
Tok...Tok..Tok...Tok...!
Tok...Tok..Tok...Tok...!
Perbincangan mereka berakhir dengan adanya bunyi ketukan di pintu. Benn menjauhkan kursinya dari meja dan lalu berdiri. Bersiap menyambut sesiapa yang akan masuk ke dalam ruangan. Lelaki itu rupanya sedang bimbang.
Ceklerk..!!
Wanita setengah baya dan cantik, masuk ke dalam ruangan Benn dengan tergesa. Berdiri di samping Eril yang masih duduk di kursi. Mata berbulu palsu itu terang-terangan mengamati gadis yang baru dibicarakan bersama Lucky barusan.
Eril yang ingat jika itu adalah ibu dari lelaki yang telah dilamarnya, segera berdiri dan mengangguk tersenyum dengan sopan.
Nyonya Donha tidak membalas senyum Eril begitu saja. Hanya ekspresi dan bayang senyum samar yang nampak di wajahnya.
"Benn, mama sedang buru-buru. Selvi ada di luar. Kau pulang lah sebentar ke rumah. Ada yang ingin mama bicarakan denganmu. Secepatnya lho, Benn,,!!" nyonya Donha menepuk pundak sang putra sekali dan keras. Lalu berbalik pergi sambil memandang Eril sekilas. Tidak ada senyum sedikit pun yang dilemparkan pada gadis rapi yang masih terus memandanginya. Dan sang nyonya telah menghilang di telan daun pintu.
"Benn, itu ibumu?" tanya Eril dengan perlahan.
Lelaki yang ditanya hanya mengangguk tanpa bersuara. Duduk kembali sambil menyambung menatap Eril.
"Lanjut bicara kita yang tadi. Kunaikkan uang muka empat puluh persen. Pass,,!" kata Benn dengan tatap lekatnya. Eril memandang sebentar lalu cepat mengangguk.
"Baiklah Benn. Kurasa itu jauh lebih cukup dari jumlah mendesak yang kuperlukan," sahut Eril akhirnya.
Benn terdiam dengan tetap memandang pada Eril. Ruangan itu sunyi sesaat. Benn membuang muka seperti sedang berfikir sesuatu, begitu juga dengan Eril yang berpaling dan menatap ujung kakinya. Dan keduanya kembali meluruskan wajah saling memandang bersamaan.
"Apa,,? Ada yang ingin kau katakan?" tanya Benn.
"Iya. Aku hanya ingin tahu. Kenapa jika kau hanya perlu bukti menikah, tapi lama sekali,, kenapa harus enam bulan? Bukankah bisa satu, dua atau tiga bulan saja?" tanya Eril penasaran.
Benn terdiam, tengah menilai gadis yang berambut panjang lebat sepunggung dan diikat kuat jadi satu.
"Bukan urusanmu. Yang jelas untuk menenangkan kedua orang tuaku. Dan aku tidak ingin membuatmu merasa terlalu beruntung, jika hanya sebulan,," Benn menjawab agak ketus. Ada sesuatu yang ingin ditutupi Benn dari Eril. Dan Eril mencoba acuh pada perkataan Benn.
"Apa wanita tadi adalah ibumu, Benn,,?" tanya Eril dengan lembut pada Benn. Pura-pura belum tahu.
Lelaki tampan itu sekali lagi hanya mengangguk. Mendapati wajah Eril yang terlihat mendung sesaat.
"Kenapa,,? Ibuku memang cantik. Berdarah Jepang. Wajar saja jika anak lelakinya setampan diriku,," ujar Benn dengan gaya sombong buatan. Dan nampak sekali lelaki itu sedang berpura-pura. Eril tertawa sedikit akhirnya.
"Bukan sebab aku kagum dengan kalian, Benn. Tapi boleh tidak, setelah menikah, kita tidak usah ada urusan lagi? Sebab ibumu nampak tidak suka padaku. Selama ini aku sudah kenyang makan derita. Jangan kau tambah lagi dengan sajian mertua kejam yang harus kutelan ya, Benn,, Kau hanya perlu buku nikah, kan,,?" terang Eril dengan pelan dan hati-hati. Ingin agar Benn memahami dengan cepat penjelasannya.
Benn yang mulanya nampak serius mendengar bicara Eril, berubah ingin tertawa meski sebenarnya sangat paham maksudnya.
"Buang saja televisi di rumahmu..! Kau ini terlalu sering menonton sinetron yang kelewat lebay di Indomaret itu, Rill,,!" sahut Benn dengan santainya.
Mendengar ucapan lelaki tampan yang terkadang memang konyol itu, Eril membuang muka menyamarkan senyuman.
"Aku ini bicara serius. Meski aku sudah dibayar, tapi bukan berarti aku siap menambah deritaku. Ingat, Benn,, aku tidak bersedia jika hidupku kian susah setelah menikah kontrak denganmu. Lagipula, aku belum menerima seluruh bayaran darimu," ucap Eril sungguh-sungguh.
Dalam hati mengakui apa yang dikatakan Benn itu memang benar. Cerita akan kejamnya mertua sedikit banyak didapatkan dari menonton sinetron sedih lebay di Indosemar. Dan itu cukup meracuni pikiran Eril selama ini.
Sinetron di saluran ikan terbang itu mampu memberi phobia akan mertua kaya raya yang kejam. Juga suami yang patuh pada sang ibu tanpa memiliki sedikit pun rasa bijak dan adil pada istrinya. Tontonan itulah penyebab Eril lambat bergerak dan terlalu lama berdiam di tempat.
Hingga akhirnya nekat juga ke ibukota saat si buah hati telah berumur tiga tahun. Namun tidak juga bergerak mencari. Bingung sendiri bagaimana memulai. Juga keterbatasan ekonomi serta danalah yang jadi penyebab dan kendala dalam usaha bergerak mencari ayah Evan.
Tok..Tok...Tok...Tok..Tok..!!
Ceklerk,,!!
Asisten Lucky memandang Eril dan Benn bergantian sambil menutup pintu yang dipegangi. Berjalan mendekat pada Eril yang masih duduk di kursi.
"Maaf, apa kalian sedang berbicara, tuan Benn,?" tanya Lucky dengan hormat. Sadar diri jika saja dirinya sedang jadi pengganggu.
"Tidak, Lucky... Ada apa?" tanya Benn. Memanggil sang asisten suka-suka, kadang asluk dan terkadang hanya menyebutnya nama saja.
"Saya akan memberikan pembayaran pada Eril. Sebab saya akan segera pergi ke Jakarta Pusat. Jadi uangnya harus kuberikan sekarang." jelas asluk pada Benn.
"Pergilah dan selesaikan urusan kalian di luar saja, asluk. Tiba-tiba kepalaku pening." kata Benn. Memandang kembali pada Eril.
"Kau ikutlah asistenku. Akan kuberi kabar lagi secepatnya. Yang jelas kau sudah kupilih jadi kontestan yang menang. Jadi sementara ini kau tenang saja," terang Benn sambil mengeluarkan ponsel dan tidak pernah lagi memandang Eril. Tenggelam di layar ponselnya.
Eril sangat paham dengan sikap Benn yang suka tiba-tiba begitu. Segera berdiri dan merasa tidak perlu berpamitan. Berjalan di belakang asisten Lucky untuk menghitung jumlah total pembayaran order pesanan di luar ruangan Benn.
"Heh, Eril,,!! Kau tidak pamit padaku?! Tidak sopan,,!!" suara lelaki lapuk itu tiba-tiba berseru menghardik.
Eril yang hampir mencapai pintu bersama asluk tentu saja terkejut. Tidak menyangka jika Benn mengharap sapa pamitnya.
"Maaf ya, Benn. Bukan maksud tidak sopan dan abai denganmu. Tapi kupikir kamu tidak peduli. Aku pergi dulu ya, Benn. Assalamu'alaikum.." Eril menahan senyum sambil berpamit salam pada lelaki lapuk yang ruwet tapi sangat tampan. Melanjutkan langkah melewati pintu menyusul asisten Lucky. Yakin bahwa Benn tidak akan merespon pamitnya meski lelaki itu baru melayangkan protes padanya.
"Wa'alaikumsalam.. Ingat Rill, jangan nonton tayangan sinetron di Indomie lagi,,!" seru Benn sambil menatap punggung cantik milik Eril.
Gadis sederhana namun ternyata cukup siaga dan cepat bergaul. Benn pun seperti terbiasa jika berbicara dengan Eril. Merasa seperti sudah lama mengenali.
Eril yang sedang menutup pintu cukup terkejut dangan salam dan sahutan dari Benn. Lelaki lapuk yang selama berjumpa selalu abai dan tidak peduli pada salam pamitnya. Kini merespon menimpali. Bahkan sempat-sempatnya melempar pesan gokil itu sekali lagi.
Bibir Eril yang sedang tersenyum geli segera mengatup rapat-rapat. Sebab tiba-tiba asisten Lucky berhenti dan berbalik menatapnya. Berkerut dahi sekilas, mungkin terheran dengan gadis di belakang yang nampak tersenyum.
"Eril, ini pembayaran pesanan hari ini. Jika aku memesan lagi. Akan aku hubungi kamu."
Asisten Lucky membuka buku di tangannya dan mengambil sebuah amplop berwarna coklat tua. Mengulurkan pada gadis pemilik dapur online.
"Tidak perlu kamu hitung lagi. Itu sudah lebih dari pembayaran," jelas asisten Lucky. Melihat wajah Eril yang bingung, dan kini nampak paham dan cerah.
"Terimakasih, pak Lucky. Aku tunggu pesanan darimu lagi,," harap Eril terus terang.
Asisten Lucky hanya tersenyum dan mengangguk.
"Aku pamit, pak. Assalamu'alaikum,,!" pamit Eril terakhir kalinya.
"Wa'alaikumsalam." Lucky cepat menjawab. Matanya mengawasi Eril yang berlalu dari Lucky untuk meninggalkan gedung itu.