
Benn membawa Eril ke hotel Irawan's Family dengan seorang wanita cantik di antara mereka. Meski Benn mengatakan sebaiknya lain kali, tapi Inca tidak peduli dengan alasan ingin bersembang dengan kedua orang tua lelaki itu kembali.
Sang mama telah menunggu di sebuah kamar yang menyerupai apartemen dan merupakan bagian dalam hotel.
"Hai,, ini Inca,,?!" seru mama Donha. Inca adalah wajah pertama yang disapa oleh ibunya Benn.
"Hai tante,,, miss yuuuuu,,!" Inca membalas dan memeluk ibunya Benn. Mereka berangkulan sangat erat.
Tapi mata ibunya Benn tengah memandang Eril dan sadar jika anaknya tidak hanya datang dengan perempuan yang sedang merangkul peluknya itu.
"Eh..Eril..?!" sapa mama Donha. Pelukan Inca telah dilepasnya perlahan.
Gadis manis di samping Benn itu tersenyum sangat manis dengan mengulur tangannya. Sang mama menyambut, Eril mencium tangan calon mertua itu dengan penuh hormat dan sopan.
"Apa kalian sudah makan?" tanya mama Donha. Matanya menatap Eril dan Inca dengan senyum lalu sekilas pada Benn.
"Sudah, ma,," sahut Inca dan Benn hampir bersamaan. Eril tersenyum dan hanya mengangguk.
"Bagaimana kalian bisa datang bertiga? Bukankah kamu sedang di Paris, Inca,,?" tanya mama Donha tak bisa menyimpan rasa herannya.
"Ma, sebaiknya kita cepat coba bajunya. Aku ingin cepat istirahat. Besok kita akan sangat sibuk, ma,," sela Benn cepat. Tidak ingin sang mama tenggelam dalam obrolan panjang dengan Inca.
"Baiklah,, ayo kita ke dalam saja,," ajak mama Donha dengan memandang pada Inca dan Eril bergantian.
Inca dengan cepat mengikuti mama Donha menuju ke dalam ruangan. Mereka telah berjalan beriringan.
Eril merasa tidak enak dan ragu, menoleh Benn di sebelah yang juga sedang memandangnya. Wajah tampan itu sedikit tersenyum.
"Kenapa,,? Merasa ada saingan? Tenanglah, yang akan kunikahi itu tetap kamu, bukan dia. Ayo,,,!" Benn mendekat cepat dan menepuk-nepuk punggung cantik Eril dengan kuat setengah mendorongnya.
"Iih,, Benn,,!" Eril berjalan menepi, menghindari tangan Benn yang jahil.
"Aku justru berkhayal tiba-tiba kamu berubah pikiran dan menikah dengannya. Dan aku boleh pergi tanpa mengganti uangmu kembali, Benn,," Eril berbisik pada Benn dengan melambatkan langkahnya.
"Jangan harap,,!" sahut Benn dengan suara yang wajar.
"Apa kamu ini lelaki tidak normal, dia cantik sempurna. Kamu bisa menikahi dia selamanya, bukan hanya sementara,," bisik Eril bernada membujuk.
"Dia sudah tidak ori, sudah bekas dari sananya. Bukan aku yang pertama,," sahut Benn dengan cepat. Kali ini juga sama berbisiknya seperti Eril.
"Ish,, kamu ini Benn. Hal itu tidak ada dalam poin kontrak kita,," ralat Eril dengan terus berbisik. Mereka sambil melangkah sangat pelan dan terlihat rapat dengan saling berbisik
"Aku akan mengubahnya,,!" desis Benn di telinga Eril.
"Benn,,?!" seru Eril berbisik. Kali ini berhenti dan berbalik memandang Benn lekat-lekat. Dan tidak terbaca, entah itu pandangan menolak atau justru bersedia.
"Aku bercanda,," sahut Benn dengan mendekatkan wajahnya di wajah manis itu sekilas. Tangannya kembali menepuk-nepuk kuat punggungnya, hingga Eril berbalik dan melangkah maju kembali.
Mama Donha dan Inca agak jauh berjalan di depan. Mereka tidak peduli dengan bisik obrol dari calon pengantin di belakang, sebab keduanya juga sedang nampak mengobrol.
🍄
"Hah...Benn. Kau benar-benar akan menikah.. Kau nampak tampan dan gagah, naak,," kata sang mama sambil memandangi putra tunggalnya.
Ada nada sedih pada suara pujiannya. Tentu saja Benn sangat paham dengan maksud nada sedih ibunya. Meski nampak acuh, Benn cukup sensitif dengan sakit disfungsinya.
Benn merangkul ibunya dan sedikit membungkuk.
"Aku akan sembuh, mama tenang saja. Doakan terus anak lelakimu ini, ma," kata Benn berbisik di telinga sang mama.
Mendengar Benn berkata bersemangat dan terdengar yakin, sang mama terkejut. Ini jauh beda dari aura bicara Benn saat mengabarkan sakitnya beberapa hari lalu. Benn nampak lelah, pasrah dan jauh dari semangat.
Wajah sang mama begitu bahagia dan penuh harapan. Menatap putranya dengan mata berbinar.
"Benn, kau berjanji,,?" tanya sang mama dengan mata berkaca-kaca.
"Janji, ma.. Doakan,," sahut Benn sangat lirih. Melirik Inca yang terus berdiri dan sedang terheran mengamati.
"Tentu saja, mamamu ini akan terus berdoa, Benn,," sahut mama Donha, memeluk anak lelaki tercintanya.
Ceklerk,,!
Mereka yang sesaat lupa sedang menunggu terbukanya pintu kamar yang masih tertutup, kini bergerak serempak menolehkan kepala masing-masing.
Perempuan yang tadi berpenampilan sederhana, kini sedang melenggang keluar melewati pintu kamar. Tidak lagi sederhana, tapi telah berubah menyaingi sosok dewi-dewi saat turun ke bumi.
Ibu muda yang selalu berpakaian sopan dan bukan model terbuka di tiap harinya, kini terbalut baju pengantin dengan model yang tidak menutup. Bawahan panjang motif batik namun dengan atasan kebaya warna putih dan terbuka. Dada ibu muda itu nampak terbuka dan terlihat membelah cukup dalam.
Eril melangkah diiringi dua pegawai butik panggilan dan berhenti di hadapan Benn dan mamanya. Meski wajahnya masih yang tadi dan belum ada riasan apa pun. Tubuh sintal yang sedang terpampang itu membuat mama Donha nampak takjub pada calon menantunya.
"Aduh, Beeeenn... Calon istrimu ini belum dikasih riasan apa pun dan hanya berbaju pengantin saja ya...." gumam sang mama. Tidak ingin memuji calon istri Benn dengan berlebihan, ada hati dari wanita lain yang masih di ingatnya. Ya, Inca masih di sana bersama mereka.
Yang lain sibuk memandang Eril dengan cetak tubuh yang jelas terlihat lekuknya, Benn sibuk membuang pandangan dan mengatur degub dadanya. Berusaha menghempas sesuatu yang telah lama tidak dirasakannya. Merasa desir-desir darah di jantungnya lebih deras mengalir.
Tapi hanya sebatas itu, tidak ada reaksi lain di tubuhnya. Harapan akan merespon lebih diam-diam, tetap saja sia-sia. Dan membuat Benn kembali kecewa dan tersiksa sakit di kepalanya. Namun mencoba bertahan.
"Ma,,,Eril jangan dikasih baju yang itu. Kasih yang nutup-nutup aja, ma,," kata Benn tiba-tiba.
Sang mama menoleh pada Benn. Wajah putih itu nampak pias dan samar memerah. Begitu paham dengan maksud putranya.
"Iya, Benn, mama tahu. Jangan khawatir, stok pilihan lain yang mereka bawa cukup banyak." Sambut mama Donha tersenyum.
Eril memandang Benn dengan perasaan yang malu. Mata lelaki itu kembali menatap tajam menguliti. Rasanya begitu risih, sadar dengan model kebaya modernnya yang luar biasa terbuka. Eril membalikkan tubuh memandang dua pegawai butik. Dan mereka paham dengan percakapan calon pengantin pria pada ibunya.
Calon pengantin perempuan kembali dibawa ke dalam kamar. Menyeleksi baju sesuai yang diinginkan pengantin pria. Baju kebaya pengantin warna putih dengan model yang lebih sopan dan tertutup.
Selain tak ingin jika sang istri terlihat vulgar dan akan jadi tontonan banyak orang, Benn juga tak ingin dirinya lebih lama lagi tersiksa.
Perasaan yang lama tidak timbul dan tidak dimiliki, tiba-tiba datang dan terasa. Namun sungguh kecewa dan tersiksa. Hasrat rasa yang datang itu tidak memberi respon apa pun di bawah sana.