
Tok,,,!! Tok,,,!! Tok,,!!
Bunyi ketukan di pintu kamar, membuat dua insan yang sedang memadu rasa itu terkejut. Eril segera menarik tangan dan mendorong dada keras Benn agar menjauh darinya.
Benn hanya pasrah memandang Eril dengan tatap harapnya. Merasa belum puas dengan permainan yang baru saja dia ciptakan.
"Kubuka pintunya, ya Benn,," izin Eril pada lelaki pemilik kamar. Tapi tanganya telah ditahan oleh Benn.
"Rapikan dulu bibirmu. Semakin berantakan.." Benn senyum-senyum, sambil menarik tangannya untuk lebih mendekat kembali.
Jari-jari panjang lelaki itu mengulur ke wajah Eril dan menyentuhkan di bibir. Menggerakkan pelan dan mengusap sangat lembut berulang kali. Benn melakukan sungguh-sungguh, mengabaikan wajah cantik yang mematung dengan mata melebar memandangnya.
"Perlu sedikit air untuk benar-benar bersih,," ucap Benn dengan pandangan serius.
"Eh, mau ke mana?" tanya Benn pada Eril yang akan melangkah pergi.
"Basuh,," jawab singkat Eril.
"Repot,,," sahut balas Benn.
Begitu cepat tangan Eril disambar lagi dan ditarik. Sangat dekat dan rapat.
Benn menyambar bibir Eril sekali lagi. Mengulangi kegiatan yang sempat terputus pagi ini. Tidak peduli pada seseorang yang tengah menunggu di luar.
Kali ini Eril tidak diam pasrah. Kembali mendorong dada Benn menjauh setelah diberinya kesempatan untuk melumhatt bibirnya beberapa saat.
"Kamu ini nakal sekali, Benn. Modus." ucap Eril nampak kesal.
"Padahal juga tahu kan,,,ada orang yang sedang nunggu di luar kamar??" tanya Eril dengan nampak tetap kesal.
Sambil mendekati meja di dekat ranjang dan menyambar selembar tisu basahnya. Mengelapkan di bibir dan singgah sebentar di cermin meja rias. Yakin jika wajahnya sudah bersih dan tidak memalukan. Kakinya bergeser cepat menuju pintu dan membuka.
Tidak ada orang. Orang itu sudah pergi,,,tapi..
"Vaaan,,?!" pekik Eril saat melihat anak lelakinya sedang bermain di taman depan kamar. Ada nyonya Donha juga bersama Evan, wanita itu sedang duduk di salah satu bangku taman.
"Eril,,?! Tidurmu nyenyak apa tidak semalam.?" tanya mama mertua saat Eril melangkah menuju ke tempatnya. Namun wajah menantu itu nampak merona saat sudah berdiri dekat dengan tempatnya.
"Eh, tadi mama ngganggu yaa, Ril? Maaf, mama pikir kalian sudah bangun,," sambung mama Donha dengan melirikkan mata ke kamar.
"Enggak, ma. Kami sudah bangun dari subuh tadi, kok. Tapi,," Eril terdiam tidak melanjutkan ucapannya. Wajah mama mertua nampak tersenyum.
"Tapi,,..? Tapi Benn melarangmu keluar kamar?" mama mertua kembali mengembangkan senyuman.
"Mama paham-paham sendirilah bagaimana pengantin baru. Ngapain juga mama pagi-pagi sudah datang,,?!" Benn tiba-tiba ikut nimbrung dan bersungut pada ibunya.
"Ya mama pikir kalian dah tamat. Apa kalian masih ingin bikin adegan sambungan lagi,,?" kata sang mama menanggapi sungutan putranya.
"Ya pasti lah, ma. Tapi jika sambung sekarang sudah tak ada mood. Gagal,,!"sahut Benn kembali menyungut.
Eril diam pura-pura tidak mendengar. Terlihat fokus mengikuti gerak-gerik Evan setelah bocah itu puas di ciumi olehnya. Merasa sangat rindu meski hanya satu malam saja tak bertemu.
"Mama hanya ingin menyuruh kalian sarapan. Ini dah pukul tujuh lho, Benn. Atau kamu akan berangkat pukul delapan?" mama Donha mengatakan maksud datangnya setelah merasa puas bercanda dengan Benn.
"Nggak usah pakai jam, ma. Khusus hari ini, aku pergi kerjanya nyantai aja," sahut Benn. Matanya melirik Eril yang sedang berbicara dengan anaknya.
"Apa mereka juga ikut denganmu pagi ini?" tanya mama Donha pada Benn yang sedang serius mengamati istrinya.
"Iya, ma. Eril akan kubawa kembali ke gedung." sahut Benn.
"Evan biar dengan mama,," ucap tegas sang mama.
Eril yang mendengar ucapan ibu mertua nampak menoleh dengan terkejut. Ekspresi ibu muda itu sangat jelas keberatan.
"Tapi perlengkapan Evan masih di tempat Benn, maa,," Eril memberikan alasannya.
"Lho, kemarin mama kan udah belikan lagi, Ril,,? Lagian, swalayan itu tidak jauh dari sini. Jalan kaki nggak sampai sepuluh menit, kan?" sahut mama Donha tersenyum.
"Tapi, ma. Aku tak bisa berjauhan dengan anakku,," jelas Eril. Tak bisa lagi menutupi perasaan hatinya.
Eril tidak menjawab, demikian juga dengan Benn. Keduanya sedang saling pandang dan terdiam.
"Eril, kau pilih mana? Tinggal di rumah mama sementara, atau di gedung?" tanya Benn berusaha adil pada Eril.
"Di sini pun aku juga suka, Benn," kata Eril memutuskan.
Mamanya Benn nampak berwajah cerah dan gembira.
"Ah, Eril,,menantu mama yang cantik dan baiiik... Terimakasih, yaa. Tapi biar kamunya nggak segan, kalo siang mama akan pergi kerja juga ke hotel ya. Baru kalau malam, Evan sama mama. Gimana, Ril,,?" tanya ibu mertua penuh senyum.
"Iya, ma. Aku setuju, terserah mama." Eril tersenyum tipis membalas senyuman mama Donha padanya.
"Ma, titip dia dulu. Eril ikutlah denganku,,!" kata Benn tiba-tiba sambil menunjuk Evan pada sang mama dengan dagunya.
Mama Donha mengangguk-angguk mengerti maksud Benn. Anak bandelnya yang nampak jelas belum bisa menyukai anak bawaan istrinya.
Hmm...Mau sama istrinya,,, tapi ogah sama anak yang dibawa istrinya... Mamanya Benn hanya geleng-geleng kepala memandang Benn berlalu dan diikuti Eril di belakangnya.
Mama Donha mendekati Evan yang berdiri di atas jembatan kolam di taman. Membawa sebuah kotak plastik berisi makanan ikan kemasan. Evan sedang memberi makanan ikan koi di kolam dengan telapak tangannya yang mungil dan sempit. Bocah itu nampak asyik, tidak terlalu peduli pada sang ibu yang diam-diam telah pergi berlalu darinya.
Evan begitu suka memperhatikan ikan-ikan koi yang hilir mudik di kolam. Berenang bolak-balik demi mengharap tebaran pakan dari manusia kecil di atas jembatan. Dan mungkin ikan-ikan itu sedang merasa kecewa sebab pakan yang bisa digenggam,, lalu ditabur jumlah muatnya hanya beberapa butir saja.
"Sini, Evan,,, oma bantu ngasih makannya yaa?" lembut mama Donha bicara .
Evan menoleh menatap sebentar dan menggelengkan kuat kepalanya.
"Tidak boleh, Epan cuka,,," terang bocah kecil itu dengan tangan kembali masuk ke wadah kotak, dan bersemangat menggenggamnya.
"Baiklah,,oma tungguin kamu aja. Sebentar lagi kita makan pagi ya, Vaaan,," wanita itu duduk di atas jembatan.
Memperhatikan Evan yang tengah berdiri dan tidak juga merasa bosan. Bahkan ikan-ikan koi di bawah sana sudah tidak lagi bergerombol. Ikan koi bermacam jenis, di antaranya ada Tancho, Shusui, Kumpay dan masih beberapa jenis lagi, telah tidak lagi peduli dan menunggu guyuran makan yang hanya sedikit butir dari Evan. Mereka telah berenang normal dan asyik hilir mudik bolak balik di sepanjang garis kolam.
🌶
Kamar yang tidak terlau luas, namun bukan kecil, yang biasanya dikunjungi oleh satu orang lelaki saja, kini telah bertambah satu orang wanita sejak semalam.
Benn tengah duduk di meja rias dan sedang melakukan pemaksaan manja pada Eril. Sesekali ibu muda itu akan protes atas sikap lebay yang ditunjukkan Benn padanya.
"Yang lembut, Ril.. Ini wajah, bukan pantat," sela Benn sambil menatap body sintal di depannya.
"Kamu kan biasanya melakukan sendiri, Benn." sanggah Eril nampak kesal.
Benn meminta untuk mengoles sebuah pelembab lelaki ke wajah tampannya yang maskulin.
"Minta dilakuin sama istri apa salanya? Aneh, kan,, kalo minta diolesin sama mamaku,," kata Benn. Merasa puas jika wajah Eril nampak kesal dan pias.
"Di mana letak anehnya, kamu kan anak satu-satunya dan kesayangan,,," timpal Eril.
"Betul tidak aneh? Ya sudah, jika kau keberatan melakukannya, tolong panggilin mamaku, bilang ke dia jika aku ingin diolesin krim,," sahut Benn dengan santai.
"Tidak mau. Bilang sendiri,," tukas Eril.
Dicoleknya krim dan dioles kasar ke wajah Benn lagi. Di ratakan pelan dengan menepuk-nepuk lembut sesekali. Mata elang yang terus melihat sang istri itu berubah nampak sayu.
"Eril, aku ngantuk,," gumam Benn. Tidak pernah dia merasa mengantuk saat pagi.
"Tinggal merem pun, apa susahnya, Benn,?" sahut Eril dengan jawaban yang mudah.
"Tapi aku harus kerja,, kan, Ril,,? Cari nafkah buat kamu, buat bayar kamu." Benn pura-pura bicara dengan lelah.
"Eh, Benn. Jangan lupa, transer,,! Sudah berapa kali kamu menyentuhku,?!" seru Eril tiba-tiba. Merasa gembira saat dirinya tidak lupa akan imbalan penting itu. Tidak peduli dengan gaya lelah yang sedang Benn coba tunjukkan.
"Aku lupa, Ril.. Catatlah sendiri berapa kali. nanti serahkan saja padaku." kata Benn pasrah.
"Yang pijat semalam sudah lunas, lihatlah.. Asluk kata sih sudah, Ril.." tambah Benn. Sedikit mendongak, ingin menyimak reaksi wajah Eril saat mendapat tarif pertamanya.