Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
70. Susah Mengaku


Pintu di apartemen mewah itu belum juga terbuka. Meski Benn juga memiliki sandi angka di akses pintu, namun tidak ingin mengurangi rasa nyaman bagi wanita dan anaknya untuk tinggal di dalam. Tetap menunggu dibuka dan berharap agar Eril belum tidur.


"Mungkin sudah tidur, Benn. Coba telpon saja," sang mama nampak tidak sabar.


"Ponsel Eril sering mode senyap, ma. Sudah banyak kali kucoba tapi tidak direspon," ucap Benn memperjelas.


Twing..!


Bunyi denting halus terdengar bersama pintu terbuka di depan mereka. Wajah polos dan cantik dengan baju tidur panjang nampak berdiri terkejut.


"Ma,,!!" seru Eril tak percaya. Terkejut dengan ibu mertua yang datang malam-malam.


Ibu mertua telah memeluk erat dengan hangat. Eril memeluk balas dengan mata memandang pada lelaki yang diam seribu bahasa menatapnya. Eril mengakui jika lelaki itu kian kurus.


"Evan sudah tidur, Ril,?" tanya mertua sambil melangkah ke dalam. Mengamati isi apartemen yang rapi dan bersih.


"Belum, ma. Masih main di kamar," jawab Eril mengikuti sang ibu mertua. Tidak menyapa Benn sedikitpun. Dan lelaki itu juga ikut masuk ke dalam apartemen dengan langkah yang gontai.


Mama Dhona telah keluar kamar dengan menggendong Evan di pinggang. Sukses merayu pada menantu untuk membawa sang cucu sebab rindu yang menggebu. Juga sebab maksud yang sedang terselubung. Dan kini telah bersiap untuk pergi keluar dengan Evan.


"Benn, mama duluan, ya. Papamu udah nggak sabar ingin ngelonin Evan, Ril. Mama bolak-balik disuruh minjem Evan sama kamu. Tapi suami kamu itu selalu bilang sedang sibuk," ucap mama Donha meyakinkan. Sambil menunjuk Benn dengan jari telunjuk.


"Iya, ma," sahut Eril sendu setelah menciumi Evan banyak kali.


"Mama bawa Evan ya. Assalamu'alaikum,!" sang mama telah membuka pintu dan benar-benar keluar dari unit yang dibelikan Benn buat Eril.


"Wa'alaikumsalam," sahut Eril dan Benn bersamaan. Dan keduanya sedang saling menoleh.


"Ril,," panggil Benn bergetar. Tak tahan lagi merasa diabaikan oleh sang istri.


Wanita yang sangat ingin dijumpai itu telah direngkuh dan didekapnya erat-erat. Eril juga balas memeluk dengan hangat, namun tidak serapat seperti pelukan Benn padanya.


"Apa kamu nyaman tinggal disini,?" tanya Benn lembut dengan suara yang serak. Merasa kepala yang didekap di dada itu bergerak mengangguk.


"Apa tidak merasa kesepian,?" tanya Benn lagi. Kepala itu menggeleng.


"Ada Evan denganku," jawab Eril kemudian.


Jawaban yang membuat dada Benn merasa agak sempit dan kecewa.


"Ril, malam ini aku menginap di sini. Aku ingin tidur bersamamu," ucap Benn lirih di atas kepala Eril. Kepala itu mengangguk. Benn merasa begitu senang, Eril tidak keberatan.


Eril menurut saat Benn membawanya ke kamar. Merebahkan dan memeluk erat kembali. Benn tidak diam memeluk saja, tapi menciumi rambut dan kepala itu dengan tak ada puasnya. Seperti sangat rindu sebab telah berabad lamanya tak berjumpa.


Bibir indah itu juga begitu kaku dan hambar merespon. Tidak setimpal dengan Benn yang penuh hasrat dan semangat. Eril tidak mengimbangi apapun yang Benn coba sentuh padanya.


"Eril, kenapa kamu begitu lama mengacuhkan aku? Saat inipun kamu masih tidak menerimaku? Apa saja salahku, Ril,?" Benn telah diam dan mungkin merasa frustasi. Tangannya telah memeluk sang istri kembali. Tiba-tiba merasa gentar untuk jujur mengatakan hal penting itu pada Eril.


"Ril, katakan apa alasanmu dingin padaku? Jangan diam, Ril. Apa kamu tidak kasihan padaku? Hanya dirimu yang kupercaya. Jika kamu meninggalkanku, lelaki tak berguna ini akan sendirian, Ril," ucap Benn dengan suara menyedihkan.


"Benn, maafkan aku," sambut Eril merespon.


"Ada apa denganmu, Ril,?" tanya Benn.


"Sebenarnya, akhir-akhir ini aku sering sekali bermimpi yang buruk." ungkap Eril.


"Mimpi buruk? Apa itu, Ril,?" tanya Benn. Memeluk Eril lebih erat.


"Mimpi yang selalu sama. Lelaki tanpa wajah yang tiba-tiba datang dan mengaku jika dirinya adalah ayah kandung Evan. Dan lelaki itulah yang telah memperkosaku dan membuatku hamil, Benn,!" Eril berkata dengan cemas. Sangat nampak jika mimpi itu memang berpengaruh pada dirinya. Benn terdiam dengan perasaan tak menentu.


"Kamu tahu, Benn. Ini aneh sekali. Meski lelaki yang datang di tiap mimpi tidak pernah menunjukkan mukanya, tapi di benakku saat sedang bermimpi, lelaki itu adalah kamu. Suara lelaki itu adalah suaramu, Benn. Maaafkan aku."


"Jadi tiap memandangmu, aku teringat mimpiku itu. Hatiku merasa sakit. Padahal aku sadar, kamu tidak ada hubungannya. Tapi hatiku merasa sakit tiap melihatmu. Tak bisa kututup-tutupi,Benn. Maaf, aku tidak bermaksud menuduhmu," terang Eril. Wanita itu berbalik badan, memunggungi Benn. Tidak ingin berlama-lama melihat lelaki di belakangnya.


Eril yang tidur miring dan membelakangi Benn, tidak tahu jika lelaki di balik punggung cantiknya sedang susah bernafas dengan mata yang berair. Serta susah bergerak serasa jantungan sebab kata-katanya yang seperti menguliti.


Benar-benar membuat nyali Benn untuk jujur menciut. Marasa ketakutan jika Eril justru akan semakin menjauh. Tidak ingin kehilangan dan ditinggalkan, Benn mengurungkan niatnya sementara..


🌶🌶🌶🌶


Benn telah meluncur begitu kencang pagi itu. Setelah semalam menginap di tempat Eril dan rela tidur terpisah. Tidak ingin meninggalkan sang istri sendirian. Meski Eril terlihat tidak nyaman, Benn bersikeras menemani. Eril tidur nyaman di kamar, sedang Benn tidur kesempitan di sofa. Juga memilih tidak tidur di dalam kamar Evan yang kosong.


"Berapa hari hasilnya keluar, ma,?" tanya Benn pada sang mama. Mereka baru mendatangi klinik dokter spesialis genetika recomended di Jakarta.


"Tadi kamu milih sampel darah kan,? Ya nggak lama,, besok pagi-pagi pun hasilnya dah keluar. Mama nggak sabar, Benn. Penasaran,, deg-deg dada mama, Benn." Mama Dhona sambil menciumi Evan yang mengantuk di pangkuan.


"Bekas lukanya jelas nggak, ma? Kasihan, tapi dia nggak ngerasa pas diambil tadi,?" tanya Benn sambil mengelus rambut Evan penuh sayang. Mata kecil itu telah benar-benar tidur lagi. Evan baru menghabiskan sepotong cake dan sekotak susu instant.


"Sudah nggak ada, Benn. Cuma merah dikit, kayak digigit semut. Tadi mama takut juga, nanti Eril curiga," terang sang mama dengan lega.


"Aku juga tak sabar nunggu hasilnya, ma. Jika terbukti Evan anakku, besok aku akan datang lagi ke apartemen. Akan kuakui dosaku pada Eril. Apapun respon istriku, biarlah jadi resiko yang harus aku tanggung, ma," Benn berkata sepenuh tekadnya.


" Iya, Benn. Mama mendukung. Apapun hasil lab besok, kamu harus jujur. Eril berhak tahu yang sebenarnya. Lagipula hebat banget, Benn. Dia itu udah mimpi-mimpi, Allah dah ngasih kode ke dia. Tapi kamu jangan gentar, Benn. Yang di atas pun juga ngasih jalan sama kamu. Lagipula, Eril itu sangat sayang pada anaknya. Pasti dia akan tetap maafin kamu demi Evan. Evan butuh seorang ayah yang mengakuinya. Semangat ya, Benn," ucap mama Dhona menyemangati sang putra.