
Eril merasa senang saat polisi Jovan berkeinginan menggendong Evan di sepanjang lorong kantor menuju keluar markas. Dan lebih terenyuh gembira, ternyata Evan sangat menikmati moment digendong Jovan. Langsung menyambut dan merangkul leher Jovan sangat erat dan akrab. Menggelayut manja sambil memandang Jovan saat polisi itu mulai berjalan menggendongnya. Mata jernih Evan tak berpaling dari wajah Jovan sebentar pun.
"Terimaksih, pak Jovan sudah menggendong anak saya hingga keluar. Maaf merepotkan anda,," kata Eril sambil mengulur tangan untuk menyambut Evan dari polisi gagah itu. Jovan tersenyum hangat padanya. Mereka telah sampai di teras luar.
"Tidak repot, ini sudah masuk break time pagiku, Eril.. Dan aku merasa suka menggendong anak kamu. Putih menggemaskan,," sahut Jovan dengan tertawanya yang kecil.
"Terimakasih, pak. Oh, ya,, semoga besok kasus saya ini segera clear ya, pak." Eril tersenyum lebar menampakkan lesung pipinya yang manis.
"Tentu. Datanglah kembali besok siang. Kupastikan jika salah satu dari mereka tidak datang, itu bukan lagi kewajibanmu datang ke sini," jelas Jovan meyakinkan.
"Iya, pak. Baiklah pak Jovan, kami permisi dulu. Selamat siang. Assalamu'alaikum." Eril berpamitan dan menoleh pada teh Sulis yang juga tengah mengangguk bersalam pada polisi Jovan.
Briptu Jovan mengangguk sambil menjawab salam dari sapa dua perempuan yang sedang berbalik dan berjalan meninggalkan teras kantor markas tanpa menoleh-noleh lagi padanya. Polisi muda itu kemudian juga berbalik dan masuk kembali menuju kantin markas guna menghabiskan sisa dari break time pagi lima belas menitnya.
Eril terkejut saat berjalan menuju pelataran. Matanya mendapati dua lelaki beda usia yang sangat tidak asing baginya. Dan Benn serta asisten Lucky pun nampak terheran memandang sambil berjalan ke arahnya.
Eril merasa sedikit gugup, panik dan cemas. Tak terasa tangannya mencengkeram tubuh Evan yang sedang digendongnya. Kedua lelaki itu telah berhenti di hadapannya.
"Benn,,? Haai,,," masih merasa gugup, Eril menyapa lelaki yang akan menikahinya besok lusa. Merasa sedikit salah tingkah. Susah payah berusaha tenang akan suara sapanya.
"Siapa bocah itu, Ril,,??" tanpa basa-basi Benn bertanya dengan mata memicing tajam pada Eril dan Evan.
Tercekat suara Eril dan merasa sangat susah membuka mulut untuk menjawab. Melirik wajah Evan yang merangkulnya dan ternyata bocah itu tengah mengantuk. Memandang sekilas pada teh Sulis yang sedang berkerut merut dahinya memandang Benn dan asisten Lucky.
Berandai jika saja Benn berubah menolak dirinya sebagai istri dan meminta kembali uang muka yang telah dikirim, mungkin Eril akan meminjam uang saja pada Jovan. Polisi itu sempat berpesan agar tidak sungkan jika Eril perlu bantuan sewaktu-waktu.
Namun mengingat bisa jadi Jovan memiliki niat tersembunyi yang tidak baik, Eril jadi ragu. Sedang Benn, lelaki itu telah jelas apa tujuannya dan dirinya tidak perlu lagi membayar nya kemudian.
Selain itu, bisa jadi Benn akan sangat marah dan kecewa. Merasa justru dibohongi oleh pelamar yang telah dipilihnya untuk menang. Eril merasa cemas dan takut. Khawatir jika Benn berbalik menuntut dan menuduhnya penipu. Lalu meminta uangnya dikembalikan dengan jumlah yang berlipat. Eril bergidik membayangkan kemungkinan hal itu.
"Dia bernama Evan, Benn... Anak asuh teteh Sulis ini. Kami tinggal bertiga di sebuah rumah yang kita kontrak bersama. Dan aku sangat sayang pada anak ini, Benn." jawab Eril akhirnya. Sambil sesekali wajahnya menoleh pada teh Sulis yang juga sedang manatap paham pada ucapan Eril saat itu. Wanita itu mengangguk-angguk kepada Benn.
"Anak asuh,,? Lalu di mana orang tuanya,,?" tanya Benn lagi dengan masih memicingkan mata tajamnya pada Evan. Bocah itu mulai lelap dalam pejam damai di tidurnya.
"Ibunya sangat sibuk akhir-akhir ini. Sedang ayahnya masih pergi entah di mana. Aku sangat kasihan pada anak ini, Benn,," terang Eril yang terus berusaha menyimpan gugupnya.
Eril berdoa dalam hati diam-diam, semoga Benn percaya dengan ucapannya. Ucapan yang entah bagaimana nilainya. Entah benar, entah salah. Hanya berusaha selamat sementara dalam kepasrahan lah yang sedang perempuan itu lakukan.
"Dia polisi yang memegang kasusku." Eril menyahut dengan pendek.
"Apa kalian harus nampak seakrab itu?" Benn seperti tidak puas.
"Dia hanya merasa gemas dengan Evan. Mungkin dia sedang mendambakan punya anak." Eril kembali berkata meyakinkan. Merasa dirinya sudah mulai bertenang. Benn mulai abai dan nampak percaya dengan ucapannya tentang Evan.
"Oke, Eril. Jadi kau ini benar-benar masih gadis kan? Jangan lupa, kita lusa sudah menikah. Uang muka sudah kau terima. Jangan coba macam-macam, dan jangan coba-coba lari. Semua sudah disiapkan Lucky dan orang tuaku. Meski pun tidak ada acara yang meriah dan kita hanya menikah di depan penghulu. Jangan kamu anggap itu main-main, Ril. Lucky akan menjemputmu besok malam." terang Benn dengan gamblang.
"Nikahannya lusa, tapi kenapa aku dijemput malam-malam Benn?" tanya Eril menyambar. Tak sadar kedua tangannya kian erat memeluk Evan dalam gendongan.
"Mama yang minta. Kata dia untuk mengukur bajumu," terang Benn lagi.
Mendengar jawaban Benn itu, kepalanya menoleh cepat pada teh Sulis dengan sangat reflek. Mendapati wanita berkerudung itu sedang menganggukkan kepala untuknya.
"Baiklah, Benn. Tapi asisten Lucky tidak perlu menjemput. Aku akan datang sendiri di tempat yang kalian tentukan," jawab Eril akhirnya.
"Tidak. Asluk akan mengambilmu. Kau sudah kubayar. Jika ada apa-apa denganmu. Kamu akan merugikanku." sahut Benn acuh.
Lelaki berkulit putih yang jadi kemerahan sebab tersengat matahari itu menatap Eril sekilas. Kemudian melangkah ke samping dan berjalan maju ke depan. Meninggalkan Eril yang terdiam dengan menatap asisten Lucky yang juga berjalan mengikuti Benn menuju ke dalam kantor markas.
🌶🌶🌶🌶
Eril dengan Evan yang terlelap di gendongan juga bersama teh Sulis, tengah berada dalam ruang kaca kecil yang menyimpan uang melimpah di dalamnya. Mereka telah berdiri menghadapi mesin ATM yang sangat digemari hampir seluruh manusia, khususnya para emak.
"Teh, coba dicek sekalian. Akun teteh udah aku isikan saldo transfer. Maaf jika jumlah itu tak seberapa ya teh. Kelak jika sisa pembayaran sudah kudapatkan semuanya, teteh pasti akan dapat yang lebih lagi." terang Eril sambil menggeser diri menepi. Berharap agar perempuan berkerudung itu segera memasukkan kartu dan memeriksa hasil isinya.
"Ya, Allah, Ril... Kamu tidak salah? Ini banyak sekali,,?!" seru teh Sulis setelah memeriksa saldo akun rekeningnya.
Sangat ingat dengan jumlah saldo miliknya sebelum Eril menambahkan. Saldo tiap bulan yang didapatkan dari kiriman mantan suami. Entah bagaimana, mantan suami teh Sulis masih rutin memberikan jatah bulanan meski jumlahnya tidaklah seberapa. Mungkin masih baik dan menyadari. Jika rumah yang ditempati adalah rumah milik bersama teh Sulis.
"Tidak apa teh. Itu jauh tak seberapa jika dibanding dengan jasa dan andil teteh padaku dan Evan. Apa lagi nanti pasti kami akan lebih merepotkan teteh lagi." sahut Eril nampak sedih.
Membayangkan sebentar lagi pasti balita di pelukannya itu akan lebih sering ditinggalkannya sementara. Dan bahkan tidak menutup kemungkinan jika saat malam pun, Eril akan ada beberapa urusan bersama Benn.