Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
34. Benn Sudah Tahu


Lipatan kertas kecil yang kini melebar setelah di bentang, dipegangi ibu muda dengan heran dan rasa tak percaya. Juga antara terkejut, kesal dan malu. Merasa dipermainkan oleh lelaki yang nampak abai namun menyimpan rahasia yang sudah didapatnya.


"Benn, kamu sudah tahu,,?! Darimana kamu dapat ini, kamu mencuri dariku,,?!" cecar Eril menahan malu dan kesal. Merasa rasa tegang dan bimbang selama ini seperti tidak berguna. Benn sudah tahu kebohongan yang disimpannya.


"Bisa iya, bisa tidak," sahut Benn sambil menggeser mata ke arah bocah kecil gimbul yang terus memandang dirinya. Dua lelaki tampan yang beda generasi itu saling berpandangan dengan ekspresi berbeda. Benn dengan tatap dingin dan tidak suka, Evan dengan pandangan menyelidik mengikuti.


"Maafkan aku ya, Benn. Lalu jika kamu sudah tahu, kelanjutannya bagaimana, Benn?" tanya nekat Eril dengan hati berdebar. Jawaban dari pertanyaan inilah tujuan inti kedatangan Eril menemui Benn.


Lelaki yang ditanya, kembali ke mode menyebalkan. Bermuka abai dan acuh sambil memegangi ponsel mewahnya kembali.


"Benn, aku ingin kejelasan.. Bagaimana aku ini..? Apa aku telah batal mendapat imbalan total hadiahmu?" tanya Eril bertubi. Sangat kesal dengan sikap Benn yang berlagak acuh dan abai.


Eril kembali menyimpan selembar kertas itu ke dompet. Satu-satunya bukti kepemilikannya atas Evan dari seorang bidan yang kemudian merujuknya ke rumah sakit. Bidan yang sangat baik hati, telah mendampingi Eril selama proses kelahiran sesar itu berlangsung. Lalu membuatkan selembar surat keterangan kelahiran Evan dari rahimnya, yang entah kapan dan bagaimana Benn mengambil surat itu dari dompetnya.


"Aku terlanjur menikahimu,,"sahut Benn tanpa kejelasan. Entah bagaimana sikap serta respon Benn sesungguhnya pada Ibu dan anak itu.


"Itulah, Benn. Lalu bagaimana? Tapi aku tegaskan padamu ya, Benn. Kamu sudah menikahiku dengan resmi. Buku nikah pun sudah ku tanda tangani. Jadi uang muka empat puluh persen itu sudah nyata hak milikku. Jika kamu marah sebab merasa dibohongi, aku paham. Tidak apa jika kamu tak jadi melunasinya. Tapi tidak untuk uang yang sudah kamu berikan padaku." Eril memberanikan diri berkata dengan tegas.


"Tidak masalah. Uang itu memang untukmu. Aku bisa mencarinya lagi dengan cepat dan mudah," sahut Benn. Entah menyombong, entah merelakan.


Ucapan Benn dengan apa pun maknanya, membuat Eril begitu lega luar biasa. Ketakutan jika Benn akan menuntut dan meminta ganti dengan jumlah berlipat, ternyata sekedar ketakutan sia-sia berlebihan.


"Terimakasih ya, Benn. Sekali lagi maaf, aku telah tidak jujur padamu," ucap Eril dengan wajah cerah tersenyum.


Wajah tanpa beban mendung itu kini telah benar-benar terlihat lebih cantik. Eril tidak ingin berharap terlalu muluk lagi. Bersyukur saja dengan dengan uang muka yang digenggam. Jika dirinya harus mencari, perlu berapa tahun untuk mengumpulkan uang sebanyak ratusan juta itu,,? Wajah cerahnya kembali tersenyum bahagia.


Benn telah melepas ponselnya lagi di meja. Memandang wajah cantik yang begitu terlihat gembiranya. Sangat heran dengan pikiran sederhana dari kepala milik perempuan itu.


"Apa kau merasa lega?" tanya Benn dengan gayanya yang datar.


"Iya Benn, jujur aku lega. Kamu sudah merelakannya padaku." Eril tersenyum sangat manis. Berkata tanpa beban dengan wajah gembiranya.


"Benn, apa aku masih terikat denganmu?" tanya Eril hati-hati. Ingin kejelasan sekali lagi.


"Kau tahu, kan. Aku butuh surat nikah dengan tempo minimal enam bulan?" Benn menjawab cepat dan dingin.


"Tapi, aku ingin kita tinggal terpisah, Benn. Aku tidak ingin meninggalkan Evan lagi. Evan segalanya bagiku." Eril seperti memohon.


"Dan kau akan bebas menerima kedatangan polisimu dengan bahagia,?" tanya Benn dengan dingin.


Eril terbungkam sesaat. Teringat akan mobil sedan hitam di depan teras saat Jovan sedang datang berkunjung. Dan memang benar-benar Benn di dalamnya.


"Dia tiba-tiba datang ke rumah, Benn. Dia tidak bilang padaku dulu. Apa aku harus mengusirnya? Dan,,,dia datang hanya untuk bertemu Evan, bukan aku," jawab Eril membela dirinya. Tiba-tiba merasa takut jika Benn menganggapnya sebagai perempuan gampangan.


"Jangan sok polos, Ril. Evan itu hanya alat. Tujuan lelaki itu ya kamu,,!" tukas Benn dengan nada yang sengit. Pandangannya semakin menajam pada Eril.


"Lalu, apa salahku? Apa salah Jovan?! Pernikahan kita ini tidak jelas, Benn.. Dan Jovan hanya mengerti jika aku ini adalah ibunya Evan yang tidak bersuami.." sahut Eril merasa emosi tiba-tiba. Ibu muda cantik itu berbicara sambil menunjuk dadanya sendiri.


"Katakan padanya jika kau sudah punya suami. Katakan jika aku sudah menikahimu. Jika dia tak percaya, katakan padaku. Aku akan berbicara segera pada polisi itu." pungkas Benn dengan tenang dan tegas.


Eril terdiam. Bernafas dalam-dalam demi kenyamanan dirinya.


"Maaaa,,,,"


Suara manja yang terdengar sangat lembut membuat Eril menoleh. Bocah itu menggoyang-nggoyangkan tangannya yang masih erat dipegang Evan.


"Evaan,,,kamu haus,,?" respon Eril pada anaknya yang nampak gelisah.


"Pulaang,,, Epan capek, mau pulaang,," bocah kecil itu sudah merengek. Sudah tidak tahan lagi untuk duduk diam dan tenang. Apalagi menyaksikan secara live dua orang dewasa itu berdebat.


Eril sangat paham akan derita anaknya. Mungkin jika orang lansia, badan Evan sudah pegal linu sebab terpaksa duduk diam sangat lama. Balitanya itu memang terbiasa aktif saat berada di rumah.


"Benn, aku pamit pulang, yaa. Anakku sudah ingin pulang," pamit Eril pada lelaki yang sedang memandang Evan dengan dingin.


"Pulang ke mana?" tanya Benn yang kini menatap wajah Eril.


"Ya pulang ke rumah kami lah, Benn,," sahut Eril sambil membenarkan tas di bahunya. Lalu mengulur tangan pada Evan dan menggendong anaknya. Ibu muda itu telah meninggalkan kursi, bersiap undur diri dan keluar.


"Assalamu'alaikum, Benn,," sapa Eril memandang lelaki tampan yang juga sedang berdiri menatapnya.


Seperti biasa, kembali ke mode lama, lelaki yang dilempar salam sapa tidak merespon dengan jawaban apa pun. Eril tidak lagi melihatnya. Berjalan cepat dengan anak di gendongan. Membuka pintu dan melewatinya buru-buru. Pintu elastis itu bergerak menyusul untuk menutup otomatis sendiri.


Prasangka jika Benn akan menghadang dan melarang pulang, membuat Eril agak was-was. Namun, sangkaan itu hanyalah ilusinya. Benn tetap berdiri di tempat dengan Eril yang melenggang keluar menuju lift dan masuk ke dalamnya.


🍄🍄🍄🍄


🍄🍄🍄🍄


🍄🍄🍄🍄


Assalamu'alaikum, beloved readers..


Terimakasih sudah menyimak novel ini hingga di sini ....


Semoga bisa menghiburmu meski cerita ini unfaedah.. 😄😄😆😉


Karya ini adalah lanjutan dari karya pertama dalam novel "Wasiat Cinta di Tokyo"


Di sana versi Leehans...


Di sini versi Bennard...


Untuk yang belum mampir di novel .pertamaku itu,,,


Mampir yaaa... " Wasiat Cinta di Tokyo"


Kutunggu datangmu... Arigato...😘😘😘😘


Wassalam