
Beberapa waktu yang lalu..
Eril sangat terkejut saat mendapati sebuah pesan masuk di ponsel. Pesan dari Jovan bahwa dirinya sudah dalam perjalanan mendatangi rumah kontrakan Eril dan sebentar lagi akan memasuki gang di depan rumah. Jovan kata, sangat ingin bertemu dengan Evan yang sangat menggemaskan.
Seperti itulah awalannya.. Dan akhirnya polisi tampan itu benar-benar sampai di teras rumahnya.
"Pak Jovan, anda benar-benar datang ke sini?" Eril terheran dengan tekad si polisi muda. Jovan hanya tersenyum dan mengangguk. Mengulurkan bungkusan besar yang entah isinya apa.
"Untuk Evan, Ril. Tak seberapa, mudah-mudahan suka. Mana dia,,?" tanya Jovan sambil melongokkan kepalanya ke arah dalam rumah.
Eril terdiam nampak bimbang. Merasa tidak nyaman. Teh Sulis sedang keluar mengantar pesanan. Tapi jika bohong, nanti ketahuan. Dijawab Evan sedang tidur, padahal bocah itu sedang bermain di kamarnya.
"Sedang main di kamar, pak. Sebentar saya panggilkan,," jawab Eril dengan pasrah akhirnya. Perempuan itu menunjuk sebuah bangku pada Jovan sebelum kembali masuk ke dalam rumah.
Sang polisi gagah menghampiri bangku panjang dari kayu mentah yang tidak di lapisi cat atau pelitur. Menjatuhkan diri di sana dengan perlahan. Sebab tidak ingin pantatnya terguncang di bangku yang berkayu sangat keras dan kasar. Duduk diam santai dengan kepala menoleh sesekali ke arah pintu rumah.
Entah apa yang terjadi padi dirinya. Yang jelas Jovan merasa terhibur dengan kepolosan dan kelucuan Evan. Juga tidak munafik, ada niat untuk lebih akrab lagi dengan ibunya. Merasa nyaman dan penasaran untuk mengenal Eril lebih rapat lagi. Tidak peduli dengan status tidak jelas mereka berdua.
"Om Opaaan,, om Opaaaan ,,, om Opaaaan,,, om Opaaaan,,,,!!" suara menggemaskan terdengar di telinga Jovan. Balita yang ditunggu tengah berjalan setengah berlari sambil menyebut-nyebut namanya.
"Hallloooo Evaaan,,,!!" sambut Jovan tak kalah berseru. Bangun dari kursi dan berjongkok merentang tangan menyambut Evan. Dan langsung dipeluk dan digendong begitu Evan telah sampai menubruknya.
"Mali kita alan-alan lagi om, lali-lali lagi,,," Evan mulai berkicau pada orang yang menggendongnya.
Jovan belum menjawab dan hanya tersenyum. Melirik pada Eril yang berdiri di samping dengan mimik yang nampak keberatan. Jovan tidak ingin memaksanya.
"Om juga ingin pergi jalan-jalan sama Evan. Tapi mamanya Evan sedang capek. Kalo Evan hanya pergi sama om saja, nanti mamanya Evan nangis,,,ha,,ha,,ha,," sambut Jovan diakhiri dengan tawa riang untuk Evan.
"Mama tidak nangis. Om Opan belikan untuk mama mainan,,,bial mama seneng,,," rayu Evan.
"Ha..ha..ha...Mama kamu udah nggak doyan sama mainan, Evaaan,,," sahut Jovan sambil tertawa. Lelaki itu masih berdiri menggendong Evan.
"Belikan jajan cama makanan, om. Mama doyaaan,,, ayo jalan-jalan,," Evan terus saja merayu.
Balita itu berkata sambil mencabuti alis Jovan yang tebal. Dan lelaki itu berusaha menghindar dengan memaling-malingkan wajah tampannya. Namun Evan juga terus mengejar dengan jari mungilnya. Jovan tertawa-tawa sambil terus berpaling.
"Evan, alis om nanti lama-lama habis. Alis om bisa gundul. Om kayak tuyul, doong,,,ha..ha..ha,," Jovan menegur Evan sambil terus tertawa. Evan juga tertawa menggemaskan.
Dan bagi Eril, interaksi mereka berdua sangat menggelikan. Ibu muda itu ikut terhanyut suasana. Tertawa lepas berkali-kali. Jovan begitu lihai memancing tawa balitanya. Evan benar-benar nampak gembira dengan tawa yang kian bersambung.
Mobil itu tidak memutar dan berbalik ke arah asal datangnya. Namun melaju lurus di jalan gang yang akan menembus ke jalan raya besar lainnya.
Seperti di palu godam rasa jantung Eril tiba-tiba. Meski mobil itu tak bercelah di pintu sedikit pun dan tidak menampakkan siapa pembawanya. Eril tidak ragu-ragu lagi dengan siapa orang yang melajukan mobil begitu kasar barusan.
Apa Benn berniat untuk menemuinya? Apa lelaki itu datang sebab ingin melihatnya? Atau Benn sedang ingin memerlukan dirinya, memerlukan dalam artian apa saja? Dan begitu marah setelah melihat adanya Jovan di teras rumah bersamanya?
Dan Eril tidak menyadari kapan mobil itu datang dan mungkin sempat menyandar di depan teras rumahnya.
Apa kehadiran Jovan juga telah menggembirakan hati Eril,,? Bukan si balita saja yang gembira... Hingga dirinya pun ikut juga terlena..
🍄🍄🍄
Jovan berpamitan pulang setelah adzan dzuhur selesai berkumandang. Teh Sulis sudah pulang dari mengantar seluruh orderan. Lelaki itu beralasan akan ada apel kesatuan tiap minggu setelah tengah hari di markas.
Meski cukup lama berkunjung, bahkan Jovan juga sempat makan siang yang disajikan teh Sulis, tapi Evan masih juga belum merasa puas. Balita itu tidak ingin melepas Jovan dengan terus memegang tangannya. Melawan keras saat ibunya berusaha meraih dan menggendong.
Evan baru melepas Jovan dengan patuh setelah polisi gagah itu menjanjikan kunjungan serta membawakan banyak mainan lagi lain kali. Jovan akhirnya pulang dengan rasa puas namun diiringi raut tidak rela dari balita Evan. Bocah kecil itu rupanya terobsesi pada Jovan sebagai naluri alamiah seorang anak kepada sosok ayah.
Bocah lelaki itu kembali merengek menyebut nama om Jovan saat dibawa oleh ibunya ke kamar guna istirahat siang hari. Tentu saja sang ibu merasa gundah gulana dan bimbang. Iba pada balita yang sedang menginginkan sosok ayah.
Dan Jovan adalah lelaki yang sabar, periang dan berwawasan. Jovan punya pekerjaan sangat tetap. Bahkan moralnya pun juga dalam garansi dan di bawah pengawasan negara.
Jovan adalah lelaki yang punya segalanya. Tidak ada yang kurang dari lelaki itu. Hal terpenting,, Evan sudah sangat nyaman dengannya. Dan Jovan pasti bisa membantu memuluskan usaha Eril untuk membuat segala dokumen yang berkaitan dengan Evan.
Harus ada kejelasaan untuk masa depan si buah hati dan juga masa depannya sendiri. Tidak ada cara lain, Eril harus segera bicara terus terang kepada Benn. Sebab, sedang ada harapan dan peluang bermasa depan cerah dariNya melalui tangan Jovan. Eril tak ingin kehilangan semua kesempatan.
🍄
Eril sedang tidur memeluk balita Evan di sampingnya. Dengan tangan masih memegang ponsel yang tadi sempat dilihatnya. Sedang menunggu dan kecewa sebab tidak juga ada pesan balasan dari Benn.
*Assalamu'alaikum, Benn. Bisa kita bertemu? Aku ingin bicara denganmu.*
Itu adalah bunyi pesan yang ditulis Eril dan telah dikirimkan pada Benn. Pesan yang dikirim siang tadi saat Evan tak henti-hentinya menyebut nama Jovan. Yang kemudian tertidur, mungkin sebab bosan dan kelelahan. Orang yang disebut tidak juga kembali datang dan membawakan mainan.
*Datanglah besok, di tempat kerjaku.*
Dan itu adalah bunyi pesan masuk balasan dari Benn. Pesan yang baru saja dikirim lewat tengah malam, dan tentu belum terbaca. Sebab pemilik ponsel itu sedang tertidur nyenyak saat resah menunggu balasan..