
Perempuan dengan aura tidak membosankan namun sedang bermuka muram, berjalan tergesa di tepi trotoar. Dan benar-benar berhenti di sebuah halte di simpang tiga jalan raya. Menunggu datangnya ojol yang sudah bermenit-menit lalu dipesannya.
Rencana untuk segera pulang demi bersama lagi dengan sang buah hati meski hanya sejenak, terpaksa diundurnya. Jovan telah menghubungi untuk datang lebih cepat ke markas. Sebab polisi muda itu akan ada urusan selepas tengah hari. Jadi ingin membereskan berkas perempuan itu sebelum tengah hari.
🌶🌶🌶🌶
Perempuan cantik dengan tubuh yang juga terlihat serasi dan menarik, namun tergeser dengan pernik sederhana di segala penampilannya, berjalan tergesa keluar dari kantor markas polsek. Menyusuri trotoar sambil matanya mencari barangkali ada penjual makanan yang bisa cepat didapatnya. Perasaan lega dan gembira sebab lepas dari masalah yang mengganggu lena tidurnya akhir-akhir ini, sedikit terganggu dengan rasa perih lapar di perutnya.
Perut rata itu itu semakin tipis sebab belum terisi bahan bakar sesuap pun ke dalam lambungnya. Hanya sempat meneguk segelas kecil teh hangat pagi-pagi tadi, sebelum berangkat mengantar pesanan. Rencana makan setelah pulang terpaksa ditepis sebab panggilan dari briptu Jovan yang telah dimajukan.
Tin...!! Tin...!!
Bunyi klakson mobil telah dua kali terdengar dari samping belakang Eril. Bersama keluarnya sebuah kepala lelaki dari jendela pintu yang segera dikenali oleh Eril, wajah siapa di kepala lelaki itu.
"Eril,,!!" seru Jovan. Yang kemudian nampak turun setelah benar-benar menyandarkan mobil merapati trotoar.
"Ada apa, pak Jovan,?!" tanya Eril berseru pada Jovan. Terheran dan was-was, khawatir jika polisi itu membawa kabar susulan yang tak sedap.
Jovan membawa tubuh tegapnya melenggang menghampiri Eril yang berdiri menunggunya di trotoar.
"Ril, lunch barengan yuk,,!" ajak Jovan sangat santai. Jovan menaikkan sebelah alisnya memandang Eril dan tersenyum. Polisi gagah itu telah menjelma kembali menjadi anak muda dengan gayanya yang gaul.
"Aku harus buru-buru pulang, pak Jovan. Anakku menungguku," tolak Eril sungguh-sungguh.
"Kita Lunch dengan ngebut saja, Ril. Ada rumah makan bagus yang sangat dekat dari sini. Sekali berkedip saja pun nyampek. Yok, ah, Ril..!" Jovan seperti akan menarik tangan Eril. Namun dengan cepat Eril menggeser kakinya mundur meski tubuhnya terasa sedikit lemas. Jovan kian tersenyum lebar dengan reaksi Eril itu.
"Ayolah, Ril,, temani aku sebentar saja. Eh, uangmu masih ada padaku. Hitung-hitung sambil aku bayar hutang. Buruan, ah, Ril,,,!" ajak Jovan tak menyerah.
"Beneran dekat, pak,,?" tanya Eril memastikan dengan perasaan yang bimbang. Merasa lapar yang sedang dirasakan perutnya kian tak bisa lagi ditolerir.
"Ya kalo nggak pergi, kamu mana tahu benar enggaknya kan, Ril..?" tanya Jovan sambil bergegas mendekati mobil dan membuka pintu depan untuk Eril.
"Lekas, Eril,," ajak Jovan dengan lembut pada Eril yang masih saja ragu dan bingung. Memberi kesan buru-buru dengan sedikit menggoyangkan pintu mobil.
Dan berhasil,, perempuan berbodi aduhai di balik pakaian sederhananya itu telah duduk pelan dan manis di samping kursi kemudi. Dengan samar bersiul, Jovan menutup pintu dan berjalan memutar ke depan menuju kursi kemudinya.
Eril menoleh Jovan yang bayang senyum tak pernah lupus dari wajahnya. Entah apa yang membuat wajah lelaki itu nampak ceria dan gembira.
Berbeda jauh dengan ekspresi wajah yang dibentangkan saat membereskan masalah Eril, bersama ketiga orang yang terkait di ruang kerjanya barusan. Wajah serius, tegas, dan berwibawanya telah kembali menjadi pribadi yang pernah dilihat Eril saat menjadi driver gocar..
Ciiiiiiitt...!
Mereka meninggalkan latar parkir dan memasuki area meja restoran yang nyaman dan tenang. Memilih salah satu meja yang paling dekat dengan jangkauan. Jovan sangat paham dengan kemauan Eril yang ingin cepat dan tergesa. Tak jauh beda dengan dirinya, sedang berburu waktu untuk mendatangi sebuah kantor markas besar di kota sebelah. Jovan pun buru-buru.
"Tidak minat ikut denganku ke Bekasi,,,?" tanya Jovan setelah meletak gelasnya. Lelaki itu baru saja selesai dengan urusan di piringnya. Dan tengah bersiap untuk berdiri sambil melambai pada pelayan lelaki terdekat.
"Pak Jovan, konyol sekali. Saya di sana akan dijadikan orang-orangan sawah,,?" sahut Eril tersenyum. Mulai berdiri menjauh dari meja kursinya.
"Orang-orangan sawah edisi luar biasa. Akan menjadi pemandangan segar untuk para buaya di markas,,, ha..ha.." Jovan berkata menanggapi dengan tertawa candanya.
Jovan telah selesai melakukan pembayaran pada pelayan lelaki tadi. Dan Eril mengikuti polisi muda itu berjalan menuju pelataran parkir di restoran.
"Pak Jovan, terimakasih ya. Maaf, ngrepotin,," Eril berbasa basi sebelum berpamitan.
"Yang sering-sering saja ya, Ril..!" tukas Jovan sambil kembali membuka pintu di kursi Eril. Menunggu perempuan yang tadi di situ kembali duduk di sana.
"Pak Jovan, saya akan jalan cari taksi. Anda duluan saja,," kata Eril menanggapi maksud Jovan.
"Kubawa kamu hingga ke halte depan sana. Jangan membuatku merasa jadi buaya markas, Ril,,!!" seru Jovan dengan mendorong tarik pintu mobil kembali.
Dan berhasil sekali lagi,,, Ibu muda menawan itu telah menghempas pinggul pantatnya di kursinya semula.
Dengan lebih gesit bersemangat, briptu Jovan yang perutnya sudah aman itu berjalan memutar cepat ke depan. Dan duduk di kursi kemudi dengan wajah cerahnya yang tersenyum. Membawa kendaraannya meluncur mulus meninggalkan restoran favoritnya yang berlogo Irawan's Family.
🌶🌶🌶
Kepergian mobil hitam legam itu dilepas dengan pandangan sepasang mata elang yang sangat tajam mengawasi. Begitu heran dengan sedikit rasa emosi tidak terimanya.
Polisi muda yang sempat dilihatnya akrab dengan Eril di kantor markas kemarin, kini kembali nampak dengan perempuan yang sama dan yang akan dinikahinya sebentar lagi.
Benn yang baru keluar dari ruang privacy di resto sehabis berbincang dengan sang mama, sangat terkejut melihat Eril sedang berbicara akrab dengan polisi muda itu di samping mobil hitam.
Benn ingin bertegur sapa secara langsung dengan mereka. Namun langkah tergesanya masih kalah cepat dari gerakan gesit polisi muda itu saat menutup pintu dan melarikan mobilnya keluar pelataran di restoran.
Meski Eril hanya di dapat tiba-tiba dari pemilihan dan seleksi hasil iklan, tapi Benn merasa dirinya sudah berhak sedikit menuntut atau pun mengatur sedikit kehidupan gadis itu. Dan meskipun pernikahan mereka nanti sudah terlanjur dibuat kontrak, Benn sangat tidak ingin dikhianati, dicurangi, atau pun dipermainkan.
Benn merasa berhak,, merasa tidak terima,,, dan merasa sedikit kecewa. Benn merasa sudah membayar uang muka.
Sebab,,, Benn merasa percaya akan kesederhanaan Sterilia. Dan sangat tidak menyangka jika gadis itu tidak sepolos tampilannya..