
Meski sudah lama tidak ditempati, kamar Benn yang terbiasa kosong tetap terasa segar dan wangi. Asisten rumah yang hanya satu orang itu selalu menjaga dengan baik jika saja pemiliknya datang dan menggunakan sewaktu-waktu.
Sprei warna putih bersih berpadu selimut hitam legam, khas kesukaan pemilik kamar. Nampak maskulin dan nyaman.
"Bangunan sebesar ini, hanya mbak Sri saja yang menunggu, Benn,?" tanya Eril dengan aura muka yang berekspresi rasa seram.
Benn memandangnya, tersenyum dengan respon yang muncul di wajah itu.
"Biasanya dua orang wanita. Yang satu namanya mbak Puji, kalo malam memang sering pulang. Suami mbak Puji yang merawat lingkungam dan taman. Terus satpam depan tadi suami mbak Sri." terang Benn.
"Kamu percaya nggak, jika malam-malam, kami nggak datang, mereka akan tetap betah berjauhan? Yang satu di dapur belakang,,, yang satu di pagar depan.." Benn diam sebentar. Melihat Eril yang mulai muncul senyumnya.
"Beeenn,," kata Eril dengan benar-benar tersenyum. Paham maksud perkataan Benn.
"Mereka akan bertemu, Ril. Entah istri yang maju ke depan atau suami yang maju ke belakang. Mereka akan menggulung malam bersama. Jadi mana ada bayang hantu jika suami istri sudah bersatu."
"Ah, su'udzon kamu, Benn,," sahut Eril tak percaya begitu saja.
Benn tersenyum, mendekati Eril yang tidak lagi tersenyum. Namun berganti dengan pias dan rona merah di wajahnya.
"Apa di sini kau merasa seram dan takut,,?" tanyan Benn setelah begitu dekat dengan Eril.
"Tidak," jawab Eril sambil memalingkan kepala. Menghindarkan wajah piasnya dari tatapan mata Benn.
"Karena sedang denganku?" tanya Benn menggoda.
"Tidak," kata Eril membantah. Memandang Benn sekilas.
"Baiklah, aku akan tidur di kamar lain. Kamu tidur saja di sini. Sendirian," kata Benn serius. Sedikit bergeser seperti akan menjauh.
"Benn,," sebut Eril terdengar ragu-ragu.
"Kenapa,?" tanya Benn tersenyum.
"Aku akan tidur dengan Evan," kata Eril sangat lirih.
Namun Benn telah mendengarnya dengan jelas. Wajah lelaki itu berubah seketika. Mata yang tadi penuh goda dan canda, kini berubah tajam dengan wajah yang kaku. Merasa kecewa dan tidak suka dengan jawaban yang baru saja dikatakan oleh Eril.
"Kau ingin memanggil anakmu? Apa kau sengaja ingin mengganggu istirahat orang tuaku? Kenapa tidak meminta padaku untuk menemanimu? Bukankah kita sudah biasa tidur bersama? Kenapa justru nama anakmu yang kau sebut? Tidurlah sendiri, Eril,,," kata Benn sambil pergi menjauh.
Lelaki yang sedang menghembus angin panas itu benar-benar sedang merasa kecewa. Tersandung kecil oleh jerat canda yang di pasangnya sendiri. Entah kenapa hati lelakinya sedang sensitif malam ini.
Eril tercekat dan panik. Wajah yang penuh canda dan senyum itu telah berubah dingin mengeras tiba-tiba. Lelaki yang biasa santai menanggapi sesuatu itu nampak marah padanya. Ucapannya yang tidak sungguh-sungguh dan bermaksud bercanda, ditanggapi serius oleh Benn.
"Beenn,,,!!" panggil Eril berseru. Berjalan cepat mendekati lelaki yang sedang memegang pintu dan hampir saja membukanya. Dan kini sedang mematung memunggungi.
"Benn, kamarmu ini besar sekali. Rasanya tidak nyaman jika kutiduri sendiri," Eril berusaha memancing respon Benn. Tapi tetap saja diam tak berbalik.
"Benn, aku tidak ingin sendiri. Aku takut tidur sendirian," sambung Eril. Kembali tak ada respon dari Benn. Wanita itu merasa sangat bingung sekarang.
" Ayo kita tidur bersama lagi, Benn,," kali ini suara Eril terdengar sendat dan serak. Ini adalah bujuk terakhirnya. Menunggu Benn merespon dengan dada yang mulai terasa berdebar.
Wajah lelaki itu telah kembali berubah cerah. Ada senyum di bibir merahnya. Terus menunggu dengan kata bujukan dari wanita itu untuknya. Merasa suka mendengar suara yang lembut merayu dirinya. Berharap bibir itu terus berbicara dan bersuara.
Kecewa saat suara itu berhenti dan tidak lagi terdengar. Terlebih dengan suara terakhir yang terdengar sendu dan serak. Risau jika Eril telah menangis. Merasa sebagai lelaki yang tidak baik jika membiarkan wanita yang sedang sangat dia butuhkan itu jadi sedih berlebihan.
"Ril,," panggil Benn dengan suara yang khas. Dan telah membalikkan badannya.
Wanita yang tengah menunduk memainkan kuku-kuku di ujung jari, mendongak cepat begitu mendengar Benn bersuara.
Mereka saling berhadapan dan menatap. Eril mamandang Benn dengan bimbang. Tidak tahu harus berkata apa lagi.
Kebingungan hatinya raib saat terlihat Benn membuka tangan dan merentangkan lengannya lebar-lebar. Merasa begitu lega. Tanpa ragu, membawa dirinya ke rentangan tangan itu. Menghambur cepat ke pelukan hangat Benn.
"Maaf ya, Benn,," ucap Eril di sela rasa haru leganya. Merasa Benn adalah lelaki yang penuh maaf untuknya.
"Ulangi rayuanmu tadi, Eril,," sambut Benn terdengar lirih sebab berbisik.
Yang disebut tidak bersuara. Hanya menunjuk respon dengan pelukan yang lebih erat lagi. Dan menyusupkan kepala mungilnya ke dada Benn dengan perasaan sangat nyaman.
Tok..!! Tok...!!Tok..!!
Mereka saling merenggang pelukan dengan kesan tak rela sebab bunyi ketuk di pintu yang cukup mengejutkan.
Benn berbalik dengan tetap memegang tangan Eril dan membuka pintu kamar. Dan ternyata adalah mbak Sri dengan nampan dan dua gelas minuman di atasnya yang tadi dipesan Benn ketika baru datang.
"Permisi,,,, maaf mengganggu sebentar, yaa,," pamit mbak Sri sebelum lenyap kembali di balik pintu. Benn telah menutup dan mengunci kembali dengan rapat. Nampan berisi dua gelas minuman telah diterima Eril dengan ucapan terimakasih.
Benn mengikuti body sintal yang sedang menuju meja sofa di kamar untuk meletak nampan dan minuman. Jiwa lelakinya sedang siuman kembali dan terasa kuat berhasrat. Tidak peduli jika akan tersiksa lagi pada akhirnya.
Terkejut rasanya. Saat melurus tubuh setelah meletak nampan. Benn telah memeluk erat perut dan dadanya dari belakang. Tidak hanya diam memeluk. Bibir lelaki itu telah menelusur di tengkuk dan lehernya. Tangan lebar dan jari-jari panjangnya mulai bergerak tak beraturan. Mengusap lembut di perut Eril yang halus dan telah kembali rata.
"Ah, Beeeenn,," lenguh bibir Eril saat Benn menyusupkan tangan ke balik baju dan bergerilya di gunung-gunung dadanya. Bersama bibir dan lidah yang terus berlayar di tengkuk leher cerahnya yang jenjang.
Eril meliuk-liuk dengan mendessahh dan berdessiss seperti ular yang sedang menari. Terus menggeliat erotis seperti cacing kepanasan yang berdiri. Benn semakin gencar memainkan dua tangan di bukit-bukit dan puncak-puncak dadanya.
Serasa tidak tahan, Benn membawa Eril ke atas pembaringan. Menyambung cumbu di tubuh sintal sang istri sambil melepasi seluruh bajunya. Nafas Benn yang panas memburu beradu hasrat dengan engah Eril yang menderu. Keduanya tengah bergelung di benaman lembah nafsu panas yang halal.
Meski rasanya putus asa, namun harapan tetap ada. Meski hasil akhirnya tetap saja merasa tersiksa dan merana.
Hasrat kuat yang menggebu perlahan telah menguap. Terganti rasa sakit di kepala yang menyiksa. Benn sedang melakukannya dengan tanpa rasa. Hanya merasa sedang menahan nyeri hebat di kepalanya.
Lenguh, errang dan dessahh yang terus keluar dari bibir Eril tidak memberi efek lagi untuknya. Hanya bimbang bagaimana berhenti. Harga diri sebagai lelaki di hadapan sang istri adalah taruhan. Bisa jadi Eril akan sangat kecewa padanya.
Benn tidak mampu lagi memuaskan dan melanjutkan. Apa pun caranya, dirinya tidak sanggup. Sudah seperti akan pingsan saja sakitnya.
"Arrggh,,!" Benn tak mampu lagi bertahan. Menggeser tubuh dan menghempas diri di samping Eril. Benn memeluk Eril erat-erat dengan memejam mata sangat rapat. Tubuhnya mengeras, menahan nyeri hebat dan sangat.
Eril yang sedang melayang geli kepanasan, merasa sangat terkejut. Tidak paham kenapa, Benn memeluknya sangat kuat dan erat. Dengan tubuh yang mengeras dan erang kesakitan yang sempat terlepas.
"Benn, kamu kenapa,,?" Eril bertanya terengah. Begitu kuat Benn memeluk.
"Jangan,,,gerak,,diam,,diamlah,, Eriiil,," kata Benn yang juga tersendat.
"Iy,,iyya,,Benn,," sahut Eril dengan nada risau dan khawatir. Kenapa Benn,,?
Benn menenggelamkan wajah di rambut kepalanya.Eril terdiam kaku dan tidak bergerak. Hanya pasrah dengan pelukan Benn yang terus erat tak terlonggar. Merapatkan seluruh bagian tubuh depannya pada Eril.
Kamar yang beberapa detik lalu sangat bising sebab kegiatan panas penghuninya, kini sunyi senyap dan hening.
Dalam diam dan pasrahnya, Eril merasakan sesuatu. Merasa janggal dengan yang dirasakan di bawah sana. Benda utama yang harusnya masih siaga untuk beberapa saat, tak sedetik pun dirasakan garangnya. Terasa kempis dan hanya sedikit terasa mengganjal.
Eril bukanlah mantan gadis yang polos dan kosong. Sangat paham tentang hal itu melalui tontonan film biru dan diskusi bersama teman-teman saat dulu. Terlebih, Eril juga sempat beberapa kali pacaran dengan lelaki dewasa yang berusia jauh di atasnya. Jadi merasa mengerti akan hal seperti itu.
Mengulas balik selama ini. Tembakan Benn tidak pernah siaga saat pagi. Dan juga disaat manja dan mesum pun, lelaki itu tidak pernah mengkodekan tembakannya. Tidak pernah sekali pun Benn menunjukkan respon pada tembakannya. Ada apa denganmu, Benn..