
Semua barang milik Evan dan Eril yang ada di kamar pribadi, gedung utama, telah diletak Benn ke dalam bagasi mobil. Benn akan mengambil Eril di rumah orang tua untuk diantar ke tempat privacy yang sedang diinginkan sang istri.
Rumah sedang sepi saat Benn sampai di rumah orang tua. Dan Eril nampak sudah siap dengan penampilan cantiknya. Sedang Evan terlihat asyik di depan layar televisi yang menampilkan kartun Tom & Jerry kesukaannya.
"Apa kita tunggu mama hingga kembali, Benn,?" tanya Eril sebelum menuju ke garasi. Benn terlihat buru-buru.
"Tidak perlu, nanti aku yang bilang sama mama," janji Benn. Lelaki itu nampak buru-buru.
Benn memang sengaja menunggu kedua orang tua tidak di rumah saat datang. Tidak ingin mendapat pertanyaan detail dari sang mama. Dan tidak ingin membuat mamanya merasa ikut resah.
Tempat yang dituju adalah sebuah apartemen mewah yang bertempat di kawasan dekat Ancol. Merasa tenang untuk meninggalkan mereka di sana. Sebab pengamanan untuk setiap unitnya dirasa aman dan terjamin.
Apartemen luas dengan tiga kamar serta dapur yang nyaman, serta balkon luas seperti teras namun dipagar tinggi dan aman itu membuat wajah Eril terlihat lebih cerah. Juga kamar mandi besar dengan fasilitas yang menggoda. Sepertinya wanita itu merasa cocok dan puas dengan tempat tinggal yang Benn sediakan untuknya.
"Benn, ini terlalu mewah bagiku. Kenapa kamu pilihkan seperti ini,?" tanya Eril apa adanya. Benn sedang membuka pintu balkon dari besi dan kaca. Eril mendekati lelaki itu dengan menggendong Evan yang tertidur.
"Aku ingin kau dan anakmu merasa aman dan tenang, Ril. Sebab kalian hanya berdua. Apa aku perlu menemani kalian setiap hari,?" tanya Benn berharap.
Tapi Eril tidak menjawab. Wanita itu berbalik dan masuk ke dalam salah satu kamar untuk menidurkan Evan. Bahu dan lengannya sudah terasa panas dan pegal.
Benn merasa kembali kecewa. Menganggap jika Eril masih juga tidak mengharap dirinya. Wanita itu menolak dan acuh. Benn membesarkan hati dan masuk di kamar sebelah. Ingin mengguyur badannya yang lelah.
Eril baru keluar dari kamar tempat menidurkan Evan dan bersamaan dengan Benn yang nampak basah habis mandi. Baju yang dipakai masih sama dengan yang tadi.
"Benn, kamu lapar,?" tanya Eril terdengar perhatian.
"Kenapa? Ingin kubelikan makanan,?" tanya Benn juga ingin menunjuk perhatian. Tapi Eril menggeleng.
"Tidak, Benn. Aku masih kenyang. Aku baru saja makan sebelum kamu datang menjemput kami." terang Eril nampak jujur. Dan Benn pun mengangguk. Berjalan pelan mendekati istrinya.
"Aku akan kembali ke gedung, Ril," ucap Benn. Menunggu reaksi Eril dengan berdebar. Wajah cantiknya nampak mendung. Tapi tetap saja bungkam tak menjawab. Lagi-lagi Benn merasa kecewa.
Namun tak ingin terlalu hampa. Memberanikan diri untuk merentangkan tangannya. Benn kembali mempertaruhkan perasaannya.
Hampir tak percaya, meski sempat nampak ragu, sang istri telah menghambur memeluknya. Tapi rasanya tidak erat dan bahkan sangat renggang. Dan hanya sebentar, tubuh sintal itu mulai menjauh dari pelukan.
"Terimakasih ya, Benn. Hati-hati di jalan," Eril sangat lembut mengatakannya. Tapi terdengar menusuk bagi Benn. Dan tarasa menyakitkan. Eril begitu rela ditinggalkannya.
🌶🌶🌶
Belum berbulan, hanya masih berminggu Benn tidak mendatangi tempat Eril dan Evan. Tapi merasa seperti sudah berabad lamanya tak berjumpa. Dan sungguh tersiksa, sang istri sama sekali tak mengingatnya.
Tok,,! Tok,,,! Tok,,!
"Masuk, asluk,!" jawab Benn. Asisten Lucky baru saja diteleponnya agar segera datang ke ruang kerja. Ada hal yang ingin diminta dari sang asisten.
"Ada apa, tuan Benn,?" tanya asluk terheran.
"Mendekatlah padaku, asluk," Benn berkata dan nampak serius. Sekedip mata sang asisten telah geser merapat ke depan matanya.
"Asluk, tolong pesankan cincin yang sama persis seperti ini. Semuanya sama,!" pinta Benn sambil mengulur sebuah kotak kecil pada asluk.
"Sama persis, tuan Benn,?" tanya asluk memastikan sekali lagi. Dan Benn mengangguk.
"Eh, tunggu asluk! Tidak,,ada yang tidak sama! Tunggu sebentar,," ralat Benn tergesa. Lalu mengambil note kecil, nampak menulis dan selesai. Diulurkannya pada asluk.
"Seperti ini yang akan kamu pesan itu, asluk. A&D,, paham, asluk,?" tanya Benn memastikan.
Asisten Lucky segera mengangguk. Mengambil kotak kecil serta lembar tulisan dari Benn.
"Sudah, tuan Benn,?" tanya Asluk menunggu. Benn mengangguk.
"Cari tukang penempah yang bagus dan cepat, asluk,!!" seru Benn pada asluk sebelum lelaki itu tertelan daun pintu.
Itu adalah cincin yang sempat dipinjam Benn dari Desta diam-diam. Ingin memberi kenangan untuk Eril saat perpisahan mereka setelah enam bulan berlalu. Tapi Benn tidak tahan. Ingin menjumpai Eril secepatnya dengan membawa cincin hadiah itu sebagai alasannya.
🌶🌶🌶
Asisten Lucky yang berencana mendatangi penempah emas dan perhiasan berkelas yang dikenal, membatalkan niatnya tiba-tiba. Setelah membuka kotak kecil dari sang tuan yang berisi sebuah cincin mungil.
Asisten Lucky merasa terkejut setelah mengamati dan mengingatnya. Jika cincin yang diminta sang tuan adalah cincin yang sama persis dengan memakai inisial A&D, istri asisten Lucky juga pernah memilikinya!
Kini asisten Lucky sedang mamacu mobil menuju arah lain. Arah ke jalan yang menuju rumah pribadi. Asisten Lucky ingin segera menemui sang istri di rumahnya. Membincangkan perihal cincin yang sama persis dengan yang sedang dibawanya.