Martial Art Heaven Peak

Martial Art Heaven Peak
BAB 108. Kabar Keluarga Bai


Yan Duxing yang tidak terima akan penghinaan itu menjadi sangat marah dan berniat menghajar orang-orang dari Sekte Murni.


“Apa kau bilang? Kau ingin minta kompensasi atau memeras?” teriak Yan Duxing dengan nada suara yang meninggi dengan wajah yang marah.


Namun sebelum Yan Duxing menggerakkan tubuhnya, Wu Sheng telah bergerak terlebih dahulu untuk memberi pelajaran yang secara diam-diam menaburkan bubur tidak berwarna dan tidak berbau ke arah Xiusong.


"Hentikan! Tak ada gunanya melayani mereka sebaiknya kita pergi!" ucap Wu Sheng dengan tangan lurus membentang menghalangi Yan Duxing bertindak lalu berjalan mengabaikan.


Yan Duxing yang berniat protes pun terpaksa menahan diri dan mengikuti perkataan Wu Sheng begitu pula dengan Nanggong Xuenli yang telah siap mengangkat pedangnya.


Namun di saat Wu Sheng dan yang lainnya baru beberapa langkah meninggalkan tempatnya Wei Li memanggil Wu Sheng.


"Tunggu! Masalah ini belum selesai! Tolong berikan penawarnya terlebih dahulu sebelum anda pergi!" ucap Wei Li dengan suara yang datar dengan tatapan tajam ke arah Wu Sheng.


Yan Duxing dan Nanggong Xuenli yang ingin marah karena Wu Sheng menjadi pengecut langsung mengukir senyum diwajahnya saat mendengar ucapan Wei Li di detik terakhir.


"Apa yang kau katakan? Jangan menuduh orang lain tanpa bukti lagipula kalian sungguh orang yang serakah! Memanfaatkan kebaikan orang lain!" ucap. Yan Duxing yang dengan cepat melindungi Wu sheng.


“Jangan kau pikir kami takut padamu! Jika ingin bertarung angkatlah senjatamu” ucap Yan Duxing yang bersumbu pendek sambil memegang gagangan pedangnya dengan sorot mata yang tajam.


"Kau tak peru menggunakan pedang melawan mereka! Tidak ada gunanya kita disini dan bicara dengan orang seperti mereka! Lebih baik kita pergi!" ucap Nanggong Xuenli dengan ekspresi wajah yang dingin dengan Wu Sheng yang berjalan terakhir mengikuti Yan Duxing dan Nanggong Xuenli yang telah berjalan lebih dulu.


Xiusong yang tak mengerti ucapan Wei Li karena dirinya merasa baik-baik saja serta keinginan yang tinggi yang tak ingin Wu sheng dan yang lain pergi begitu saja membuat Xiusong menjadi marah lalu mengangkat pedangnya menyerang Wu sheng.


"Br*ngsek! Mau pergi kemana kalian? Beraninya kalian kabur setelah mengotori pakaian saudara Wei Li! Aku tidak akan mengampuni kalian! Kalian harus menerima akibatnya!" ucap Xiusong dengan mata yang memerah karena marah.


Wu Sheng yang tak menghindar atau berbuat apapun hanya diam di tempatnya lalu tiba-tiba Xiusong terjatuh ke tanah dengan tubuh yang terasa sakit semua.


"Aaaarrrgghhhh! Kakiku....! Tanganku....! Tubuhku....! Aaaarrrggghhhh!" teriak Xiusong dengan sangat keras dengan wajah kesakitan sambil berteriak hingga membuat semua orang melihat.


Wei Li yang bertanggungjawab akan keselamatan teman-temannya selama di Ibukota merasa berada dalam situasi yang sulit karena tindakan ceroboh xiusong.


"Sial! Dasar bodoh! Selalu saja membuat masalah!" ucap Wei Li dengan kata yang terdengar kasar dan wajah yang marah serta tatapan mata merendahkan.


Wei Li yang melihat Wu sheng bersikap santai begitu juga dengan temannya pun menarik nafas panjang lalu membuat keputusan sulit.


"Kalian bersalah karena membuat bajuku kotor. Meskipun kalian sudah beretika baik meminta maaf dan memberikan kompensasi, temanku mengatakan sesuatu yang menyinggung kalian dan kalian pun telah memberinya pelajaran!" ucap wei li yang merangkum semua kejadian.


"Untuk yang dikatakannya sebagai perwakilan aku meminta maaf dan bersedia memberikan kompensasi sebagai gantinya dan bisakah kau memberikan penawarnya?" tanya Wei Li lagi dengan senyum lembut.


Xiusong yang tidak senang dengan yang dilakukan Wei Li dan berniat untuk menghentikan Wei Li untuk melakukan sesuatu tapi wei Li yang sangat marah menginjak jari xiusong sambil memberinya peringatan.


“A-apa yang kau katakan Saudara Wei? Ka-kau tidak boleh....” ucap Xiusong dengan suara yang terbata-bata dengan wajah yang menahan sakit.


"Diamlah atau kupatahkan lehermu!" ucap Wei Li dengan kata yang pelan tapi dapat didengar dengan jelas oleh Xiusong dengan mata yang melotot tajam.


Wu Sheng yang tidak ingin kehilangan kesempatan emas mendapatkan sebotol Pil sebagai kompensasi secara gratis pun menyerah.


Meskipun begitu Wu sheng yang tau jika Xiusong tidak dapat bisa dilepaskan begitu saja karena akan menjadi masalah di masa depan pun memutuskan cara lain untuk menangani Xiusong.


"Berterima kasihlah kepada Saudaramu itu jika tidak dalam waktu tiga jam maka tubuhmu akan meleleh dan hanya menyisakan yang kau pakai!" ucap Wu sheng sambil berbisik di telinga Xiusong dengan tatapan membunuh.


"Jangan pernah muncul di hadapanku lagi atau kau tak akan tau kapan racun menjadi penyebab kematianmu!" ancam Wu sheng yang hanya dapat didengar oleh Xiusong sambil memasukkan pil penawar ke tubuh Xiusong.


Xiusong yang mendapatkan obat penawar secara mengejutkan tak merasakan sakit apapun pada tubuhnya yang bahkan perasaan seperti dibakar hidup-hidup pun menghilang membuat Xiusong langsung berlari sembunyi di belakang Wei Li dengan wajah ketakutan.


Wu sheng yang tak berniat meladeni orang yang lemah pun pergi meninggalkan bersama temannya yang lain dan membuat Wei Li menjadi kagum padanya.


“Kita pergi!” ucap Wu Sheng dengan suara dan wajah yang datar lalu berjalan memimpin yang lain.


"Menarik! Sepertinya pertandingan nanti akan menjadi Pertandingan yang tidak membosankan!" ucap Wei Li dengan senyum yang licik.


Nanggong Xuenli yang merasakan lapar setelah berdebat dengan orang-orang dari Sekte Murni pun membuat ketiganya memutuskan mencari restoran dnegan pengunjung terbanyak.


“Apakah kau yakin tempat ini memiliki makanan dan minuman yang enak?” tanya Yan Duxing dengan ekspresi wajah yang curiga.


“Aku sangat yakin karena tidak mungkin restoran itu rasa makanannya buruk jika pengunjungnya seramai ini!” ucap Nanggong Xuenli dengan percaya diri.


“Tidak ada pilihan lain selain mencobanya jika ingin tau kebenarannya!” ucap Wu Sheng yang memutuskan keraguan Yan Duxing hingga membuat ketiganya masuk ke dalam.


Wu Sheng yang tidak ingin pelit kepada perutnya pun memesan semua menu makanan yang memiliki rekomendasi terbaik begitupula dengan yang lainnya hingga membuat meja makan mereka dipenuhi dengan berbagai macam makanan lezat.


“Melihat dari tampilan dan baunya sungguh menggoda! Perutku semakin lapar dibuatya!” ucap Nanggong Xuenli yang matanya berbinar melihat berbagai macam menu terhidang di atas meja.


“Aku tidak sabar! Mari makan!” teriak Yan Duxing yang tanpa pikir panjang mengambil sumpitnya dan mengambil daging bebek panggang berwarna coklat keemasan.


Wu Sheng yang tak ingin makanan itu habis dimulut Yan Duxing dan Nanggong Xuenli pun mengangkat sumpitnya menyantap setiap hidangan satu per satu.


Namun di sela-sela makannya, Wu sheng yang mendengar pengunjung lain di sampingnya membicarakan sesuatu tentang Keluarga Bai pun menghentikan makannya.


“Apa kau sudah mendengar berita besar hari ini? Kepala Keluarga Bai terluka parah dan Tuan Bai Xiu tidak sadarkan diri! Saat ini Keluarga Bai sedang dalam situasi yang sulit!” ucap salah seorang pengunjung dengan wajah yang serius.


“Keluarga Bai dalam situasi yang sulit? Yaoyao! Apakah kau baik-baik saja?” tanya Wu Sheng pada dirinya sendiri dengan wajah yang cemas.


#Bersambung#


Apa yang akan dilakukan Wu Sheng selanjutnya? Apakah Wu Sheng akan membantu Keluarga Bai yang sedang dalam masalah? Tebak jawabannya di kolom komentar ya..