Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
20. Dijemput Cepat


Merasa sangat lega, sampai juga akhirnya. Memasuki teras di rumah kontrakan yang rasanya seperti surga di dunia. Bangunan sangat kecil namun terasa lapang baginya. Sebab ada sang buah hati tersayang di dalam sana.


"Assalamu'alaikum...!" Tak ada sahutan. Ditutupnya pintu rumah kembali. Melangkah masuk tergesa dan berjalan cepat menuju kamar nya.


Saat membuka pintu, rasa lega gembira menyergap hati dan jiwa. Evan tengah tidur dengan dipeluk teh Sulis yang juga memejam di sebelahnya. Mereka tengah sangat nyenyak tidur siang.


Eril segera menyambar handuk dan terburu pergi ke kamar mandi. Ingin mengguyur tubuh lelahnya barang segayung. Cuaca Jakarta sedang sangat gerah luar biasa. Apalagi sempat terpanggang di aspal jalanan saat pulang barusan. Macet sempat dirasakan bersama pengemudi ojol yang membawanya. Membuat kulit pori di tubuh Eril merembeskan cairan asinnya.


Mukena terbungkus sajadah telah diletak semula di laci almari yang bawah. Merasa telah siap untuk menyapa balita tercinta dan membangunkan teh Sulis.


Eril mengusap pelan lengan teh Sulis yang sedang memeluk longgar badan Evan. Mereka tidur melintangi ranjang dengan kaki teh Sulis yang menggantung sebagian. Diulanginya beberapa kali dan berharap wanita itu tidak akan berjingkat terkejut.


"Teh, aku sudah pulang," kata Eril dengan lirih. Tidak ingin mengusik tidur balitanya. Wanita yang dibangunkan telah terjaga dan menatapnya nampak bingung. Mungkin jiwa melayangnya masih sebagian saja yang sudah kembali ke raga.


"Kok lama banget pulangnya, Ril,," respon teh Sulis akhirnya. Telah merasa sadar sepenuhnya.


"Iya, pak Jovan memajukan jadwal kasus kami, teh,," terang Eril. Duduk di samping kaki balitanya.


"Apa sudah beres?" tanya teh Sulis sambil bergerak bangun dari rebah. Duduk miring dan memandang Eril seksama.


"Alhamdulillah, sudah lho, teh. Sangat lega rasanya." Eril mengelusi dada sambil tersenyum pada teh Sulis dengan hangat. Wanita itu mengangguk gembira menanggapi ucapan lega Eril.


"Baiklah, sini istirahatlah. Teteh belum sholat dzuhur nunggu kamu," terang teh Sulis. Wanita itu bergerak berdiri dan menjauhi tempat tidur.


"Aku keluar dulu ya, Ril,," pamit teh Sulis sebelum benar-benar keluar dari kamarnya.


"Terimakasih lho, teh,,!" Eril berseru lirih sambil berpindah posisi.


Mengangkat pelan si buah hati untuk diposisikan tidur segaris dengan panjang ranjang. Merasa tidak mampu jika meniru posisi tidur menggantung seperti teh Sulis dengan kaki terjuntai. Dan itu akan membuat terasa pegal remuk tubuhnya.


Kini dengan posisi nyaman merebah tenang di pembaringan. Memeluk erat balita Evan dan tak terhitung lagi sudah berapa kali diciuminya. Begitu gemas, seperti ingin menggigit dan bahkan ingin menelannya saja. Eril kembali memeluk erat dan tak ingin terpisah hingga kapan pun.


Merasa sedih jika sebentar lagi akan meninggalkan Evan, buah hatinya. Hanya beberapa jam saja dari sekarang. Sebab nanti malam, asisten Lucky benar-benar akan menjemputnya. Meski perginya hanya sementara dan pasti harus kembali, entah kapan saat tepat itu, rasanya sangat berat dan sakit.


Buah hati yang tak pernah terpisah darinya. Dari mulai dikandung sembilan bulan di rahim hingga kini berusia tiga tahun di pelukan, Eril tidak pernah meninggalkan Evan lebih lama dari beberapa jam. Dan malam nanti sampai kapan, belum tahu,, Eril terpaksa tidak akan melihat anaknya dalam waktu dekat ini sementara.


Hanya berharap ada peluang dari Benn untuk melepaskan dirinya setelah pernikahan.. Dan berharap, teh Sulis adalah wanita yang benar-benar baik dan berhati tulus menjagakan Evan untuknya.


Bagaiman pun baiknya, teh Sulis adalah orang lain dari luar yang tidak ada hubungan keluarga apa pun dengannya. Bahkan lebih was-was lagi, Evan dan Eril sendiri tidak memiliki kekuatan tertulis yang menyatakan hubungan darah ibu dan anak.


Hanya berbekal surat nyata kelahiran dari bidan sajalah yang sedang dimilikinya. Surat kelahiran Evan yang diterbitkan bidan saat melahirkan Evan. Dan selalu aman disimpan oleh Eril di dompetnya.


Kelopak yang mulai menutup itu membuka dan menampakkan dua bola mata yang kesal. Bunyi nada panggil beruntun di ponsel membuatnya terpaksa bangun dan meraihnya.


Sebuah nomor tidak bernama sedang memanggil di layar ponsel milik Eril.


"Sterilia..?" tanya suara gentle yang telah dikenal oleh Eril. Perempuan itu segara duduk sungguh-sungguh dan merasa agak tegang. Ini adalah pertama kali Benn menghubungi ponselnya.


"Iya,,,Benn,,?" tanya Eril memastikan. Menunggu lelaki di seberang menjawab tanyanya.


"Bersiaplah, dua puluh menit lagi asluk akan mengambilmu. Alamat yang kau tulis di datamu ini benar apa palsu,,?" tanya Benn dengan tajam. Eril merasa lelaki yang sedang menelponnya tengah bad mood.


"Itu di Depok, rumah ayu ting-ting, Benn," Eril justru memancing, penasaran dengan laki-laki yang terdengar sedang garang di seberang.


"Sterilia!!!!" seru Benn sangat lantang. Seperti Ingin memecah ponsel dengan bentakannya. Eril cukup terhenyak dengan suara Benn yang keras kali ini. Tidak biasanya Benn begitu.


"Tentu saja asli, Benn,,! Tapi kenapa aku dijemput sekarang? Katamu kan nanti malam,,?!" sahut Eril buru-buru menegaskan dan bertanya. Menunjuk nada risau jika Benn akan berkata keras lagi padanya.


"Bagus, tunggu asluk datang dan ikutlah,,!"


seru Benn sebelum bunyi tuut panjang di ponsel Eril. Lelaki itu sudah memutus sepihak panggilan tanpa salam dan pamit seperti biasanya. Benn tidak menjelaskan apapun kenapa lebih cepat menjemput dirinya.


Eril termenung, heran dengan Benn yang seperti tengah berasap tanpa sebab. Kenapa lelaki itu? Apa Benn sedang menyesal telah memilihnya? Lalu apa salahnya.. Kenapa jauh lebih cepat dijemput?


Teringat akan tujuan Benn menelpon. Terkejut sendiri rasanya... Dua pulih menit,,??!!


Apa???!! Cepat sekali,,!!!


Dipandanginya si buah hati yang masih juga tidur nyenyak. Tidak terpengaruh dengan suara sang ibu yang tadi sempat bising di sampingnya. Eril menciumi pipinya bertubi-tubi. Seperti ingin membuat pipi itu menempel di hidung dan dibawanya pergi keluar bersama.


Sayup terdengar ketukan pintu dari luar. Dada Eril kian bergemuruh dan resah. Jika itu asisten Lucky, cepat sekali datangnya. Bahkan belum sepuluh menit. Ah, sesak sekali rasanya.


🌶🌶🌶🌶🌶


🌶🌶🌶🌶🌶


🌶🌶🌶🌶🌶


Asisten Lucky membawa ibu muda dengan mata sembabnya menaiki lift menuju lantai tiga. Jalan khusus di luar bangunan dengan garasi luas yang terdapat lift pribadi itu. Bukan lagi tangga panjang manual di dalam bangunan megah gedung.


"Masuklah, Eril. Bersabar saja menghadapi sikap Bennard. Jika ada apa-apa sebelum tuan Benn datang. Hubungi saja aku atau juga Benn." Lucky memandang datar pada Eril.


Melepas tangan pada pintu yang baru dibukanya. Mengisyaratkan lagi agar perempuan itu segera masuk ke dalamnya. Eril melangkah diam menuju ke dalam.


Ceklerk,,!


Sedikit terkejut, asluk telah menutup pintu seketika dan menguncinya. Merasa diri sebagai tawanan tanpa paksaan, rasanya serba salah.


Juga begitu kesal pada Benn. Lelaki yang pemaksa dan bersikap suka-suka. Tidak memberinya kebebasan untuk berbuat leluasa. Lalu, di mana lelaki lapuk itu ??