Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
30. Evan pun Demam


Pintu rumah yang telah dibuka oleh teh Sulis, bersamaan dengan berlalunya Benn dari depan pagar teras. Lelaki itu telah menghilang di ujung jalan gang bersama mobil sedan hitamnya.


"Eril,,?!!" seru teh Sulis nampak terheran. Tidak menyangka ibu muda itu muncul dan pulang di malam yang larut, bahkan dini hari.


"Assalamu'alaikum, teh, aku pulang,," sambut Eril akan kagetnya teh Sulis.


"Wa'alaikumussalam,, " jawab teh Sulis sambil menyambut tangan Eril. Mereka saling bersalaman sesaat.


"Bagaimana acaramu,,?" tanya teh Sulis penasaran. Alis kecilnya dinaik turunkan menggoda Eril. Yang digoda hanya tersenyum.


"Alhamdulillah lancar, teh." sahut Eril tidak bersemangat.


"Eril, berani sekali kamu pulang jam segini. Diantar apa, gocar apa ojol?" tanya teh Sulis nampak heran.


"Diantar, Benn. Lelaki yang menikahi aku itu, teh," jawab Eril dengan suara lirih.


"Oh iya,,kamu sudah jadi istri orang ya, Ril. Lalu ada acara making love nggak, hi..hi.." teh Sulis ngikik kecil menampakkan giginya.


"Nggak ada, teh. Ini kan cuma nikah-nikahan,," jawab Eril kian tak semangat.


"Masak sih, Ril,,? Masak suamimu bisa tahan nggak deket-deket kamu,,?" teh Sulis kian gencar menggoda. Tak peduli dengan jawaban Eril yang ogah-ogahan tak semangat.


" Teteh nii laah,," ucap Eril sambil berjalan menuju kamar. Menyembunyikan pias wajahnya.


"Eh, wajahmu nggak bisa bohong lho, Ril,," desak teh Sulis. Tapi perempuan itu menyudahi usikannya, dan berjalan menjauh ke dapur. Dan kembali lagi membawa gelas berisi air putih.


"Air hangat, Ril,,minumlah. Tapi kamu nampak pucat. Berapa kali ehem-ehemnya,he..he.." teh Sulis tertawa kembali.


Eril tidak jadi membuka pintu kamar. Disambutnya uluran gelas dari teh Sulis.


"Evan tidur, teh,,?" tanya Eril sebelum meneguk isi gelasnya. Teh Sulis mengangguk.


"Tadi sempat demam. Tapi teteh sudah kasih kompres baby. Baru saja tidur, tadi sempat rewel, Ril,," kata teh Sulis dengan wajah lelahnya.


Eril hampir tersedak sebab terkejut. Namun berusaha tenang di hadapan teh Sulis. Wanita setengah baya tanpa anak itu sudah amat bermurah hati mau menjaga kan balitanya.


"Teh..Terimaksih, yaa...Maaf, kami sering banget merepotkan." ujar Eril dengan mimik sedih sesalnya. Meletak gelas kosong di meja dekat kamar.


"Ealah, Eril...Teteh di Jakarta ini nggak punya siapa-siapa selain kalian. Saudara banyak,, tapi di Sunda sana. Jauh, Riiil,, yang teteh punya ya kamu sama Evan. Teteh, ikhlas,,," pungkas teh Sulis.


"Terimakasih, ya, Teh. Aku lihat Evan ke dalam dulu, yaa..Kangen banget aku ni,Teh,," ucap Eril sambil benar-benar membuka pintu kamar. Masih sempat dilihat saat teh Sulis mengangguk dan menyambar gelas untuk dibawanya ke dapur.


Ah, Evaaan, Eril meninggalkan pintu yang telah ditutup rapat. Ingin sangat menubruk sang buah hati yang sangat dicinta dan begitu dirindu. Namun urung, terlihat Evan begitu pulas terpejam dengan kompres baby yang menempel di dahi. Ingat kata teh Sulis jika Evan sedang demam dan baru saja tertidur.


Eril memundurkan tubuh perlahan menjauhi pembaringan. Ingat jika dirinya sedang tidak benar-benar bersih. Bahkan dirinya pun juga sedang demam tinggi.


Tapi, dimana demam yang hinggap tadi,,? Kini Eril merasa badannya sedikit gerah dan jauh labih nyaman dari tadi. Merasa dirinya telah kembali bugar dengan beratus-ratus persen sehatnya. Cepat sekali,,, apa sebabnya,,?


Ibu muda itu menyambar handuk dan melesat ke kamar mandi. Ingin membersihkan diri. Selain dari luaran, tapi juga ingin membebaskan diri dari segala bekas sentuhan Benn. Lelaki itu bahkan telah mencumbuinya di hampir seluruh kulit tubuhnya.


Melepas seluruh baju dan sweater. Sweater,,,? Sweater wangi yang sempat menghangatkannya. Sweater rajut dan lembut itukah yang menghempas demam dan dingin, berganti rasa gerah? Atau,,, susu hangat juga puding madu yang dipaksa Benn untuk Eril habiskan,,,? Ah, Benn...


Eril tersenyum sedih mengingat lelaki itu. Lelaki kaya raya yang telah menikahi dan menjadi suaminya. Suami sementara yang suka bersikap semaunya.


Dan kini, lelaki itu telah ditinggalkannya, yang entah kapan lagi mereka berdua akan berjumpa. Yang jelas, Eril tak ingin meninggalkan Evan sekali lagi sedetik pun. Apa pun alasannya!


🍄🍄🍄


Hanya tidur kurang dari tiga jam, bukan alasan si ibu muda untuk bermalasan dan memilih lambat bangun. Meski sebenarnya jiwa raga ingin sekali.


Eril tengah duduk di samping Evan. Baru saja memeriksa kondisi anak lelaki tercinta. Demam itu telah lenyap. Suhu Evan telah normal. Diselimuti lagi tubuh mungil itu sebatas pinggang dengan rasa lega yang luar biasa.


Eril tengah duduk di dapur memandangi teh Sulis yang sedang membasuh padi tak berkulit di wastafel. Wanita sunda itu sangat hobi menanak nasi di atas kompor. Tapi bukan nasi yang akan dibuatnya, tapi ingin bikin bubur ayam untuk Evan.


"Eril,," panggil teh Sulis. Wanita itu sambil memutar tombol di kompor.


"Iya, apa teh?" sahut Eril. Menopang dagu dan pipinya di tangan.


"Kemarin sore, pas teteh ngajak Evan sambil makan di taman kota depan gang, kami ketemu sama Jovan. Polisi yang pernah menggendong Evan di kantornya itu, Ril,," kata teh Sulis sambil memutar badan menghadap Eril.


"Lalu, teh,?" sambut Eril akan cerita teh Sulis.


"Jovan itu kayaknya sukaaa banget atuh sama Evan. Evan digendongnya lagi, bahkan sambil berlari mengelilingi taman banyak kali. Evan juga nampak gembara, tertawa-tawa terus. Habis itu, kami diajak ke swalayan. Evan dibelikan snack-snack dan mainan sangat banyak. Mungkin itu yang bikin Evan demam yaaa... Kamu nggak marah kan, Ril,?" tanya teh Sulis di akhir cerita gembiranya.


Eril terdiam, tidak langsung menyahut. Teringat pada Benn, lelaki itu terang-terangan berkata tidak menyukai Jovan. Tapi yang jalan sama polisi muda itu bukan dirinya. Tidak ada hubungannya dengan Benn.


"Eril,,,eh, kok malah melamun,,?" tegur teh Sulis sambil membentang telapak tangannya di depan wajah Eril.


"Enggak melamun kok, teh. Iya,,iya,, nggak papa banget. Malah aku suka kok teh. Biar Evan mengerti juga figur lelaki. Aku takut jika Evan sama sekali tidak mengenal figur lelaki, akan berdampak buruk untuk perkembangan pribadinya. Meski sebenarnya juga tergantung caraku mendidik, teh,,," Eril menyahut sambil manggut-manggut.


"Ril,, Jovan juga udah janji sama Evan, kalo nggak lusa, ya hari minggu. Akan ngajak jalan-jalan Evan lagi ke Dufan. Boleh nggak, Ril?" tanya teh Sulis kemudian.


Eril kembali termenung. Merasa serba salah. Ingat lagi pada perkataan Benn. Ah, entahlah.. Terlalu berfikir dan menimang, kepalanya jadi pening.


"Iyalah, teh. Tapi kita pergi bertiga ya, teh,,?" tanya Eril yang tak ingin lagi tanpa Evan sedetik pun.


"Lho, ya sama kamu saja lah, Ril.. Kamu di rumah terus kan? Belum diambil sama suami palsumu itu ?" tanya teh Sulis yang begitu paham bagaimana drama pernikahan Eril.


"Benn tidak suka sama Jovan, teh." Eril menyahut tak semangat.


"Oh,,, baiklah, kita pergi bertiga. Daripada tiba-tiba kepergok Benn dan suamimu salah sangka." Teh Sulis bergumam memandang Eril dan mengangguk.