
Hampir tiga tahun kemudian...
Malam panas penuh desah baru saja berlalu. Bahkan nafas engah mereka masih terdengar saling sahut dan menderu. Keduanya saling gelung dan saling peluk dalam gulungan selimut yang lembut.
"Mau ke mana, mas Benn,?" Eril terheran saat Benn bergerak melepas pelukan.
"Aku cek dulu anak-anak di sebelah. Nggak adil jika yang kita peluk cuma anak yang dalam perut. Kamu di sini saja,," ucap Benn sambil turun dari ranjang.
"Iya, mas.. Sambil colokkan obat nyamuk. Sepertinya tadi belum sempat aku colok. Habis kamuuu,,, ngajakin buru-buru," pesan Eril sambil membetulkan selimut sebatas leher. Masih biasanya, sang suami begitu gila dengan hawa cuaca di kutub utara.
"Iyaaa,,," sahut Benn dengan nyengir tersenyum. Bergegas keluar kamar dengan sedikit sempoyongan sebab terasa boyokan.
Kamar sebelah yang sama luasnya dengan kamar yang ditempati Eril dan Benn, dipakai oleh Evan dan adik lelakinya yang sudah berusia lebih dua tahun. Dan kini Benn telah berhasil menghamili istrinya lagi dengan usia kandungan memasuki 7 bulan.
Benn merasa menjadi ayah yang hebat sekaligus lelaki sejati yang kuat. Benn merasa memiliki keluarga bahagia yang sempurna di dunia. Dan penuh doa untuk merengkuh mereka menuju keluarga samawa ke surga.
πΆπΆπΆ
Wanita cantik berdaster unik buatan negara Jepang, sekaligus di kirim oleh sang karib dari negeri sakura, pagi itu tengah bersulap tangan bersama sayur mayur di dapur mewahnya. Mencincang dan mengiris tanpa ada sentuh tumbukan sedikit pun. Eril masih tetap seperti yang dulu, tidak suka dengan kegiatan adu tumbuk dan gerus.Dan kini kian malas saja setelah memiliki alat-alat serba canggih di dapur mewahnya.
"Mas Benn,,,!! Cepat,,!!"
"Evan,.! Cepat,,!!"
Seru Eril sambil menata hasil masakannya di meja makan. Merasa jika anak dan bapak dalam kamar mandi itu begitu lama melakukan rutinitas mandinya. Sudah jadi tugas Benn untuk mandi bersama Ardevan dan terkadang juga adiknya, Ardevon, di saat pagi hari. Tapi hari ini anak lelaki nomor dua itu masih tidur.
"Cepat nanti kamu lambat datang sekolah, Vaaann,,!! Jangan lupa, pulang sekolah nanti oma akan mengambil kamu dan adikmu,! Ini hari Jum'at, mas Beenn...! Jangan bergurau terus,,!! Cepaatt,,!!!"
Eril berseru melengking. Wanita itu semakin menjadi ibu tangguh dan handal. Tidak ingin mengambil asisten rumah dan mencoba melakukannya sendiri. Namun sering juga memanggil asisten sewa yang datang satu kali seminggu atau satu kali satu bulan.
πΆ
Benn dan Evan tengah makan dengan nikmat di meja makan dengan sesekali bercanda. Sedang Eril kembali sibuk mengurusi adik Evan yang baru bangun dan merengek minta dimandikan. Mengejar niat untuk ikut sarapan bersama daddy dan abangnya.
"Bagaimana kalo kita pindah rumah saja, Ril,?" tanya Benn pada istrinya. Eril dan Ardevon sudah duduk menyusul di meja bersama mereka.
"Pindah,,? Kenapa, mas,?" Eril menyimak wajah Benn yang kian tampan di matanya.
"Kita cari rumah yang besar. Kita ambil asisten rumah barang dua orang. Agar kamu tidak terlalu capek dan lelah. Bagaimana,?" tanya Benn dengan wajah sungguh-sungguh.
"Iyalah, mas Benn. Jika itu saranmu yang menurut kamu baik." Eril mengangguk. Setuju dengan usulan Benn yang pasti demi kebaikan keluarganya.
"Nah begitu dong, Ril. Leehans saja ngasih asisten di rumahnya tiga orang. Kamu lihat sendiri kan mereka, pas tahun lalu kita ke sana,,?" tanya Benn dengan wajah gembira. Sang istri tercinta mau juga berpindah. Benn memang menginginkan hunian yang besar dan luas. Juga dengan lingkungan kondusif yang jauh dari polusi dan bising.
"Tapi,," ucap Eril menggantung..Memandang Benn penuh bimbang.
"Kenapa,?" tanya Benn.
"Jangan coba-coba ambil asisten yang masih gadis dan muda ya, mas Beenn,," ucap Eril bermanja.
"Kamu akan cemburu,,?" tanya Benn tersenyum. Wajah putihnya yang pias menunjuk jika hati Benn bahagia.
"Bukan. Aku hanya risau jika sakit lamamu akan kambuh. Playboy,,,!" sahut Eril tersenyum. Dan Benn langsung tertawa.
"Iya, Ril. Akan kupilihkan asisten rumah yang sudah renta saja ya. Aman kan,?" goda Benn tersenyum.
"Iya, tidak masalah. Tapi jika ada gangguan dengan kesehatan mereka, rawatlah sendiri ya. Aku repot,,!" jawab Eril sambil menyuapi anak lelaki nomor dua. Evan sudah pandai makan sendiri.
" Iyalah, Ril.. Yang penting kita nyari pandangan rumahnya. Baru kita pikir tentang asisten, ya,,?" ralat Benn. Dan Eril menahan tawanya.
"Siapa juga yang ngebet nawarin asisten,," sambut Eril dengan terus menyuapi Ardevon.
"Habis ini, kamu sama Ardevon ikut aku ke kantor saja, Ril. Sore hari sepulang kerja, kita menemui rekanku yang seorang agen properti. Siapa tau dia punya barang yang kita angankan." Benn memutuskan.
Eril memang sering mengajak anaknya ikut Benn ke kantor. Sambil menunggu jam sekolah Evan berakhir. Sebenarnya bukan ke kantor, tapi menunggu Benn di kamar pribadinya. Kamar kenangan antara Eril dan Benn di masa yang kelam saat dulu.
πΆπΆ
"Ehem, hai nyonya Benn,,? Nampak makin cantik saja,," tegur seseorang dan ternyata adalah Rika.
"Eh, hai kak Rika," balas Eril tersenyum.
Eril yang sudah lama tidak berjumpa dengan Rika, sedikit merasa berdebar. Masih ingat bagaimana perilaku dan juga sikap Rika.
"Kebetulan kamu di sini. Aku ingin memberi undangan untukmu. Datang ya, nyonya Benn,," ucap Rika sambil mengulur sebuah kartu lebar yang cantik. Eril segera menerima dengan dahi berkerut.
"Terimakasih, nyonya Benn. Aku pamit. Masih banyak undangan yang harus kusebar. Jam makan siang sebentar lagi akan habis," pamit Rika dengan sopan. Eril mengangguk dan tertegun. Undangan apa yang di kasih Rika untuknya,?
πΆ
Benn kembali dari sholat Jum'at di Masjid Raya Istiqlal, Jakarta dan langsung menuju kamar pribadi lantai tiga di gedung utama yayasan. Eril sedang merebah bersama anak keduanya, Ardevon yang sudah tertidur sangat lelap.
Seperti biasa, Benn sangat suka menyusul rebah di sampingnya dengan tangan yang nakal.
"Mas, sudah pulang? Ada undangan dari kak Rika," Eril mengabari dengan tersenyum gembira.
"Apa,?" tanya Benn asal menanggapi dan tidak terlalu tertarik. Lelaki itu sedang sangat sibuk sendiri.
"Akhirnya kak Rika menikah,,!" ucap Eril berseru.
"Itu biasa, dia sudah lelah. Baguslah jika dia bisa kembali ke jalan yang lurus. Bukan kian tersesat. Mudah-mudahan saja lahir batin, bukan sekedar menutupi. Takutnya si suami sama menyimpangnya dengan Rika. Kedok,," komen Benn dengan panjang.
"Ya kita doakan saja dia juga tobat luar dalam, lahir batin, mas Benn. Kasihan,," respon Eril dengan tulus.
"Kamu ingin datang,?" tanya Benn di sela sibuknya.
"Ya iyalah, mas. Kita sekeluarga kan diundang. Wajib datang jika tanpa ada halangan. Apa papa dam mama juga akan datang ya,?" tanya Eril pada Benn. Wajahnya nampak meringis menahan sejuta rasa di raga sebab Benn.
"Tentu saja, sayangkuuu... Selain pegawai kami, Rika juga mantan anak yayasan punya papa. Kamu tahu? Rika itu seangkatan sama Desta waktu itu." Benn menerangkan.
Eril mengangguk-angguk tak bisa lagi berkomentar. Terhanyut dengan ulah Benn padanya. Sang suami benar-benar memanfaatkan moment mesra saat sang anak sedang tidur.
"Evan sudah dijemput mama kan,?" Eril menyempatkan bertanya.
"Iya. Sudah ku telpon. Akan sama mama hingga Minggu malam," jawab Benn tersendat.
"Mama dan papa kamu sangat baik," komen Eril.
"Ya, lebih tepatnya adalah mertua yang sangat pengertian," imbuh Benn membenarkan.
"Terimakasih padamu juga orang tuamu ya, mas. Aku cinta kamu selamanya, mas Benn." Bisik Eril memeluk.
"Love you too forever darling. Terimakasih, kamu sangat sabar padaku," sambut Benn lirih dan serak.
Mereka saling peluk dan cium penuh puja. Merasa begitu cinta dan akan dijaga selamanya. Dengan tekat akan menghadapi bertubi masalah yang kemungkinan datang di masa mendatang dengan bahu membahu bersama serta penuh rasa saling percaya di antara keduanya!!
The End
πππππ
Alhamdulillah.... The End
Terimakasih untuk kakak readers yang sudi setia mereadingnya hingga end ya...
Terimakasih tak terkata! Love You..!
πππ