
"Assalamu'alaikum,,!!" Eril terheran dengan keadaan rumah kontraknya yang sepi. Berfikir ke mana teh Sulis pergi bersama balita tersayangnya, Evan.
Telah diperiksa ke mana pun, kamar,, dapur,, kamar mandi dan sedikit halaman sempit di belakang. Tapi mereka berdua tetap tidak ada. Ke mana,?
Dengan menekan rasa gusar yang terus ada, Eril mengeluarkan mainan robot kecil yang masih berkemas dalam kotak. Diletakkannya di tengah karpet. Berharap jika Evan pulang, balitanya akan langsung tahu dan gembira.
Mengeluarkan buah naga merah kesukaan balita lelakinya itu.
Juga buah mangga jenis mangga manalagi yang kulitnya warna hijau namun sudah masak dan rasanya sangat manis luar biasa. Mangga kesukaan Eril yang mungkin teh sulis juga akan menyukainya.
Mangga kesukaan yang dibelinya di kaki lima tak sengaja. Entah dari mana didatangkan. Tiba-tiba saja hari ini hampir di semua lapak buah kaki lima yang sering dilewati, melimpah ruah mangga manalagi kesukaannya. Takut jika moment begini tidak akan ada esok hari, Eril membeli lima kilogram langsung sekaligus.
Tidak ingin membuang waktu, segera disambarnya baju baru dari paper bag dan dibawanya ke dalam kamar mandi. Eril ingin mencuci dengan detergent wangi sebentar, dan mengeringkannya. Celana kain modis warna abu-abu tua, kaos inner lengan panjang warna putih, dan sweater rajut pelapis lengan pendek warna hitam. Pilihan sederhana, nyaman dan tidak membosankan, tapi itu adalah warna-warni kesukaan..
Tidak ingin tampil terbuka dan seksi kembali. Menganggap hal itu tak berguna dan sia-sia. Bahkan di interview video call kemarin, si lapuk seperti tidak peduli sama sekali dengan seperfect apa pun penampilan pelamarnya itu.
"Lobot baluu,,lobot balu..holeee,,,!" sayup Eril mendengar suara Evan dari ruang depan.
Segera dibawanya ember kecil berisi baju baru yang basah dan siap dianginkannya di teras. Tidak ada lagi tanah latar secuil pun di depan rumah kontrakan Eril. Hanya jalan kecil beraspal di dalam gang rumah itulah satu-satunya lahan kosong yang tersedia.
"Rill, sudah pulang?" teh Sulis menyambut bertanya saat Eril memasuki ruang depan.
"Iya, teh. Jalanan lancar. Teh, nanti sore aku ada panggilan kopi darat sama orang yang cari bini itu. Harap-harap cemas rasanya, teh,," cerita Eril pada teman serumahnya. Sambil merengkuh balita yang dirindu dan menciuminya. Diletaknya lagi si balita yang terus asyik bermain dengat robot mini barunya.
"Aih, betulkah, Ril,,? Alhamdulillah semoga kabar gembira selanjutnya senantiasa menunggu ya, Ril,," harap teh Sulis.
"Betul, teh.. Aamiin." Eril mengaminkan doa dan harapan teh sulis.
"Baju baru kah, Ril,,?" kepo teh Sulis. Menyimak gerak-gerik Eril. Si ibu muda sedang memajang baju yang belum pernah nampak dipakai dan kini dibentang Eril tinggi-tinggi. Digantung di kerangka kayu penyangga genting atap teras.
"Tidak baru, teh. Udah kucuci,,hi..hi.." sahut Eril terkikik sebentar.
"Nanti nyervis diri ke salon lagi kagak Ril,,?" berkerut teh Sulis sedikit mendongak nenatap pada Eril.
"Tidak, teh. Ngerti banget pria itu jika aku lagi kanker." terang Eril.
"Lalu, berdempul sendiri?" terka teh sulis.
"Enggak juga, teh. Tapi dilarang keras pakai bedak. Hanya menyisir rambut saja yang boleh," terang Eril sambil turun dari kursi.
"Kenapa baju itu tak dijemur di belakang, Ril,,?" kembali ada yang dihermankan teh Sulis.
"Biar cepat kering. Di belakang tak kena sinar pagi. Siang dikit kupindah juga ke belakang. Nanti malam kupakai. Buat kopdar dengan pencari bini itu, teh,," terang Eril lagi.
Celana kain dengan warna mendekati silver namun bukan mengkilap, telah melekat dan terlihat memikat di kakinya. Serta inner kaos lengan panjang warna putih berlapis sweater rajut transparant warna hitam telah berpadu di badan sangat patut.
Rambutnya berkilat lembut setalah dicuci ulang banyak kali dengan samphoo dan creambath kemasan, yang beraroma mawar sangat wangi. Meski wajah polosnya hanya berlapis sedikit pelembab, namun terlihat segar dan cerah. Rambut bersih dan bersinar, akan membawa efek kecerahan tersendiri pada wajahnya.
Eril memandang wajah segar polosnya di cermin kamar. Tangannya memegang lip balm leci yang jika dioleskan setebal apa pun, hasilnya pasti tetap saja tanpa warna. Hanya aroma, dan rasanya yang mungkin tidak akan disadari oleh orang, jika saja Eril tergoda memakainya. Eril masih memikirkan dengan memaju mundurkan lip balm itu di bibir segar merekahnya.
Oles,,,oles,,,oles,,oles... Dioleskan juga akhirnya lip balm itu di bibir.
"Cap,,,cap,,cap,,,cap,,,,cap,,cap,,," disapuratkan lib balm leci itu dengan gerakan bibir yang diadukan atas bawah berkali-kali hingga merasa bahwa lapisan lip balm telah merata sempurna tak terlihat. Hanya nampak sedikit kilat saja di bibirnya.
Dan Eril rasa itu adalah sangat wajar. Sebagai perempuan sejati, rasanya cukup tersiksa dan juga cobaan berat jika tak boleh menggunakan alat berhias wajah sedikit pun saat akan pergi jalan di luaran.
🌶🌶🌶🌶
Dua orang lelaki yang usianya jauh berbeda tengah duduk santai di sebuah kafe elite daerah Kemang di Jakarta. Sedang menunggu seseorang yang telah berjanji datang ditempat yang sama dan akan menemui mereka.
"Apa jika kandidat ini patuh aturan, pasti lulus seleksi, tuan Benn,?" tanya lelaki yang usianya jauh di atas lelaki yang bernama Benn.
"Jika tidak, apa dosa dia hingga gagal menang di lamarannya padaku, Asluk?" tanya Benn kembali. Asluk adalah panggilan untuk sang asisten, asisten Lucky.
Asisten Lucky terdiam. Manggut-manggut, paham dengan sifat Benn yang keras. Kemauan yang susah dipatahkan sepihak oleh orang lain.
Benn dan Asisten Lucky sama-sama menoleh ke arah pintu masuk. Mereka memandang seorang perempuan muda nampak fresh tanpa segores pun sapuan make up di wajah. Rambutnya nampak tebal berkilat dan indah. Berjalan lurus dan yakin menuju ke arah meja mereka.
"Selamat malam, pak. Saya Sterilia Diajeng, apa betul di meja ini saya harus duduk?" tanya perempuan itu dan menatap langsung pada Asisten Lucky. Perempuan itu merasa yakin telah mengenali Asisten Lucky sebagai pengundang datang dirinya ke kafe. Hari itu Eril pernah melihat asisten Lucky saat datang interview.
"Betul saudari Sterilia Diajeng. Silakan anda duduk." Asisten Lucky menanggapi kedatangan Eril. Menunjuk kursi kosong di sebelah.
"Terimakasih, pak,," sahut Eril dengan sopan. Meletak pelan pinggul indah berbalut celana silver itu di kursi. Kedatangannya membawa harum wangi di area meja itu.
Eril melirik lelaki yang duduk di samping asisten Lucky. Lelaki itu terus saja memicing padanya dengan sorot mata menguliti. Tak ada keramahan sedikit pun di wajah tampan, putih, dan tegasnya. Sedikit perasaan rikuh dan tidak enak melintas di hati Eril. Siapa lelaki tampan itu,,? Bertumpang tanya di benak Eril tentang siapa Benn.
"Apa kau tidak mendengar syarat yang dikabarkan asluk padamu sebelum menemuiku?" tiba-tiba lelaki berwajah tampan sempurna yang masih misteri bagi Eril bersuara sangat sinis.
Eril mendongak lurus membalas picingan tajam mata lelaki itu sesaat. Sejenak memutar isi kepala untuk melemparkan jawaban yang tepat.
"Saya sudah mendengarkan semuanya. Anda siapa?" terang-terangan Eril mengungkap rasa penasarannya akan Benn. Apa katanya tadi, menemuinya,,?!
"Lalu, kenapa kau masih nekat mengguyur badan kecilmu itu dengan parfum,,?" Benn melempar lagi pertanyaan dinginnya. Tidak peduli dan abai dengan tanya ingin tahu Eril tentangnya..