Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
49. Interview


Dari musholla vila yang ditunjukkan oleh asisten rumah, Eril kembali menuju dapur untuk menemui asisten itu kembali. Mbak Sri tengah membuatkan teh untuknya.


"Terimakasih ya, mbak,," sambut Eril pada kebaikan asisten rumah.


"Iya, non. Sama-sama." Mbak Sri menyambut.


"Mbak Sri,,, nama aku Eril, yaa. Panggil Eril saja. Jangan panggil non. Nggak nyaman rasanya, mbak,," terang Eril. Sangat asing rasanya dipanggil seperti itu oleh asisten rumahnya Benn.


"Aduh, segan saya non,," kukuh mbak Sri.


"Eril, ya mbaak... Aku ini juga bukan siapa-siapa lho mbak. Hanya menang nasib saja,," terang si ibu muda dengan luwes. Ingin mbak Sri merasa nyaman untuk berbicara dengannya.


"Eh, iya ,,baiklah. Eril kok sudah bangun? Tuan muda Benn saja belum,," tanya mbak Sri dengan menyebut Eril saja.


"Iya , mbak,, tadi ingin nggendong Evan. Ternyata keduluan, Evan dan mama udah berangkat keliling jalan-jalan,," keluh Eril.


"Iya, Eril. Nyonya itu bangunnya memang pagi-pagi banget. Aku selalu pasang alarm lebih pagi kalo nyonya datang dan menginap di vila. Takut keduluan, Ril. Segan," terang mbak Sri. Eril hanya tersenyum, merasa tersindir sedikit dengan keluhan mbak Sri barusan.


"Padahal aku kangen banget sama anakku, mbak. Dari kemarin belum ketemu. Belum nggendong,," keluh ibu muda itu sambil termangu.


"Maaf, lho ya, Ril. Itu bener-bener anak kamu? Terus ayahnya Evan orang mana? Maaf lhoo, kamu tidak tersinggung, kan,?" tanya mbak Sri terdengar hati-hati pada Eril. Dan pancingan seperti inilah yang sedang Eril tunggu.


Dengan tidak keberatan, diceritakan singkat sejarah adanya Evan yang tak pernah disangkanya pada mbak Sri. Wanita itu nampak serius mendengar dengan wajah iba yang mulai terlihat.


"Itulah, mbak Sri. Dan mas Benn itu sangat baik. Menerima aku dan Evan apa adanya. Tidak peduli diriku yang tidak punya apa-apa. Tapi sayangnya aku nggak tau sedikit pun tentang mas Benn. Padahal aku juga ingin tahu sedikit saja mengenai masa lalunya. Aku juga ingin nerima dia apa adanya."


Eril menampakkan wajah yang sendu. Mbak Sri pun juga tak kalah dengan wajah mellow harunya.


"Mbak,, mbak Sri bisa ceritakan sedikiit saja tentang masa lalu mas Benn,? Biar hatiku tenang, bisa sedikit merasa percara diri. Aku ini sebetulnya nggak tenang lho mbak, jadi istri mas Benn,," kata Eril. Mulai memanahkan busurnya.


Dan seperti yang Eril harapkan. Mbak Sri begitu lancar dan licin bercerita. Sebab merasa iba pada rayuan ibu muda yang jelita.


Dari Benn yang pacarnya ada di setiap gang dan kota. Benn yang sering membawa wanita berbeda ke villa. Benn yang hampir menodai Desta di villa, yang kemudian jadi bertobat. Tapi nyatanya berganti dengan membawa lelaki berbeda ke villa.


Mbak Sri sudah tak sadar lagi untuk menyaring mana yang ditahan dan mana yang layak dilepas. Semua telah dikeluarkan demi membuat Eril dan anaknya merasa bahagia.


"Jadi, perempuan terakhir yang dibawa mas Benn ke villa dan hampir dinodai itu namanya Desta, ya mbak? Dan habis itu nggak pernah bawa wanita lagi? Tapi malah bawa laki-laki?" tanya Eril serius namun dengan senyum manisnya.


Tak ingin mbak Sri menyadari dan menyesali ceritanya. Dan wanita itu tengah mengangguk dengan cepat.


"Iya, Eril. Semua laki-laki yang dibawa itu tampan dan gagah. Aku sendiri yang mengurusi mereka." jelas mbak Sri.


"Mbak Sri percaya nggak, kalo mas Benn memang benar-benar homo?" tanya Eril lebih jelas lagi.


"Aku pilih percaya saja, Ril. Mas Benn kalo dah masuk menyusul ke dalam kamar lelaki yang dibawanya,, bisa luama lho, Ril. Berjam-jam. Ngapain coba, Ril,,?" tanya mbak Sri sambil menjeling.


"Mbak Sri nggak pernah nyoba ngintip?" tanya Eril memancing.


"Embak nggak berani lah, Riil,," sahut wanita itu sambil mengedikkan pundaknya.


"Betul itu, Eril. Sepertinya tuan muda Benn sangat sungguh-sungguh menyukaimu. Sampai menikahimu segala. Wong dia itu cintanya sudah habis dibawa non Desta. Eh, tau-taunya sudah menikah dengan kamu, Ril,," ucap mbak Sri bermaksud menyemangati.


"Terimakasih, ya mbak Sri. Sekarang perasaanku jadi lebih enak. Setidaknya tahu sedikit tentang mas Benn. Oh ya, teman mbak Sri,, mbak Puji itu nggak datang ya,?" tanya Eril, teringat akan penjelasan Benn yang semalam tiba-tiba.


"Sebentar lagi dia datang, hampir pukul tujuh baru nyampek. Kok tahu Puji, Ril?" tanya mbak Sri terheran.


"Mas Benn yang semalam cerita, mbak," jelas Eril.


Ibu muda itu terlihat mengeluarkan sesuatu dan ternyata adalah lembaran uang berwarna merah dari saku bajunya.


"Mbak, tolong doakan agar rumah tangga kami samawa, ya. Termakasih ya,mbak. Aku kembali ke kamar lagi. Nanti mas Benn mencari," pamit Eril berusaha nampak wajar. Sambil menyelip lembaran rupiah itu ke dalam genggaman tangan mbak Sri. Eril bergegas pergi dari dapur.


"Eh, terimakasih, ya Eril. Jadi segan. Tapi,,embak pasti akan mendokan yang terbaik buat kalian,!" sambut mbak Sri pada Eril sebelum ibu muda itu menghilang dari dapur.


Melirikkan mata pada lembaran uang merah di tangan dengan rasa tak percaya. Mendapat rizqi tak terduga di pagi-pagi yang cerah dari nyonya muda yang mulia. Tidak menyesal telah memasang alarm yang jauh lebih cepat berbunyi hari ini.


🌶


Kembali ke dalam kamar besar kutub di vila milik lelaki yang disebut tuan muda oleh asisten rumah, Eril tipis tersenyum. Orang yang dimaksud masih juga tergolek lelap tanpa merasa kedinginan sedikit pun.


Mungkin kepalanya yang keras itu sudah tidak merasa nyut- nyut lagi..


Memperhatikan wajah tampan yang damai saat tidur. Sangat menyayangkan jika saja yang dikatakan asisten di vila tadi adalah satu hal yang benar.


Rasanya tak percaya. Orang yang terlihat gentle itu seorang gay. Tapi nyatanya.. Ah, bisa jadi...


Dan Eril tak peduli,, mencoba tak peduli. Meyakinkan diri bahwa itu bukan urusannya. Mengingat lagi pada tujuan awal saat melamar dan juga interview. Sebab lilitan hutang dan juga demi mendapatkan uang.


Jadi, siapapun dan bagaimanapun Benn,, Eril akan tetap setia menemani. Mungkin hingga batas waktu yang ditentukan telah berakhir dan selesai.


"Eril,," sangat terkejut, di tengah pandangan kosongnya pada Benn, lelaki itu telah bangun dan menatapnya.


"Eh, sudah bangun, Benn?" tanya Eril salah tingkah.


"Kamu sudah mandi?" tanya Benn. Tubuhnya bergerak, bergeser ke samping mendekati Eril.


"Sudah, Benn. Tadi aku ingin bertemu Evan. Tapi mama sudah mengajaknya berkeliling. Jadi aku menyusulmu tidur lagi," terang Eril.


"Ah, Ril...Kamu hanya memikirkan Evan saja. Tidak ingin memikirkan aku?" manja Benn. Lelaki itu telah merapati wanitanya dan memeluk lebih rapat.


"Benn,,kamu selalu modus padaku. Lagipula kamu kan sudah tua, dan juga terlalu kaya. Untuk apa kupikirkan?" kata Eril sambil tersenyum.


"Aku ingin menelanmu saja, Ril,," bisik Ben di kepala mungil Eril. Dengan tangan besarnya yang kini lebih erat memeluk dan menggelung tubuh Eril.


Eril hanya diam dan pasrah, membiarkan Benn memperlakukan dirinya dengan puas. Ada selip rasa iba untuk lelaki yang sedang memeluknya. Berharap agar Benn kembali ke kodrat yang seharusnya. Jika memang iya..