Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
78. Lupa Kamar


Benn memeluk Eril yang masih ditindihnya sangat erat. Mereka baru saja mengerang keras bersama di pelepasan mereka yang pertama. Eril menarik selimut yang berantakan untuk kembali menutupi tubuh mereka yang masih bersatu.


Membalas pelukan sang suami dengan tak kalah eratnya. Sangat lama, seperti tak ingin saling melepaskan. Hingga terasa dada Benn sedikit berguncang.


"Benn, kenapa? Kamu menangis,?" Eril merasa heran dengan Benn yang memang menangis. Tetes air yang terasa hangat sedang mengenai pelipisnya.


"Aku bahagia, Ril. Seperti mimpi dengan yang kurasakan barusan. Setelah bertahun-tahun aku tidak lagi pernah merasa nikmat madu surga yang seperti ini," terang Benn dengan suara parau dan terputus.


"Augh, Benn..!! Jangan gerak-gerak dulu..! Aku geli ,!" Eril histeris saat tiba-tiba Benn menggoyang-nggoyang tembakannya yang masih bersarang di bawah sana. Lelaki itu tersenyum dan memeluknya kian erat. Menghentikan gerakan tembakannya. Isaknya telah terhenti.


🌶


Malam dini hari. Dua insan yang saling melepas hasrat panas jiwa raga, sedang saling merebah lemas berpelukan. Namun tangan lelaki itu tidak mau diam dan terus bergerak.


"Benn diamlah. Tanganmu ini nakal sekali. Aku masih capek, Benn,,!" ucapan Eril justru terdengar manja dan menggoda.


Posisi yang berubah memunggungi Benn namun saling rapat, justru membuat Benn kian leluasa menggerayang dan menjamah. Lelaki itu seperti tidak kenal kata lelah.


"Ini adalah wujud syukurku padaNya, Ril. Aku sedang merayakannya. Apa kamu tidak paham,?" tanya Benn sangat mesra di rambut panjang sang istri.


"Tapi Benn. Aku capek lho, Benn. Lagipula aku baru selesai datang bulan, lama-lama rasanya sakit. Aku jadi ingat kejadian kita tiga tahun yang lalu, Benn,," Eril mengeluh apa adanya tentang apa yang dirasa.


Tangan Benn seketika berhenti menjamah. Terdiam, lalu memeluk dengan erat.


"Maaf, Ril. Aku telah egois. Maafkan aku," Benn merasa sangat menyesal.


"Iya, Benn. Sorry, bukan maksudku mengungkit. Tapi kita kan sudah janji untuk saling terbuka. Kamu pasti tidak ingin bahagia dan menikmati sendiri, sedang aku terpaksa kan,?" terang Eril.


"Iya, Ril. Aku sangat paham," jawab Benn sambil memeluk Eril sangat erat.


"Eril, ada satu yang ingin aku tahu. Boleh aku tanya padamu,?" Benn terdengar ragu-ragu.


"Boleh saja lah, Benn. Apa itu,?" Eril terdiam menunggu.


"Tiga tahun lalu. Sebelum kubawa kamu ke dalam kamarku, kenapa kamu berdiri di depan kamarku,?" tanya Benn dengan terus memeluk.


"Oh, iya, Benn. Aku pun juga bingung waktu itu. Tapi akan kuceritakan segalanya dengan jujur padamu ya, Benn. Dengarlah...."


Dan Benn mulai menyimak cerita Eril dengan seksama dan haru..


Tiga tahun lebih yang lalu....


Pemilik tempatnya indekos telah beberapa kali datang ke kamar menemui. Memberi batas waktu maksimal dua hari agar Eril segera melunasi tunggakan sewa kamar yang telah macet selama lima bulan sebesar total dua juta rupiah.


Demi untuk melunasi pembayaran uang sewa kamar selama lima bulan, Eril mengajukan pinjaman kepada pimpinan divisi tempatnya bekerja. Pimpinan divisinya tidak langsung mengiyakan, tapi justru menggantungnya tanpa jawaban yang pasti, boleh atau tidak.


Kebetulan PT Ramayana tempat Eril bekerja sedang mensyukuri anniversary malam itu. Para petinggi tiap divisi diminta datang beserta beberapa orang pegawai sebagai perwikilan. Dan Eril yang sebagai pegawai divisi kasir pun mendapat undangan perwakilan. Tantu Eril merasa gembira telah ditunjuk sebagai perwakilan pegawai dari divisi perkasiran.


Dan Eril menghadiri acara itu di sebuah hotel dengan penampilan terbaiknya.


Saat acara usai, Eril dipanggil duduk bersama kepala divisinya. Diminta meminum segelas air jeruk bersama kepala divisinya itu.


Kepala divisi akan berlalu pergi dengan menghampiri Eril lebih dekat. Menyuruh Eril untuk mengambil uang sebesar yang tadi akan dipinjamnya. Kepala divisi meninggalkan dompetnya di kamar dan tidak membawa uang lagi di sakunya. Jadi Eril diminta untuk mengambilnya di kamar nomor empat belas, kamar yang telah disewanya.


Eril yang merasa kepalanya tiba-tiba pusing, merasa bingung, ragu dan bimbang dengan nomor kamar yang tadi didengarnya. Antara nomor kamar empat belas atau kamar nomor enam belas. Akhirnya Eril berdiri termangu-mangu di depan kamr nomor enam belas dengan menahan sakit kepala yang nyut-nyutan..


Tiga tahun lebih kemudian...


"Jadi seperti itu? Apa kamu percaya orang yang akan meminjamimu uang itu akan mengulur uang padamu begitu saja,?" tanya Benn dengan rasa iba dan simpati.


"Sepertinya tidak mungkin ya, Benn,,," gumam Eril membenarkan prasangka suaminya.


"Ah, sudahlah, Ril. Kita berusaha untuk tidak terlalu mengingat peristiwa kelam kita itu. Bersyukur saja, apapun caranya, kita telah disatukan olehNya. Semua sudah diatur olehNya, Ril," Benn kembali memeluk erat sang istri.


"Betul, Benn. Aku sudah berusaha ikhlas juga kok," Eril balas memeluk Benn penuh sayang.


"Oh ya, Ril. Aku lupa. Waktu itu aku tidak memberimu uang pengganti. Maafkan aku. Tapi, kenapa kamu pergi saja? Kenapa kamu tidak marah padaku saat itu,?" tanya Benn hati-hati dan terasa menyesal. Sangat iba pada Eril yang waktu itu sangat memerlukan uang namun justru mengalami nasib buruk.


"Iya, Benn. Aku memilih cepat pergi. Aku ketakutan. Aku takut kamu melakukannya lagi. Aku juga takut jika kamu memanggil teman-temanmu untuk lanjut menggilirku. Aku takut sekali lah, Benn," ucap Eril kembali merasa bersedih. Betapa menderitanya dulu dirinya.


"Ah, Eril.. Maafkan aku,, harusnya waktu itu aku menolongmu, melindungimu, tapi justru jadi monster bagimu. Aku memang bedebah ya, Ril," rintih Benn berbicara dengan sedih.


"Pasti Leehans akan marah juga padaku. Anak yayasannya telah kurusak." keluh Benn berbisik.


" Ah, sudah, Benn. Kita tutup saja catatan tentang ini. Kita akan sama-sama merasa sakit dan menyesal. Kita pikir lebih fokus saja ke depan," ucap Eril dengan memeluk erat suaminya.


"Iya, Ril. Bagaimana kalo atur jadwal kita pergi ke Jepang? Kita kunjungi Desta, Leehans dan Daniel. Kamu setuju,?" tanya Benn dengan nada mengejutkan.


"Eh, betulkah, Benn,?!" wajah Eril nampak berseri dan berbinar. Benn mengangguk yang anggukan itu bisa dirasakan oleh Eril.


"Benn,, apa Evan juga diajak,?" Eril menunggu Benn menjawabnya. Dan Benn kembali memberikan anggukan di kepalanya.


"Kita adalah keluarga. Evan adalah anakku. Kita harus membawanya bersama ke manapun," ucap Benn menegaskan dan sungguh-sungguh.


Merasa bahagia mendapat anugerah dan rizqi yang tak disangkanya. Memperoleh keluarga sempurna yang akan dimiliki selamanya!