Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
59. Pulang Pagi


Sebab pemilik kamar tidak ada, mesin pendingin di ruangan tidak dinyalakan semalaman. Yang biasanya berhawa kutub dan menggigit, pagi-pagi begini sudah terasa gerahnya.


Balkon yang biasa tertutup dan hampir tidak pernah dibuka sebab AC yang menyala, kini ibu muda itu telah membuka pintunya lebar-lebar. Hawa sejuk berhembus menyerbu dalam kamar. Udara gerah dalam ruangan telah berubah segar dan nyaman. Apalagi dalam ketinggian di lantai tiga, tiupan angin akan jauh lebih kuat daripada lantai satu.


Berdiri di balkon ternyata menyenangkan. Di bawah sana nampak pandangan memanjakan. Hamparan tanaman dengan beberapa gazebo terlihat menarik dan menyerupai taman hijau. Kolam renang luas, dengan air jernih membiru terasa begitu segar dipandang.


Dan sebuah rumah burung yang raksasa dengan bermacam isi jenis juga terdapat di sana. Serta bertabur bangku kecil di sekitarnya. Belum lagi air mancur di kolam ikan itu. Duh, cantik sekali...


Ah, di mana dirinya selama ini? Evan pasti suka diajak berkeliling di sana. Benn tidak mengatakan adanya taman di belakang. Lelaki itu tidak akan berfikir detail tentang kegembiraan Evan selama mengikutinya di gedung ini.


Tin..Tin..Tin..!


Sayup terdengar bunyi klakson yang mungkin datang dari arah gerbang pagar depan sana. Bisa diduga kendaraan milik siapa yang datang. Benn...Lelaki itu telah kembali. Pagi-pagi begini,,,dengan keadaan di luar yang masih terlihat remang-remang.


Tak disangka jika Benn pulang sangat cepat. Meski kemungkinan besar lelaki itu tengah banyak pekerjaan yang menunggunya di kantor. Sehingga dia pulang cepat. Meski rasa kecewa tetap saja lekat dan ada, tapi hadir lega dengan kembalinya sang suami pagi ini.


Eril meninggalkan balkon dan masuk kembali ke dalam kamar. Bersamaan dengan nampaknya kelebat mobil hitam yang menuju garasi di bawah sana. Sejenak serba salah dan bimbang.


Bagaimana nanti bersikap. Apa yang harus dilakukan. Marah, atau ramah,? Ah, entahlah. Yang jelas rasa kesal masih saja dirasakannya..


Tapi Benn menuju ke mana? ke ruang kerjanya, atau singgah juga ke kamar? Eril merasa dadanya berdebar.


Menghampiri cermin di meja rias. Mengambil sisir dan lebih dirapikan lagi rambut panjangnya. Sejenak bimbang untuk sedikit berbedak atau sekedar mengoles lipstik tipis di bibir. Tapi Benn terlalu jeli dengan hal seperti itu. Rasanya jadi malu.. Hanya ditepuk puk-puk saja wajah mulusnya pagi itu.


Tok,,Tok,,Tok..!!


Jantungnya kian laju berdetak. Benn mendatangi kamar sebagai tujuan pulang pertamanya. Bahkan dia mengetuk pintu meski kunci kamar selalu ada dalam tangannya. Dihampiri pintu dengan menenangkan diri sebaik mungkin.


Ceklerk,!


Pintu telah terbuka dan semakin melebar. Terlihat juga sosok yang semalam sangat diharapkan pulangnya. Dan saat ini benar-benar berdiri pulang di depannya.


"Benn, kamu baru pulang?" tanya Eril menyapa. Menghempas rasa kikuk hatinya.


"Iya, Ril. Assalamu'alaikum." Benn melemparkan salam dengan nafas tertahan. Eril terlihat sangat menggoda pagi itu. Memakai lingerie warna hitam dan kontras dengan kulit cerahnya.


"Wa'alaikumsalam, Benn," sahut Eril dan cepat bergeser menepi. Memberi jalan agar badan besar itu segera masuk ke dalam kamarnya.


Benn melangkah masuk, menutup sendiri pintu kamar dan menguncinya. Membalik badan dan memandang sang istri yang nampak segar di matanya. Membuat agak segan untuk melakukan hal yang biasa dilakukan. Tapi Benn tidak ingin melewatkan kesempatan.


Eril yang berdiri dan berusaha tenang, kembali berdebar saat Benn telah merentangkan tangannya. Sejenak ragu dengan apa yang harus dilakukan. Tapi wajah Benn yang tersenyum dengan alis terangkat, membuat si wanita tak ragu lagi mendekat.


Badan besar dengan tangan terentang lebar-lebar itu segera ditubruknya. Eril memeluk Benn dengan erat. Seperti menumpah rindu yang semalaman terpendam. Tidak peduli lagi dengan prasangka negatif pada lelaki yang sedang dipeluknya.


"Kamu kenapa tidak bilang jika tidak pulang, Benn?" tanya Eril di sela pelukannya.


"Ponselku mati. Sorry ya, Ril," Benn beralasan.


Yang ditanya tidak menjawab, tapi hanya mengeratkan pelukan. Benn merasa susah berdiri dan bernafas. Bukan sebab pelukan Eril yang erat. Tapi karena tubuh seksi berlingerie yang menempel erat padanya itulah penyebab sesak dirinya pagi itu.


"Iya. Gerah banget nggak ada kamu, Benn." Eril berkata jujur.


"Kenapa nggak dinyalakan AC nya,?" tanya Benn sambil mengusapkan tangan di punggung Eril.


"Kalo aku dingin, kamunya nggak ada Benn,," sahut Eril. Mulai sadar dengan misinya untuk Benn.


Meski hampir kalap dalam hasrat, Benn tercekat. Berfikir jika Eril memang telah berubah. Lebih berani, menggoda dari segi ucapan dan juga dari penampilannya. Entah kenapa,, dan apapun alasannya, Benn menyukainya. Tapi begitu frustasi jika sadar dirinya tetap saja tak berdaya.


"Pukul berapa Evan bangun,?" tanya Benn tiba-tiba.


"Tidak tentu, Benn. Kenapa?" tanya Eril. Menduga sesuatu tapi pura-pura tidak tahu.


"Ingin tidur sebentar. Temani aku, Ril," terang Benn. Sambil merenggangkan pelukan dan menarik tangan sang istri ke ranjang.


Benn merebahkan istrinya di tengah, sebelah Evan yang masih nampak pulas. Dan menyusul tidur di samping Eril, di pinggir.


Tubuh seksi menggoda itu dipeluknya erat-erat di bawah selimut. Memeluk sepuasnya tanpa berbuat lebih meski ingin. Tidak ingin kedatangan sakit kepala kali ini.


Kantor akan menerima beberapa kunjungan mitra kerja pagi ini. Sebagai pimpinan, Benn tidak ingin tampil dengan penampakan yang kacau saat berada di tempat kerjanya. Terlebih saat bertemu dengan mitra.


Meski rasa kecewa sudah terbayar dengan pelukan hangat dari sang suami. Selip kecewa tidak pergi begitu saja. Harap dan usaha agar Benn menyentuhnya, tidaklah terjadi.


"Ril, lusa Desta dan suaminya akan datang," kata Benn di kepalanya tiba-tiba.


"Benarkah, Benn,?! Aku akan berjumpa, Desta??" Eril serasa tak percaya.


Sahabat lama sedari kacil yang sangat dirindukan. Sahabat yang dulu senasib kini nasibnya telah saling berbeda. Ternyata Desta mempunyai keluarga yang hartawan. Dan tak disangka telah meninggalkan warisan yang melimpah.


"Benn, bagaiman jika Desta tidak ingin mengenaliku,.?" Eril bergumam.


"Kanapa bertanya seperti itu?" Benn terheran.


"Desta telah berubah strata sosialnya. Sedang aku,,,,aku mungkin hanya sebagai wanita bayaran kamu, Benn. Apakah aku terlihat sangat hina, Benn,,?" tanya Eril dengan serak.


Benn tercekat dengan pertanyaan Eril yang baginya cukup menyedihkan.


"Tidak ada yang tahu hal itu, Ril. Kupastikan Desta tidak tahu. Dia tidak perlu tahu. Dan kamu tidak hina sedikit pun. Kamu adalah istriku saat ini. Kamu adalah nyonya Benn, Ril,," Benn mengeratkan pelukannya.


"Benn, aku istrimu? Dan kamu suamiku?" tanya Eril mendongak menatap Benn lekat-lekat.


"Tentu saja. Meski kita dah sepakat hanya sementara. Tapi anggap saja semua baik-baik saja, Ril,," ujar Benn ingin meredam resah sang istri.


"Tapi Benn, aku ingin bertanya. Kenapa kamu sama sekali tidak pernah menyentuh istri sementaramu ini meski hanya sementara waktu juga? Apa aku ini sama sekali tidak terlihat menarik bagimu, Benn,,?" tanya Eril dengan memandang lekat wajah tampan yang masih erat memeluknya.


Benn terkesiap. Tidak menyangka jika Eril akan menanyakan hal itu. Bukan sekedar bertanya. Tapi sebagai lelaki, dianggapnya itu lebih dekat kepada sebuah undangan dan tuntutan. Eril mulai mengungkitnya. Bukan salah wanitanya, tapi Benn merasa bersalah.


Sudah seringkali diawalinya tanpa ada pengakhiran yang wajar. Akan sangat normal jika Eril mungkin merasa dipermainkan. Benn sangat paham, dan Eril juga bukanlah perempuan yang polos lagi saat ini.