
Seperti ingin terjatuh duduk saja rasanya. Semangat berkobar dangan harap sepenuh dada, kini padam lenyap seketika. Merasa Benn telah mempermainkan. Lelaki itu begitu semena-mena bersikap. Sakit hati sekali dengannya.
Tin,,,! Tin,,,!Tin,,,!
Bunyi klakson tiga kali di belakang dari arah hotel sangat bising mengejutkan. Eril menepi mendekati pos jaga dengan lemas tertunduk. Diikuti si penjaga pos malam di belakangnya.
Ibu muda menawan itu ingin menumpang duduk sejenak di kursi pos jaga. Dua kaki seperti akan patah menyangga berat tubuhnya. Bisa jadi akan pingsan jika dipaksa untuk terus berdiri.
"Nyonya, itu tuan sudah datang," tiba-tiba penjaga pos malam berbicara di depan Eril.
Eril menoleh tak paham mengikuti arah jari telunjuk penjaga pos.
Mobil sedan warna hitam legam telah berhenti tepat di depan pos jaga. Eril hanya memandang kosong tak berminat mendekat. Tidak terlalu sadar dengan maksud ucapan penjaga pos.
Tin,,,!Tin,,!Tin,,,!
Klakson tiga kali kembali ditekan kuat oleh pengemudi mobil sedan. Seperti sangat tidak sabar menunggu seseorang.
"Nyonya, itu tuan Benn sedang menunggu. Segera naiklah." kata penjaga pos sekali lagi.
Mendengar nama Benn, sadar dan pahamnya datang seketika di kepala.
"Apa tuan Benn, akan mengantarku, pak?" tanya Eril ingin memastikan pada penjaga.
"Lho, lha iya nyonya. Ini sudah malam. Masak tuan Benn akan membiarkan istri cantiknya keluar sendiri malam-malam. Ayo nyonya, cepat,," kata penjaga menyemangati. Juga takut jika Benn akan menyembur dan memarahi.
Eril berdiri cepat dengan ragu. Kaca di pintu depan tidak terbuka barang seinchi. Tidak nampak Benn segigi pun yang bisa menepis ragunya. Namun tidak mungkin penjaga pos berbohong tentang tuannya.
Benn nampak duduk memandang lurus saat Eril masuk dan duduk di kursi sebelah. Lelaki itu abai dan tidak berminat menoleh.
"Benn, kamu akan mengantarku?" tanya Eril lirih terdengar gemetar.
Lelaki tampan dalam mode dingin tidak menyahut. Hanya fokus pada belok mobil di gerbang dan kemudian membelah jalan raya.
Eril tiba-tiba merasa dirinya sedang merepotkan lelaki itu, yang ternyata cukup peduli dan bersikap baik padanya. Rasanya jadi segan.
"Benn, terimakasih ya... Maaf aku sangat merepotkanmu." ucap Eril kemudian.
Merasa semakin tidak enak hati. Namun wajah bermata elang itu tidak menunjuk responnya sedikit pun. Masih terus lurus memandang fokus ke depan.
"Beeenn,,, maaf yaa,," ucap Eril lagi. Berharap lelaki yang berstatus suaminya itu mau sedikit saja bersuara.
"Terpaksa. Lucky sedang k.o,," jawab Benn akhirnya.
Meski jawaban dari mulut itu terdengar pedas dan pendek, Eril merasa cukup lega. Merasa Benn masih menyimak bicaranya meski tidak memberikan tanggapan.
Eril menoleh lagi. Mengamati lelaki yang kini menyandar santai dengan masih fokus ke jalanan. Auranya masih saja dingin seperti saat bicara di kamar pengantin. Eril bukan tidak peka dengan apa sebab Benn berubah sikap jadi es batu begitu. Tapi sebab Benn sudah tidak mendesak tanyanya lagi, Eril pun bungkam tak lagi mengungkitnya.
Perempuan yang sering berwajah murung itu menyandar lemah dengan mata sayup dan redup. Namun tidak tidur dan terus ingin siaga terjaga. Hanya merasa sangat dingin hingga ke tulang. Pendingin mobil yang hanya dinyalakan dengan level terendah itu terasa menggigit dan menusuk bagi Eril. Namun terasa begitu nyaman untuk Benn. Lelaki yang selalu gerah dan tak sanggup menghidup di Jayakarta tanpa adanya mesin pendingin.
Ciiiiiitt,,,!!!
Benn membelokkan mobil mendadak, memasuki sebuah latar di kafe siang malam yang lengang. Membawa Eril masuk ke dalam dan memilih meja yang tepat di sudut.
Ben kembali duduk bersama Eril tanpa ada kata apapun yang keluar dari mulut mereka berdua. Sesekali pandangan tajam itu menangkap pandangan redup sayu yang memandang segan padanya. Dan buru-buru menggerakkan mata membuang pandangan.
Mereka saling diam hingga pelayan datang ke meja dan meletak pesanan Benn di sana.
"Cepat habiskan. Jika kau ingin segera pulang," kata Benn tiba-tiba. Nada bicaranya masih saja terdengar ketus.
Benn menyambar gelas susu miliknya dan memberi contoh pada Eril untuk segera melahap kue puding madu.
Eril tak kalah bersemangat untuk meneguk gelas susunya dan menyambung menyendok puding. Begitu cepat dan tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan sekotak puding itu. Bahkan Benn pun tertinggal banyak detik untuk melicinkan kotak puding madunya dibanding perempuan itu.
"Benn, sudah habis.... Yuk, kita berangkat lagi, Beeenn,,," ajakan Eril terdengar lembut merayu. Sebab lelaki pengantar pulang itu tengah menyandar santai dan memandang jauh ke depan.
Lelaki yang disebut terus diam tak menyahut. Namun kemudian berdiri dan menyambar kunci di meja. Beranjak menghampiri seorang pegawai dan menyalip pembayaran uang berlembar-lembar tanpa menotal.
Eril terbirit di belakang berusaha menyaingi langkah kaki Benn yang panjang.
Perjalanan dini hari kembali dilanjutkan. Hawa dingin menggigit mulai dirasa kembali menyerang.
Tiba-tiba Benn berhenti di tepi jalan raya. Sedikit mengangkat badan dari duduknya dan berbalik ke belakang. Menyambar sebuah baju yang nampak tergantung hanger di samping jendela mobilnya.
"Pakailah. AC dalam mobil ini tak bisa kuhentikan." sambil bicara, Benn mencampak baju yang disambar itu ke pangkuan istrinya.
Eril sedikit terkejut dengan sikap Benn yang cukup perhatian. Dipeganginya baju sweater rajut lembut di pangkuan dengan perasaan berkecamuk
"Cepat, pakailah. Jangan sampai kau pingsan kedinginan, Eril,," tegur Benn. Tetap juga dengan ketus. Tidak melirik sedikit pun perempuan di sebelahnya yang bahkan kerap kali mencuri pandang diam-diam.
"Iya,, iyaaa,,ini akan kupakai. Terimakasih ya, Beeenn,,," ucap Eril agak gugup.
Dengan cepat memasukkan kepalanya di lubang leher sweater. Serta merta tercium kuat aroma sweater itu di hidungnya. Wangi yang khas seperti aroma di tubuh Benn saat mendekap erat dirinya. Ditarik ratakan rajut benang sweater yang terasa menghangatkan agar nyaman dan melekat pas di badannya..
🌶
Ternyata lelaki dingin yang mengantar pulang, telah paham di luar kepala posisi rumah kontrakan Eril. Tanpa bertanya sepatah pun, mobil telah disandarkan masuk gang, tepat di depan pagar teras. Benn menyandar diam tidak menoleh Eril sebentar pun.
"Bawa saja. Tak usah kau lepas," suara Benn baru terdengar saat Eril ingin melepas sweaternya.
"Kamu tidak memakainya lagi,?" tanya Eril sambil masih memegangi ujung sweater.
"Aku punya banyak ," sahut Benn tanpa memandang wajah Eril.
"Terimakasih ya, Benn. Terimakasih juga sudah repot-repot mengantarku. Maafkan aku ya, Benn,,," ucap Eril sambil memiringkan punggungnya.
Benar-benar memandang wajah tampan itu lekat-lekat. Namun yang dipandang seksama tetap abai dan hanya menatap lurus ke depan.
"Jika kamu memerlukan aku, telepon saja ya, Beenn... Assalamu'alaikum." pamit Eril kemudian. Seperti yang disangka, Benn tidak menjawab ucapan salamnya.
Eril turun dan menutup pintu perlahan. Tidak juga terdengar sepatah kata pun dari lelaki di dalam.
Berjalan pelan memasuki teras dan telah berdiri di depan pintunya. Mobil itu masih di jalanan depan teras. Ada harap agar Benn turun dan mendatanginya, namun harapannya itu sia-sia. Lelaki itu tetap duduk di dalam sana. Ada samar kecewa yang dirasakan Eril tiba-tiba..