Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
48. Istri Bertuah


Wanita dalam pelukan sedang berfikir keras tentang pria yang tengah erat mendekapnya. Diam merasa kaku dan menahan diri untuk tidak dulu bergerak. Memunculkan sejuta argumen di kepala tentang apa kemungkinan yang sedang pria itu rasakan.


Kembali pada pemikiran selama ini. Anggapan tentang lelaki lapuk yang begitu nekat memasang iklan demi mendapatkan seorang istri.


Mungkinkah..


Mungkinkah ternyata Benn adalah benar-benar seorang lelaki lapuk seperti canda sangkanya selama ini...


Oh Tuhan,! kebetulan sekali jika saja iya.Tepat sekali ramalannya. Tapi,,,bukankah zaman telah sangat modern dengan peralatan medis yang paling mutakhir..


Benn dengan harta melimpah, akan sangat mudah untuk lelaki itu mendapat perawatan dan kesembuhan. Lalu,,,jika bukan lapuk yang seperti itu, apa sebetulnya kekurangan Bennard, hingga dia memasang iklan dan kemudian memilihnya?


Tidak mungkin juga jika tidak ada kekasih,, secara Benn lelaki yang terlihat sangat sempurna tanpa cela.


"Beeeenn,,,,,," panggil Eril sangat lembut dan pelan. Menunggu berdebar dengan respon yang akan Benn berikan.


Tak terdengar sahutan apapun dari Benn. Tapi ada respon dari panggilannya. Tangan kekar yang melingkar ketat itu perlahan melonggar.


"Benn, aku ingin mengambil selimut. Sudah sangat dingin. Nanti peluklah aku lagi,," kata Eril hati-hati. Kembali berdebar menunggu sambut respon dari Benn.


Tangan itu kembali lebih melonggar dan benar-benar ditariknya melepasi pelukan.


"Sebentar ya, Benn,," Eril bangun dan duduk. Ingin melirik punya Benn, tapi lelaki itu telah tengkurap lebih cepat dari gerakan matanya. Benn seperti sengaja menyimpan tembakan itu dari pandangannya.


Diantara rasa iba dan khawatir, tiba-tiba Eril ingin tertawa. Namun ditahannya, benar-benar sedang ingin tertawa tapi takut dosa,,, lebih tepatnya, takut tersinggung dianya!


Benn memang terlihat kasihan sekaligus menggelikan. Meringkuk tak berdaya dan sedang melindungi tembakannya. Benar-benar melunturkan image seorang Benn yang sering arrogant dengan sikap semaunya pada Eril.


Eril meraih selimut yang masih terlipat rapi belum sempat tersentuh seujung pun. Dibuka dan dibentangkan melebar sempurna. Ditutupi Benn hingga sebatas leher agar tidak kedinginan.


Hawa puncak yang sudah begitu dingin telah diperparah oleh AC yang tadi sempat dinyalakan oleh lelaki itu. Benar-benar seperti terobsesi untuk tinggal di daratan kutub bersama orang Eskimo!


"Benn,, kamu ingin kuberi pijatan ya, mau,,?" tanya Eril lembut sambil mengelus rambut Benn yang tebal dan lurus.


"Tidak, Eril. Sini, tidurlah lagi denganku,," kata Benn llirih dan parau. Lelaki itu telah tidur miring lagi dan tidak terlentang.


Tidak ingin diminta dua kali, Eril merebah cepat dan menghadap pada Benn. Tangan kekar itu langsung menyambut dengan memeluknya kembali. Matanya masih terpejam sempurna dengan dahi sedikit berkernyit. Benn masih terlihat sedang menahan sakit.


Dan entah sakit apa yang sedang ditahan, Eril tentu saja kurang paham. Yang jelas, lelaki itu nampak segar bugar saat beberapa saat yang lalu.


"Benn, kamu sebenarnya kenapa? Sakit? Sakit apa?" tanya Eril tidak tahan lagi jika terus diam saja.


"Aku tiba-tiba sangat sakit kepala, Ril,," jawab Benn sambil terus memejam.


"Terlalu sakit?" tanya Eril kembali.


"Iya, sakit sekali. Maafkan aku ya, Ril,," kata Benn sambil mempererat pelukannya.


"Tidak juga. Hanya terkadang. Sudah, Eril.. Tolonglah, aku ingin hanya memelukmu dan diam,," tegur Benn dengan pelan.


Eril benar-benar terdiam. Benn tidak akan mengatakan hal sebenarnya. Lelaki itu tidak jujur sepenuhnya.


Segan juga jika terus mendesak. Mengingat sudah ada sekat dan persetujuan di antara mereka berdua. Dan mungkin Benn hanya menganggap Eril sekedar wanita bayarannya. Jadi, Benn merasa tidak wajib menjelaskan terbuka dan detail.


Wanita tanpa busana sehelai benang pun itu terdiam dengan mata yang mulai sayup dan redup. Menikmati pelukan nyaman dari lelaki yang sedang sepertinya. Sama-sama polos di balik bentangan selembar selimut.


🌶


Lelaki berkulit putih yang sebenarnya sedang perlu pijatan urgent, memilih menolak tawaran dipijat oleh sang istri. Lebih memilih menahan nyeri hebat di kepalanya, daripada harus lebih membanting harga dirinya.


Sudah begitu memalukan dengan kalah sebelum berperang, tidak mungkin bagi Benn meminta wanita yang telah dikecewakan itu untuk lebih merana lagi. Benn merasa tidak ada muka lagi jika meminta Eril agar memijat tubuhnya.


Kepala Benn yang kini merasa jauh lebih nyeri dari biasanya, telah berangsur mereda. Bahkan saat itu, Benn masih bisa membawa dirinya bersama mobil yang dikendarai untuk menunggu seorang pemijat. Tapi kali ini demikian jauh lebih parah. Hingga membuka mata saja terasa begitu beratnya. Benn benar-benar merasa diri sedang menjadi lelaki tak berguna.


Hanya sangat bersyukur dengan Eril yang nampak sabar padanya. Sama sekali tidak memaksa untuk tahu dan cenderung tidak peduli. Sikap Eril yang tidak mendesak itulah yang justru membuat Benn merasa nyaman. Ibarat kelomang yang mendapat rasa aman untuk bersembunyi di balik kulit cangkang.


Benn mengeratkan lagi pelukan di tubuh polos yang aduhai bentuknya. Hanya memeluk dan menghempas jauh hasratnya. Merasa nyeri di kepala benar-benar mulai mereda perlahan. Merasa begitu lega yang sangat. Yakin bahwa wanita yang sedang di peluk adalah obat mujarab dengan bermacam khasiat. Eril adalah istri yang bertuah untuknya.


Benn bangun perlahan setelah keluar dari selimut dan merapikan kembali ke badan Eril. Menjauhi ranjang dan mengambil ponsel di meja. Lalu masuk ke kamar mandi dan menguncinya sangat rapat.


"Hallooo,," ucap Benn begitu nomor yang baru didialnya tersambung.


"Ya, pagi..Betul,,ini Benn." Benn menyahut.


"Aku ingin minta obat terapi lagi darimu," sahut Benn pada seseorang di ponsel.


"Iya, aku ingin mencobanya kembali," sahut Benn lagi.


"Baiklah. Hari apa bertemu?" tanya Benn. Sambil hilir mudik bolak- balik di dalam kamar mandinya yang luas.


"Aku tak tahu. Nanti kukabari lagi. Jadwalkan aku saja dulu, ," kata Benn menjawab sebuah pertanyaan.


"Ya,,ya. Terimakasih layananmu," sahut Benn akhirnya. Telepon itu telah mati dan diletak Benn di atas wastafel kering begitu saja.


Lelaki yang sedang super galau itu menuju jantung kamar mandi dan mengguyur badan toplesnya dengan aliran air deras yang memancar keluar dari shower. Ingin membekukan resah hati dengan air yang lagi-lagi dibiarkan saja tetap dingin.


🌶


Perempuan dalam selimut telah membuka mata dengan cepat. Memperhatikan lelaki yang nampak terpuruk dan berantakan saat ditinggalkan tidur. Kini terlihat sangat tampan dan kembali rapi meski sedang pejam mata. Tidak lagi meringkuk dalam selimut. Tapi telah tidur telentang tanpa selimut dan terkesan cukup garang sebagai lelaki yang tampan. Benn telah bertukar baju dengan aroma wangi sabun yang sangat khas bahwa itu pilihan miliknya.


Subuh sepertinya telah berlalu. Diabaikan saja lelaki tidur itu. Eril akan ke dapur menemui asisten rumah, mbak Sri. Ingin menyapa pagi ini serta berusaha memberi sedikit rayuan, barangkali bisa memberi bocoran tentang Benn walau pun sedikit saja!