
Meski rasanya berat bahkan sakit, Eril terpaksa bungkam saat Benn membawanya pergi meluncur meninggalkan vila pagi itu menuju jantung perkotaan Jakarta. Terpaksa kembali tanpa berjumpa Evan sedetik pun dari kemarin. Ibu mertua yang sedang membawa Evan berkeliling ke kampung di sekitar puncak, belum juga kembali ke vila.
Hanya lewat video call di ponsel Benn dan mama mertua saja, Evan dilihatnya tengah tertawa sambil memegangi buntut panjang dari seekor monyet. Ada seorang penduduk lokal di sekitar vila yang memang berprofesi sebagai ahli penangkar monyet di daerah puncak situ.
"Benn, aku kangen banget sama anakku. Sudah dua hari aku tidak melihatnya," protes Eril, coba merayu pada Benn.
"Nanti sore sepulang kerja kita ambil ke rumah, Ril. Pasti mereka sudah kembali ke kota nyusul kita," terang Benn dengan nada terpaksa.
"Tapi, Benn,, kan aku bisa kamu tinggal saja di villa. Nunggu Evan,, nanti aku pulang bareng mama dan papamu," terang Eril. Merasa tetap ada harapan, meski Benn terus melaju dengan kencang.
"Maafkan aku, Ril. Tapi kamu harus kubawa, kamu kan istriku. Pagi ini aku ada pertemuan penting dengan orang. Nggak ada kata menunda lagi, Ril," sahut Benn.
"Tapi aku kan juga nggak ada gunanya buat kamu nanti, Benn. Habis ini pasti aku juga kamu kandangin di kamar, kan?" sahut Eril dengan agak sebal.
"Tidak, sebenarnya mana ada aku mengekangmu? Itu hanya soal kesempitan waktu. Kamu bebas kok berkeliaran di gedung. Asal kamu harus kembali lagi ke lantai tiga, Eril,," terang Benn meluruskan.
"Jadi aku boleh mengunjungi rumahku sebentar saja, Benn? Aku ingin bertemu teh Sulis. Aku rindu," kata Eril penuh harap.
Benn nampak mendengus. Tidak langsung menyahut. Seperti tidak suka dengan pertanyaan yang dilempar Eril barusan.
"Kenapa banyak sangat orang yang kau rindu, Ril. Tidak dengan anakmu saja, dengan orang lain pun rindu. Apa diam-diam kau juga rindu pada polisi itu,?" tanya Benn ketus.
"Haah, Benn,,! Kamu ini,," respon Eril dengan singkat. Enggan menanggapi argumen Benn yang konyol itu.
Benn pun juga diam. Mereka tidak saling menyahut lagi. Ditambahnya angka kecepatan pada laju mobil. Seperti yang diharap, Eril terus terdiam. Ada raut tegang di wajah cantik yang membisu itu. Benn tersenyum diam-diam. Tidak hanya bocil gendut itu saja yang tidak suka mengebut. Ternyata ibunya pun juga takut!
πΆ
Meski Eril tidak memasukinya hingga satu minggu sebab menginap di rumah mertua, kamar Benn yang luas itu tetap segar dan nyaman. Ternyata memang dipakai oleh Benn sendiri saat istirahat siang dan shalat.
"Jika bosan, kau boleh ke kantorku di seberang kamar ini. Hanya beberapa langkah. Tapi jangan lupa memakai baju sopan. Kadang aku ada tamu," kata Benn sebelum berangkat.
"Iya, Benn," sambut Eril terdengar patuh.
"Bye, Eril," pamit Benn. Lelaki itu belum berbalik. Tapi merentang tangan seperti biasanya.
Eril sangat tanggap, segera menghambur memberikan pelukannya. Benn segera menyambut memeluk. Berpelukan sejenak dengan hangat.
"Benn, tadi bagaimana? Boleh aku pulang sebentar?" rayu Eril kembali.
"Pulang,? Kamu hanya pulang denganku," tegas Benn.
"Iya,, mengunjungi teh Sulis maksudku," Eril mengoreksi.
"Tidak boleh lama-lama. Satu jam paling lambat," tegas Benn. Sambil tangannya memeluk Eril lebih rapat.
"Eh, satu jam,? Mana mungkin bisa, Benn. Memang hanya lewat depan rumah saja, tidak turun dan mengobrol. Rugi dong, Benn," sungut Eril. Ingin melepaskan pelukan. Tapi Benn tidak ingin.
"Memangnya kapan kau ke sana,?" tanya Benn.
"Ya, kapan-kapan, Benn. Tidak sekarang, Evan belum pulang." Eril menjelaskan.
"Baguslah jika tidak sekarang. Oke Eril, aku berangkat. Assalamu'alaikum?" pamit Benn yang tidak total melepas pelukan. Meski Eril sudah menjawab cepat salamnya.
Tapi berganti dengan sandaran bibirnya di bibir Eril. Mencium sekilas dan juga mellumhat sebentar. Lalu dijauhkan bibir sekalian tubuh Eril yang padat berisi itu darinya. Khawatir jika hasrat yang dirasanya akan menuntut lebih lagi pagi ini. Merasa takut pada dirinya sendiri.
"Selamat bekerja, ya,,Benn,!" seru Eril sebelum Benn menutup pintu kamar. Benn tidak mengunci. Eril bergegas menuju pintu dan menguncinya dari dalam.
πΆπΆ
Sambil membawa termos penyimpan air panas size mini, ibu muda itu meluncur turun dari tangga lantai tiga menuju lantai satu. Ingin mengisi termos barunya dengan air panas dari dapur umum di gedung.
Lelaki tua penjaga dapur tidak nampak. Eril segera mengambil panci dan mengisinya dengan air. Menyalakan kompor dan memanggang panci itu di atasnya.
"Ha, Eril,,nyonya Benn,," sebuah sapa yang mengejutkan.
Eril segera berbalik dan menjumpai Rika. Ya,,Rika sudah benar-benar rapat di depannya. Antara rasa risih dan terkejut yang sangat.
"Sedang apa, nyonya Benn,,?" tanya Rika dengan akrab. Tangannya membawa sebuah kantong makanan.
"Ini, bikin air panas. Kakak mau sarapan?" tanya Eril dengan ramah. Sambil memundurkan langkah dari Rika. Hanya selangkah, sebab sudah habis kepentok meja dapur
"Iya, Eril. Pak Benn sudah mengajakmu sarapan?" tanya Rika perhatian. Wajah tegasnya menatap hangat pada Eril.
"Sudah, kak Rika." jawab Eril singkat.
Membalik badan sebab bunyi air mendidih dalam panci sudah berisik.
"Sepagi ini? Kalian makan di mana?" kejar Rika.
Wanita itu telah berdiri begitu rapat dengan Eril mengahadap kompor di atas meja dapur. Bahkan bahu mereka saling bersentuhan. Eril menggeser kaki selangkah ke samping. Merasa susah untuk memasukkan air ke termos.
"Makan di vila, kaak. Kami berangkat dari puncak tadi." jawab Eril dengan jujur.
"Kalian menginap di vila?" tanya Rika sambil menaikkan alisnya.
"Iya,,," jawab Eril singkat. Teringat akan ucapan Benn tentang bagaimana Rika. Eril mulai percaya dan mengakuinya.
"Eril, nyonya Benn,, kamu tidak ingin mencicip makanan yang kubawa ini? Yuk bantu habisin sate kelinci ini. Banyak lho,," kata Rika.
Tidak peduli dengan jawaban orang yang ditanya, sudah disambarnya dua lempeng piring dari rak di atas meja. Rika juga menyambar tangan Eril dan ditariknya menuju meja makan.
Meski sebenarnya ingin segera pergi, tapi Eril merasa penasaran. Sejauh mana Rika yang sudah di stamp Lesbian itu akan bersikap dan memperlakukan dirinya. Eril hanya menurut saat Rika menarik kursi dan mendudukkannya menghadap meja makan.
"Cobalah, Ril. Ini sedap sangat. Nanti kamu pasti ketagihan. Eh, kupanggil Eril saja, tidak masalah kan?" tanya Rika dengan tersenyum. Tangannya menyodor piring dan sate kelinci yang terlihat lezat menggoda ke meja di depan Eril.
"Oh, tidak apa-apa. Aku justru merasa risih dengan sebutan kak Rika padaku. Nyonya Benn,,hi,,hi,," jawab ibu muda dengan tawa yang kecil.
Eril menyambut dengan baik keramahan Rika padanya. Segera diambil satu tusuk sate kelinci. Mencabut seiris dengan giginya. Mengunyah dan memang sangat empuk, terasa enak yang khas. Lidah dan mulut sedang menikmati sensasi rasanya.
"Enak nggak, Ril,,?" tanya pemilik sate. Memperhatikan Eril yang sedang mengunyah dan kemudian mengangguk-angguk sambil tersenyum.
"Ril, sorry ya. Boleh nanya dikit nggak? Aku penasaran,," tanya Rika terdengar ragu-ragu.
"Ada apa, kak Rika. Jangan ragu, tanyakan saja padaku,," sambut Eril. Merasa kepo dengan apa yang akan Rika tanyakan.
"Ril, kamu tahu nggak, kamu sama pak Benn menikah itu sebenarnya mengejutkan. Para karyawan seperti tak percaya dengan pernikahan kalian. Sebab,,," Rika nampak bimbang melanjutkan.
"Sebab apa, kak Rika.? Katakan saja, jangan khawatir, kak. Aman kok,," bujuk Eril pada Rika. Rika sedikit geser dan agak merapat lagi pada Eril.
"Aku jujur ya, Ril. Kamunya jangan kaget.. Pak Benn itu gay, sukanya sama laki-laki. Dan, yang sangat kami ingin tahu,, kamu sudah pernah disentuh sama pak Benn apa belum,Ril?" tanya Rika dengan suara yang pelan.
Meski sudah tidak terkejut lagi, tetap saja merasa sedih dan iba. Nama Benn sudah tercoreng dan cacat di mata para bawahannya. Dibicarakan miring di belakang, disanjung manis di depan. Kasihan sekali Benn..
"Benarkah, mbak? Seperti itu? Padahal, mas Benn sangat garang di ranjang, mbak.." terang Eril. Tidak ragu-ragu mematahkan. Merasa tak rela jika Benn disepelekan dan direndahkan.
"Ah, kamu bohong ya, Ril,? Pak Benn pun, sering kepergok membawa lelaki ke sini," wajah Rika sangat tidak percaya.
"Dia suamiku sendiri, mbak. Aku mana bohong,," Eril tersenyum meyakinkan.
"Sulit dipercaya lah, Ril. Banyak wanita cantik yang nyoba ngetest pak Benn. Nggak ada yang berhasil. Itunya nggak bisa tegang. Jika benar kata-katamu itu, berarti,, kamu hebat, Ril. Salut,," bisik Rika yang tiba-tiba mendekatkan kepalanya pada Eril.
"Eh, iya,," Eril tercekat. Rika terlalu mendekat baginya.
"Ril, ajarilah, apa saja kunci-kunci untuk menaklukkan lelaki,,?" Eril kini lebih tercekat.
Menelan liur saja terasa sangat susah. Rika berbisik begitu dekat dan rapat. Bahkan bibir Rika sudah menyentuh telinganya. Eril merasa geli dan risih luar biasa.
"Eh, kak. Sorry, aku naik dulu. Mas Benn sedang menungguku. Ingin dibuatkan air putih hangat. Bye, kak,," pamit Eril buru-buru. Dan segera berdiri.
Berjalan cepat meninggalkan meja makan dan menuju pintu dapur. Seperti setengah berlari naik tangga. Merasa dadanya sangat cemas. Takut jika dikejar dan ditahan lagi oleh Rika.
ππππ Vote me, please,,ππππππ