
Asisten Lucky baru saja membuat pesanan makan siang dari sebuah dapur online. Tidak lagi dari resto keluarga Harsa ayahnya Benn, seperti kebiasaan kantor selama ini. Bukan tanpa maksud, tapi asisten Lucky sedang mempunyai tujuan tersendiri.
🌶🌶🌶🌶🌶🌶
Dua jam yang lalu...
Tanpa memberi kabar apa pun, tiba-tiba nyonya Donha, ibunya Benn mendatangi Benn di kantornya di gedung utama. Membawa seorang gadis cantik dengan langkahnya yang anggun dan gemulai. Putri dari rekan bisnis sang suami yang akan dikenal rapatkan kepada putra tunggalnya, Benn.
Namun apa yang didapati dalam ruangan Benn membuat sang mama sangat malu dan kecewa. Benn sedang duduk terpejam-pejam mengenakan singlet ketat tanpa apa pun atasan. Dengan seorang lelaki sangat tampan dan kekar menelusuri leher dan pundak Benn. Lelaki itu terlihat sangat memanjakan Benn dengan penuh puja dan lembut.
"Oigoo,,,migod, Beeenn... Apa yang sedang kamu lakukan itu, haaah,?!" mama Donha berseru mendapati anak lelaki dalam kondisi seperti itu. Merasa sangat malu sendiri.
"Mama lihat sendiri, aku sedang apa,,?" sahut Benn sambil meraih kemeja yang teronggok asal di atas meja kerja.
Memberi kode pada lelaki tampan seksi itu untuk keluar ruangan. Benn mengenakan kemeja kerja panjang semula dengan santai. Sambil menyambar tangan kanan mama Donha untuk ditempel di hidung mancung tajamnya.
"Geli mama rasa melihatnya. Sangat memalukan itu, Benn,,!" seru sang mama nampak gemas melotot.
Benn telah berkemeja rapi seperti semula. Hanya berkemeja tanpa mengenakan jas kerja. Kembali nampak gagah dan tampan sebagai lelaki gentle sebenarnya. Kemeja kerja itu sangat lekat menempal sempurna di badan.
Benn kembali duduk tegak di kursi kerja setelah melirik sekilas pada gadis cantik yang dibawa mama Donha. Namun hanya acuh tak berminat memandangnya lagi kedua kali. Mama Donha semakin kesal pada si anak lelakinya.
"Benn, berdirilah..! Lihat, kenalkan gadis super cantik putri rekan papamu ini, namanya Selvi,," tehur nyonya Donha pada sang putra.
Benn meletak sebuah buku yang tadi dipegang ke meja kembali. Segera berdiri dari kursi seperti yang diminta mamanya barusan. Lalu memandang tersenyum pada gadis yang dibawa ibunya.
Benn mengamati Selvi dengan seksama tanpa sedikit pun merasa malu. Gadis yang diamati sedang tersenyum indah padanya. Dengan bibir yang digaris lukis sensual berwarna sangat merah. Entah bagaimana bentuk asli bibir Selvi jika lipstik merah itu terhapus. Yang jelas gadis itu terlihat sangat cantik. Benn mengulur tangan berkenalan.
"Hai Selvi. Apa kabar? Namaku, Bennard," sapa Benn berkenalan.
Tersenyum menawan tanpa sengaja pada Selvi. Memang seperti itulah Benn, menebar pesona tanpa disengaja. Sudah menawan alami di segala situasi dan kondisi.
"Halo juga, mas Benn. Emm,,, lelaki tadi itu temanmu?" tanya Selvi terus terang dengan rasa heran hatinya.
Mengakui bahwa dua lelaki yang dilihat saat baru membuka pintu tadi terlihat janggal dan tidak pantas. Dan salah satu dari lelaki tampan itu ternyata adalah putra dari tante Donha sendiri, Benn. Lelaki yang akan dikenalkan padanya.
"Bukan, Selvi.. Dia adalah tukang pijat, dan kami baru saja saling berkenalan," jawab Benn nampak sungguh-sungguh.
Namun Selvi menganggap jawaban Benn itu terdengar lebih janggal lagi.
"Ya aku membayarnya tuh murni harga tukang pijat, maa... Bukan jadi urusanku jika dia ternyata tukang pijat plus plus atau bahkan juga minus minus, maa,,!" Benn menjawab santai sambil duduk kembali ke kursi kerjanya.
"Sudah, Benn. Pening kepala mama. Jangan pernah mama lihat lagi kau dipijat lelaki-lelaki lagi. Rasanya mama jadi mual,,!!" peringatan sang mama dengan ekspresi yang berapai-api. Tersiksa rasa geram dan marah, sebab tak mampu melampiaskannya.
"Siap, maa..! Nanti kutukar menyewa tukang pijat wanita-wanita saja. Apa mama tidak akan mual,,?" Benn bertanya yang kemudian menahan tawa melihat sang mama terlihat kebingungan sendiri.
Nyonya Donha berpaling melengos. Abai pada anak lelakinya yang benar-benar semaunya sendiri. Merasa sangat heran, jika dibilang salah asuh, tapi kenyataannya,, semenjak lahir hingga super dewasa begitu, hanya dirinya sendirilah yang mengasuh Benn dan bukan juga baby sitter. Lalu apa namanya Benn itu,,
"Maaf ya Selvi, tante tidak bermaksud membawamu untuk melihat hal yang tak pantas seperti tadi. Anak tante ini memang semakin bandel saja tiap waktu." Mama Donha nampak serba salah pada Selvi. Merasa tidak ada muka lagi untuk membujuk Selvi dan juga Benn untuk saling mengenali.
Benn sangat memahami hal itu. Mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan sang mama.
"Ehmm,,, Selvi, boleh aku minta nomor ha pe mu? Biar kusimpan, akan mudah jika aku ingin menghubungimu kapan pun,," Benn bertanya lembut pada Selvi.
Menunjukkan minat dan antusias pada gadis yang telah dibawakan sang mama. Gadis khusus pilihan mama yang akan disodorkan padanya.
Merasa tak-tiknya berhasil. Selvi nampak salah tingkah dan segera mengulurkan ponselnya pada Benn. Sedang sang mama juga mengipasi wajah menggunakan lembaran kertas sambil memandangi Benn dengan raut gembiranya. Padahal ruangan Benn tidak panas. Pendingin ruang tidak pernah terlewat untuk di ON kan jika Benn berada di dalam ruangan.
"Jika aku menghubungimu, tidak ada yang bakal marah, kaan,,?" tanya Benn terdengar serius. Tersenyum hangat penuh arti pada Selvi yang menggeleng dengan wajah tersipu merona. Melancarkan rayuan tanpa merasa beban dan bersalah.
Padahal Benn hanya ingin sekedar kian menyenangkan perasaan sang mama belaka. Juga hanya tidak ingin mengecewakan usaha sang mama untuknya. Dan ini entah usaha ke berapa kali mama Donha membawa perempuan untuk Benn. Namun usaha mulia sang mama demi anak lelakinya selalu berakhir sia-sia.
Benn pun dalam diam meresa resah dengan dirinya. Seperti telah terjebak oleh pagar yang telah dirapatkan sendiri beberapa tahun yang lalu. Semenjak meninggalkan semua kekasihnya dan tidak sekali pun meniduri wanita lagi, meski mula-mula terasa berat dan akhirnya nyaman terbiasa. Dan seperti telah mengubah fantasi kodratnya tanpa sadar.
Benn benar-benar tidak terfikir dan tidak berselera untuk kembali dekat dengan wanita. Merasa dirinya seperti mati rasa sebagaimana normalnya lelaki. Diam-diam merasa was-was dan cemas akan keadaan dirinya.
🌶🌶🌶🌶🌶
Eril bergegas semangat menuju sebuah pintu gerbang yang menampakkan sebagian bangunan megah di baliknya. Membawa bungkusan besar berisi pesan order makanan sebanyak dua puluh lima porsi kotak makan. Plus dua kotak spesial dengan menu spesial dan harga pun juga spesial.
Saat merasa hampa tanpa semangat sebab order pesan tidak juga masuk ke pesan di ponsel, tiba-tiba datanglah order pesan siang ini. Sebuah nomor asing ingin diantar makanan siang ini dengan harga sangat bagus.
Bukan Eril yang meminta harga kenaikan. Orang yang memesan itulah yang menaikkan sendiri oder pesanan.
Sebab itulah Eril begitu bersemangat. Meski sangat mendadak dan terasa seperti dikejar. Berusaha dipenuhi sekuat raga untuk menyiapkan orderan itu dengan tambahan bantuan dari teh Sulis. Juga hadirnya celoteh semangat dari balita kesayangan, Ardevan Ahmad Abinya.