
Security yang dijumpai Eril meminta nasi kotak dalam bag besar itu agar ditinggal di pos jaga. Lalu mengarahkan Eril untuk membawa dua kotak plus spesialnya ke dalam bangunan. Dan seseorang nampak menyambut dari jauh dengan melambai tangan ke arah ibu muda tapi berstatus masih gadis.
Semakin dekat, semakin terlihat jelas siapa orang yang tengah melambai tangan ke arahnya. Adalah asisten Lucky yang mengenakan stelan jas dan nampak berbeda dari biasa. Asisten Lucky yang berumur empat puluh empat tahun itu terlihat muda dan lebih keren dari perjumpaan sebelumnya.
"Pak Lucky?! Kamukah yang memesan nasi kotak padaku siang ini,,?!" gadis itu bertanya keheranan. Senyum manis dengan gingsul sebelah, juga lesung pipi sebelah saja, nampak menyenangkan terlihat. Begitu serasi di wajah Eril yang berkulit kuning dan cerah.
"Benar. Tapi aku ingin kamu antarkan sendiri ke sebuah tempat di dalam bangunan. Ruangan di lantai tiga gedung ini. Mari aku antarkan, Eril,," kata asisten Lucky dengan ramah.
Eril mengikuti langkah asisten Lucky dengan bersemangat. Menepis rasa was-was dan khawatir di benaknya. Meski sudah biasa melakukan hal seperti ini, rasa resah tidak enyah begitu saja. Bahkan beberapa kali juga pernah mendapat order pesanan dengan lokasi dan medan yang cukup berat untuk seorang perempuan. Dan selalu bersyukur, dirinya masih aman dan selamat hingga sekarang ini.
Eril meniti anak tangga sangat cepat seperti halnya asisten Lucky. Telah sampai di lantai tiga dan berdiri di depan sebuah pintu ruangan.
Asisten Lucky mengetuk pintu dan menunggu terdiam. Tidak ada sahutan apa pun yang terdengar dari dalam.
Eril menggenggam erat tali bungkusan kotak nasi. Menduga bahwa lelaki pemilik ruangan yang baru diketuk pintu oleh asisten Lucky adalah lelaki lapuk tampan yang dijumpai semalam. Lelaki dengan bibir yang nampak manis, namun sekali bersuara terdengar cukup sadis.
Ceklerk,,,!
Pintu yang terbuka bukan menampakkan lelaki dalam kepala. Tetapi dua perempuan beda usia dengan penampilan yang bersaing dan sama-sama nampak cantik.
"Lucky,," tegur wanita tengah baya cantik pada asisten Lucky.
"Iya, nyonya,,?" jawab asisten Lucky dengan pandangan sangat sopan.
"Jagakan Benn dengan baik, awasi kelakuannya, toloooong...Kumohon keraslah padanya, Lucky.. Kamu paham dengan maksudku, kan,,?" wanita itu menunjuk wajah sedihnya pada Lucky.
Lucky nampak bimbang menyahut. Memandang wanita di sebelah sang nyonya sekilas. Wanita cantik dan muda yang mungkin telah ditolak Benn dengan nomor urut ke sekian kalinya.
"Untuk permintaan nyonya ini, kurasa cukup susah saya sanggupi. Mengingat ini berkaitan dengan urusan tuan Muda sendiri. Tidak etis jika saya ikut campur. Maafkan saya, nyonya,," sahut asisten Lucky akhirnya.
Sang nyonya tidak lagi bicara, memandang Eril di sebelah asisten Lucky sejenak. Gadis manis dengan aura menyenangkan. Berpakaian sederhana nampak rapi dan bersih.
"Siapa dia, Lucky?" tanya mamanya Benn.
"Pengantar makanan, nyonya,," sahut asisten Lucky, sambil menatap menyelidik wajah sang nyonya.
"Pengantar makanan? Bukankah makanan selalu diantar oleh orangku? Dia tidak berseragam, Lucky,," mamanya Benn kian terheran.
"Bolehkah saya berbicara sebentar hanya dengan anda, nyonya?" asisten Lucky memandang nyonya Donha dengan ekspresi bertanya. Nampak lega saat wanita itu telah mengangguk.
"Eril antar makanan ini pada orang di dalam. Jika sudah, tunggulah aku sebentar. Uangnya belum aku siapkan,," pesan asisten Lucky pada Eril. Tangannya membuka pintu dan menyampaikan tanda agar Eril segera masuk ke dalam.
🌶🌶🌶
"Jadi, gadis itu tadi adalah yang dipilih Benn sebagai calon istri dari iklan yang dipasangnnya, Lucky,,?!" tanya desis nyonya Donha pada asisten anaknya. Lelaki yang telah mengabdi hampir dua puluh tahun pada keluarga Harsa, dan kini sepenuhnya bekerja pada Benn.
"Betul, nyonya. Memang belum disah luluskan oleh tuan muda Benn. Tapi sepertinya gadis itulah yang akan dipilih. Maka, saya hanya mencoba bantu mendekatkan mereka, nyonya. Agar anak lelaki anda tidak ragu-ragu," terang Lucky dengan jujur.
"Bagaimana dengan latar belakang keluarganya? Apa di Jakarta juga,,?" tanya mamanya Benn menyelidik.
"Tapi, apa kau yakin dia gadis baik-baik,?" tanya wanita cantik itu lagi. Lucky mengangguk.
"Saya yakin, nyonya. Setidaknya Eril adalah gadis yang jujur," terang asisten Lucky.
"Baiklah Lucky. Sementara ini aku mendukungmu. Setidaknya untuk mencegah agar anakku tidak semakin terjerumus pada lembah nista yang menyimpang,," sahut mama Benn dengan lirih. Sadar jika Selvi masih menunggunya saat ini.
🌶🌶🌶
"Selamat siang. Asisten Lucky Ingin saya mengantar kotak makan ini pada kamu, pak,," Eril menyapa sopan pada lelaki yang duduk di kursi dan sedang terheran memandangnya.
"Pak,,,?! Kau sebut pak padaku?! Apa aku nampak sama-sama tuanya dengan Lucky, asisten tuaku yang juga kau panggil pak,,?!" Benn bertanya dengan nada keras pada Eril. Baru kali ini mendapat panggilan pak dari gadis asing yang sama sekali bukan pegawainya.
"Eh, maaf ya,,, emm,, mas,, kak,,,bang,,?" Eril bimbang sendiri. Ini adalah customer paling ruwet yang pernah didapatnya.
Plak,,!!
Bukan menjawab, lelaki tampan namun ribet itu tiba-tiba membanting buku tebal seperti kamus bahasa ke mejanya dengan keras.
Eril terdiam, perempuan itu terlihat sedang bingung. Semakin tidak paham dengan isi kepala lelaki ruwet itu.
Sebenarnya Benn ingin tertawa melihat mimik muka Eril yang nampak terkejut dan sangat salah tingkah. Benn hanya ingin memancing respon Eril. Seberapa tahan gadis itu mengendalikan diri dengan sikap customernya. Benn memang iseng.
"Namaku, Benn,," ujar Benn lirih. Namun sangat jelas sampai di selaput gendang Eril.
Eril mengangguk," Namamu, Benn,,?" tanya Eril kemudian.
Lelaki itu kembali bungkam dan tidak berminat menjawab tanya Eril.
"Jadi kau ke sini di minta Lucky?" Benn duduk tegak di kursinya.
"Iya, aku disuruh masuk sendiri ke sini. Dan aku tidak tahu, jika yang pesan makanan itu adalah dirimu, Benn." jelas Eril memandang ke arah Benn.
"Ha..ha..ha.. Kau pikir aku ada waktu untuk memikirkan memesan makanan padamu?! Itu murni kelakuan asistenku,,!!" sahut Benn dengan tawanya.
"Tolong jawab pertanyaanku. Apa kamu yang sebenarnya sedang mencari istri,,?!" Eril nekat bertanya kembali.
"Apa kau harus tahu?" tanya balik Benn pada Eril.
"Aku berhak tahu dengan siapa aku berurusan. Siapa sebenarnya orang yang semalam ingin bertemu denganku. Jadi, jawablah pertanyaanku,," jelas Eril menatap tegas pada Benn. Dan lelaki ruwet itu juga terus memandang saat Eril berbicara.
"Apa kau tiba-tiba takut menjadi janda setelah tahu bahwa orang yang kau lamar itu aku,,???" tanya Benn kemudian.
Eril mengambil nafasnya kuat-kuat dan menyimpan sebentar dalam dada sebelum dibuang keluar kembali. Ternyata memang benar, lelaki yang nampak manis itu gemar sekali memvonis. Dan dia adalah lelaki lapuk yang telah dilamarnya.
"Aku tidak keberatan dengan status apa pun. Aku hanya ingin mendapat uang sayembara yang kamu janjikan itu secepatnya. Jadi, harap segera saja memberi tahuku. Aku ini lulus seleksimu apa tidak,??!" tanya Eril dengan terang-terangan dan cukup sangat berani.
Mengenyampingkan harga diri, dan baginya itu paling tepat saat ini. Menunggu-nunggu kabar yang tak jelas dan tidak pasti, membuat hari-harinya menjadi tidak tenang dan cukup menyita banyak waktunya.