
Wu Sheng yang melihat Griffin telah menyerang Tetua Hu pun bergegas membawa Tetua Dong pergi menjauh meninggalkan tempat tersebut.
“Ikut denganku jika kau ingin selamat!” ucap Wu Sheng dengan nada suara yang berbisik sambil menarik tangan Tetua Dong pergi meninggalkan area itu.
Tetua Hu yang tau bahwa ada orang yang menolong Tetua Dong menjadi sangat marah dan berniat menghajar Wu Sheng tapi langsung dihentikan oleh Griffin.
“Sial! Siapa kau? Mau kemana kalian pergi? Siapa yang memberi kalian izin untuk pergi?” teriak Tetua Hu dengan suara yang sangat keras sambil mengarahkan Energi Qi yang ada di tangannya ke arah Wu Sheng dan Tetua Dong pergi.
“Dasar Hewan menyebalkan! Aku sebenarnya tak ingin menyiksamu tapi karena kau sangat menginginkannya maka aku akan memberi yang kau inginkan!” ucap Tetua Hu dengan wajah yang kesal lalu melancarkan serangan ke arah Griffin secara bertubi-tubi.
Wu Sheng yang melihat Tetua Hu tidak lagi mengejar dirinya ataupun berniat mencelakainya pun membawa Tetua Dong pergi ke tempat persembunyian yang aman menurutnya.
Tetua Dong yang terluka karena pukulan dari Tetua Hu pun jatuh pingsan sehingga membuat Wu Sheng tak punya pilihan lain selain menggendong Tetua Dong pergi ke tempat persembunyian.
“Guru! Guru! Apa kau baik-baik saja?” tanya Wu Sheng dengan suara yang keras dengan ekspresi wajah yang terkejut.
“Tidak! Guru tidak sadarkan diri! Sepertinya luka yang diderita oleh Guru cukup parah! Aku harus segera membawa Guru pergi pergi sebelum orang itu datang mengejar kami!” ucap Wu Sheng dengan ekspresi wajah yang kesal dan khawatir.
Wu Sheng yang mengerahkan semua kekuatannya untuk menggendong Tetua Dong dan pergi membawanya ke tempat yang aman akhirnya menemukan Goa yang ada di balik air terjun.
“Ini dia tempatnya! Orang itu tak akan tau ada Goa dibalik air terjun ini!” ucap Wu Sheng dengan ekspresi wajah yang lega lalu melewati air dan air terjun lalu masuk ke dalam Goa.
Wu Sheng yang berjalan masuk ke dalam Goa pun membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh dan menjemur pakaian karena Wu Sheng tau jika pakaiannya dan Tetua Dong telah basah karena terkena air terjun.
“Ini sudah cukup dalam dan jika aku membuat api unggun aku rasa cahayanya tak akan bisa terlihat sampai keluar!” ucap Wu Sheng dengan ekspresi wajah yang lega.
Wu Sheng yang membawa selimut dan pakaian cadangan untuk jaga-jaga di dalam tas penyimpanannya pun bergegas mengganti pakaiannya dan memberikan selimut hangat kepada Tetua Dong.
“Gruu! Gruuu!” ucap Gruxiao yang memberitau Wu Sheng bahwa Tetua Dong yang pingsan dan tak sadarkan diri.
“Hangatkanlah tubuhmu di api unggun itu Gruxiao! Aku akan membantu Guru!” ucap Wu Sheng dengan percaya diri.
Wu Sheng yang memiliki Ilmu Pengobatan di kehidupannya yang lalu pun mencoba memeriksa kondisi Tetua Dong dengan mengecek urat nadinya meskipun Wu Sheng belum memiliki perlengkapan medis sama sekali.
“Nadi Guru stabil dan dia hanya menderita luka ringan! Syukurlah lukanya tidak terlalu parah seperti saat pertama kali aku bertemu dengan Guru di masa lalu!” ucap Wu Sheng dengan ekspresi wajah yang lega.
“Sepertinya Pil Penyembuh yang aku dapatkan dari Tuan Roh Penjaga itu cukup untuk memulihkan luka ringan Guru!” ucap Wu Sheng yang memasukkan sebuah Pil berwarna emas ke dalam mulut Tetua Dong.
Wu Sheng yang mendengar Gruxiao mulai protes karena perutnya yang lapar pun memutuskan pergi mencari makanan sendirian.
“Gruuu! Gruuu! Gruuu!” ucap Gruxiao dengan ekspresi wajah yang memelas sambil memegang perutnya.
“Ada apa? Apa kau lapar?” tanya Wu Sheng kepada hewan kecilnya itu yang langsung dijawab dengan anggukan kepala.
“Hmmm, kau benar! Kita belum makan apapun sejak sampai di Gunung ini! Aku pun baru merasa lapar! Tunggu di sini! Aku akan menangkap ikan untuk makan malam kita!” ucap Wu Sheng yang langsung berdiri.
“Grruuuu!” ucap Gruxiao dengan penuh semangat dan sikap yang patuh.
Wu Sheng yang berdiri di depan Goa pun melihat ikan yang berenang di air terjun dan memutuskan untuk menjadikan ikan sebagai menu makan malamnya.
“Sebentar lagi Guru pasti akan sadar. Aku akan memanggang ikan ini untuknya dan Gruxiao pasti akan sangat senang nantinya!” ucap Wu Sheng dengan ekspresi wajah yang sangat bersemangat.
Wu Sheng yang menangkap tiga ikan pun memutuskan untuk membakar ikan tersebut untuk Tetua Dong dan Gruxiao tapi secara tidak terduga mendengar suara teriakan dari Griffin yang sangat keras.
“Gruuuu! Gruu!” ucap Gruxiao dengan suara yang penuh semangat dan dengan patuh duduk menunggu ikan bakar itu masak di samping Wu Sheng.
“Rrroooaarrrr! Roooaaarr!” suraa teriakan Griffin dengan suara yang sangat keras dan terdengar menyedihkan.
Wu Sheng yang memiliki perasaan bersalah dan khawatir pun memutuskan untuk meninggalkan ikan yang sedang dibakarnya dan hampir saja masak itu dan meminta Gruxiao menjaga Tetua Dong.
“Apa yang telah terjadi? Apakah Griffin itu kalah melawan orang itu?” tanya Wu Sheng pada dirinya sendiri dengan ekspresi wajah yang penasaran dan cemas di saat bersamaan.
“Gru! Aku akan pergi keluar dan mengecek sesuatu. Kau tetaplah di sini dan jaga Guruku dengan baik! Jangan habiskan ikan bakar ini dan sisakan untuk Guruku dan aku! Jika tidak maka tidak akan ada makanan untuk besok pagi untukmu” ucap Wu Sheng dengan nada suara yang penuh ancaman.
Wu Sheng yang sangat khawatir dan penasaran dengan yang terjadi pada Griffin pun berlari menuju ke sumber teriakan dengan cepat dan hati-hati.
Wu Sheng yang berpikir jika Griffin akan menang karena Griffin memiliki kekuatan yang kuat ternyata salah. Griffin itu kalah dengan luka yang sangat parah.
“Sial! Apa yang telah aku lakukan? Aku mampu menyelamatkan Guru tapi aku mengorbankan yang lain. Maafkan aku Griffin!” ucap Wu Sheng dalam hati dengan tangan terkepal erat.
Wu Sheng yang terus bersembunyi dengan menyembunyikan hawa keberadaannya pun bergegas ke arah Griffin yang tergeletak di tanah setelah meyakinkan diri bahwa Tetua Hu telah pergi.
“Maafkan aku! Ini semua salahku!” ucap Wu Sheng dengan wajah yang bersalah lalu mengeluarkan Pil Penyembuh terakhir miliknya dan memasukkan Pil itu ke tubuh Griffin lalu meletakkan tanaman obat yang dicurinya di samping Griffin.
Griffin yang sadarkan diri setelah menerima Pil dari Wu Sheng tidak marah ataupun menyalahkan Wu Sheng justru Griffin meletakkan tanaman obat itu ke depan Wu Sheng.
“Kau adalah anak muda yang baik hati. Aku memaafkanmu asalkan kau mau mengabulkan satu permintaanku!” ucap Griffin yang ternyata tidak bisa ditolong lagi meski dengan bantuan Pil yang diberikan oleh Wu Sheng.
“Katakan saja! Aku akan mengabulkannya jika aku bisa!” ucap Wu Sheng dengan percaya diri dengan ekspresi wajah yang serius.
“Tolong jaga anakku! Jadikan dia teman kontrakmu!” ucap Griffin dengan ekpsresi wajah yang sedih dan meneteskan air mata.
“Ambillah tanaman obat yang aku jaga dan gunakanlah Kolam yang ada di dalam Goaku untukmu agar bisa menjadi lebih kuat untuk bisa melindungi telurku dan membalaskan dendamku!” ucap Griffin dengan nada suara yang terdengar serius.
“Aku berjanji. Aku berjanji akan menjaga telurmu dan menjadikannya hewan kontrakku lalu membantumu membalaskan dendam!” ucap Wu Sheng dengan tekad yang kuat.
Wu Sheng yang tau jika Griffin itu tak ingin ditinggalkan di tempat itu sendirian pun membawa Griffin yang terluka parah kembali ke Goanya.
Wu Sheng yang meletakkan Griffin di dekat telurnya menjadi sangat terkejut saat sebuah kekuatan mengalir ke dalam tubuhnya dan sebuah cahaya lurus diarahkan ke dalam telur dari Griffin yang telah sekarat.
“Aaaarrgghhhh!” teriak Wu Sheng yang menyadari adanya aliran Qi juga kekuatan yang masuk ke dalam tubuhnya.
“Terima kasih banyak untuk bantuanmu! Aku berjanji akan menepati janjiku!” ucap Wu Sheng yang membungkukkan tubuhnya memberikan penghormatan terakhir dan dalam hitungan detik tubuh Griffin itu pun menghilang bagaikan debu.
Wu Sheng mendapatkan izin untuk mengambil semua tanaman obat yang ada pun tanpa basa-basi memasukkan semuanya ke dalam tas parsialnya dan tak lupa meletakkan telur ke dalam tas qiankun.
“Hmmm, semuanya telah aku pindahkan tapi aku tidak bisa berendam di dalam air kolam ini sekarang karena masih ada hal yang harus aku lakukan!” ucap Wu Sheng dengan ekspresi wajah yang kecewa.
Wu Sheng yang merasa sedikit menyayangkan kesempatan yang harus disingkirkannya saat ini memilih menjadikan Tetua Dong sebagai prioritas utamanya.
#Bersambung#
Apa reaksi Tetua Dong setelah tau dirinya diselamatkan oleh Wu Sheng? Apa yang akan dilakukan Tetua Dong untuk membalas Wu Sheng? Tebak jawabannya di kolom komentar ya..