
Tiga tahun yang lalu...
Merasa begitu lelah dengan penerbangan dari Jakarta ke Juanda-Surabaya selama dua jam, dan langsung bertemu dengan beberapa pimpinana mitra bisnis dari PT Ramayana, Benn segera menuju kamar sewa di hotel yang disediakan sang asisten. Kurang istirahat, kurang tidur, serta menghabiskan banyak minuman sesat bersama rekan mitra, badan Benn rasanya melayang dengan rasa pening di kepalanya
Namun pengaruh alkohol membuat lelaki lajang pemain wanita itu merasa tegang tidak tenang. Hasrat lelakinya sedang siaga dan justru jadi kian gila.
"Asluk, carikan barang high class serta pengaman yang terbaik biasanya. Ambil yang tercepat bisa datang. Lekas, asluk. Kutunggu,!"
Benn menutup telepon dengan asisten Lucky di ponselnya. Merasa sedang memerlukan subjek pelampiasan hasrat secepatnya. Benn tidak ingin membuang waktu dan menyita tidurnya lebih banyak.
Asisten Lucky hanya mondar-mandir di pelataran hotel tanpa memanggil taksi atau membuat sebuah panggilan untuk melayani permintaan sang atasan. Merasa jenuh dengan kelakuan sang tuan yang semakin kelewatan. Dan pasti dirinya yang akan kerepotan.
Benn merasa kian tegang dengan kepala yang melayang. Tidak sabar menunggu barang datang yang telah dijanjikan sang asisten. Kesal dengan ponsel asistennya yang tidak lagi dinyalakan.
Menyambar sweater dan dipakainya sambil berjalan, menutup rapat dada polos yang tadi sempat tak berbaju. Ingin keluar mencari hawa segar sambil menunggu yang dipesan.
Merasa gembira dan lega, wanita high class yang dipesan ternyata sudah datang. Benn merasa puas dan sangat menyukainya.
Wanita yang nampak bingung dan berdiri resah memandangnya di depan kamar, segera ditarik Benn ke dalam kamar dengan kuat.
Wanita yang melawan dan berteriak gencar saat Benn berusaha memulai, diabaikan tanpa ampun. Merasa hal itu sudah biasa dan sekedar permainan. Serta tidak peduli jika sang asisten belum menyerahkan pengaman padanya.
Wanita yang tak jauh beda dari Benn, sedang setengah sadar sebab minuman, telah lunglay dan pasrah segalanya.
"Ah, ah, sudah! Jangan, mas! Ah, ,,sudah,, nanti rusak,,,!" hanya seperti itulah yang sesekali terdengar dari ucapan wanitanya. Tentu saja Benn justru semakin gila dan memacu. Abai pada tangis yang keluar di antara sambut peluk tangan hangat dari wanita di bawahnya. Menganggap itu adalah peemainan dan tangisan buaya.
Benn tidak suka jika ada satu biji saja perhiasan yang menempel di badan. Dan cincin di jari wanita itu telah Benn lepas dengan mudah. Lelaki tampan itu adalah penggemar kepolosan di semua devinisi.
🌶
Benn keluar dari kamar mandi pukul satu malam dengan rasa lega dan puas. Merasa heran sejenak, sebab wanita yang baru ditiduri, telah pergi. Tidak ada lagi di ranjangnya.
Benn mengabaikan, menganggap jika asisten Lucky telah tunai membayarnya. Lelaki itu merebah dengan lampu tidur yang tetap selalu sangat remang serta pendingin ruangan yang hampir membekukan.
🌶
Asisten Lucky telah kembali di kamarnya dengan rasa gelisah. Kembali sedikit tenang saat ponsel yang telah diaktifkan tidak ada satu pun pesan dari sang tuan. Hanya sebuah panggilan pukul sebelas dan tidak ada lagi setelahnya.
Pagi harinya..
"Asluk, tolong rapikan ranjangku. Barangkali ada barangku yang tertinggal di sana,!" ucap Benn sambil melirikkan mata ke ranjang. Asluk mengangguk dengan perasaan sangat lega. Sang tuan tidak mengungkit hal semalam.
Sang tuan telah rapi dengan kemeja panjang tanpa jas dan dasi. Duduk santai di sofa sambil melihat tayangan seputar enam pagi di televisi.
Asluk segera menarik selimut yang hampir menutupi atas pembaringan. Segera dilipat asal dengan mata ke ranjang. Sangat terkejut, ada noda merah melebar di sprei putih bersih. Asluk hanya menduga yang terjadi. Sangat paham jika sang tuan akan sangat mudah untuk mendapat yang dimaukan. Lucky cukup diam, tidak ingin memancing kemarahan sang tuan atas abainya semalam.
Kembali menyapukan mata di ranjang. Terpandang sebuah cincin yang tidak jauh di sebelahnya. Lucky mengambilnya. Kembali menyisirkan mata dengan jeli. Tapi tidak ada lagi barang apapun yang nampak.
"Hanya itu? Ambillah, simpan saja untukmu, asluk," Benn melirik sekilas. Dan kembali mencermati televisi.
"Kita ke yayasan tuan Leehans untuk mengantar undangan, tuan Benn,?" tanya Asluk sambil mengantongi cincin di saku kemejanya.
"Iya, itu juga salah satu tujuan kita," sambut Benn.
🌶🌶🌶🌶🌶
Tiga tahun kemudian..
Mata Benn tidak hanya berkaca-kaca. Beberapa tetes telah jatuh ke bawah. Dibiarkan dan tidak diusapnya. Dipeganginya cincin A&D itu erat-erat. Benn seperti tengah menikmati tangisannya.
"Asluk, kamu yakin jika Eril bukan gadis panggilan? Apakah Evan adalah hasil perbuatanku waktu itu,?" Benn terasa lemas saat berkata. Sebab ingat jika Eril pernah menegaskan jika ayah Evan adalah lelaki yang menyentuh dirinya pertama kali dan sekaligus yang terakhir.
"Saya tidak paham, tuan Benn. Yang jelas waktu itu saya tidak memanggil wanita malam untuk anda, maafkan saya," ucap asisten Lucky sungguh-sungguh. Benn mengangguk kosong dan berdiri.
"Lucky, aku akan ke rumah mama. Kau ikut,?" tanya Benn tidak bermaksud mengusir asluk.
"Maaf, tidak tuan Benn. Sudah malam. Istri saya menungguku di rumah," tolak asluk nampak segan. Benn kembali mengangguk.
"Baiklah, ayo kita turun saja bersama," ajak Benn meraih segala kunci dari meja sofa.
Asluk mengikuti di belakang dengan sejuta pikir dan rasa. Iba dan terharu pada kisah hidup sang tuan. Meski semua adalah kebetulan. Berharap ini adalah kebaikan yang telah diatur sedemikian rapi olehNya, sang pencipta segala nasib dan takdir pada semua umatnya!
🌶🌶🌶
"Oh, Benn ,, mama tidak tahu bagaimana perasaan mama sekarang. Terharu,, bahagia,, juga kecewa.. Ah, tidak Benn,, mama terharu dan bahagia saja,, kecewanya dikiiit, Benn. Kamu kan sudah tobat total ya, Benn,," mama Donha mengacak-ngacak lembut rambut putranya. Merasa gemas dengan perbuatan Benn di masa lalu. Tapi merasa terharu dengan kebetulan yang membahagiakan. Sangat tidak disangka!
"Lalu, menurut mama bagaimana? Aku ingin menemui Eril sekarang. Aku ingin mengakui segalanya pada istriku, ma," ucap Benn sedih. Mama Donha mendiamkan tangannya sejenak.
"Tunggu, Benn. Mama percaya jika Eril perempuan yang baik. Tapi kita tidak tahu bagaimana masa lalunya yang benar bagaimana. Mama ingin diam-diam tes DNA nya Evan sama kamu, Benn. Biar lebih yakin dan akurat,!" seru sang mama tiba-tiba. Benn nampak kaget dengan usul sang mama.
"Ma, itu akan menyakiti Eril. Lebih baik kita tanya saja terus terang. Aku percaya dengan apapun pengakuan Eril nantinya, ma," kata Benn dengan nada tak suka pada usul mamanya.
"Yah, Benn... Mama ini sebenarnya tidak enak sama papa. Meskipun kamu dan Eril sudah mengakui bahwa Evan adalah hasilmu, papa itu tidak akan menerima begitu saja lho, Benn. Selama ini saja mama berusaha abai dengan sikap papamu yang ogah-ogahan sama Evan. Kayak terpaksa saja lho dia itu, Benn. Tapi ya kita makhlum lah Benn dengan sikap dan perasaan papa kamu."
"Pokoknya mama ingin diam-diam ngajakin tes Evan diam-diam. Mudah-mudahan memang betul anak kamu. Dan papa kamu menerimanya lahir batin, Benn. Kamu nggak kasihan sama istrimu jika papa terus beranggapan miring pada Eril,? Padahal kamu sendiri yang sudah ngerusak masa depan istrimu itu, Benn," sang mama berapi-api menjelaskan. Matanya berkilat penuh semaangat.
"Baiklah, ma. Terserah mama saja. Kudukung. Tapi bagaimanapun, aku tidak akan menceraikan Eril hingga kapan pun. Eril akan terus jadi istriku selamanya. Dan Evan,,, akan kuanggap dia darah dagingku, ma. Eril tidak mungkin bicara bohong." kata Benn dengan sesak dadanya.
"Iya, Benn. Mudah-mudahn memang kamulah satu-satunya lelaki yang pertama dan yang terakhir menyentuhnya. Dan jadilah Evan cucu kandung mama,! Ah, Benn,,kamu ini memang keterlaluan sekali. Memalukan,!" gerutu mama Donha pada putranya.
Sang mama masuk ke dalam kamar untuk bersiap. Bersiap menjumpai menantu dan cucunya. Merasa ini adalah bagian dari rizqi yang tak disangka. Diam-diam sang mama begitu bahagia..!!