
Asisten Lucky menunggui sang istri yang sedang sibuk mencari lingkaran mini itu di dalam almari kaca dengan perasaan sangat resah. Beberapa barang juga dikeluarkan oleh istri dari almari kaca untuk memperlancar pencarian benda yang diburu. Sebuah cincin super kecil dan tipis berinisial A&D.
"Masih ada apa tidak sebetulnya, ma,?" tanya asisten Lucky kian gusar.
"Aku yakin ada, pa. Tunggu ya.." Istri asisten Lucky kian bersemangat mencarinya.
Ting,,!!
"Oh, ada dia, pa,,!" jerit istri asisten Lucky hampir bersama dengan bunyi dua benda kaca yang beradu. Botol kaca kecil beradu dengan kaca dalam almari.
Dan tangan istri asluk telah memegang sebuah botol kaca kecil dan tertutup tadi. Asisten Lucky meraihnya, segera mengeluarkan cincin dari botol dan mengamati seksama. Memang sama persis dengan cincin dalam kotak dari sang tuan.
"Ada apa, pa,? Bukankah cincin ini papa titip padaku sudah cukup lama,?" sang istri terheran. Wajah suaminya nampak serius dan tegang dengan memegangi dua cincin yang mirip itu.
"Akan kuceritakan padamu, ma," sahut asisten Lucky pada istrinya.
Wajah asisten Lucky nampak bertekuk. Mengingat kejadian tiga tahun yang lalu. Saat asisten Lucky bersama sang tuan pergi ke kota Surabaya, memenuhi sebuah undangan anniversary salah satu perusahaan mitra bisnis.
🌶🌶🌶
Tok..Tok..Tok..!
Benn baru keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk kecil warna putih di pinggang. Menuju pintu dan menduga bahwa pegawai dapur sedang membawa makanan ke kamar untuknya.
Tapi ternyata bukan orang yang disangkanya yang datang. Tapi justru asisten Lucky yang tengah berdiri tegang dan mengangguk kecil pada Benn yang tertegun.
"Hai, asluk,! Ada apa? Ada yang ingin kamu tanyakan lagi? Kenapa tidak meneleponku saja,?" Benn melempar tanya beruntun pada asisten Lucky sambil menepi dari pintu. Lelaki setengah baya itu tidak menjawab, namun meminta izin untuk masuk ke dalam kamar sang tuan. Benn pun mengangguk.
Asisten Lucky telah duduk di sofa sambil memandang Benn yang sedang mengenakan bajunya. Benn juga mengamati asisten Lucky yang tidak juga bicara.
Asisten Lucky meletakkan kotak berisi cincin yang diberikan oleh Benn tadi padanya di meja. Kemudian di bukanya lebar-lebar. Terlihat jelas bahwa isi cincin dalam kotak adalah dua buah. Alis Benn sedikit tertaut, dengan keningnya berkerut.
"Cepat sekali,! kamu menempahnya di mana, asluk,?!" Benn terkejut. Duduk di samping asisten Lucky dan mengambil kedua cincin. Diamatinya dengan ekspresi sangat puas.
"Maaf, tuan Benn. Cincin itu bukanlah tempahan yang baru. Tapi cincin temuan dan sudah sangat lama saya simpan," kata asluk dengan wajah seriusnya.
"Apa maksud kamu, asluk,?" tanya Benn dan membalik badan memandang asisten Lucky yang duduk rapat bersebelahan dengannya.
"Tuan Benn, apa anda masih ingat saat kita pergi ke Surabaya terakhir kalinya, tiga tahun lepas? Saat memenuhi undangan PT Ramayana Departement Store di anniversarynya,?" tanya asisten Lucky hati-hati.
Benn kian berkerut dahi dan membungkam. Mencoba mengingat dengan jelas saat-saat yang dimaksudkan asisten Lucky di Surabaya.
"Iya asluk, aku ingat kepergian kita waktu itu. Lalu,?" Benn bertanya menunggu.
Asisten Lucky nampak mengambil panjang nafasnya.
"Ini adalah cincin yang saya temukan di kamar tempat anda menginap. Tuan Benn meminta saya memeriksa seisi kamar anda sebelum kita pergi meninggalkan hotel. Dan inilah hasilnya. Kira-kira milik siapa ini, tuan Benn,?" wajah asluk berubah tegang saat wajah sang tuan terlihat merah padam.
"Asluk, benarkah yang kamu katakan,?" Benn benar-benar tak menyangka.
"Untuk apa saya tidak benar, tuan Benn. Anda bisa lihat ada kode pembuatnya di dalam lingkar cincin. Keduanya berkode toko sama." Asisten Lucky menunjuk di bagian dalam lingkar cincin.
Benn mengamati dengan hati berdebar sangat kencang. Apa yang dikatakan asluk memang benar. Ada kode SBY-23k. Meski sangat kecil, tapi tulisan itu dapat dibaca dengan mudah.
"Asluk, benarkah cincin ini memang milik, Eril? Dia juga tengah kehilangan cincin yang sama seperti ini. Apa ada orang lain yang memiliki cincin dengan inisial A&D selain Eril? Aku rasa tidak ada, asluk," tegas Benn dengan suara serak bergetar. Mulai mengingat kejadian di kamar hotel yang disewanya tiga tahun yang lalu.