
"Ehem,,!" Benn melèmparkan dehem keras. Wajah kusutnya terlihat lebih tegas.
Eril yang telah meliriknya sekilas, segera bergerak dan menarik tangannya dari berjabat tangan dengan Daniel. Dokter tampan itu mengamatinya sangat lekat sambil bersalaman erat yang lama. Hingga Benn berdehem menegur mereka.
"Hai cakep, siapa nama kamu?" tanya Daniel dengan santai dan memandang hangat pada Evan. Sambil duduk kembali ke kursinya.
"Epan,!" sahut Evan cukup lantang. Bersamaan datangnya pegawai kafe yang mengantar makanan yang tadi telah dipesan oleh Benn.
"Evan tinggal di mana?" Daniel meneruskan bertanya.
Tangannya menggeser makanan lebih ke tengah meja. Bergabung dengan makanan yang sudah ada sedari datang. Mungkin sajian itu telah dibayar tunai oleh Jovan. Benn hanya mendapat tagihan miliknya saat meminta seluruh total tagihan di meja pada pegawai kafe itu.
Semua pasang mata di meja ikut berpusat pandang ke Evan. Balita yang sedang dipangku nyaman oleh sang ibu, juga memandang para lelaki di meja bergantian.
"Di lumah om Pen, cama mama," sahut Evan. Jari telunjuk mungilnya diarahkan pada Benn.
"Evan, belum ngantuk?" sambung Daniel. Bocil tampan itu hanya menggeleng.
"Evan kalo tidur, berani sendiri apa tidak?" tanya Daniel lebih detail. Evan kembali menggeleng.
"Lalu tidur sama siapa ?" tanya Daniel mengusik detail lagi.
"Tidul cama mama, tidul cama om Pen. Tidul cama-cama," terang Evan dengan jelas dan polos. Memandangi Benn dengan tanpa ekspresi. Tidak paham jika jawabannya telah membuat wajah sang ibu memerah.
Lelaki tampan tapi suntuk itu nampak terkejut. Membetulkan duduknya dengan tegak. Ada selip bangga saat namanya disebut oleh Evan. Wajahnya terlihat lebih cerah. Melirik sekilas polisi muda yang nampak kaku di samping Daniel. Dan kembali memandang takjub diam-diam pada balita di pangkuan sang ibu. Berharap agar sahabatnya terus saja interview bocah itu.
Tapi agak kecewa. Daniel menyudahi tanyanya pada Evan. Sebab Jovan telah menginterupsi dan mengajak segera makan. Beralasan jika dirinya sedang dikejar apel malam di markas. Dan ajakannya didukung penuh oleh Eril yang dengan cepat kembali menyambar piring dan menyambung menyuapi anaknya. Mengalihkan rasa malu sebab celotehan buah hati.
Makan malam bersama itu berjalan hening dan cepat. Hanya denting sendok beradu dengan piringlah yang sempat memecah bisu beberapa kali.
"Eril, aku akan kembali dulu ke markas. Maaf, aku tidak tahu jika kamu sudah menikah dengan saudara Benn." pamit Jovan khusus pada Eril. Jovan hendak berdiri meninggalkan kursinya.
"Terimakasih, ya pak Jovan," sambut Eril dengan mengangguk dan memandang.
"Dokter Daniel dan saudara Benn, saya permisi. Silakan melanjutkan menikmati minuman kalian. Assalamu'alaikum ,," pamit Jovan dengan sopan sambil tersenyum.
"Wa 'alaikumsalam, pakpol Jovan," disambut angguk senyum oleh Daniel pada Jovan. Pria itu benar-benar berjalan keluar meninggalkan kafe itu.
"Ma, Epan ingin tidul," ucap Evan. Kepala mungil itu disandarkan pada dada ibunya.
Eril memandang bimbang ke arah Benn yang juga merenungnya.
"Benn aku pergi duluan, ya. Teh Sulis juga sudah capek." izin Eril pada Benn.
Benn tidak menjawab. Tapi menolehkan kepalanya pada Daniel.
"Dan, kita antar mereka pulang dulu," kata Benn pada Daniel. Sang dokter mengangguk dan berdiri mengikuti Benn yang telah keluar dari kursi.
"Kalian kuantar, sudah malam," ucap Benn. Memandang singkat wajah Eril. Dan sempat melihat istri cantiknya mengangguk.
Evan memandang Daniel lalu pada ibunya. Eril pun mengangguk pada anaknya.
"Sama mama boleh tuh, yuuk,!" sambut Daniel dengan cepat mengulur tangan pada Evan.
Meski ragu, uluran Daniel tersambut. Balita gendut itu telah berayun di gendongan kokoh sang dokter. Benn memandang masam perlakuan Daniel pada Evan yang baginya nampak lebay. Berjalan cepat menuju latar parkir tanpa menoleh lagi ke belakang.
Daniel yang memangku Evan di kursi depan, tersenyum melirik Benn yang terlihat suntuk dan masam.
"Kita menuju ke mana ini, Benn?" tanya Daniel dengan pelan. Evan yang nyaman di pangkuan mulai tertidur.
"Antar teman Eril dulu," sahut Benn acuh. Tapi laju kendaraan cukup pelan dan tidak kencang-kencang. Daniel terdiam. Menikmati perjalanannya kembali.
🌶
Benn membelok memasuki gerbang gedung setelah sempat menunggu dengan membunyikan klakson tiga kalinya. Meluncur menuju garasi pribadi di samping belakang gedung utama.
"Benn gantikan bentar. Aku mau ke toilet," ujar Daniel sambil menunjuk Evan yang terkulai di pundaknya.
"Eh, sini mas, biar kugendong sendiri," sahut Eril. Tidak ingin membuat Benn merasa terpaksa dengan wajahnya yang masam itu.
"Jangan,, apa gunanya ada lelaki, bahkan lelaki ini suami kamu, Eril." tukas Daniel sambil menyodor punggung Evan ke arah Benn.
Lelaki kusut yang dimaksud itu menerima sodoran Daniel dengan wajah kian masam. Meletaknya di pundak seperti yang dilakukan Daniel barusan.
Termangu sebentar merasakan badan Evan yang hangat di dadanya. Moment pertama kali menggendong bocil di sepanjang usianya. Merasa sensasi nyaman dengan mendekap aman punggung Evan. Tubuh mungil dengan aroma khas anak kecil. Terasa damai yang dirasakannya saat itu.
"Kau suka, kugendong anakmu?" tanya Benn pada Eril yang memandang lebar padanya. Wajah itu terlihat cerah tapi serba salah. Mereka sedang meluncur ke atas terbawa lift. Meninggalkan Daniel di toilet lantai satu.
"Benn, boleh aku bertanya?" Eril tidak menjawab pertanyaan Benn. Tapi justru balik bertanya. Si lelaki hanya berdehem tanda menunggu.
"Mas Daniel, sahabatmu itu nampak menyukai anakku. Jovan, polisi yang tidak kamu suka itu, juga sangat menyukai anakku. Hanya kamu saja yang tidak suka, Benn. Kenapa?" tanya Eril yang berdiri di depan menghadap Benn. Benn nampak kesusahan beralasan. Lelaki itu masih bungkam. Tapi tatapan Eril membuatnya tidak tahan.
"Karena aku sudah menikahimu, aku terganggu dengan anakmu. Sedang Jovan itu, dia belum mendapatkanmu. Jadi ingin mendekatimu lewat anakmu. Kau paham,?" Benn beralasan juga kemudian. Dan Eril tidak ingin menanggapi.
Mereka telah keluar dari lift dan berjalan menuju kamar Benn. Eril sering tersenyum diam-diam memandang Benn yang sedang menggendong Evan dengan berjalan di belakangnya
Tidak menyangka jika Benn akan merengkuh Evan juga akhirnya. Meski itu dilakukan dengan terpaksa dan tidak disengaja. Eril merasa gembira. Mengakui jika Daniel banyak berjasa malam ini.
Evan telah diletak Benn di ranjang sebelah pinggir seperti malam yang lalu. Eril merasa berdebar mengingat kejadian malam itu.
Tapi wajah tampan itu tetap saja bertekuk dan kusut. Benn tidak memandangnya dan akan membuka pintu kamar. Lelaki itu akan pergi keluar tanpa berbicara padanya.
"Benn,, kamu mau ke mana?" tanya Eril. Merasa tidak tenang jika Benn mendiamkannya.
Benn tetap diam. Tidak berbalik memandangnya.
"Benn, tadi aku bukan bersama Jovan datang ke kafe. Tapi tidak sengaja bertemu di kafe dan Jovanlah yang bergabung ke meja kami," terang Eril. Berharap jika hal itu adalah penyebab Benn terus diam padanya.