
Mobil sedan hitam meluncur membelah jalan raya hampir lewat tengah malam. Berjalan kencang dan lurus sebab jalanan sedang lengang. Lelaki pengemudi yang tanpa membawa teman itu ingin segera sampai di rumah kediaman orang tuanya. Meski sebenarnya sang orang tua sudah terlelap saat dirinya sampai di kediaman mereka.
Tin...!! Tin..!!Tin...!! Tin..!!
Kendaraan yang dikemudikan oleh Benn mengeluarkan bunyi klakson berulangkali dan bising. Tidak peduli jika security penjaga pos sedang siaga berjaga yang tentu melihat kedatangannya. Penjaga malam di pos gerbang itu terbirit-birit membuka gerbang untuk Benn.
Seperti yang diduga, rumah telah sepi. Orang tua sudah menepi ke dalam kamar tidur. Sudah pantas, sebab telah pukul dua belas malam dan telah melebihi sekian menit.
Kediaman orang tua di pusat ibukota, bersebelahan dengan resto dan hotel milik tuan Harsa- ayah Benn. Tidak begitu besar namun kediaman nyaman yang sangat disayang sang ibu.
Sebab rumah mungil modern itulah, sang ibu jadi jarang mengunjungi rumah villanya di puncak. Hanya sekali dalam beberapa bulan mereka akan mengunjungi dan menginap semalam saja di sana.
Dan Benn lah yang terpaksa rutin mengunjungi, setidaknya sebulan sekali ke sana. Ya, semenjak putra tunggal itu bertobat, tidak lagi merapati wanita mana pun, merasa malas dan tidak berguna untuk sering mendatangi Villa keluarganya. Dulu kala masih gila dan liar, hampir tiap minggu Benn mendatangi Villa dengan wanita-wanita yang berbeda.
🌶🌶 🌶🌶🌶
Makan pagi keluarga Harsa telah lengkap pagi ini. Ibu, ayah dan anak nampak duduk manis menikmati makan mereka di piring masing-masing. Sang ibu merasa gembira sebab putra bandelnya datang juga seperti yang telah dipesan kemarin.
"Bagaimana kau bisa memilih calon istri yang tidak jelas begitu, Benn,,?" tanya mama dengan nada tidak suka.
Benn memandang mama Donha setelah minum air di gelasnya. Meletak sendok dan garpu di piring.
"Namanya Sterilia Diajeng.. Eril panggilannya. Dia memang tidak punya keluarga, tapi sangat jelas darimana asalnya, ma." Benn menatap wajah orang tuanya yang nampak heran bergantian.
"Jelas asalnya bagaimana, Benn,,?" sang mama nampak ingin tahu.
"Mama pasti tidak menyangka,,, Eril adalah anak dari Bina Amanah, ma,, Yayasan keluarga Lee pribadi yang ada di Surabaya ," terang Benn akan asal Eril pada orang tuanya. Sang mama nampak sangat terkejut mendengarnya. Sama hal juga dengan reaksi yang ditunjuk sang papa padanya kemudian.
"Jadi Eril itu sama yayasan dengan adikmu, Desta kah, Benn,,?!" tanya mama antusias.
Benn mengangguk," Iya, ma. Tapi aku tak paham mereka ini kenal apa tidak," terang Benn memandang mamanya.
"Bagaimana kamu bisa tahu hal ini, Benn,,?" mama kembali bertanya.
"Mama dah tahu kan, aku pasang iklan itu. Eril juga jadi pelamarku. Data-data miliknya ada padaku, ma,," terang Benn.
"Bermakna Eril ini sama juga dengan anak-anak asuh kita di yayasan lain, ma,,," terdengar sahut tuan Harsa tiba-tiba.
"Iyalah, pa.." jawab mama Donha masih nampak terheran.
Tidak menyangka jika pelamar Benn adalah anak asuh dari yayasan keluarga besar Lee yang berposisi di Surabaya. Sama tempat dengan asal Desta, mantan calon istri Benn yang sekarang menjadi menantu keluarga Lee di Jepang.
Dan sebenarnya Desta adalah adik sepupu angkat Benn sendiri yang baru ditemukan setelah dewasa oleh tuan Lee dan Leehans, putranya. Yang kemudian Leehans menikahi Desta, mantan tunangan dan calon istri Benn itu.
"Benn, kau sudah memilih Eril kan? Jika begitu, nikahi gadis itu baik-baik dan secepatnya. Ingat, jangan kau coba menyakiti Eril ya, Benn,," pesan sang mama kemudian.
"Tinggalkan segera kebiasaan memalukanmu, Benn. Sudahilah untuk bermain dengan sesama laki-laki. Kau harus bisa menjaga harga dirimu di depan istrimu nanti, Benn,," sambung bicara sang mama.
"Ingat kodratmu itu, Benn. Hukum agamamu itu dipakai... Kamu itu seperti anak tidak pernah belajar agama, tidak ngerti agama dan buta agama. Padahal kamu juga pernah rajin ngaji lho, Benn." tuan Harsa berbicara sambil menatap tajam pada anak lelakinya.
Yang diajak bicara tidak menyahut, hanya menunduk diam sambil memainkan sendok dan garpu. Merenungi kata-kata sang ayah mengenai dirinya. Merasa tidak tahan lagi dengan anggapan orang-orang terdekat yang terus saja menyudutkan.
Benn semakin sadar, bukan hanya orang tua saja yang telah menganggap dirinya menyimpang. Mungkin setiap orang yang paham telah menganggap dirinya tidak lagi normal dan kelainan. Benn sebenarnya merasa malu sendiri dan begitu tersiksa.
Dan saat ini Benn tidak kuat lagi menanggung derita raganya sendirian.
"Ma, pa,, aku ingin jujur tentang sesuatu pada kalian. Tentang diriku, ma,," ujar Benn dengan pelan dan tidak bersemangat.
Mama dan papanya saling pandang sesaat lalu kembali memandang sang putra penuh tanda tanya.
"Jujur tentang sesuatu,,, apa itu, Benn,?" tanya sang mama dengan nada yang khawatir.
"Tapi mama dan papa jangan panik setelah aku beri tahu, ya,," pinta Benn pada mereka.
Orang tua Benn saling berpandangan lagi dan merasa kian penasaran sekaligus khawatir. Mamanya kemudian mengangguk, sedang sang ayah hanya diam menatap seksama pada wajah anak lelakinya.
"Sakit,,?! sakit apa kamu, Benn,,?!!" tanya mamanya sangat terkejut dan panik. Merasa keadaan anaknya nampak baik-baik saja selama ini.
"Aku impoten, ma,,," sahut Benn sangat lirih. Pasrah dengan tanggapan mereka kemudian.
"Apa, Benn,,?!!"
"Ngomong apa kamu, Benn,,??!!"
Mama bertanya keras disusul pertanyaan sang ayah yang tak kalah kerasnya. Merasa telinga mereka tidak berfungsi dengan baik dan sedang salah mendengar.
"Yang kalian dengar tadi betul, ma, pa,,. Punyaku ini tidak bisa berfungsi lagi,," terang Benn kembali. Berharap kedua orang tua itu sedikit bijak dan tidak terlalu menyebutnya lebih khusus.
"Sejak kapan itu, Benn,,?" kali ini tuan Harsa yang bertanya pada Benn.
"Sudah lama sangat, pa. Hampir tiga tahun,," pasrah jawab Benn.
"Haaahh??!! Yang betul, Benn,,?!!" kedua orang tua Benn hampir berbarengan berseru dan bertanya.
"Apa sebabnya bisa seperti itu? Bukankah kau dulu adalah pemain wanita, Benn,,,?" suara sang mama terdengar telah pelan. Nampak panik dan iba pada sang putra. Nyonya Donha sangat khawatir dan sedih. Sekaligus tidak percaya pada fakta penyakit yang di katakan oleh Benn sendiri itu.
"Iya, ma. Setelah Aku menyesal hampir berbuat brengsek pada Desta, aku benar-benar bertobat. Aku tidak memiliki wanita satu pun lagi. Dan seperti yang kalian tahu, aku justru sering gonta ganti membawa lelaki."
Benn terdiam. Seperti ragu untuk melanjutkan bicaranya.
"Jelaskan lagi, Benn. Kenapa kau justru berubah menyimpang membawa lelaki,,?" mamanya bertanya sangat lembut. Seperti membujuk anak lelaki untuk bercerita seluruhnya saat itu. Benn nampak mengangguk dan menyambung penjelasan.
"Tidak menyentuh wanita sama sekali tiba-tiba itu terkadang berat juga, ma. Jika keinginan itu datang, kusewa tukang pijat lelaki. Dan masih berlaku hingga sekarang. Aku kecanduan dipijat. Murni hanya dipijat, bukan plus-plus seperti yang sering kalian tuduhkan padaku selama ini. Aku sudah bertobat." Benn menyandar ke kursi mengakhiri penjelasannya.
"Jadi, tembakanmu itu tidak bisa tegak dan tidak berfungsi, Benn,,?" tanya sang papa hati-hati. Kini merasa bingung dengan derita putranya.
"Iya, pa,," sahut Benn begitu lesu.
"Jadi, kau tidak tertarik dengan wanita lagi,,?" tanya sang papa lagi hati-hati.
"Tetap saja perasaan dan pikiranku ini normal, pa. Hanya ituku saja yang tidak bereaksi.." sahut Benn cepat. Paham dengan pikiran ayahnya.
"Benn, kau harus segera mempunyai dokter khusus. Mama akan mendampingimu berobat atau terapi hingga sembuh total dan kamu normal lagi. Kamu belum punya anak,Benn. Siapa nanti penerus keluarga Harsa Irawan,?!" mama Benn berkata menggebu.
Sangat risau jika sakit vital pada anak lelaki satu-satunya itu akan akut dan permanen..
"Aku sudah lelah terapi dan konsultasi, apalagi minum obat, ma." terang Benn kemudian. Menanggapi keinginan kuat mamanya.
"Jadi, itu akan permanen, Benn,,? Apa kata dokter, nak,,?" wajah cemas tergambar jelas di wajah setengah baya yang cantik itu.
"Mungkin aku sedang gangguan psikologis. Bisa saja aku akan sembuh tiba-tiba, ma,," sahut Benn dengan ragu. Tak yakin juga dengan masa depan dirinya sebab sakit memalukan yang di derita.
"Benn,," panggil tuan Harsa. Benn menatap lurus pada ayahnya.
"Kau harus rajin berdoa, Benn. Jangan putus asa. Pasti akan ada keajaiban. Kami juga akan ikut berdoa untukmu. Mungkin ini juga ada hubungan dengan kelakuanmu di masa lalu. Entah ada salah satu dari pacar-pacarmu yang sakit hati denganmu. Mungkin saja hal seperti itu, Benn,," tuan Harsa menasihati putranya dengan suara yang sedih.
Benn kembali menunduk terdiam. Mengakui kebenaran kata-kata ayahnya.
"Mama sedih lah, Benn... Hik,,,hik,,hik.. Lalu bagaimana,,? Bukankah calon istrimu juga berhak tahu akan keadaanmu, Benn,,?" tanya sang mama di sela isak tangis sedihnya.
"Benn, jika seperti ini, papa tidak akan memaksamu lagi untuk mencari istri. Kamu bisa berobat dulu hingga sembuh. Papa tidak rela jika kamu nanti direndahkan oleh istrimu, Benn,," Tuan Harsa berkata sungguh-sungguh dan tegas.
"Aku akan tetap menikah saja, pa. Hal itu akan jadi urusanku sendiri, ma,pa... Tolong mama dan papa jaga rahasiaku ini dari siapa pun.." Benn berkata sungguh-sungguh memandang kedua orang tuanya. Mereka mengangguk-angguk kemudian.
"Baik, Benn. Kuharap istrimu akan menerima keadaanmu dan membantumu untuk bisa sembuh, Benn,," sahut mama Donha.
"Jika tidak sembuh-sembuh juga setelah punya istri, papa akan bawa kamu ke Jepang. Di sana kita akan terapi hingga kamu sembuh total. Kamu tidak bisa menolak. Ini berhubungan dengan penerus papa, Benn." Tuan Harsa berkata tegas dan serius. Tidak ingin menganggap sakit anak lelaki nya itu dengan main-main..