
Hampir dua jam lamanya Benn tertidur. Memejam mata sebab kelelahan mengamati istrinya sekaligus efek nyeri di kepala. Kini telah bangun tiba-tiba sebab telinganya menangkap bunyi sesuatu dalam tidur.
Benn bergegas bangun dan menajamkan telinga. Yakin bahwa apa yang di dengar dalam tidur sama persis dengan bunyi nyatanya.
Lelaki yang baru bangun tidur itu menahan sisa nyeri di kepala. Berjalan mendekati ruang sofa. Sebab dari sanalah asalnya sumber suara terdengar.
Perempuan yang dinikahi nampak tertidur lagi dengan posisi yang selalu sama di sofa. Tapi kali ini tidak lagi mengenakan handuknya. Tubuh berbaju tidur mini itu terpampang vulgar begitu saja tanpa dipedulikan lagi oleh pemiliknya.
Benn mengamati, tentu saja hasrat dalam dirinya kembali datang dan merespon. Apalagi saat ingat bahwa Eril tidak lagi menggunakan apa pun di balik baju tidur tipisnya. Namun diabaikan, sebab begitu kecewa pada ketidakjujuran perempuan yang sedang mengigau dalam tidur itu.
"Evaaaan....Evaaaan...Evaaaaan....." itulah igauan Eril yang sudah diulangi banyak kali.
Dan kini sedang menyebut-nyebut kembali nama Evan. Benn sama sekali tidak lupa, itu adalah nama balita yang dikenalkan di kantor kepolisian hari itu. Yang dikenalkan Eril sebagai balita asuh kawannya. Bahkan balita yang nampak nyaman dalam gendongan polisi muda dan juga akrab dengan Eril, Benn tidak suka!
"Evaaaan,,, Evaaaaaann,," bibir polos itu kembali menyebut nama Evan.
Benn mendekati Eril dengan seringai senyum sinis di wajah tampannya. Sudah jelas sekarang, hal apa yang sedang Eril coba sembunyikan darinya.
"Eril,,!" seru Benn lirih sambil menepuk-nepuk pelan pipi Eril.
Benn terkejut, kulit pipi perempuan itu terasa panas. Diulangi menyentuh bagian-bagian kulit yang lain. Dahi, leher dan bahu, semua terasa panas. Perempuan itu sedang demam.
"Beeenn,,!" mata itu telah terbuka sempurna. Memandang terkejut. Benn kembali begitu dekat saat dirinya bangun dari tidur.
"Kau mau apa lagi, Benn,,,?!" Eril berseru. Terdengar panik dan was-was.
Benn sedikit melangkah mundur menjauh dari sofa. Memandang tajam pada perempuan yang nanar memandangnya.
"Kau demam?" tanya Benn tetap dingin. Membalas pandangan Eril lekat-lekat. Perempuan yang dipandang berdiri perlahan, wajahnya tegang seperti ada hal serius yang akan dikatakan.
"Benn,,,, boleh, aku pulang sebentar?" tanya Eril lembut dan memohon. Mengabaikan ucapan Benn jika dirinya sedang demam.
"Kau sedang demam, Ril,,!!" hardik Benn nampak marah kembali.
"Itu demam biasa lah, Benn. Aku hanya ingin pulang,," sahut Eril mengiba.
Benn tidak menyahut, lelaki itu mendekati sofa di sampingnya. Meraih salah satu kotak den membukanya dengan kasar. Menyembul sebuah lingerie merah tua dengan set dalaman warna senada. Benn membuka satunya lagi, sama juga,,, lingerie warna kuning cerah yang disertai set pelengkap. Hingga tujuh kotak telah dibuka Benn dengan tidak sabar, semua hanya berisi baju tidur dewasa dengan model yang sama.
"Kau lihat sendiri, Eril... Ini adalah hadiah mama untukmu. Kau tau artinya? Mertuamu yang baik itu ingin agar kau benar-benar melayani suamimu dengan baik. Tapi apa yang ada di kepalamu? Kau hanya memikirkan orang lain. Kau tidak memikirkan aku, suamimu ini ,,sama sekali !" seru Benn lirih dan dingin.
Lelaki itu pergi ke ruang ganti baju miliknya. Tidak banyak, hanya beberapa yang juga disediakan sang mama. Memilahnya sebentar dan mengambil salah satunya.
Eril yang yang dikira masih di sofa, ternyata tidak ada. Benn segera sadar, perempuan itu pergi ke kamar mandi.
Sangat terkejut rasanya, Benn telah berdiri menjulang menunggu di luar pintu kamar mandi. Memandang tajam sambil mengulur baju di tangannya.
"Lapisi bajumu. Dan pulanglah!" kata Benn dengan pandangan tajamnya.
"Ap,,apa, Benn,,?! Betulkah?!" Eril berseru dengan lemah. Mengakui jika dirinya memang demam.
Tidak lagi menunggu jawaban, segera disambarnya baju di tangan Benn. Dibawanya tidak ke kamar mandi. Namun menuju ruang sofa. Dan buru-buru dipakai begitu saja di sana. Tidak peduli dengan picingan tajam mata Benn yang terus mengamati. Begitu was-was jika Benn tiba-tiba berubah pikiran dan menarik kata-katanya. Eril tidak ingin.
Serta merta penampilan ibu muda yang tadi seksi menggoda telah berubah tertutup. Eril telah melapisi lingerienya dengan celana tidur hitam polos dan kemeja warna hitam, semunya milik Benn. Ibu muda itu tetap saja terlihat sangat menarik dengan tampilan terbarunya yang unik.
"Benn, aku sudah siap." Eril telah menenteng tas miliknya di tangan. Suara ibu muda itu terdengar bergetar. Mungkin sedang dingin karena demam.
"Benn, aku pulang sekarang. Maafkann aku. Jika kamu memerlukan aku, telpon saja ya, Benn,,!" pamit Eril terharu. Tak bisa menahan kaca-kaca di matanya. Benn menatap dingin tak menyahut.
Eril tak ingin menunggu anggukan Benn. Segera berbalik dan berjalan cepat menuju pintu dan mencoba menariknya. Dan terbuka, Benn tidak mengunci, lelaki itu benar-benar rela melepaskannya. Entah keajaiban apa yang membuat sikap Benn berubah. Eril begitu bersyukur telah terbebas dari kamar pengantin yang memenjarakannya.
Eril telah meluncur turun dan menuju ruang lobi. Melewati, berjalan lurus dan keluar. Sempat melirik jam besar yang berdiri manis di atas meja resepsionis yang tidak terlihat pemilik meja itu seorang pun. Jam itu menunjuk pukul dua belas lebih tiga puluh menit tengah malam.
Rasa gentar yang merongrong terhempas oleh semangat yang membara. Rasa gemetar tidak nyaman sebab demam, menepi sendiri tak terasa. Hanya rasa debar menuju pulang dan akan bertemu buah hati sebentar lagi. Rasanya akan menangis bahagia. Tetap tidak menyangka jika Benn akan melepasnya tiba-tiba.
Namun hatinya mendadak menciut. Ingat bagaimana memesan taksi jika ponselnya sedang mati... Dan tidak mungkin jam selarut ini akan mudah mendapatkan taksi!
Gentar dengan rumor betapa garangnya kota Jakarta malam hari. Eril berusaha keras tak peduli. Sangat tidak ingin kehilangan kesempatan kali ini. Dan tidak ingin kembali ke hotel untuk menundanya esok hari.
Ibu muda itu telah bertekat untuk melewati gerbang hotel. Bersiap menyongsong jalanan Jakarta saat malam di luar sana.
"Nyonya Benn Irawan,,,??!" sebuah seru panggilan dari seorang penjaga pos malam di hotel. Bersama gerak pagar hotel yang bergerak menutup sendirinya.
Sepertinya panggilan nyonya Benn Irawan itu ditujukan pada Eril. Penjaga pos malam itu sedang berjalan mendekat. Dan berhenti tepat di depan ibu muda itu.
"Selamat malam, nyonya Benn." sapa hormat penjaga pos malam. Eril hanya termenung menatap penjaga pos.
"Anda dilarang keluar oleh tuan Benn," terang penjaga pos malam akan maksud panggilannya.
"Appaa paak?!" seru Eril terkejut. Benar-benar bingung dengan kabar yang didengarnya. Penjaga pos malam itu mengangguk.
"Tapi pak Benn sudah mengijinkan aku untuk keluar, pak,,," terang Eril dengan raga kian lemas.
"Maaf, nyonya. Tuan Benn baru saja menelepon agar saya menahan anda," sahut sopan penjaga malam.
Eril merasa lemas tak mampu berkata-kata..