Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
51. Tidak Rela


Wanita muda berpunya anak satu itu tengah termenung-menung di akhir sujud dzuhurnya.


Rika mengatakan jika Benn tidak tertarik dan tidak merespon pada wanita-wanita cantik yang sengaja datang untuk menggoda.


Tapi nyatanya Benn tidak segan untuk berusaha menyentuh dirinya. Bukan hanya sekali dua kali, tapi telah dilakukan banyak kali. Lalu, kenapa,,, apa sebabnya,,?


Apa karena Benn telah menikahinya, apa karena Eril adalah istri sahnya yang telah dihalalkan? Bagaiman jika Benn merasa bosan dan tidak berminat lagi untuk berusaha menyentuh dirinya lagi? Dan enam bulan pernikahan mereka pasti berakhir juga akhirnya.


Pemikiran yang muncul tiba-tiba. Merasa heran dengan diri sendiri. Seperti tak rela saja jika Benn tertarik pada wanita lain atau juga justru memilih lelaki untuk melampiaskan hasratnya.


Meski sekedar menyentuh ringan dan hanya sekedar bermain. Seperti yang selalu Benn lakukan padanya, hanya sekedar bermain dan menyentuh. Menyentuh tapi tidak benar-benar menyentuh.


Berfikir kemungkinan Benn akan bersama orang lain. Akan berhasrat dan menyentuh orang lain. Tidak peduli itu lelaki atau wanita, Eril merasa tidak rela.


Apalagi jika ternyata rumor bahwa Benn seorang gay, berfantasi **** yang menyimpang, atau penyuka sesama jenis itu benar..


Dan dirinya diam saja tanpa mengingatkan atau coba menariknya kembali ke jalan fitrahnya. Betapa rasanya akan menyesal, juga merasa ikut menanggung dosa. Serta merasa diri sebagai istri tak berguna dan sama sekali tak bermanfaat.


Sedang Eril mempunyai kesempatan besar untuk merengkuh Benn agar sadar dan kembali. Sebagaian waktu pasti mereka habiskan bersama-sama. Kesempatan dan peluang benar-benar di depan matanya!


Eril menyimpan mukena dan menghampiri meja rias. Memandang dirinya di cermin. Menilai jika dirinya di cermin adalah wanita yang biasa saja. Wanita dengan penampilan yang hanya ala kadarnya. Wanita sederhana yang jauh dari kata sempurna. Wanita miskin yang tidak punya apa-apa. Bahkan satu orang keluarga saja, dirinya tidak punya!


Sedang Benn,,, dia adalah lelaki yang punya segalanya. Lelaki yang terlihat sangat sempurna. Bahkan, dia pernah menjadi seorang casanova, lelaki sejati pujaan wanita di jamannya. Hanya sekarang saja tengah tidak siuman, yang Eril tidak yakin entah apa masalahnya.


Sekali lagi, benarkah suaminya itu sedang tersesat,, menjadi seorang penista yang menyukai sesama? Ah, rasanya sangat-sangat iba dan teramat tidak rela!


Jadi, meski Benn menganggapnya seorang gelandangan sekali pun, apa salahnya mencoba?! Hidayah bisa datang dari siapa saja,, kepada siapa saja,, di mana saja dan juga kapan saja!


Meski Eril tidak ingin percaya, tapi Benn akan berusaha disadarkannya kembali. Tidak ingin jika Benn akan terjerumus ke lembah dosa selamanya.! Eril bertekat akan berusaha ikhlas merengkuh sang suami, untuk kembali ke jalan lurusnya!


🌶🌶


Orang yang telah menyita perhatian dan pikiran seharian ini. Orang yang menempati kepalanya selain anak balitanya. Adalah lelaki yang sedang berdiri di depan pintu kamar dan telah memberikan salam.


"Kenapa agak lama, Eril,,?" tanya Benn setelah mengunci pintu kamar.


"Aku sedang shalat maghrib, Benn," jawab Eril yang kemudian terdiam. Seperti menunggu sesuatu dari Benn.


Benn mengangguk dan tersenyum. Lalu merentang tangan lebar-lebar. Dan inilah yang mungkin sedang ditunggu oleh Eril.


Segera dilajukan dirinya menghambur pada Benn. Memeluk erat dan lebih erat dari sebelumnya. Tangan besar yang tadi terentang, telah menyatu di punggung cantiknya.


"Apa saja yang kau lakukan hari ini?" tanya Benn di atas kepalanya.


"Aku berkeliling gedung," sahut Eril. Kian membenamkan kepala di dada lebar Benn.


"Benn, dzuhur tadi, kenapa tidak pulang?" tanya Eril mendongak.


"Tidak ingin mengganggu," jawab Eril. Melepas pelukan dari tubuh keras lelaki yang memeluknya. Benn juga sama-sama merenggang. Ingat jika maghrib hanyalah sebentar.


"Benn, jadi kan?" tanya Eril penuh harap. Benn memandangnya sambil berjalan.


"Jadi apa?" sahut Benn dengan wajah tampannya yang berkerut.


"Ambil Evan, Benn,,jangan coba-coba ingkar, yaa.." terang Eril yang mengikuti Benn ke arah balkon kamar.


Benn yang baru saja melempar tas kerja ke sofa. Mendadak berhenti dan berbalik badan tiba-tiba. Eril yang tak siap hampir saja menubruk. Tapi berhasil mengusai dirinya dengan cepat. Memandang Benn dengan tatapan menunggu.


"Bukakan bajuku,," kata Benn singkat dan arrogant.


Sambil membusungkan dadanya ke depan. Eril menyembunyikan tawanya kuat-kuat. Gaya Benn seperti itu memang sangat tidak sesuai dengan rumor dirinya.


"Kenapa senyum-senyum,,?!" hardik Benn lirih. Mendapati wajah cantik yang tersenyum tak ada hentinya.


"Aku sedang merasa senang saja, Benn. Habis ini kita pergi ke rumahmu jemput Evan,?" tanya Eril sambil menunduk.


Tapi diam-diam wajah itu tetap saja tersenyum. Ada sesuatu yang sedang bekerja di kepala. Entah apa yang sedang direncanakan kemudian.


Jemarinya terus bergerak melepasi pakaian Benn. Kancing jas dan kancing kemeja, semua telah dilepas. Dilucutinya kedua baju atasan itu dengan bungkam. Tidak ingin lagi tersenyum. Benn tidak memakai kaos singlet hari ini.


Dada gentle menghampar dengan perut berpetak-petak telah terpajang menggoda. Namun kurang paripurna sebab celana panjang yang masih menggantung di pinggang.


Dengan cepat, tangan halus itu membuka kancing pengait dan bergeser meraba ke bawahnya. Eril sangat nekat.


"Eh, Ril,,!!" teriak Benn menghardik.


Benn yang tengah menikmati dengan rasa santai layanan lepas baju dari Eril sangat shock dan terkejut. Wanita yang biasanya enggan dan ogah untuk melepasi bagian bawah, kini dengan gesit telah membuka pengait celana panjangnya. Bahkan sangat berani meraba ke bawah dengan cepat dan sempat menyentuh miliknya sedikit. Tidak menyangka Eril berani melakukan hal itu tiba-tiba.


"Sini, Benn... Aku bukain semuanya. Kan melayani suami yang baik itu harus totalitas. Masak cuman atas saja, Benn,,?!" seru Eril menahan rasa geli dan tawanya. Ben telah berjalan cepat menuju kamar mandi tanpa menoleh lagi. Mulutnya bungkam tidak menyahuti sepatah kata pun.


"Beeeenn,,,sini aku bantu bukain celana kamu dulu,,?!!" Eril berseru melengking. Berjalan cepat dan pura-pura mengejar.


Dan Benn melesat pontang-panting sambil memegangi celana yang telah menganga. Menggapai pintu kamar mandi dan menutupnya.


Bunyi cetak di pintu, mengakhiri akting pura-pura sang istri. Eril berbalik dan berjalan pergi sambil menutup mulut yang sedang tertawa ha ha hi hi..


🌶🌶


Yakin jika Benn mandi sangat cepat, telah benar dan terbukti. Pintu kamar mandi terdengar dibuka. Kali ini Eril tidak ingin mengganggu. Sebab waktu maghrib sangat singkat.


"Benn, baju kamu dah aku siapkan di tempat shalat, ya..! Dah ada semua, kaos dalam,, juga celanna dallamm kamu juga ada,! Aku nyari boxermu nggak ketemu,!" seru Eril.


Sengaja menggelitik Benn dengan pengumuman yang menyebut benda-benda pribadinya secara live. Eril tidak peduli lagi dengan apa pun yang namanya harga diri dan gengsi. Berusaha rela melakukan apa saja demi kebaikan sang suami. Meski pernikahan mereka hanya sementara sekali pun!