara yang keras dan penuh semangat dengan wajah yang percaya diri.


Wu Sheng yang menyadari bahwa ada sesuatu yang menarik dengan buku yang telah dipilih Gruxiao pun mengambil buku tersebut dan membaca isinya.


“Langkah Angin?” gumam Wu Sheng dengan wajah yang bingung lalu membuka isi buku dan membacanya dengan seksama.


“Buku ini sangat bagus tapi sayang jurus yang terdapat di dalam buku ini tidak lengkap! Bukankah akan sia-sia jika mempelajari jurus yang tidak sempurna?” tanya Wu Sheng dengan wajah yang kecewa.


Gruxiao yang mendengar perkataan Wu Sheng pun ikut menjadi sedih lalu menundukkan kepalanya tapi Wulong yang mengetahui sesuatu pun angkat bicara.


“Siapa bilang jurus itu tidak lengkap? Jurus ini adalah jurus yang memiliki banyak kesamaan dengan Langkah Petir milik Keluarga Wu!” ucap Wulong dengan wajah yang serius.


“Jika kau tidak percaya maka aku akan tunjukkan padamu!” ucap Wulong lalu meletakkan telunjuknya ke dahi Wu Sheng dan hanya dalam hitungan detik Wu Sheng telah masuk ke dalam alam bawah sadarnya.


Wu Sheng yang awalnya terkejut dan bingung tiba-tiba merasa familiar dengan tempat yang didatanginya pun kembali rileks setelah mendapatkan jawabannya.


“Kenapa kau membawaku masuk kembali ke alam bawah sadarku?” tanya Wu Sheng dengan wajah yang bingung.


“Tenanglah dan lihatlah ini!” ucap Wulong yang kemudian mencabut sehelai rambut Wu Sheng dan meniupkannya ke depan.


Helaian rambut yang jatuh ke bawah pun berubah menjadi kloning dari Wu Sheng dengan wajah yang datar.


“Aku akan tunjukkan padamu bagaimana Jurus Langkah Petir milik Keluarga Wu dan jurus yang ada di buku yang ada di tanganmu!” ucap Wulong dengan wajah yang serius.


Wu Sheng yang penasaran pun tidak melepaskan pandangannya pada tubuh kloning yang ada di depannya.


“Apa maksudnya ini? Apakah Penulis buku ini adalah seorang pencuri?” tanya Wu Sheng dengan wajah yang kesal.


“Hmmm, ini tidak seperti itu dan lihatlah bagian belakang dari buku jurus tersebut!” ucap Wulong yang memberikan petunjuk kepada Wu Sheng.


Wu Sheng yang penasaran dan melihatnya lalu menyadari bahwa penulis buku tersebut berasa dari Keluarga Wu.


Penulis buku tersebut ingin menunjukkan kelemahan dari Langkah Petir dan memberikan solusinya.


Wu Sheng yang menjadi sangat tertarik pun memutuskan untuk mengambil buku tersebut dan memberi tau Master Seniro Panhai akan hal ini.


“Apakah kau yakin ingin membawa pulang buku jurus ini? Jangan sampai kau menyesal nantinya karena aku tidak akan pernah menerima alasan apapun jika kau ingin menukarnya dengan yang lain!” ucap Master Seniorr Panhai dengan wajah yang serius.


“Aku tidak akan pernah menyesal!” ucap Wu Sheng dengan suara yang tegas dengan wajah yang serius yang membuat Master Senior Panhai menyerah.


Wu Sheng yang telah berhasil membawa pulang buku jurus yang diinginkannya pun menyimpannya ke dalam cincin parsial yang diberikan oleh Tetua Dong padanya.


Namun baru beberapa langkah Wu Sheng dari Paviliun Pengetahuan, Wu Sheng mendengar suara orang yang memanggilnya dengan suara yang keras.


“Wu Sheng, Murid Luar Sekte Langit! Bertarunglah denganku di atas Arena Pertandingan sekarang!” ucap Qin Chuan dengan suara yang lantang sambil mengangkat pedangnya ke arah Wu sheng.


“Aku tidak mau! Aku capek! Aku akan kembali sekarang!” ucap Wu Sheng dengan wajah yang tidak tertarik.


“Dasar pecundang! Apakah Murid yang memcahkan rekor selama ini adalah seorang penakut dan pecundang!” ucap Qin Chuan dengan tawa yang sangat keras.


Qin Chuan yang berharap bahwa Wu Sheng akan marah-marah dan menerima tantangannya lalu menang dengan sangat mudah tapi ternyata semua harapan itu sirna.


“Aku tidak peduli! Aku masih punya urusan yang lebih penting jadi aku permisi!” ucap Wu sheng dengan wajah yang tertekan.


#Bersambung#


Akankah Qin Chuan akan membiarkan Wu sheng menolak permintaannya begitu saja? Hal apa yang lebih penting bagi Wu sheng sekarang?" tebak jawabannya di kolom komentar..