Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
60. Jujurlah


Pertanyaan istrinya membuat Benn seperti lelaki paling tidak berguna di seluruh muka bumi. Serasa tidak punya muka lagi untuk ditegakkan di depan sang istri. Teramat susah untuk berkata terus terang atau juga memberi alasan palsunya.


"Maafkan aku, Ril. Aku tidak pernah benar-benar menyentuhmu bukan karena kamu tidak menarik sedikit pun bagiku. Kau adalah wanita yang sangat menarik. Tapi aku tidak bisa melakukanya, Eril," terang Benn dengan perasaan sesak dan suara beratnya.


"Kenapa, Benn? Aku kan istrimu? Kamu berhak menyentuhku sebagai istrimu. Lagipula, apa kamu tidak merasa rugi, hampir tiap hari mengeluarkan uang untuk membayarku begitu banyak?" tanya Eril mendesak. Merasa begitu penasaran. Ingin agar Benn mengatakan segalanya dengan jujur pagi ini juga.


"Benn, jujurlah padaku. Sebenarnya kamu ini kenapa? Kenapa kamu bilang tidak bisa melakukannya padaku?" desak Eril.


Sebab Benn hanya diam dan bungkam. Namun juga terlihat sedang gusar. Bahkan mata itu ternyata sedang berair. Eril kian yakin jika Benn sedang menutupi sesuatu dari dirinya.


"Benn, ada apa? Ada hal besar yang sedang kamu simpan dariku? Kamu menangis, Benn. Katakan, Benn. Aku ingin tahu.," bujuk Eril dengan gencar. Menggeser tangannya ke leher Benn dan mengusapkan lembut di sana. Berharap hati keras lelaki itu akan mencair perlahan.


"Percayalah, Benn. Jika itu rahasia, aku akan terus ikut menyimpan untukmu. Aku hanya ingin kamu mau membagi bebanmu padaku," lanjut Eril. Ditepuk-tepuknya lembut leher Benn. Seperti ingin merontokkan kerasnya hati lelaki itu.


"Ril,," sebut Benn tiba-tiba.


"Iya, Benn," sambut Eril mendongak.


"Ril, sorry,, sebenarnya aku tidak bisa menyentuhmu sebab tidak ada cinta di pernikahan kita." Benn melarikan pandangan dari Eril.


Berkerut merut dahi mulus di wajah cantik wanita itu.


"Benn, aku paham memang tidak ada rasa itu di antara kita. Meski kita ini adalah suami istri."


"Tapi aku bukan tak tahu masa lalumu, Benn. Kekasihmu yang tidak terhitung. Bahkan mereka tak ada ikatan apapun denganmu. Kamu bisa meniduri mereka semuanya kapanpun. Apa kamu bisa mencintai wanita sebanyak itu? Bagaimana cara kamu membagikan hatimu begitu banyak? Hebat sekali kamu, Benn,,"


"Sedang aku, aku adalah istri sah kamu, Benn. Kenapa kamu justru menghindari yang sah dan halal? Sedang tadi kamu pun bilang jika aku adalah wanita yang menarik kan, Benn? Benarkah alasanmu sebab tak ada cinta, Benn,?" kejar Eril. Masih ingin memberi Benn kesempatan untuk jujur.


"Eril, apa kau sudah tahu dan mendengar sesuatu yang mengecewakan tentang aku,?" tanya Benn dengan nafas yang hangat di kepala Eril.


"Ya, Benn. Aku sudah mendengar. Dan sepertinya apa yang kudengar ini adalah benar." Eril menjawab di dada Benn. Benn berkerut dahi terkejut.


"Apa itu, Ril. Coba bilang, apa saja yang kamu dengar,?" desak Benn. Mulai agak was-was jika Eril juga termakan kabar miring tentang dirinya. Tidak ingin namanya kian tercoreng di depan wanita itu.


"Benn, apa benar bahwa yang mereka bilang itu, jika sekarang kamu tidak berminat dengan wanita sedikit pun?" tanya Eril. Benn kian memeluknya.


"Itu sama sekali tidak benar, Ril. Jangan percaya sedikit pun." kata Benn di kepala Eril.


"Tapi kurasa mereka memang benar. Ini bukan gosip saja, aku sudah mengamatimu cukup lama, Benn. Kamu bilang tertarik padaku. Dan sudah banyak kali kamu menyentuhku, tapi tak sekali pun kamu benar-benar menyentuhku. Padahal aku selalu memasrahkan diriku sepenuhnya padamu. Kenapa,Benn ?" tanya Eril dengan mendongakkan kepala. Memandang wajah tampan itu lekat-lekat. Tak ingin Benn beralasan bohong lagi padanya.


"Apa benar kamu seorang gay, Benn,?" tanya Eril kembali. Dan ini tentu kembali mengejutkan untuk Benn.


Meski terdengar tenang. Namun hati wanita itu sedang berdebar. Meski sudah tahu dan kemungkinan benar, masih tidak ingin jika Benn membenarkan. Berharap lelaki itu terus menyanggahnya. Tapi, jika bukan, lalu apa masalah lelaki itu? Benarkah sebab tak ada cinta? Ah, ini alasan yang tak mungkin untuk seorang playboy seperti Benn. Meski telah bertobat sekali pun.


Tiba-tiba Benn bangun dan berdiri. Menarik Eril untuk bangun juga sepertinya. Membawa Eril berjalan menuju sofa. Direbahkannya tubuh menggoda itu di sana.


Hasrat yang sedari tadi susah payah dihempas di sela obrolan mereka, kini dilepas liarkan tanpa ragu. Hasrat paginya yang normal dan menggebu dilampiaskan bebas seketika.


Kegiatan panas yang dahsyat Benn berikan untuk wanita yang sedang ditindih olehnya di sofa. Segala suara erotis terdengar terputus-putus dan tertahan-tahan menyesakkan dari mereka berdua, terutama si wanita. Ada sepasang telinga mungil yang sedang mereka jaga dan masih terlelap di ranjang sana.


"Bagaimana, Eril? Apa dengan kemampuanku yang seperti ini, aku adalah gay,?" tanya Benn dengan nafas terengah dan berderu.


"Tidak kuragukan jika seperti ini kamu bukan bagian dari mereka, Benn. Tapi buktikanlah. Lanjutkan hingga benar -benar selesai, kumohon, Benn. Buktikan," sahut Eril dengan tak kalah terengah. Dan tak peduli lagi akan harga diri. Demi pembuktian ucapan Benn serta menjawab penasarannya selama ini.