Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
38. Obrol dan Bincang


Benn telah selesai dengan makan malamnya. Duduk menyandar santai di sofa dengan memperhatikan ibu muda yang masih mengunyah makanan dengan lambat. Jelas sekali bahwa perempuan itu sedang tidak bersemangat.


"Habis makan, kau tidur saja dengan anakmu di ranjang, Ril,," kata Benn menatapkan matanya pada Eril.


"Kamu tidur di mana, Benn,,?" tanya Eril merasa agak segan. Meski nyatanya Benn sendiri yang mengajaknya pulang ke tempatnya.


"Aku akan tidur di sofa," sahut Benn samar.


"Maaf ya, Benn. Aku dan Evan telah membuatmu jadi merasa tidak nyaman." Eril berkata sebagai pemanis bibir belaka.


Benn tidak menjawab, hanya terus memandang Eril yang terlihat salah tingkah.


"Tapi bukan salahku ya, Benn. Kamu sendiri yang mengajak aku dan Evan ke sini. Kamu tahu dari mana jika aku di mall itu, Benn?" tanya Eril, tiba-tiba ingat akan hal itu.


"Kebetulan lewat saja,," sahut Benn nampak asal beralasan.


Eril kembali diam tidak minat lagi bertanya. Meski diam-diam merasa kikuk, Benn terus mengamatinya saat makan. Lelaki itu baru berpaling saat ponsel miliknya di meja tiba-tiba berdering, tanda sedang ada panggilan yang masuk.


Eril terus mengunyah makanan sambil melirik ke arah Benn. Nampak berbicara sebentar, lalu berjalan menuju pintu kamar dan terdengar membukanya.


Dan tak lama, Benn kembali lagi dengan dua kantong besar di tangannya.


"Jika sudah habis makan, lihatlah. Apa saja yang tak ada." Benn mendekatkan bungkusan besar itu di dekat kaki Eril yang sudah selesai makan malam.


"Duh, banyak banget, Benn. Ini apa saja..? Jadi merasa segan, terimakasih ya, Benn." Eril berkata sambil menarik salah satunya.


"Untuk apa pura-pura bilang segan,,? Kau hanya perlu bilang suka, Ril,," cetus Benn pada Eril.


Eril tidak peduli pada ucapan Benn. Ibu muda itu memeriksa sekilas. Lalu menarik lagi yang satunya. Meneliti isi kantung dengan cepat.


Merasa semua benda yang sempat membuatnya galau, telah ada di dalam bungkusan.


Eril mendongak memandang Benn yang masih berdiri di sampingnya.


"Benn, ini benar-benar banyak sekali. Memangnya, perlu berapa malam kami di sini?" tanya Eril dengan pandangan menyelidik.


"Kau ingin berapa malam, Ril,,?" tanya balik Benn tiba-tiba.


Lelaki tampan berbaju tidur warna hitam itu tengah berdiri menjulang. Menunduk dan memandang seksama pada wanita cantik yang sudah jadi istrinya dan ternyata telah punya anak.


"Aku,,," Eril merasa bingung menjawab.


"Tak usah kau jawab. Hanya, jangan minta pulang jika aku tak memulangkanmu. Anggap saja seluruh gedung ini tempatmu," tukas Benn dengan cepat.


"Kamu memulangkan aku? Kapan itu, Benn?" Eril kembali bertanya.


Benn tidak langsung menjawab. Wajahnya yang menunduk itu kembali memandang Eril seksama dan lama.


"Aku,,," jawaban Eril kembali menggantung. Wajahnya menunduk dengan tangan memegangi bungkusan.


"Tak perlu kau jawab lagi, Eril. Yang jelas, besok kamu dan anakmu akan kubawa berkunjung ke rumah ortuku," pungkas Benn.


Eril kembali mendongak menyimak Benn yang menjulang. Wajah polos tak bermake up itu sangat cerah dengan bibir sensual terbuka saat kepalanya mendongak.


Benn memalingkan wajah dan pandangan. Bergeser menjauh dari sofa. Benn paham jika tubuhnya kembali merespon. Gelombang hasrat yang telah berminggu lamanya tak menyapa, kini dirasakan datang lagi.


Benn tak ingin tersiksa malam ini. Sebab sudah sangat larut. Tidak ingin merepotkan assisten Lucky kembali. Tukang pijat selalu minta dijemput saat malam, tidak bersedia untuk berangkat datang sendiri.


"Benn,,!" Eril terdengar memanggil. Terlihat baru keluar dari arah kamar mandi dengan wajah yang basah.


"Apa, Ril,,?!" sahut Benn. Merasa enggan untuk menoleh dan memandang wajah itu yang ke dua kalinya. Risau jika tak mampu mengendalikan diri, dan pasti akan berakhir dengan nyeri di kepala.


"Apa kamu tidak punya simpanan mukena?" tanya Eril ragu-ragu, kakinya mendekat tapi tidak sangat. Eril baru saja berwudhu.


"Di alamari," sahut Benn singkat dan berjalan pergi ke sofa. Lalu merebahkan punggung dan bermain ponsel di tangannya.


Mukena putih itu masih dalam kotak dan berada di bawah gantungan baju. Mukena mahar bersama sebuah cincin yang telah disebutkan Benn saat melafadz ijab kabul. Dan kotak cincin juga berada di dalam kotak mukena. Eril yang merasa tidak meminta, sempat lupa akan mahar dari Benn itu.


🌶


Eril melewati sofa saat lelaki agak tua sedang mengemas meja dan merapikannya. Segala peralatan dan makanan yang tidak habis telah dikemas dengan cepat. Kemudian tergesa pergi setelah berpamitan kepada Benn dan mengangguk pada Eril dengan sopan.


Benn yang sedang duduk, memandang Eril sekilas dan kembali merebah badan di sofa.


"Benn,, apa lelaki itu yang kamu maksud sebagai penjaga dapur tadi?" tanya Eril sambil menghenyak duduk di sofa.


"Iya," jawab Benn dengan singkat.


"Cepatlah tidur, Ril,," sambung Benn menghimbau pada perempuan yang terlihat kian cantik saat malam.


"Benn, besok kamu tidak meninggalkan kami di rumah ortumu, kan?" tanya Eril terdengar galau. Dan abai pada arahan Benn agar dirrinya segera pergi tidur.


"Sudah malam, Eril," ulang Benn akan arahannya.


"Jawab dulu, Benn," Eril bersikukuh dengan tetap lekat di kursinya.


"Ril,, kau ingin kuangkat ke ranjang atau pilih jalan sendiri,?" tanya Benn serius.


Lelaki itu mengangkat punggung dan telah duduk tegak di sofa. Matanya menatap tajam pada Eril. Tentu saja Eril merasa panik dan sadar jika Benn tidak hanya sekedar menyuruhnya.


"Oke,, aku pergi tidur! Selamat malam, Benn,!" seru Eril buru-buru sambil berdiri cepat dan bergegas pergi tidur. Bayang Benn akan mengejar dan menangkap, membuat Eril merasa ketakutan sendiri.


Ibu muda itu segera merebah tidur dengan posisi yang searah dengan Evan. Masuk ke dalam selimut yang juga sama dengan balitanya. Bocah itu tidak terusik sama sekali. Bahkan kian pulas tertidur tanpa ada gerakan. Hanya dada dan perut saja yang nampak bergerak teratur mengikuti irama laju nafas di dada dan hidungnya.