
Merasa bosan dengan aktivitas duduk, makan, dan rebah, Benn memilih datang kerja ke kantor di gedung utama meski raganya belum kuat. Sangat tidak sabar dengan efek lemah yang tertinggal akibat koma dua minggu lamanya.
Kini sudah dua minggu juga dirinya datang kerja seperti biasa. Datang dan pergi ke kantor tanpa ditemani istri atau pun asisten Lucky. Benn datang dan pergi bekerja dengan mengemudikan mobil barunya sendiri. Mobil sedan hitam tercinta telah hancur lebur tak tertolong. Dan memang ajaib, saat tragedi tabrakan hebat itu, Benn segores pun tak cidera.
Lelaki mantan pasien koma itu telah pulih sempurna seperti sedia kala. Bahkan bungkus kemasan ramuan yang dibelinya khusus dari negara Jepang telah dibuangnya beberapa hari yang lalu. Merasa bersyukur dirinya telah kembali sebagai manusia penuh berkah, serta lelaki sejati yang sempurna.
Tok..! Tok..! Tok..!
Sangat terkejut, saat membuka pintu ruang kerja, tiga orang polisi tengah berdiri gagah dengan tatapan yang tegas. Benn yang sudah menduga hal ini akan terjadi cepat atau lambat, berusaha tenang dan mengambil nafasnya yang dalam.
"Selamat siang. Benarkah anda saudara Bennard Joyko Irawan,?" tanya salah satu polisi tanpa ada basa basi.
"Betul," jawab Benn mengangguk.
"Boleh kita berbincang,?" tanya polisi sedikit melunak.
"Tentu boleh ,pak. Mari silakan masuk," Benn membawa ketiga polisi ke dalam ruang kerja. Dan mereka berempat telah duduk tegak di sofa untuk tamu.
"Apa kesehatan saudara Bennard telah sangat baik,?" tanya salah satu polisi itu memulai perbincangan. Dan Benn mengangguk dengan yakin.
"Alhamdulillah, saya sudah sehat seperti sedia kala, pak," sahut Benn tersenyum nampak tenang.
Dan tiga orang anggota polisi yang datang telah mengatakan inti maksud kedatangan. Membawa kabar bahwa sebetulnya Benn berstatus tersangka utama dan tahanan rumah sementara sebab cidera yang parah alias koma. Berhubung si tahanan telah sehat dan bisa dilanjut proses hukum, maka Benn wajib memenuhi segala prosedur dan semua panggilan dari pihak kepolisian.
🌶🌶🌶
Wanita cantik bertubuh sintal itu tengah cantik dan standby. Rambutnya tergerai berkilau dan basah. Eril baru saja mandi dan berdandan. Menunggu sang suami yang akan kembali sebentar lagi.
Ceklerk,,!
Lelaki yang diharap cepat adanya telah datang. Menyambut rentangan tangan dengan pelukan hangat dan erat. Melepas rindu telah seharian tidak bertemu.
"Rambut kamu basah, kamu baru keramas,?" tanya Benn sambil memegangi rambut Eril yang basah. Eril mengangguk di dadanya. Benn mendadak senyum-senyum.
"Datang bulanmu sudah end,?" tanya Benn berdebar. Eril mengangguk sekali lagi.
"Sudah, Benn," jawab Eril dengan rasa yang juga berdebar.
"Ayo kita dinner di luar malam ini, Ril,," ajak Benn dengan merenggangkan pelukan. Dilihatnya wajah Eril yang tersenyum dan mengangguk.
🌶🌶🌶
"Kita menuju ke mana, Benn,?" Eril terheran. Benn tidak meluncurkan mobilnya menuju resto Irawan's Family seperti biasa, tapi mengambil jalan menuju ke arah yang berlawanan dan kian jauh dari rumah.
"Sabar, Ril. Nggak lama, sebentar lagi sampai." Benn menambah kecepatan mobilnya menjadi lebih kencang.
"Benn,,, nggak kapok? Mentang-mentang nggak ngerasa cidera,," tegur Eril dengan was-was. Benn tidak menyahut. Hanya mengurangi kecepatan kembali di angka yang semula. Lelaki tampan yang nampak bersemangat itu tersenyum memandang sang istri yang manyun.
"Kurang pelan,?" Benn tersenyum. Gemas dengan Eril yang cantik namun cemberut.
"Jangan selfish Benn, jika ada apa-apa dengan kita, Evan dengan siapa? Juga kamu ini anak tunggal, nggak punya saudara. Lalu siapa yang akan merawat ortumu saat tua jika kita cepat tiada,?" Eril mengomel dengan sangat serius.
Ternyata Benn membawa Eril mendatangi vila keluarga di puncak. Dan seperti biasa, mbak Sri selalu standby di sana dan menyambut.
"Mari masuk tuan Benn,,, Eril, ayoo. Sudah kusiapkan banyak makanan di meja," terang mbak Sri setelah saling salam sapa bersama. Sang tuan memang telah berkabar akan kedatangan mereka malam ini ke vila.
"Iya, mbak..." Eril bersemangat mengikuti Benn yang telah laju ke dapur. Lelaki itu mencuci tangan dan membasuh wajah di wastafel pojok dapur. Eril hanya mengoles tangan dengan sanitizer. Merasa dirinya cukup bersih dan tidak memegang benda berlebih.
Seperti biasa, lelaki yang ibarat dalam masa pertumbuhan itu telah puas makan dengan banyak. Menyudahi tambah isi dalam piring saat merasa sudah tidak mungkin ruang perut muat lagi. Tapi Benn tidak lagi khawatir. Dirinya telah sehat dan kembali rajin olah raga tiap hari.
Benn cukup mampu menjaga badan dan dirinya dari hal-hal yang mengancam kelangsungan hidupnya.
Mbak Sri tersenyum saat pengantin baru yang serasi itu pamit undur diri dan menepi. Paham jika pasangan yang beraura panas hingga berkebul asap itu akan bertapa mesra bersama di kamar. Dan merasa gembira pada sang tuan muda yang sangat berselera makan di kedatangannya ke vila malam ini.
🌶🌶🌶
Wanita bertubuh sintal itu baru selesai menyisir rambut tebal lembutnya yang telah kering dan berkilau. Sang suami yang telah keluar dari kamar mandi berhenti di belakangnya memperhatikan.
"Sudah,?" tanya Benn memandangnya di kaca.
"Sudah, Benn. Kenapa? Kamu juga ingin menyisir rambut,?" tanya Eril dengan iseng. Padahal sangat tahu apa yang sedang diinginkan oleh Benn.
"Jangan menyindir, Ril. Rambutku bekas botak. Sekarang baru mulai tumbuh. Untuk apa kusisir sebelum tidur?" Benn menunjuk wajah bertekuk.
"Aku just kidding, Benn. Janganlah marah, nanti kamu cepat tua,," ucap Eril kembali bercanda.
Melihat Benn di cermin. Lelaki yang kian macho dengan kepala gundul tanpa rambut di kepala. Hanya mulai nampak serabut hitam samar di sana. Sebab sempat dibotak licin oleh tim dokter saat lelaki itu terkapar koma tak siuman. Demi kepentingan medis menembusi kepala Benn dengan bermacam sinar dan laser. Ah, kasian sekali lelaki itu. Nasib baik fungsi kepalanya bekerja sempurna kembali.
"Augh, Benn,,!!" Eril berseru geli saat Benn telah menyambar dirinya dengan cepat. Membopong dan meletak lembut di ranjang.
"Kenapa melamun? Kamu meragukan kemampuanku? Aku sudah pulih sempurna, kamu tak percaya? Akan kubuktikan malam ini. Kita start bikin program adik Evan banyak-banyak," Benn mulai menindih Eril tanpa sungkan atau pun basa-basi dengan sombong. Benn telah mendapat kepercayaan diri sepenuhnya kembali.
"Tapi kamu baru pulang kerja, tidak lelah, Benn,?" tanya Eril khawatir. Keterkaparan Benn sebab koma itu membuatnya trauma dan mudah khawatir pada Benn.
"Lalu untuk apa kita datang ke vila ini jika hanya untuk istirahat ?" tanya Benn dengan suara yang serak.
"Ya untuk refreshing," jawab Eril dengan asal.
"Aku ini sudah sangat fresh, Ril. Tidak perlu refreshing lagi. Setelah bersabar dan menahan sebab kau berlama-lama menstruasi, untuk apa lagi sekarang aku menunda-nunda,?" tanya Benn dengan mendekati wajah Eril
"Ah, Benn... Aku bukan berlama-lama. Memang selalu sepuluh hari tanggal merahku,,," Eril tersenyum melenguh. Benn sudah menciumi lehernya.
Lelaki yang baru terbebas merdeka dari bui nafsu itu telah menggeram dan bernafas menderu. Melampiaskan segala hasrat dan emosi nafsunya tanpa ada batas apapun lagi pada istrinya.
"Ah, Eril. Tubuhmu indah sekali. Apa kamu paham, betapa tersiksanya aku selama ini,?" rintih Benn dengan tangan mulai membuka kancing gaun sang istri.
"Bohong kamu, Benn. Dulu kamu bilang badanku sangat kecil. Kamu tidak pernah memujiku," Eril cukup terkejut Benn memuji dirinya. Masih ingat saat masa seleksi calon istri. Benn selalu mencela jika tubuh Eril sangat kecil.
"Maafkan aku, Ril. Aku memang munafik. Aku hanya ingin mengendalikan hasratku padamu. Sedang aku adalah lelaki yang tidak mampu. Hanya padamu aku berhasrat. Pertama aku melihatmu saat interviw di video, nafsuku datang. Maafkan aku,," Benn menjelaskan dengan jujur. Dan di bungkamnya bibir dan mulut Eril dengan bibirnya. Tidak ingin mendapat tanggapan apapun lagi dari wanita yang ditindihnya.