Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
36. Dibawa Benn


Mobil sedan hitam yang Eril sedang menduga siapa driver di balik kemudi, masih terus rapat menyandar di halte. Dan jumlah bunyi klakson yang ditekan, membuat kian yakin siapa orang yang sedang di dalam.


Untuk apa malam-malam begini lelaki itu berkeliaran,,? tanya Eril di dalam hatinya.


Tin..!! Tin..!! Tin..!!


Tidak puas hanya dengan satu kali, bunyi bising tiga kali kembali digencarkan dengan tidak sopan oleh seseorang di dalam.


Evan yang mulai tenang dan mengangkat kepala, kembali merebah dan menyembunyikan wajah di dada sang ibu kembali. Tangan mungil itu sedang memegang erat kerah di baju blouse ibunya.


Eril merasa tersulut emosi. Niat untuk sedikit mendamprat si pengemudi mobil arrogant itu diurungkan saat dirinya mendekat. Kaca di bagian kursi penumpang depan telah diturunkan perlahan. Dan tampaklah siapa driver itu.


Memang seperti yang disangka. Benn nampak sebagaian dengan wajah tak bersalahnya. Memandang Eril yang sedang susah payah mengendalikan diri bersama Evan di gendongan.


"Sangat malam, Eril,,! Lekaslah masuk,,!" seru Benn dari dalam. Eril terdiam tak menyahut. Tidak menegur, juga tidak menggeleng.


Terbawa rasa yang masih geram, Eril justru mundur ke belakang dan kembali ke posisi semula di halte. Mengabaikan seruan Benn padanya.


Melirik Benn yang sedang keluar dari kursi dan berjalan mendekati ibu dan anak di dalam halte. Tanpa berkata apa pun, Benn menyambar kantung plastik besar yang menyembul mainan robot kura-kura dengan jelas. Meletakkan ke dalam mobil dan membiarkan pintu depan itu tetap saja terbuka.


"Maaaa,, mainan Epan dileput om Peeen... Ayo kita leput,maa..." rengek Evan tiba-tiba. Balita itu memang juga mengawasi gerak-gerik Benn sedari turun.


"Itu tidak direbut, Evaaan. Tapi sebentar yaa, nanti kita minta kembali." Eril menenangkan sang balita agar diam dan bertenang.


"Lekas,Eril,,! Kau tidak kasihan pada anakmu,,?! Lagian kau ini kenapa?!" seru Benn dengan rasa tak berdosanya.


"Hampir tengah malam,,! Akan ada preman dan bandit yang datang ke halte ini sebentar lagi,!" sambung seru Benn dan terdengar sungguh-sungguh.


Eril terpengaruh dengan seruan Benn yang terakhir. Baginya, ancaman preman dan bandit jauh lebih menakutkan daripada pasukan hantu yang seram.


Eril bersama Evan yang terus digendong, berjalan bimbang melewati Benn yang masih memegang pintu. Mereka menyusul kantung mainan yang telah lebih dulu bertengger manis, diletak oleh pemilik mobil di jok belakang.


Benn menutup pintu dengan pelan dan memutar cepat ke depan. Duduk menghempas di samping Eril sambil menutup keras pintu miliknya.


"Mainanku,,maa," Evan kembali merengek, risau dengan mainan barunya.


"Iya, nanti kita bawa kalo sudah turun... Jangan khawatir, om Benn baik kok. Om itu hanya ingin mengantar kita pulang, bukan merebut mainanmu, Vaaan,," redam Eril berusaha menyampingkan perasaan kesalnya.


Evan terdiam meski merasa tidak puas dengan jawaban sang ibu. Hanya mungkin merasa gentar dengan jelingan tajam dari lelaki tertuduh yang sedang membelai setir kemudi.


Benn membawa nya dengan kecepatan sedang melintasi aspal jalanan saat malam. Lelaki itu begitu fokus dengan pandangan lurus mencermati lajur jalan yang mulus.


"Kamu dari mana, Benn,,?" tanya Eril setelah hatinya mendingin bersama rasa dingin AC di mobil.


Setelah difikir, searrogant apa pun, apa jadinya jika tidak ada Benn yang bermurah hati membawanya. Sedang di halte, dari mulai berdiri hingga datang lelaki itu, tidak melintas satu pun kendaraan umum atau taksi yang bisa berhenti dan kemudian mengangkutnya. Apalagi jika benar-benar akan ada preman yang datang seperti yang dikatakan Benn barusan. Rasanya ngeri sekali.


Ibu muda yang terus memangku balita dan menepuk-nepuk punggung kecilnya membuang pandang ke jalanan di samping. Menatap kosong sesaat. Namun terasa menyadari sesuatu yang salah. Menoleh cepat pada lelaki yang duduk tegak mengemudi.


"Benn, kita ini ke mana? Jalan menuju rumahku sudah terlewat!" seru Eril terheran. Memandang Benn yang terus saja nampak abai dan fokus.


"Putar saja di taman depan sana itu, Benn. Biar nggak kejauhan kamunya,,!" saran Eril sambil menoleh lelaki itu.


Namun Benn nampak abai dan tenang. Tidak ada tanda-tanda dari tangan-tangan panjangnya untuk memutar kemudi yang digenggam. Dan mobil terus saja berjalan lurus dan bahkan lebih kencang.


"Beeenn,,??!" tegur Eril dengan keras. Merasa tidak tahan lagi dengan Benn yang membungkam. Tangannya sambil membenarkan posisi Evan yang terlihat ingin tidur.


"Kau ini kenapa ketakutan, Ril..? Aku ini suamimu. Status kita masih suami istri. Harusnya kamu ini merasa tenang, pasrah akan dibawa kemana oleh suamimu,," terang Benn tiba-tiba dengan sangat jelasnya.


Eril terbungkam. Membenarkan ucapan Benn dengan cepat. Lagipula sudah ada Evan bersamanya.


Mungkin Eril hanya tak menyangka jika Benn ingin membawanya. Membawa entah ke mana..


"Lalu, kamu akan membawa kami ke mana, Benn,,?" tanya Eril kemudian dengan nada yang pasrah.


"Ke kantorku," sahut Benn dengan singkat.


Dan Eril tidak lagi bertanya. Tidak ingin mengganggu fokus Benn mengemudi.


Berfikir pada kantor yang disebutkan oleh lelaki itu barusan. Mungkin Benn akan membawa nya ke gedung utama di kamarnya. Kamar sangat luas dan bahkan melebihi rumah kontrakan Eril yang baru saja terlewat jalurnya.


Eril agak berdebar dan menahan nafasnya. Saat berfikir kemungkinan apa saja yang akan dilakukan Benn jika tinggal sekamar bersama. Teringat saat sekamar setelah lelaki itu menikahi dirinya. Benn tidak segan-segan untuk membawanya ke ranjang.


Perempuan itu sedikit tersenyum. Kini telah ada Evan di antara mereka berdua. Benn pasti lebih bad mood dan tidak akan mesum lagi padanya. Eril jadi merasa sedikit lega dan tenang. Sedikit..


Mereka telah sampai di gedung utama hampir tengah malam. Eril menaiki lift dengan menggendong Evan yang telah lelap mengikuti Benn. Tidak ada percakapan sepatah pun di antara suami istri yang masih pengantin baru itu hingga sampai di dalam kamar.


"Benn, di mana aku dan Evan, tidur?" tanya Eril nampak bingung dan buru-buru menuju sofa. Tangannya sudah merasa pegal menahan Evan cukup lama. Direbahkannya Evan di sana sementara.


"Sesuka hatimu,," sahut Benn tanpa memandang Eril sedikit pun, sambil berjalan menuju ruang penyimpanan baju.


Eril nampak bimbang.


"Evan rawan jatuh, Benn. Sofa ini kurang luas." sambung Eril penuh maksud.


"Apa ranjang di pojok itu, bagimu kurang lebar?" tanya Benn sebelum benar-benar hilang di ruang baju.


Ibu muda itu tidak lagi menyahut. Segera mengeluarkan tisu basah dan membersihkan bocah lelap itu ala kadarnya. Terpaksa tidak mengganti baju bocah itu sebab tidak membawa pengganti.


Evan telah nyaman dipindahkan ke ranjang. Sang ibu berdoa pasrah agar balitanya tidak mengompol malam ini. Evan sudah tidak menggunakan diapers. Eril cukup keras melatihnya untuk tidak tergantung pada benda vital itu lagi.