Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
56. Semeja Bersama


Hari di mana Benn memberi kebebasan meninggalkan kamar di gedung utama. Dihabiskan di rumah kontrakan bersama teh Sulis dan Evan hampir seharian. Kebetulan hari ini teh Sulis mendapat orderan yang tidak seberapa dibanding hari-hari biasanya.


Sebab teh Sulis sedang longgar, sore itu Eril mengajak teh Sulis ke salon untuk melakukan perawatan. Mereka bergantian mendapat rawatan karena demi bergantian juga untuk menjaga Evan.


Ibu muda tergoda untuk menyerviskan diri sebab teringat pada misinya. Menggoda sang suami dengan penampilan dan kondisi diri yang mendukung. Meski bukan paket perawatan yang lengkap, sebab kepepet waktu, tapi cukup lumayan untuk membuat tubuh berisinya kian bersinar. Eril terlihat jauh lebih cerah dan cantik. Teh Sulis pun terlihat lebih muda dan cerah.


"Ril, jika kamu rajin ke salon, bisa jadi suami sementaramu akan menginginkan kamu seterusnya. Bukan sekedar enam bulan. Nasib kan tak disangka-sangka. Jika iya, hidupmu bisa makmur selamanya, Ril," ucap teh Sulis memperhatikan Eril tak berkedip.


"Terimakasih, ya teh. Tolong doakan yang terbaik buat kami. Buat aku dan juga buat Evan," sambut Eril tersenyum.


Kepalanya menunduk memandang Evan yang berdiri di dekatnya. Evan masih membawa salah satu mainan baru yang dibelikan oleh Jovan saat itu dan tersimpan di rumah kontrakan. Bocil itu belum bosan seluruhnya.


"Tentu, Eril. Teteh selalu ingin yang terbaik buat kalian," teh Sulis mengangguk dan tersenyum.


"Sekali lagi terimakasih. Teteh tak bosan-bosan mendoakan aku, yaa,," sambut Eril sekali lagi. Teh Sulis mengangguk menyejukkan.


"Teh, yuk kita cari makan di kafe yang dekat kami tinggal. Gedung itu tinggi, akan terlihat dari kafe tempat kita makan. Suatu saat ingin ngajak teteh berkunjung ke sana. Maaf ya, belum bisa ngajak sekarang, teh. Benn belum jinak juga, teh," kata Eril sambil mencari nomor taksi.


"Jangan mikir teteh, Ril. Yang penting kamu dan Evan bisa diterima sangat baik di sana," tukas teh Sulis. Eril tersenyum mengangguk sambil menelepon sopir taksi.


🌶🌶


Dua lelaki sama tinggi dengan rentang umur dua tahun, sedang berjalan santai keluar dari Masjid Istiqlal, Jakarta. Menuju latar parkir di luar pagar, sebab tak mendapat jatah tempat. Mereka tiba sangat lambat, sedang makmum maghrib teramat melimpah ruah berdatangan.


"Kita makan di mana, Benn?" tanya Daniel sambil masuk dan duduk di samping Benn. Benn tengah merestart mesin kendaraan.


"Kau ingin di mana?" tanya Benn. Paham andai Daniel merindukan salah satu rumah makan di Ibu kota tanah air kelahirannya.


"Bawa aku ke kafe di sebelah gedungmu. Kenalkan aku dengan wanita yang sudah membuatmu terlihat sempurna bertobat. Mintalah dia datang ke kafe, Benn," Daniel berkata dengan tegas. Wajah Benn nampak berkerut.


"Asal kau jangan berfikir memikat dan merebutnya saja, Dan. Dia masih punyaku," jawab Benn pasrah. Tak ada hati menolak permintaan sahabatnya.


"Tidak kawanku yang tampan,! Hanya ingin memastikan bagaimana rupa cantiknya,!" sahut Daniel dengan menahan tawanya.


Benn tidak menyahut, fokus pada jalanan yang sedang dirayapinya sangat kencang. Daniel menoleh sambil menggelengkan kepalanya.


"Jangan ngebut-ngebut Benn. Bukan aku merasa takut, aku tahu kemampuanmu. Tapi kau ini belum pernah merasa halalnya surga dunia. Ingat itu,,!" tegur Daniel.


Benn menolehnya dan tersenyum. Mulutnya tidak juga menyahut. Tapi hanya terasa jika kendaraan itu perlahan berkurang jauh lajunya. Daniel tersenyum sekarang, merasa tegurannya telah mengena tepat di sasaran.


"Kau tak pernah pakai jasa sopir?" tanya Daniel.


"Semua sopir seperti siput saja jalannya, Dan,!" tegas Benn akan alasan bahwa dia tidak suka disopiri.


Daniel mengangguk paham dan tidak lagi bertanya. Mengakui jika Benn adalah seorang pembalap handal hingga sekarang.


🌶🌶


Daniel memaksa Benn untuk terus memasuki kafe dengan sedikit dorongan di punggungnya. Wajah tampan yang sudah beraura kelabu itu, semakin terlihat mendung yang pekat. Terpaksa menuruti Daniel untuk mendekati sebuah meja yang telah ada sang istri di sana.


Bukan sebab ada Eril dan Evan di pangkuan yang membuat wajahnya kian kusut. Tapi telah ada juga si polisi muda yang duduk di depan istrinya di sana. Benn sangat tidak suka meski juga ada teh Sulis diantara mereka.


Eril yang tengah fokus dengan suapannya untuk Evan, sangat terkejut saat seorang lelaki tampan memberi salam dengan Benn yang berdiri di sampingnya.


"Wa'alaikumsalam,!" sahut Eril, teh Sulis dan Jovan hampir bersamaan.


Eril memandang Benn yang sedang juga menatap datar padanya. Merasa tidak enak dengan sang suami sebab semeja dengan Jovan. Eril tidak pernah lupa jika Benn tidak suka.


Namun pandangan mereka teralih dengan keseruan dari dua lelaki lainnya di meja. Jovan dan Daniel nampak saling kaget dengan perjumpaan mereka yang tak disangka saat itu. Mereka ternyata telah saling mengenali.


"Hai, anda dokter Daniel yang pernah mengajukan mutasi kerja ke negara Jepang beberapa tahun yang lalu?!" seru Jovan dengan skill endusnya yang tajam sebagaimana seorang polisi.


"Haii, betul, pakpol Jovan! Dan anda yang menangani kelulusan kelakuan terpujiku waktu itu,?! Ha,,ha,,,ha,, kebetulan sekali kita bertemu di sini,,!" sambut balas Daniel dengan daya ingatnya yang tajam sebagaimana profesinya yang Dokter.


Mereka saling bersalaman dan saling menepuk beberapa saat. Daniel mengedarkan pandang setelah Jovan menyodorkan sebuah kursi untuknya. Memandang Benn sebentar dan bergegas juga menarikkan sebuah kursi untuk Benn. Mereka semua telah duduk di meja yang sama.


"Pakpol Jovan, perkenalkan ini teman saya dan tinggal di Jakarta, Benn," kata Daniel berusaha mencairkan aura tegang di meja.


Jovan memandang dan tersenyum ramah pada Benn yang terus saja nampak kusut.


"Jovan, " polisi muda mengulur tangan pada Benn. Benn menyambut dengan cepat.


"Benn, suaminya Eril," sambut Benn dengan tersenyum dipaksakan.


Mendengar itu, tangan Jovan terasa mematung sekian detik. Dan Benn kian mengeratkan jabatan di tangannya.


"Anda suaminya, Eril?" tanya Jovan dengan kaku. Memandang Benn dan Eril bergantian dengan ekspresi keheranan.


"Benar, saudara Jovan. Eril belum mengatakannya,?" tanya Benn dengan memandang Eril yang duduk di depan seberang meja.


"Oh ya, Ril,, perkenalkan, ini sahabatku yang baru tiba dari Jepang. Daniel,," lanjut Benn dan abai pada pertanyaannya sendiri pada Jovan.


Eril mengulur tangan pada Daniel.


"Saya Eril, ini anak saya, Evan. Dan ini teh Sulis,," sambut Eril sambil bersalaman dengan memperkenalkan diri pada teman sang suami.


"Daniel, " sambut Daniel dengan mata memandang seksama pada Eril.


Eril yang baru mendapat rawatan dari salon dan skin care dari ujung kuku hingga ujung rambut, tentu saja sedang terlihat sangat cantik. Bahkan Benn pun diam-diam sering tertahan nafas mencuri pandang padanya.