Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
53. Rasa Nano-Nano


Eril menahan tawa dan menggantinya dengan senyum yang manis. Benn di saat seperti itu memang sangat kekanakan dan manja. Dengan wajah tampan agak kusut tapi justru menampakkan aura gentlenya. Tapi sayangnya...


Ah, Eril merasa gemas memandang Benn yang nampak kusut begitu..


"Evan tidak akan mengganggumu. Dia akan naik ke tempat tidur sendiri jika bosan. Aku akan sambil mengawasinya. Kamu nikmati saja pijatanku nanti dengan nyaman, ya Benn..." Jelas Eril dengan senyuman.


"Dan,,, sepuas hatimu, Beenn,,," sambung Eril dengan suara yang sengaja dibuatnya manja dan pelan.


Raga yang berulang kali merasa panas dan dingin sebelumnya, kini terasa lebih panas membara. Kembali merasa kesal,, jika saja tidak ada bocil itu..


Benn akan rela merasa sakit kepala lagi malam ini. Memilih tidak ada harga diri daripada menahan hasrat nafsu seperti ini. Meski nyeri yang akan dirasakan nanti akan lebih hebat lagi sekali pun!


Lelaki itu bungkam dan meninggalkan Eril begitu saja. Meluncur menuju kasur dan membanting dirinya di sana. Merasa begitu frustasi dengan keadaan kacau dirinya. Dan merasa jika Eril adalah bahan bakar yang dahsyat baginya.


Evan yang tengah asyik bermain, memecah perhatian ke arah tempat tidur. Melihat Benn yang meloncat dan merebah tengkurap di sana. Memandang dengan termangu-mangu wajahnya. Seperti sedang ada yang tengah dipikirkan.


Wanita cantik dengan tubuh sintal yang tadi masuk kamar mandi dengan baju tertutup, sedang berjalan keluar dengan baju yang berubah super mini dan seksi. Lingerie berwarna merah cerah telah menggantung dan melekat indah di tubuhnya. Penampilan yang luar biasa menggoda.


Merasa terkejut, konyol dan segan. Benn nampak duduk menyandar di ranjang dengan wajah lebih kusut dan pandangan yang sayu padanya. Di sebelah ada Evan yang duduk memandang lelaki suntuk itu dengan tatapan yang kesal. Juga berserakan banyak mainan di tempat tidur mengelilingi mereka.


"Lhoh, Vaan. Kenapa mainannya dibawa ke atas banyak-banyak,,?" tanya Eril dengan lembut. Dihampiri pembaringan dan akan diambilnya mainan yang terdekat.


"Om Pen tadi culuh Epan tidul copa. Atu atut, maa. Om Pen aja culuh di copa,," Evan mengadu serius pada ibunya. Eril memandang Benn yang juga sedang memandang lekat padanya. Sepertinya Benn sedang susah bernafas memandangi penampilan Eril yang seksi. Dan tidak lagi memikirkan apapun aduan bocil itu tentang dirinya.


"Lalu, kenapa mainannya banyak sekali yang dinaikin, Vaan?" tanya Eril dengan suara yang sabar.


"Bial om Pen idak muat. Om Pen nakal, ma," terang Evan dengan serius maksimal.


Eril terdiam, melirik Benn yang nampak mendengus dan lalu merebah. Berbaring miring ke samping. Membelakangi Evan dan dirinya. Lelaki itu tidak mau mengalah lagi untuk tidur di sofa. Mungkin benar-benar sedang memunggu dipijat. Eril merasa serba salah.


"Evan, masih mau main apa bobok? Ini sudah malam, lho Vaan. Mama akan matikan lampu sebentar lagi,," jelas Eril agar anaknya paham dan tanpa harus memaksanya.


Evan nampak bingung, memandangi mainan-mainannya dan juga melihat punggung Benn. Sang ibu mengerti akan pandangan balitanya.


"Sini, Vaaan,,kamu ingin tidur sama mainan? Malam ini saja tapi ya,," tanggap Eril pada anak lelakinya.


Segera dikumpul seluruh mainan yang berserakan di atas ranjang hingga Eril harus naik untuk menggapai seluruhnya. Disusun seluruh mainan sejajar memanjang di tepi ranjang menyerupai pagar dari mainan.


Wajah Evan nampak cerah dan tersenyum.


"Suka nggak, Vaan? Ini benteng takeshi ya, Vaan," tanya Eril menatap anaknya.


"Cukaa, Epan mau tidul, ma," ucap Evan sambil bergeser merangkak mendekati pinggir pagar mainan.


"Ma ayo tidul cama Epan,," tapi Evan tiba-tiba berkata. Eril memandangnya sebentar.


"Mama ambil selimut," sahut Eril.


Meraih selimut yang menggantung di ujung ranjang. Dibentangkan menutupi sebagian pembaringan. Sejenak lupa dengan misinya. Merasa begitu segan. Ada Benn yang juga tidur di ranjang yang sama. Apa dia sudah tidur. Sepertinya belum..


Dengan rasa debar, direbahkan dirinya dekat Evan. Ranjang itu sangat luas. Di antara Eril dan Benn, masih bisa diselipkan dua orang lagi di tengah.


Meski bukan yang pertama tidur satu ranjang bersama Benn, tapi keadaan tidur seperti itu adalah yang pertama dan menimbulkan sensasi yang unik. Eril merasa seperti sedang mempunyai sebuah keluarga yan sempurna.


Ah, andai saja Benn mau benar-benar menerima dirinya bersama Evan. Andai Benn menginginkan Eril untuk selamanya. Andai Benn mau memposisikan dirinya sebagai ayah Evan...


Ah, tapi apa mungkin Benn sudi,,? Sedang dengan Evan saja lelaki itu demikian tidak suka. Dipandanginya Evan yang sudah memejam lelap dan nyenyak. Eril merasa sedih dan nelangsa. Sampai kapan buah hati yang malang itu tidak punya sosok ayah,? Ayah kamu di mana, Vaaann,,?


Ingin rasanya merayu Benn agar sudi bersikap sedikit lebih manis pada Evan. Tapi merasa segan. Benn sudah cukup bersikap baik pada dirinya juga Evan. Mungkin kebaikannya hanya cukup sebatas itu.


Akan sakit andai lelaki itu mencela dirinya sebagai perempuan yang tidak tahu diri dan tamak. Sedang perasaan memang tidak bisa dipaksakan. Benn tidak suka dengan Evan..


Eh..Degh...!


Sangat terkejut rasanya. Di tengah asyik melamun, tiba-tiba merasa selimut tebal itu ditarik dan dinaikkan. Ternyata Benn lah yang melakukannya. Lelaki itu tidak tidur.


Kian berdebar saat tubuh besar itu mendekat dan merapat di punggungnya. Mengulur sebelah tangan dan memeluk erat dirinya.


Eril merasa tubuhnya tegang dan kaku sesaat. Serba salah bagaimana merespon. Merasa sedang lemah dan tidak mampu berakting. Sedang merasa kecewa pada lelaki yang tidak bisa menerima anaknya dengan ikhlas. Eril memilih pasrah dan menunggu.


Tidak ada suara sedikit pun dari Benn. Hanya tangan yang mulai bergerak itu sajalah penanda bahwa lelaki di belakangnya sedang siaga.


Dan kian lama tangan itu telah menjelajah ke mana-mana. Dan berpusat di dadalah akhirnya.


Merasa geli dengan ulah Benn yang menelusuri tengkuk, leher dan telinga dengan lidah dan bibirnya dari belakang. Kini Eril tak bisa mengendalikan lagi suaranya.


Sama juga dengan Benn. Desah yang mulai terdengar itu disambut Benn dengan erang desis yang kecil. Yang mungkin memang sudah ditunggu Benn sedari awal.


Tidak lagi saling segan. Kini keduanya tengah berlomba bersuara dan mendesah. Meski Eril hanya berperan sebagai penikmat dengan Benn lah yang sebagai aktor fighting sepenuhnya.


Saling janji untuk bertemu sebagai pemijat dan dipijat telah lupa dan diabaikan. Rasa kecewa pada sikap lelaki yang tidak menerima sang anak, telah juga dikesampingkan.


Sangat lama Benn mencumbu, dan hanya berani sebatas itu. Entah sampai seberapa lama. Mungkin hingga datang nyeri di kepalanya. Menyongsong rasa sakit dengan rasa nikmat yang tak pernah berlabuh.