
Kediaman tuan Harsa yang baru saja hingar bingar oleh tamu undangan kini telah kembali lengang. Beberapa tamu dari petinggi hotel dan resto Irawan's Family yang tadi bercakap-cakap di teras bersama tuan Harsa dan Benn pun baru saja undur diri. Rumah yang sepuluh menit lalu dipadati manusia itu kini kembali dengan penghuni asli saja yang sisa.
"Alhamdulillah, lega aku, pa," gumam Benn di samping sang ayah.
"Iya, Benn. Rasanya ringan kepala dan terang kedua mata ini, Benn. Papa harap habis ini kamu tidak buat ulah konyol lainnya ya, Benn." Tuan Harsa menimpali gumaman Benn yang didengarnya.
"Mana aku yang buat, pa. Nggak sengaja lah, aku tuh," lurus Benn pada sang ayah.
Tuan Harsa duduk menggelosor di sofa teras yang baru dirapikan semula oleh sekuriti dan Benn. Di rumah minimalis modern itu baru diselenggaran syukuran demi kebahagiaan keluarga terutama untuk kebaikan sang putra tunggal yang kebetulan baru mendapat masalah yang bertubi. Dan sekarang semuanya telah selesai dengan terang.
Juga untuk kasus terakhir yang sempat sangat mengganjal hingga mengganggu lena tidurnya, telah berakhir damai juga. Seperti yang diharapkan, pak Toyib, korban tabrakan yang cukup keras kepala itu akhirnya luluh dan bersedia untuk damai.
Tentu saja dengan bujuk rayu dari orang terakhir yang diharap berhasil membantu. Teh Sulis memang berhasil meluluhkan kekerasan hati sang suami dengan gemilang, meski diawali dengan sedikit perdebatan.
"Jadi kamu malam ini berangkat ke appartemenmu, Benn,?" tanya tuan Harsa sambil memejam mata dengan kepala diletak di sandaran sofa.
"Belum tahu juga, pa. Jika Eril lelah, kurasa besok saja," jawab Benn. Tuan Harsa nampak mengangguk menanggapi.
Benn nampak sangat cerah dan bersemangat. Berbaju sama dengan sang ayah. Sarung, koko dan peci, semua sama model serta warna dengan tuan Harsa. Baju mereka sudah cukup lama termiliki. Jauh sebelum Benn menikahi istrinya, Eril.
"Apa Evan juga kamu ajak,?" tanya ayahnya. Benn tidak langsung menyahut. Nampak berfikir sejenak.
"Aku akan mengajak Evan, pa. Setelah beberapa hari, jika mama ingin mengajak, akan kami antar," jawab Benn kemudian.
"Kamu bilang mau ke Jepang? Kapan,?" tanya sang ayah menoleh.
"Belum tahu lagi, pa. Pekerjaanku sangat banyak. Akhir-akhir ini aku sibuk diluar. Papa paham sendiri itu," sahut Benn agak muram.
"Apa Eril kecewa,?" tanya sang ayah.
"Sama sekali tidak kecewa, pa. Justru dia sendiri yang kukuh menunda ke Jepang. Dia sangat paham," terang Benn.
"Harusnya kemarin itu pengacara kamu saja yang mewakilimu mendatangi para korban," sesal tuan Harsa. Merasa anaknya telah sedikit membuang masa.
"Tidak masalah, pa. Aku tidak menyesal. Justru bisa langsung berjumpa banyak orang dengan ragam karakternya. Dan aku ingin belajar menjadi lelaki yang benar-benar berani menghadapi sumber masalahku sendiri, pa." Benn menyahut dengan tersenyum. Dan sang papa juga tersenyum sembari menepuk punggungnya.
"Yaa..ya..ya..Baguslah itu, Benn," dukung ayah Harsa. Merasa salut dengan kemajuan Benn yang semakin bagus, dewasa dan bijak. Rasanya sangat terharu dengan perjalanan hidup sang putra dari masa jahiliahnya hingga selurus yang sekarang.
🌶🌶🌶
Benn mendapati Eril sedang menata beberapa baju ke dalam bag saat mengendap masuk ke dalam kamarnya. Dipeluk kejut sang istri dari belakang dengan penuh rasa sayang.
"Ish, Benn,,! Aku kaget lah! Nakal kamu ini, Benn,,!" Eril terdiam sejenak sebab sensasi shock dari ulah Benn yang mampu mengagetkan. Benn nampak menyesal namun tetap saja cengengesan.
"Kamu mau ke mana, Ril. Minggat ya,,?" tanya Benn dengan nada pura-pura serius. Eril langsung berbalik dengan tersenyum kesal pada Benn.
"Kamu sendiri yang ngajakin.. Awas ngerjain aku terus, pisah ranjang,,!" Eril juga pura-pura mengancam Benn.
"Apa, Benn?! Jadi suatu saat kita memang pisah ranjang,,?!" seru Eril bertanya merasa gerah sendiri.
"Ya, iya.." jawab Benn santai.
"Pamali, Benn,,!" Eril merasa kesal dengan Benn.
Namun Benn justru tersenyum dikulum menahan tawanya. Merapati Eril yang duduk di ranjang dan kembali memeluknya.
"Kamu tahu, kapan saat kita pisah ranjang,?" tanya Benn dengan mesra memeluk.
"Mana ada,,.!" Eril merasa resah sendiri. Dicibirnya Benn dengan kesal.
"Ada, saat kamu baru melahirkan di rumah sakit. Akan ada masanya kita tidur terpisah. Ranjang kita pisah, tidak sama," Benn kembali tersenyum. Merasa senang telah memberi tebakan hebat pada sang istri.
"Ah, nggak seru, Benn. Kamu ini ya,,, sudah nggak jadi ke Jepang, malah udah mikir jauh ke pisah ranjang,," gerutu Eril pura-pura sangat kesal. Seketika Benn berubah muka dari cerah menjadi muram.
"Ril, apa kamu merasa kecewa dan sedih kita menunda pergi ke Jepang?" tanya Benn hati-hati. Merasa bersalah.
"Iya, Benn. Aku sedih banget. Kamu sangat mengecewakan, Benn.!" Eril menjawab dengan sengit.
"Eril, benarkah kamu sangat sedih,,?? Jika begitu, ayolah kita ke Jepang saja. Kita mengunjungi Desta dan yang lain. Kamu jangan marah lah, Ril,," ucap Benn nampak resah dan bingung. Dipeluknya Eril agar mendapat ketenangan.
"Ha..ha..ha.. Kena kamu, Benn!! Ha..Ha..!!" Eril tertawa sambil berbicara. Benn langsung melepas pelukan dan mengamati wajah istrinya. Tertegun sesaat dan tak disangka justru ikut tertawa seperti Eril, bahkan jauh lebih keras.
"Ah, kamu sudah jadi nakal sekarang ya,,!" ucap Benn kembali membawa sang istri ke dalam dekapan.
"Siapa guruku?? Kamu,,!!" seru Eril sambil memukul gemas punggung lebar Benn. Keduanya tertawa-tawa gembira bersama.
"Kita hanimun di apartemen saja dulu ya,,, sayangkuuuu,,," ucap Benn terdengar menggelikan. Eril merasa senang namun juga ingin tertawa.
"Iyaaaa,,,, mas Beeennn,,!" balas Eril dengan lebih menggelikan. Benn benar-benar tak bisa menahan tawa.
"Ha..ha..ha.. Ah, Eril. Ayolah kita cepat menyingkir ke apartemen saja. Tak tahan,,!" bujuk Benn dengan nada penuh maksud.
"Benn,,Benn,,, kamu ini jangan-jangan minum obat, ya,,?! Nggak ada lelahnya,,!!" protes Eril dengan tersenyum. Merasa pelukan Benn sangat erat. Bahkan merasa jika tembakan di balik sarung milik Benn telah mengacung siaga padanya.
"Benn, tunggu saja di luar ya. Aku beresin dulu. Nanti kita kemalaman. Kasihan Evan," bujuk Eril. Resah jika sang suami menuntutnya saat itu.
"Iya, cepetan ya. Jika ada yang tertinggal, kita ambil lagi ke sini besok."
Benn berpesan dengan nafas yang telah menderu. Lalu berbalik keluar dengan didorong Eril dengan pelan. Benn berniat mengambil Evan di kamar depan.
Eril bergegas melanjutkan berkemas dengan asal. Berfikir jika apapun yang tertinggal akan sangat mudah diambil lagi esok hari. Jarak antara rumah mertua dengan apartemen mewah mereka tidaklah jauh sangat.