Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
16. Melunasi Tanggungan


Terlalu bersemangat bangun pagi hari ini. Ibu muda nampak telah sibuk bersenam tangan dengan gerak iris cincang di dapur. Sambil matanya sesekali melihat daftar order masuk di buku rekap pesanan yang cukup beragam hari ini. Untuk memastikan kebenaran olah racik bahan sesuai menu pilihan yang diorder.


Wajahnya nampak cerah sambil sesekali bernyanyi-nyanyi kecil dengan nada yang sumbang. Suara yang biasa lentur saat bersenandung itu terdengar asal dan fals pagi ini.


Bukan baru bangun tidur dan hari pagi buta. Tapi lagu yang dinyanyikan adalah lirik lagu anak-anak yang hanya lupa-lupa ingat dan tidak dihafal. Tapi sangat disukai Evan, balita tersayangnya. Sehingga ibu muda itu demikian nekat dan latah bersenandung.


"Aih...Ril, kamu nampak bahagia pagi ini.. Orderan juga seperti biasa, kan? Ada apa? Apa pria bening yang akan menikah denganmu itu telah benar-benar melamarmu?" tiba-tiba teh Sulis telah di sampingnya dan terheran mengamati.


Eril tersenyum memandang teh Sulis sebentar.


"Ha..ha.. Bukan masalah dilamar, teh. Seperti tujuan awalku saja,, Lelaki lapuk bening itu telah mencairkan hadiahku. Meski hanya sebagian, rasanya seneng banget. Rasanya masih tak percaya, teh. Dan aku akan segera melunasi tanggungan musibahku ke kantor polisi."


Eril mengabarkan hal bahagia yang sedang dirasa pada teman serumah baiknya itu. Orang yang punya peran penting dalam usaha mengikuti seleksi pilih istri oleh Eril pada Benn. Dirinya tidak lupa, berkat temuan iklan dari teh Sulis di Shopee itulah, Eril akhirnya mengikuti lomba seleksi cari istri. Dan tak disangka-sangka, meski sempat jadi peserta yang terakhir, sang pemenang itu adalah dirinya. Merasa bersyukur sepanjang waktu akan limpahan rizqi yang telah dicurahkan olehNya.


"Alhamdulillah... Teteh ikut lega, Rill. Akhir nya lunas juga tanggungan itu yaaa.. Pak polisi yang sering menelpon kamu tiap hari itu pasti bakal kangen dengan suaramu, Rill,," teh Sulis berkomentar konyol pada Eril.


"Iya, teh. Takut sekali jika aku akan lari. Padahal mereka kan punya jaringan dan kuat. Aku ini kan hanya seekor rayap, jika jalan pun pasti merayap-rayap. Dan jika mencoba lari, juga pasti akan sangat mudah kena sergap,,,ha,,ha,,ha,," Eril bernarasai gembira sambil tertawa terbahak pagi itu. Namun tangan-tangan terampilnya tidak pernah berhenti bergerak. Sambil terus mengiris dan mencincang.


"Yang nelpon tiap hari tuh, orangnya sama apa ganti-ganti, Rill?" tanya teh Sulis.


"Nomornya sama,,, suaranya juga sama. Kayaknya orangnya ya sama, teh. Dan gokil lagi, kemarin dia malah nawarin pinjaman ke aku, teh... Modus bangeeet,,,jaman kayak gini kalo nggak ada kerang di balik karang, nggak mungkin sekali,,," kata Eril sambil berhenti mengiris sejenak. Memandang teh Sulis dengan mimik terheran.


"Betul itu, Ril,,?!" teh Sulis pun juga tak kalah terheran. Yang ditanya mengangguk.


"Barangkali ada minat sama kamu, Ril." Teh Sulis berargumen sendiri.


"Kita nggak pernah ketemu,, dia mana pernah lihat aku, teh,," Eril merasa ucapan teh Sulis itu tidak mungkin.


"Lah, data kamu kan ada di sana, " bantah teh Sulis menguatkan sangkaannya. Eril kembali menoleh pada wanita sunda itu.


"Eh, aku memang diambil foto juga dengan korban insiden kemarin itu, teh.." Eril kini manggut-manggut mengakui kemungkinan kebenarannya.


"Heemm.. Nah,,kan??" teh Sulis pun juga mengangguk beberapa kali pada Eril.


"Lalu kapan rencana kamu datang ke kantor polisi, Ril,,?" sambung tanya teh Sulis kemudian. Wanita yang jika pagi buta belum mengenakan kerudung dan hanya menguncir asal rambutnya. Dan akan berkerudung saat mentari nampak di ufuk timur jagat raya.


"Pagi ini juga, teh. Setelah pulang dari mengantar pesanan. Sekalian ingin mengajak Evan jalan-jalan. Eh, teteh ikut saja sekalian dengan kami. Kita anggap saja syukuran sambil liburan. Mau ya, teh,," harap Eril sambil memandang serius wanita sunda itu.


Eril ingin bergembira bersama orang yang sangat berjasa baginya. Juga ingin memberi sebagian nominal dari jumlah uang muka yang telah Benn transferkan padanya semalam. Dan sangat lega saat dilihatnya wanita itu mengangguk gembira menyetujui ajakan Eril untuk jalan-jalan bersama hari itu.


🌶🌶🌶


Mereka bertiga telah turun dari taksi di depan salah satu kantor polsek di Jakarta. Segera menuju ke dalam kantor markas. Dan seorang lelaki muda berseragam coklat khas polisi menyambutnya. Menanyai tujuan kedatangan Eril ke sana.


Eril mengangguk pada polisi muda yang sempat melempar senyum ramah sebelum berbalik ke dalam sebuah ruangan lagi.


Evan yang bergelayut dalam gendongan, melorot ingin turun. Rupanya balita itu sangat ingin mendekat dan memegangi sebuah patung replika seorang polisi. Yang entah sosok siapa, dan tentu saja Eril tidak paham.


Yang jelas bukanlah mantan jenderal itu.. Hu,,hu,,hu,,


Seorang polisi muda yang lainnya,, telah datang dan berdiri gagah di hadapan mereka bertiga. Melempar senyum ramah dan menyalami teh Sulis dan Eril. Serta menowel lembut dagu tebal milik Evan yang telah kembali ke pangkuan ibundanya.


"Eril,,apa kabar..? Kamu tidak mengenaliku?" tanya polisi gagah dengan bajunya yang press body dan seksi.


Eril terkejut dan dahinya berkerut, menajamkan pandangan pada polisi yang sedang tersenyum hangat menatapnya. Sepintas ingatan Eril seperti tersangkut pada seseorang. Teringat namun tidak pasti siapa pemilik wajah polisi itu.


"Alhamdulillah, sehat. Tapi saya gagal mengingat-ingat siapa bapak,," sambut Eril pada polisi gagah itu.


"Baiklah, kita lanjut obrolan kita di ruanganku saja. Mari,,," kata polisi muda itu sambil berbalik dan melangkah bergegas menyusuri lorong pendek perkantoran di markas itu.


Eril yang menggendong Evan dan teh Sulis, telah dibawa masuk oleh polisi itu diruanganya.


"Coba perhatikan wajahku sekali lagi. Tidak ingat juga kah?" ulang tanya polisi itu sambil memandang Eril dengan senyuman.


"Maaf, pak polisi. Saya menyerah saja. Benar-benar tidak mampu mengingat. Kepala saya sudah dipenuhi oleh kasus yang sedang bapak pegang itu," pungkas Eril dengan cepat. Tidak ingin berfikir dan mengingat lagi akan siapa sosok polisi itu sesungguhnya. Dan polisi itu akhirnya hanya mengangguk memaklumi.


"Sebetulnya aku juga sedang punya hutang pada kamu, Eril,," tiba- tiba polisi itu mengatakan hal yang tentu mengherankan.


"Hutang,,?" Eril bertanya menggumam. Polisi yang telah duduk itu mengangguk.


"Ingat tidak, sopir gocar yang tidak punya uang kembalian untukmu minggu lalu,,?" polisi dengan tulisan nama Jovan Achmad di dadanya, bertanya sambil membuka sebuah file binder tebal berisi banyak berkas yang disangkut di sana.


"Oh...!! Jadi kamu adalah dia,,?!" sahut Eril cukup keras tiba-tiba.


Merasa sangat ingat pada driver sableng yang hari itu cukup menyebalkan saat membawa nya. Mengantar ke tempat wawancara.


Sangat tidak menyangka jika driver itu adalah polisi gagah di depannya. Polisi yang sangat rajin menelepon tiap hari demi menanyakan kabar tanggung hutang kasus musibahnya. Bahkan akhirnya menawari pinjaman pada panggilan teleponnya yang terakhir kemarin.


🍄🍄🍄🍄


🌶🌶🌶🌶


🌮🌮🌮🌮