Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
75. Pemulihan


Meski baru tiga hari pasien yang sakit koma itu bangun dan sadar, tapi dokter syaraf yang datang mengontrol mengakui jika perkembangan Benn sangatlah drastis dan cepat. Bahkan infus nutrisi telah dilepas dari menusuk di kulit tubuhnya. Begitu juga dengan kateter urine khonndomm, alat bantu buang air kecil itu telah dilepas dari tembakannya.


Dokter juga memberi ketegasan yang sangat bermakna. Bahwa kondisi syaraf serta kejiwaan pada diri lelaki yang baru koma itu telah kembali sempurna seperti sedia kala. Serta tidak ada penurunan fungsi kerja otak sedikit pun. Dan sekali lagi menyatakan jika Benn sama sekali tidak meninggalkan cidera dalam bentuk apa pun di seluruh tubuh dan juga di kepalanya.


"Benn, kamu dengar sendiri kan, apa kata pak dokter tadi. Jadi kamu harus semakin bersemangat yaa," ucap Eril sambil membawakan bubur sumsum padi di tangannya untuk Benn. Duduk di kursi yang ada tepat di sebelah tempat tidur. Dokter syaraf yang datang tiap dua hari sekali, baru saja keluar dari kamar.


"Thanks, Ril. Maafkan, aku," ucap Benn pelan setelah mengangguk.


Lelaki itu memang seringkali mengucap maaf semenjak sadar dari koma. Benar-benar segar dalam ingatannya tentang kemelut masalah yang dipikul sebelum dirinya kecelakaan dan koma. Dan tetap saja merasa menyesal dan bersalah setelah sadar dan terbangun dari koma. Meski Eril telah berkali kali juga mengiyakan dan meyakinkan, tetap saja Benn mengulangi penyesalannya.


"Di mana anak lelakiku, Ril,?" tanya Benn perlahan sekaligus nampak segan.


Eril tidak langsung menjawab, hanya mengulur sendok berisi bubur sumsum ke arah mulutnya Benn. Dan mulut itu menyambut dengan membuka perlahan.


"Benn, jangan memaksakan diri bicara ya. Pelan-pelan saja. Tapi aku akan menjawab pertanyaan kamu dengan bahagia. Aku suka kamu menanyakan Evan, dan mengakuinya sebagai anakmu. Terimakasih ya, Benn," ucap Eril.


"Evan sedang di bawa mbak Leni, babby sitter itu. Menyusul omanya bekerja. Bangun tidur nyariin mama," terang Eril. Sambil diulur lagi sendok berisi bubur pada Benn.


Mulut dengan bibir yang mulai memerah lagi itu kembali ******* bubur sumsum yang dikulum di dalamnya. Lalu nampak ditelan dengan pelan. Dengan pandangan mata sayu, Benn sambil terus menatap wajah menyenangkan di depannya. Dan wajah itu sesekali nampak pias dan merona. Benn merasa jika bubur sumsum yang disuapkan Eril padanya itu terasa sangat nikmat. Seperti itu berulangkali hingga bersih isi bubur dalam piring.


"Benn, kamu mau ke mana,?" tanya Eril. Benn sedang beringsut pelan untuk turun dari ranjang.


"Ke kamar mandi. Antar aku ya, Ril," ucap Benn sambil pelan berdiri. Lalu melangkah pelan sendiri tanpa berpegangan.


"Hati-hati, Benn," sang istri terus mengikuti dengan perasaan yang was-was.


Benn berjalan dengan sedikit oleng gemetaran. Namun cukup menguasai keseimbangan diri tanpa berpegangan apa pun. Bahkan uluran tangan sang istri agar dipegang pun ditolak. Benn berusaha keras untuk segera pulih dan kuat dengan cepat. Merasa tidak sabar dengan keadaan tubuhnya yang masih saja terasa gemetaran.


Terlebih semenjak sadar dan bangun dari koma kemarin. Setelah sang mama memberitahu jika dirinya tidak lagi impoten dan tembakannya telah berdiri, sikap Benn justru nampak kikuk pada Eril. Wajah putihnya sering memerah dan pias jika sedang di kamar mandi, atau saat sang istri sedang mengurusi tubuhnya. Dan Eril pun jadi merasa segan dan ikut merasa kikuk sendiri. Benn seperti sedang berjaga jarak dengannya.


"Ril, celanaku jatuh. Aku tak kuat membungkuk," panggil Benn lirih tiba-tiba.


Eril yang sedang menyibukkan diri dengan mencuci kakinya berulang kali seketika berbalik melihat Benn. Meski sudah tak terhitung lagi melihat bahkan menyentuh milik Benn selama ini, tapi melihat Benn seperti itu, rasanya sangat malu.


Benn dengan tshirt pendek sebatas perut dan sedang tanpa celana sebab jatuh, terlihat meresahkan bagi Eril. Merasa jadi kikuk sebab Benn nampak malu dengan wajah berpaling dan menunduk. Dan Eril mengambil nafas sedalam dadanya.


"Aku pakaikan ya, Benn. Jika sakit bilanglah." ucap Eril sambil memakaikan celana dua lapis pada Benn. Tembakan Benn masih saja siaga penuh meski air dalam ginjal sudah habis ditumpahkan.


Mengurus Benn saat sedang sadar dan siuman berbeda jauh dengan saat lelaki itu terpejam tak siuman. Rasanya jadi segan dan sedikit salah tingkah.


🌢🌢


"Cium daddy lagi, Van," ulang Benn untuk kesekian banyak kali. Evan yang sedang memainkan game di ponsel Benn, nampak merengut dan malas kali ini.


"Deddi minta mama ciyum. Mama pelum ciyum pipi deddi," sahut Evan acuh sambil terus memainkan game di ponsel.


Benn dan Eril saling berpandangan. Istri bersama anak lelaki tengah menemani dengan duduk santai di ranjang.


"Ayo, ma. Mama ciyum deddi. Pial deddi tidak tidul lagi," ucap Evan mengulang. Tapi berlagak masih sibuk pada gamenya.


Eril abai dengan Benn yang pias. Kali ini ingin bersikap seperti anak lelaki. Cepat tanggap dan agresif seperti respon yang ditunjuk Evan mula-mula.


Dengan cepat mendekati wajah Benn dan diciumnya pipi Benn kanan kiri, hatinya berdebar. Dan Eril menjauhkan wajah sambil tersenyum malu-malu.


Benn melirik Evan sekilas. Bocil itu sedang membelakangi dan tetap sibuk di ponselnya. Disambarnya wajah cantik yang menjauh itu dengan sedaya kekuatan di tangan.


Dengan cepat dirapati bibir yang lama tak disinggahi dengan kuat bersemangat. Dan langsung mendapat sambutan. Tidak perlu waktu, mereka telah tenggelam di paghuttan. Dua manusia dewasa yang sedang dahaga itu melepas hasrat panasnya sesaat.


Eril segera menjauh dan melepas ******* Benn yang dalam. Resah jika tiba-tiba Evan menoleh dan memergoki. Mereka sedang terengah bernafas. Saling menatap dan melempar senyum bersamaan.


"Ma, Epan ngantuk,," tiba-tiba Evan menoleh. Menyerahkan ponsel yang dipegang pada daddynya.


"Evan, ngantuk? Evan malam ini tidur sama mommy dan daddy saja yaa... Mommi kangen, Van. Lagian kamu kan belum pernah bobox sama daddy kamu,?" tanya Eril berharap. Terasa bertahun tidak mendekap sang anak saat tidur.


"Tidak mau. Epan bobox sama oma dan opa. Nanti kalo pulang, balu Epan tidul cama mama lagi. Juga cama deddi,," ucap Evan bersemangat. Tidak nampak berat untuk meninggalkan mamanya saat malam.


"Baiklah, Van. Sudah gosok gigi kan? Ayo mama antar ke depan. Oma pasti tak sabar nungguin kamu,," ucap Eril sambil menuntun Evan yang sudah meluncur turun dari ranjang duluan.


🌢🌢🌢


🌢🌢🌢


Vote here, please...


Klik 5 stars, please...


😘😘😭😘😘