Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
73. Siuman?


Mantan casanova yang tengah tidak siuman di atas dan di bawah itu telah diizinkan pulang oleh para tim dokter melalui keluarga. Terutama pada sang istri yang terus memantaunya siang malam tanpa bosan.


Hanya sepuluh hari, lelaki koma tanpa cidera itu ditahan di rumah sakit. Sebab pertahanan sistem cerna dan pembuangan sangat stabil, Benn diizinkan pulang lebih cepat. Dan akan dipantau langsung oleh dokter syaraf setiap dua hari sekali atas permintaan tuan Harsa, sang ayah.


"Alhamdulillah,Benn, kita sudah pulang. Apa kamu tidak merasa senang? Bangun dong, Benn.. Aku sangat lelah sekali. Apa kamu tidak bosan tidur terus, Benn.?" Eril berbicara sendiri sambil mengeluarkan beberapa kebutuhan yang terus diperlukan Benn dari dalam koper mini. Juga beberapa barang pribadi Eril yang sempat dibawanya ke rumah sakit.


"Benn, cepatlah bangun. Kita sudah kembali. Aku tidak akan pernah pergi darimu lagi, Benn. Nanti kita jalan-jalan ke Jepang jika kamu sudah bangun. Jangan tidur terus, Benn," Eril kembali terus berbicara. Sambil sesekali melirik ke arah Benn dengan harap ada reaksi berarti di wajah lelap itu.


"Benn aku mandi dulu, ya. Kapan kamu mandiin aku lagi? Masak aku terus yang mandiin kamu. Aku kangen, Benn," ucap Eril dengan perasaan yang sedih tiba-tiba. Ingat saat sang suami begitu gemar membawanya untuk mandi bersama.


Eril menyambar handuk sambil berjalan menuju kamar mandi. Tubuh layu yang benar-benar mematung tidak lagi ditolehnya. Tidak dilihatnya saat bibir pucat itu bergerak sedikit beberapa kali di belakangnya. Juga jempol jari yang bergerak-gerak banyak kali. Eril tidak menyalakan AC dan tidak menyelimuti Benn.


🌶🌶🌶


Eril sedang makan malam bersama dua mertua di meja makan keluarga Irawan. Sedang Evan, bermain di kamar Benn yang diikuti baby sitter.


Bocah itu naik ke tempat tidur meninggalkan mainannya di lantai. Duduk diam memandangi Benn yang diselimuti Eril hingga pinggang. Pendingin ruangan sudah dinyalakan minimal oleh sang istri.


"Dek Evan, nggak boleh megang-megang yang ini lho yaaa.. Nanti kalo dipegang daddy Evan akan merasa sakit," Leni, nama pengasuh muda itu mendekati Evan sambil menunjuk selang infus nutrisi yang melintang. Dan Evan mengangguk berekspresi memahami.


"Mama pilang, epan halus celing pekang-pekang deddi,,, picala cama deddi,, pial deddi cepat panguun,,," kata Evan terdengar menggemaskan. Raut bocah gendut itu bermaksud menjelaskan.


Leni mengangguk dan tersenyum pada Evan.


"Betul itu, Evan. Evan boleh pijat-pijat kaki daddymu, sambil ajak bicara dan bercerita. Biar bisa cepat bangun,," sahut Leni sambil mengangguk.


Sebab merasa sikon aman dan Evan sangat paham, Leni meraih ponsel dari kantong saku seragam dan mengeluarkannya. Pengasuh itu terlihat sibuk dengan menyimak layar ponsel. Tidak peduli sejenak pada Evan yang terus berbicara dengan ayahnya di ranjang.


"Ha..ha..ha..Deddi main-main,," Evan tertawa sambil bergumam.


Evan berhenti menyentuh dan menyelimati kaki daddynya dengan asal saat mendengar suara mamanya telah datang. Dan bergelagat ingin turun dari ranjang.


"Evan mana, mbak Leni,?" tanya Eril sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar. Pengasuh itu telah menyimpan ponsel kembali saat mendengar langkah Eril yang menuju ke kamar.


"Itu, mbak. Sama pak Benn," jawab Leni sambil menunjuk Evan di tempat tidur. Eril maju mendekat, melirik Benn sekilas yang masih juga memejam.


Eril cepat menyambar Evan yang hampir melorot dari ranjang. Lalu digendong mendekati pengasuhnya.


"Evan sudah saatnya bobox, yaa.. Jangan lupa sikat gigi sama doa dulu sebelum bobox. Dan doakan daddy agar cepat bangun, yaa,," pesan Eril sebelum Evan turun dari gendongan dan menggandeng tangan Leni.


"Iya, ma. Celamat tidul, ma," pamit Evan sebelum dibawa Leni keluar dari kamar.


Setelah selesai dengan urusan kamar mandi dan menuaikan shalat isya dengan doa yang panjang, ibu muda itu menyusul sang suami merebah.


Menyusul menyelip ke dalam selimut yang wangi dan lebar. Miring menghadap Benn dan memeluk dadanya.


"Benn,, aku lelah. Aku akan menemani kamu tidur malam ini. Kuharap besok pagi kita bisa bangun sama-sama lagi seperti dulu. Dan aku sangat kangen tidur dipeluk kamu. Peluk aku lah,, Benn,," Eril semakin erat memeluk Benn dengan lembut.


"Benn, aku hanya ingin kamu bangun. Tidak apa jika inimu belum bangun. Tapi siapa tahu, kamu tiba-tiba bangun dengan inimu juga bangun. Kamu pasti sangat bangga dan bahagia. Cepat bangun, Benn,," ucap Eril sambil merambatkan tangan dan menyelipkannya ke dalam celana tidur Benn yang longgar. Eril mengelusi tembakan Benn yang sama koma nya dengan keadaan sang tuan. Berharap dan bertanya-tanya mungkinkah mereka berdua akan siuman bersamaan. Akankah...Kapan..?


Eril sambil terus berdoa dalam hati sebagai pengantar tidurnya.


"Benn, aku ngantuk banget,,, aku tidur nih, Benn. Good night..Assalamu'alaikum, miss yuuu,,,Benn,, byeee,,,,,Beeeenn,,,"


Eril meracau setelah tak sanggup lagi berdoa. Berakhir dengan racauan yang kemudian mengambang dan melayang. Eril telah benar-benar tertidur dan hilang kesadaran.


Tangan yang mengelus di sana telah diam, merenggang dan lepas. Tangan halusnya tidak menjumpai moment saat tembakan yang terlepas itu bergerak dan sedikit mengeras sekian detik lamanya.