Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
42. Pilihan Menguntungkan


Ibu muda dari seorang balita lelaki itu nampak gelisah dengan berkali-kali menolehkan kepala ke arah pintu kamar. Hatinya begitu resah bercampur dengan debar. Serta berbaur dengan amuk kesal yang susah payah telah berusaha diredam.


Lelaki pemilik kamar sedang keluar entah ke mana dengan meninggalkan dua perkara yang harus segera dipilih. Dan sebenarnya sama sekali bukan masalah jika saja Eril memilih bersikap rela dan bahkan mendapat keuntungan yang besar bagi dirinya. Eril sama sekali tidak dirugikan.


Putusan pilihan telah digenggam. Semua akan dilakukan untuk Evan, demi masa depan buah hatinya. Eril tidak akan menyiakan kesempatan. Akan dimanfaatkan peluang itu semaksimal mungkin dan semampu dirinya.


Satu jam berlalu..


Eril telah siap jika Benn kembali ke kamar kemudian menanyakan pilihannya.


Cekleeerk,,!


Eril menatap pintu dengan hati berdegub. Lelaki yang telah membuat gelisah itu sudah kembali ke dalam kamar dan sedang mengunci pintu rapat-rapat.


Benn berjalan mendekat dengan hanya memandangnya sekilas. Seperti tidak peduli jika Eril yang duduk tegang di dalam kamar sedang resah karena dirinya.


Tubuh menjulang itu tengah berdiri di sampingnya sangat dekat. Meletak ponsel dan jam tangan yang sudah dilepas dari luar. Entah pergi ke mana dia barusan.


Benn tidak menjauh dari meja riasnya. Tapi kembali duduk santai di atas meja dengan posisi sama persis saat tadi. Wajahnya sedikit menunduk dengan tatap datar pada Eril. Mereka saling memandang beberapa saat.


"Sudah,,? Katakan pilihamu," tanya Benn tanpa ekspresi apa pun.


Wajah perempuan itu nampak pias dan samar merona entah apa yang akan disampaikan oleh bibir cantiknya. Benn bersabar menunggu hingga bibir itu membuka.


"Aku setuju dengan pilihanmu," kata Eril dengan pasrah. Perempuan itu menggigit bibir melampiaskan rasa kalahnya.


"Kau setuju? Setuju yang mana, Ril?" tanya Benn ingin kejelasan.


Wajah polos itu menunduk dalam-dalam.


"Pilihan yang kedua." Eril menjawab lirih dan terdengar agak ketus.


"Yang ikhlas,Ril..Jangan tekuk wajahmu," kata Benn sambil berdiri.


"Sebenarnya aku merasa malu dengan Desta. Aku terpaksa melakukan semua ini," Eril mengeluh dan tetap menunduk.


"Anggaplah ini rahasia rumah tangga kita. Tidak perlu bercerita apa pun pada siapa pun." tegas Benn. Tangannya terulur menyentuh rambut Eril yang lembut dan mengacaknya dengan gemas.


Seperti biasa, tangannya merambat turun dan berhenti di punggung. Menepuk sebentar, laalu mendorong punggung cantik itu ke dekat tempat tidur. Eril diam saja dan tidak juga menghindar. Kepalanya seperti kosong saat merasakan Benn sedang mendorong punggungnya yang kemudian dibalikkan tiba-tiba.


"Ayo, pijatlah aku,," ucap Benn memandang tanpa segan, merasa sudah ada angin segar. Meluncurkan target dan tujuan utama setelah mendapat jawaban yang seperti harapannya.


Eril berpaling muka. Sangat enggan melihat Benn yang sedang melepasi bagian atas baju tidurnya sambil menaiki pembaringan.


"Sinilah, Eril. Berbaktilah padaku. Asluk akan mengirimkan uangmu besok pagi," kata Benn ingin memberikan sang istri penyemangat.


Eril mengambil nafas dan membulatkan tekadnya. Berfikir bahwa ini tidak salah dan Benn bukan lah benda berdosa jika disentuhnya. Juga demi Evan yang pasti memerlukan biaya yang tidak sedikit di masa mendatang.


"Benn, tengkurap lah. Aku tidak nyaman," tegur Eril.


Keberatan dengan posisi Benn yang terlentang dan terus mengawasinya. Lelaki itu patuh dan kemudaian membalikkan hamparan tubuhnya ke bawah.


Tangan lentik Eril yang kini terasa sangat halus, sebab hanya untuk mengurus Evan akhir-akhir ini, mulai menyentuh pundak Benn. Menggerakkan sesuai felling sebab memang tanpa pengalaman.


Benn tengkurap dengan manis. Diam tanpa banyak bergerak atau juga berkomentar. Hanya sesekali terdengar mengerang terlepas tak terkontrol saat tangan yang terasa terlalu runcing dan tajam itu mencucuk nikmat kulit dan daging di punggungnya. Itu hanya rasa geli dan tidak terasa sakit sama sekali.


Eril terus memijat kulit punggung yang terasa hangat dan sangat keras saat ditekan. Perlu mengeluarkan tenaga untuk melakukan banyak urutan. Meski menahan perasaan yang berat, tapi Eril berusaha melakukannya dengan totalitas.


"Geser-geser lah, Eril,, badanku bukan hanya punggung saja, yang lain pun juga tengah antri untuk kau tusuk-tusuk.!" seru Benn. Yang dari tadi diam saja tapi sekali berkomentar cukup panjang dan membuat kesal pemijatnya.


Pemijat cantik itu bergeser dan mengikuti sesuai yang diinstruksikan padanya. Mengerahkan kekuatan demi memberikan kepuasan pada calon pelanggan tetapnya. Tidak ingin jika orang yang tengah dipijat kembali berkomentar.


Begitu lama memijat hingga bulir keringat mulai keluar dari dahi, leher dan belahan dadanya. Tidak juga ada arahan berhenti dari mulut lelaki yang tengah dipijat dengan daya yang baginya sudah sangat maksimal.


Sebab Benn nampak menikmati pijatan sepenuh tenaganya namun tidak juga selesai, Eril mengubah strategi tiba-tiba. Memberi pijatan lembut dengan harap melenakan lelaki itu. Cukup lama dan rasa bosan tak bisa lagi dihempaskan.


Eril melepaskan tangan dan bergeser perlahan. Menuruni ranjang dengan rasa yang kebas di kaki dan pinggul. Duduk mematung di tepian dengan harap lelaki yang merebah tidak lagi terjaga. Merasa enggan jika Benn benar-benar menyentuh dan menggauli malam ini.


Benn tidak tidur. Tapi merasa bimbang dengan apa yang harus dilakukan. Bukan tidak merasa gerah atau tubuh tidak memberi respon. Tapi rasa panas dingin akibat timbul hasrat dari sentuhan bermacam gaya yang dilakukan perempuan cantik itu membuatnya tak berdaya.


Terlebih pijatan tangan halus Eril di detik-detik akhir layanannya. Benn merasa itu sama sekali bukan pijatan. Apalagi bagi lelaki sepertinya, terbiasa diservis oleh pemijat kuat dengan tenaga yang ekstra. Tentu saja pijatan Eril yang baginya tanpa tenaga itu terasa jadi elusan-elusan lembut yang erotis.


Hasrat menggebu yang kembali datang sejak di awal pijatan, dikesampingkan demi sentuhan-sentuhan lembut yang raganya merasa nikmat dan nyaman.


Benn telah mengabaikan gelora hasrat nafsunya yang selalu palsu tanpa tujuan dan muara. Merasa indah di awal namun tidak pernah berakhir memuaskan. Dan justru siksa berat saja yang tersisa.


Juga merasa gengsi jika akhirnya Eril curiga kemudian menangkap basah kelemahannya. Benn merasa akan sangat malu andai sang istri sampai tahu derita sakitnya.


🌶


Adzan Subuh tengah berkumandang dari jauh. Perempuan yang tertidur sebab lelah setelah lama memijat, nampak bergerak dan membuka matanya. Merasa berat dan ada sesuatu yang menumpang di perutnya.


Betapa terkejut, yang berat di atas perut adalah tangan Benn sedang memeluknya di pinggang. Wajah tampan dengan mata masih menutup itu benar-benar dekat di samping telinganya.


Eril menutupkan mata dengan rapat dan cepat saat dilihatnya kelopak mata Benn mulai bergerak dan akan membuka. Tak ingin terjebak dalam suasana kikuk atau pun salah tingkah. Dadanya berdebar menunggu respon lelaki bangun tidur itu selanjutnya.


Benn membuka mata yang kemudian masam tersenyum. Kelopak mata yang indah dan sedang bergetar itu membuatnya ingin tertawa. Eril sedang pura-pura tidur saja.


Merasa dadanya berdegub, merasa takjub tak percaya. Setelah sekian lama ditinggalkan, kini telah kembali merasakan. Tidur berpeluk wanita dan bangun pun juga masih memeluk. Semalam,,Eril telah tertidur dan tidak sadar saat Benn mendekat memeluknya.


Namun rasanya jauh berbeda. Jika dulu, meskipun telah mendapat puas dari wanita yang dipeluk, namun akan merasa resah dan perasaan menanggung dosa tetaplah ada. Hanya Benn masih berat dan tak berniat meninggalkan sungguh-sungguh.


Dan sekarang, meski belum melakukan apa pun pada perempuan yang sedang dipeluk. Rasanya begitu nyaman, tenang dan hangat. Tidak ada rasa cemas, bersalah atau juga perasaan sebagai pendosa. Desir bahagia sedang Benn rasakan subuh itu.


🌶🌶🌶


Benn telah keluar. Lelaki yang sempat membuat sangat resah itu tidak melakukan apa pun padanya. Hingga saat bangun tidur pun, dia melepas pelukan eratnya dan bangun begitu saja.


Dia telah mandi,, sebab bau wangi dari sabun yang ada di kamar mandi. Terdengar membuka pintu dan menutupnya kembali.


Menunggu satu menit kemudian..


Eril segera membuka mata dan meloncat bangun dari ranjang. Sangat lega yang sangat. Badannya sudah demikian bosan dan pegal, menunggu dalam diam tanpa gerakan.


Kini merasa tenang, berharap Benn tidak segera kembali..


Ceklerk,,!!


Pintu dibuka dari luar saat Eril sedang duduk di meja rias, dan nampak asyik memoles lipstik di bibirnya. Ibu muda itu baru saja mandi dan melunasi subuhnya di kamar.


Melirik Benn di pantulan cermin rias dengan terus memoles lipstik dari kanan ke kiri bolak-balik di bibir.


Eril terlalu fokus pada penampilan Benn yang sangat tidak seperti biasanya. Lelaki itu terlihat jauh lebih gagah, dan begitu adem dengan sarung dan peci di kepalanya.


"Kau akan ke mana, Ril,," suara berat Benn mengejutkan. Tak sadar lelaki itu telah berdiri dekat di belakangnya.


"Tidak ke mana-mana," sahut Eril dengan cepat. Matanya kembali ke cermin dan memandang wajahnya. Sangat terkejut, bibirnya telah merah menyala, lipstik teroles sangat tebal dan abstrak tanpa bentuk. Betapa malunya!


"Kenapa seperti itu? Apa itu tutorial mengoles lipstik paling mutakhir? Ha..ha.." tanya Benn tanpa menyembunyikan tawa kecilnya.


"Apa kau terlalu takjub dengan tampilan baruku pagi ini? Apa aku sangat tampan, Ril,,?" tanya Benn sambil membungkuk dengan maksud bercanda menggoda. Wajahnya didekatkan hampir rapat. Eril membungkan dengan wajah yang berubah merah padam.


"Menepilah, Benn. Aku akan mengambil tisu basahku di dalam tas." Eril telah berdiri namun terhadang oleh Benn.


"Untuk apa tisu,,?" tanya Benn dengan terus tersenyum. Eril agak menunduk.


"Mengangkat lipstikku,,!"jawab Eril menahan malunya.


"Sini,, kubantu. Sangat mudah bagiku menghapusnya." Benn berkata penuh makna.


Bersama tangan besarnya yang telah menahan bahu Eril tiba-tiba. Lelaki itu kembali membungkuk mendekatkan wajahnya.


"Beenn,," sebut Eril dengan suara tercekat.


"Apa kau kecewa, ternyata aku tidak menyentuhmu? Terimalah aku, Ril... Lihatlah, aku telah menambah kebaikan tobatku. Aku baru pulang dari Masjid bersama ayahku." bisik Benn menerangkan dengan lirih di depan wajahnya.


Tidak lagi berkata dan tidak memerlukan jawaban. Benn telah menyandarkan bibirnya di bibir Eril dan membuat dua bibir itu menyatu.


Tidak ada sedikit pun penolakan. Hanya gerak keterkejutan yang dirasakan Benn dari bibir dan tangan wanitanya. Dan tangan halus lentik itu telah mengalung di lehernya dengan hangat.


Eril telah berusaha rela. Sukarela dengan pilihan keduanya. Dan lambat laun akan terbiasa dan mungkin terasa menyenangkan. Berusaha tidak menyesali semua ini. Sebab itu adalah pilihan menguntungkan.