
Eril memandang menunggu setelah menjelaskan kronologi makan malam bersama Jovan pada Benn. Berharap punggung diam itu akan bergerak atau pun terdengar suara dari pemiliknya.
"Benn, berapa lama sahabatmu berkunjung ke Indonesia,?" tanya Eril. Berharap ada sahutan dari pertanyaannya.
Tidak sia-sia, lelaki itu telah berbalik badan dan dengan cepat memandang Eril.
"Daniel hanya semalam di Jakarta. Aku akan mengantarnya. Kau istirahatlah. Assalamu'alaikum," pamit Benn.
"Iya, Benn. Wa alaikumsalam," sambut Eril pada salam pamit yang diucapkan Benn.
Lelaki itu berbalik lagi dan dengan cepat membuka pintu lalu keluar. Pintu telah tertutup dan tidak dikuncinya. Eril buru-buru mendekati dan menguncinya kembali.
Merasa lega, Benn menganggapnya ada dan berpamitan sebelum pergi. Meski tak ada rentangan tangan yang mengharap dipeluk. Eril menarik dalam nafasnya, sadar jika dirinya harus selalu tahu diri.
🌶
Dokter Daniel terheran saat pasien khusus itu ikut masuk kembali ke dalam kamar sewanya di hotel. Bahkan dengan cepat telah menggelosorkan diri di atas pembaringan.
"Kau tak langsung pulang, Benn?" tegur Daniel. Meletak ponsel dan dompet dari saku kemejanya di nakas.
"Jangan usir. Aku tidur denganmu malam ini." sahut Benn serak. Lelaki itu tidur dengan posisi tengkurap.
"Istrimu sangat cantik begitu. Kau bisa tidak pulang,?" usik Daniel tersenyum.
"Aku sedang sangat kecewa denganmu Dan. Pengobatanmu benar-benar tak berguna," sungut Benn dengan masih tengkurap.
"Hei jangan lempar kesalahan padaku sebab masalah prubadimu yang tak jelas. Lebih baik kau mandi. Kau jorok, Benn, sejak pulang kau belum mandi," Daniel melempar Benn dengan guling di tangannya.
Badan besar yang terus tengkurap itu bergegas berbalik dan mengambil guling yang dilempar Daniel padanya. Hanya dipeluk dan dijepit saja di antara dua kaki. Tak berminat membalas melempar pada sahabatnya.
"Kau pikir aku idiot? Aku sudah mandi sebelum datang dan melakukan terapi.Aku mandi di kantorku," sanggah Benn. Matanya memicing sebentar pada Daniel dan lalu terpejam kembali. Namun ada senyum di wajahnya.
"Penipu. Tukar bajumu,!" kata Daniel sambil melempar dua potong baju di atas pinggang Benn.
Benn bergerak membuka matanya. Mengambil baju itu dan mengamatinya dengan malas. Tshirt dan celana pendek, dengan kain yang terasa lembut dan halus.
Lelaki itu bangkit dan menuju kamar mandi dengan gontai. Bukan sekedar tukar baju. Tapi juga mandi membasahi tubuhnya. Mengguyur seluruh ujung rambut hingga ujung kaki di bawah shower dengan air dingin yang deras mengalir dan memancar. Melakukan dengan lama dan sepuas raganya.
Saat keluar dari dalam kamar mandi, ternyata Daniel sudah rebah dengan menyisakan sisi sebelah pembaringan yang mungkin untuk Benn.
Benn mengambil kursi dan meletak di samping wastafel. Menyalakan hand dryer dan duduk di kursi bawahnya. Bukan tangan yang dia keringkan. Tapi rambutnya yang berair.
Cukup lama Benn termangu-mangu sambil mengacak rambut di kepala. Menikmati hembusan angin hangat bercampur panas dari mesin pengering otomatis itu. Hingga diserang rasa mengantuk yang sangat bersamaan rasa kering di rambut tebalnya.
Benn berdiri dan melesat ke ranjang. Menyelip ke dalam selimut menyusul Daniel untuk istirahat. Merapat dan dipeluk erat sang sahabat. Daniel sepertinya risih dan bergerak-gerak menolak. Tapi Benn memaksa dan tetap merangkulkan tangan serta menjepit kuat dengan kakinya.
"Heh, lepas Benn. Sumpek aku. Makanya, kalo punya bini tu, ditunggu. Kau pikir aku ini binimu,!" sungut Daniel dengan rasa lelah yang sangat.
Tak ada reaksi apapun dari Benn. Kaki Benn tetap kuat menimpanya.
"Benn, jangan-jangan kau ini bagian warga pelangi sungguhan?" Daniel bertanya dengan bayang senyum di wajahnya. Tapi tak mempan, Benn terlalu tawar dengan ejekan seperti itu. Sudah terasa biasa baginya.
Benn tetap membisu. Daniel merambatkan tangan menyelusup ke perut Benn dengan cepat. Berlagak akan menyelip tangan ke celananya.
"Brengsek kau, Dan!" seru Benn sambil mengibas tangan Daniel. Dan Daniel tertawa puas akhirnya.
Benn telah melapas jepitan kaki dan tangan serta berbalik cepat memunggungi Daniel. Merapatkan selimut tinggi-tinggi hingga ke leher. Benn nampaknya juga risau jika Daniel sungguh-sunggug akan melakukan terapi tangan itu pada tembakannya.
"Kau takut, haah,,! Ha,,ha,,ha,, kau sedang galau ya, Benn. Baiklah, aku beri empati untukmu."
Daniel mendekatkan diri pada Benn dengan sisa tawanya. Berganti memeluk sahabatnya dengan tangan dan kaki. Memahami jika Benn sedang merasa terpuruk dan ingin ada seseorang yang benar-benar mengerti tanpa memberi judge berlebihan padanya saat ini.
🌶
Telah lewat tengah malam, single parent yang sedang memeluk anak tercinta, tidak juga bisa tidur.
Merasa kecewa pada lelaki pemilik kamar yang ternyata tidak pulang. Merasa diri sebagai wanita yang tidak menarik meski sudah berusaha mempercantik diri bahkan juga melakukan perawatan tubuh di salon. Merasa usahanya berujung sia-sia hari ini. Dan tidak dilirik sama sekali. Bahkan ponselnya pun terus saja sedang mati.
Benn justru memilih pergi menghabiskan malam dengan seorang lelaki yang diakui sebagai sahabat. Rasanya mulai percaya jika rumor miring tentang Benn itu adalah benar. Sang suami memang seorang penyimpang.
Rasa kecewa yang sangat pada lelaki yang masih diharapkan pulang, dibawanya hingga tidur. Kecewa yang mengandung rasa sakit sebab diabaikan oleh Benn.
Suaminya, meski itu hanya sementara, lebih memilih sahabat lelaki dan menganggap dirinya hanya sekedar mainan belaka.Rasa sangat kecewa pada lelaki yang masih diharapkan pulang, dibawanya hingga tidur. Kecewa yang berbaur rasa sakit sebab diabaikan tanpa kabar apapun dari Benn.
🌶 🌶
Benn baru menyalakan ponsel setelah shalat subuh dengan Daniel dari mushola di hotel. Mendapati begitu panyak laporan panggilan dan hampir semuanya dari Jepang. Dan satu di antaranya dari Eril.
Panggilan dari sahabatnya di Jepang sana, Leehans. Yang diakhiri dengan meninggalkan sebuah pesan. Sahabat sekaligus saudaranya menulis jika lusa, dua hari lagi akan mengunjungi Indonesia bersama sang istri, Desta.
Dan sebuah pesan lagi dengan waktu yang semalam. Sebuah pesan dari Eril yang membuatnya menahan nafas.
*Benn, kenapa belum pulang? Kamu tidak pulang? Pulanglah, Benn,,,*
Merasa haru dengan isi pesan itu. Ada seseorang yang tengah mengharapnya pulang.
Sadar jika sedang mempunyai seorang istri. Istri yang ternyata juga memikirkan dirinya. Meski itu hanya istri sementara untuknya.
"Dan, terimakasih atas kedatanganmu untukku ke Indonesia," pamit Benn di depan pintu. Daniel berdiri melepasnya di depan kamar.
"Sama-sama, Benn. Jika ada apa-apa, jangan ragu menelponku," sambut Daniel dengan mengangguk.
"Iya, Dan. Sorry, aku tidak mengantarmu ke penerbangan," imbuh Benn.
"Aku paham,Benn. Kau yang sabar, semoga segera kau dapat keajaiban untuk kesembuhan sakitmu." Daniel mengangguk dan berpetuah.
"Thanks Dan. Aku pulang. Assalamu'alaikum," pamit Benn untuk terakhir kalinya.
"Wa'alaikumsalam. Salam buat Evan dan Eril, Benn,,!" seru Daniel yang terakhir kali juga.
Benn telah berjalan lurus dan tidak menoleh lagi. Menuju ujung lorong hotel yang menyimpan lift di sana. Kotak besi yang akan menurunkan lelaki tergesa melangkah itu ke lobi.