Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
71. Mengakui


Siksa gelisah yang di tahan seharian ini akhirnya berakhir. Benn telah meninggalkan ruang kerja setelah adzan maghrib mengalun. Menyeberangi lantai tiga untuk menuju kamar pribadinya.


Kamar yang dulu sangat nyaman dengan dirinya saja di dalam, kini terasa lengang dan sepi. Yang sempat bising dengan ocehan lelaki dan juga ibunya, kini sangat sunyi saat dibuka pintunya. Juga sambut peluk dari wanita yang berstatus istri di balik pintu, hanya tinggal bayang dan kenangan. Benn merasa hari-harinya begitu sepi dan kian kacau saja sekarang.


🌶


Lelaki yang di luar nampak rupawan dan tampan namun sangat kusut di dalamnya, tengah melaju kencang membelah jalanan saat malam. Mengejar waktu praktik dokter genetika yang tiga puluh menit lagi akan tutup.


Seharian tenggelam dalam schedule dan kerja yang tak kunjung habisnya. Menahan gelora jiwa dan kepala untuk segera mengetahui hasil tes DNA. Sedang sang mama juga sibuk dengan urusan hotel bersama sang papa. Evan telah dikembalikan pagi buta kepada ibunya kembali.


🌶


Meski sudah kuat menyangka, namun masih merasa lemas juga. Benn kian lunglai namun bahagia. Balita yang selama ini tak dia anggap, telah dia acuhkan, serta tak dia harapkan, telah disah nyatakan sebagai anaknya. Pemilik sampel darah itu adalah anak lelaki kandung serta darah dagingnya sendiri. Benn merasa haru luar biasa sekaligus menyesal yang hebat.


Kembali melaju kencang menuju apartemen. Bayang balita sekaligus ibunya, sangat mengganjal hati, mata dan kepala. Serasa tak sabar menyusuri hingga habis jalan raya. Ingin segera menerobos masuk menemui keduanya.


Dengan susah payah dicapai juga pintu megah yang rasanya begitu angkuh sedang menghadang Benn di depannya. Menunggu wanita di dalam agar segera menanggapi panggilannya dengan rasa berdebar sangat kencang.


Pintu itu perlahan terbuka. Menyambut wajah cantik yang sangat ingin temui. Sosok wanita kalangan biasa, yang awalnya dianggap sekedar penjaga hasrat, kini telah menjadi sangat dipujanya.


"Benn,,kamu datang?! Ada apa,?!" itulah sapaan yang keluar dari bibir wanita yang dirindu.


"Boleh aku masuk, Ril,?" tanya Benn mencoba bertenang.


Eril memandang bimbang, namun kemudian mengangguk.


"Ril,," panggil Benn setelah mengunci pintu kembali. Eril berhenti melangkah dan berbalik memandang Benn.


"Ril, aku rindu padamu." Benn berkata dengan rasa berdebar. Eril nampak terkejut dan heran.


"Rindu..? Kamu rindu padaku,Benn,?" tanya Eril dengan menunjuk dirinya di dada. Wajahnya berekspresi tak percaya.


Benn mengangguk, tangannya mengulur dan dipeluknya sang istri yang sangat dirindu.


"Aku sangat rindu. Peluklah aku seperti dulu lagi, Eril." ucap Benn. Eril memeluknya hangat namun tidak erat.


"Apa Evan sudah tidur? Aku juga sangat rindu dengan Evan, Ril," ucap Benn dengan masih mendekap Eril di dadanya.


"Kamu,, kamu juga rindu dengan Evan, Benn,,?!" tanya Eril terkejut. Tidak menyangka jika hati lelaki yang selalu keras itu, kini berkata rindu pada anaknya.


"Aku ingin melihatnya, Ril. Apa dia sudah tidur,,?" tanya Benn dengan suara yang serak. Lelaki itu sedang menahan tangis yang masih terus ditahan.


Eril mengangguk dan melepaskan pelukannya dari Benn. Berjalan ragu mendekati sebuah kamar yang pintunya sebagian terbuka. Masuk ke dalam yang diikuti Benn di belakangnya.


Benn tidak lagi mampu menahan tangisan. Di rebahkan dirinya di samping Evan dan dipeluk anak lelakinya itu dengan erat. Evan bergerak sedikit dan nampak nyaman menikmati pelukan hangat Benn dalam tidur. Lelaki itu menangis terisak tak bisa lagi ditahan suaranya.


"Benn,,! Kamu ini kenapa,,?! Biasanya kamu tidak mau dekat-dekat dengan anakku. Ada apa denganmu, Benn,??" Eril sangat heran dan merasa sangat janggal. Tapi justru Benn terdengar kian terisak setelah Eril berbicara begitu.


Setelah cukup lama menunggui Benn yang sedang memeluk anak lelakinya dengan erat, Eril perlahan duduk di tepian ranjang di samping pinggang Benn yan masih memunggungi. Lelaki itu terlihat masih saja menangis. Eril sangat penasaran.


"Benn, kamu tidak biasanya seperti ini. Kamu sangat aneh. Sebenarnya kamu ini kenapa, Benn,,?" tanya Eril sambil menguatkan hati untuk menepuk-nepuk bahu Benn di sebelah kiri.


Benn tiba-tiba berbalik dan bangun. Kembali merengkuh Eril dan membenamkan tubuh wangi itu di dadanya. Merasa lega, wanita di dekapan membiarkan dirinya dipeluk sangat erat oleh Benn.


"Ril, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Kuharap kamu tidak akan terkejut dan bersikap yang membahayakan. Tapi apapun reaksi kamu, aku telah siap menerima segala resiko darimu, Eril."


Benn sambil melepas pelukan sebelah tangannya. Mengambil sesuatu dari kantong sweater yang dipakai. Sebuah kotak kecil ditariknya keluar. Digenggamkannya kotak itu ke dalam genggaman telapak Eril.


"Bukalah, Ril," ucap Benn lirih menahan gugup suaranya. Dan Eril telah membuka kotak itu. Melihat dua cincin di dalamnya. Ada senyum haru sekaligus kaget di wajahnya.


"Hei, Benn. Siapa yang memesankan? Kamu,,? atau Desta,? Kan aku sudah bilang tidak mau, Benn.." ucap Eril dengan nada yang haru dan bingung. Berfikir jika cincin berinisial A&D itu baru saja jadi dan dibawa Benn untuknya.


"Tidak, Eril. Itu adalah cincin milikmu yang asli dan telah lama hilang darimu. Lebih tepatnya tiga tahun yanh lalu, Ril. Lihatlah tulisan di dalamnya. Kamu pasti masih paham dengan kode tokonya,"


"Hah..! Benn,,?! I,,,inni memang cincinku. Milikku yang memang pernah hilang. Di mana kamu mendapatnya,?" Eril masih dengan membelalakan matanya. Menatap dengan lekat dan nanar wajah Benn yang telah berair mengalir di wajah tampannya.


"Cincinmu itu ada di atas ranjangku tiga tahun yang lalu, Eril," terang Benn buru-buru dengan suara parau kian serak. Seperti tidak sabar untuk melihat reaksi Eril selanjutnya.


Eril nampak mematung beberapa saat meresapi makna perkataan Benn. Menyadari jika isinya ternyata mengejutkan. Eril menoleh lagi pada Benn dengan mata melebar berkilat.


"Maksudmu,,,,kamu,,,??" Eril berkata tercekat. Benn mengangguk.


"Iya, Eril. Aku adalah ayah kandung Evan. Maafkan aku,," Benn berkata lirih. Suaranya bersaing dengan isaknya kembali.


"Jadi, kamu,,,?!" Eril berseru dengan keras pada Benn. Dan lelaki itu mengangguk lagi dengan pasrah.


"Iya, Ril. Mungkin akulah lelaki yang datang dalam mimpimu itu," Benn berusaha memeluk wanita yang juga mulai menangis tersedu-sedu. Tapi Eril berdiri dari ranjang dan menjauh dari Benn.


"Jadi lelaki gila dan brengsek yang menyeretku lalu memperkosaku dan kemudian aku hamil,, lelaki itu adalah kamu,?!"seru Eril dengan sangat dingin pada Benn. Bahkan jari telunjuknya sedang tajam menuding Benn.


"Aku menyesal, Eril. Aku akan menanggungnya. Evan adalah darah dagingku, biarlah aku menjadi ayahnya. Ayah yang sebenarnya dan selamanya, Ril. Aku telah menikahimu. Aku akan menjadi suami kamu selamanya hingga maut, Eril," Benn berjanji dengan mengiba pasrah dalam harap.


Mata Eril nampak berkilat dan basah memandang tajam pad Benn.


"Benn, aku tidak sanggup melihatmu. Kenapa ayah kandung Evan berjiwa pemerkosa sepertimu, Benn,? Sebaiknya kamu menjauh dulu dariku. Kumohon kamu pergi jauh dulu dariku, Benn. Aku kecewa, hatiku sangat sakit. Aku tidak menyangka jika lelaki brengsek itu adalah kamu. Kamu merusak masa depanku. Menempatkanku dalam aib dan hina. Bagaimana rasanya saat orang-orang itu menatap kami dengan remeh, kamu tidak tahu bagaimana rasanya. Kamu, pergilah sekarang juga dariku, Benn.." Eril berkata begitu dingin dan tajam. Berdiri kaku dengan pandangan penuh benci.