
Benn masih tidur meringkuk saat adzan subuh berkumandang. Sama meringkuknya dengan Evan yang nampak terus nyaman tergolek di ranjang. Hanya bedanya, Benn berbaring di sofa tanpa selimut, sedang Evan bergelung dalam selimut di pembaringan yang empuk dan nyaman.
Eril yang baru meletak mukena kembali ke almari, berdiri sejenak di sofa dan merasa bimbang sesaat. Dipandanginya lelaki berbadan besar yang begitu tahan dengan hawa dingin dalam kamar. Merasa agak haru, meski sofa memang jumbo, tapi Benn yang terbiasa tidur sendiri di ranjang super luas itu mungkin sebenarnya tidak nyaman. Hanya merasa terpaksa dan harus rela menyerahkan ranjangnya untuk dipakai Eril dan Evan.
"Benn,,,Benn,,," panggil Eril. Nekat mendekati, sebab ingin membangunkan. Mengguncang pelan kaki lelaki itu.
"Benn,,,Benn,," ulang Eril sekali lagi. Benn nampak bergerak dan membuka kedua matanya dengan cepat. Nampak diam mengamati Eril dengan pandangan menyelidik. Mungkin sedang lupa sesaat bagaimana bisa ada wanita di kamarnya.
"Benn, aku akan turun ke lantai satu nyari dapur. Kamu bisa tidur di ranjang bersama Evan jika mau," kata Eril dengan lembut.
Eril akan pergi keluar kamar saat melihat Benn sudah duduk dengan mata setengah terpejamnya.
"Benn, apa kamu tidak shalat?" tanya Eril mengingat kan.
Benn hanya bungkam lalu berjalan cepat menghampiri ranjang dan menyelusupkan diri ke dalam selimut bersama Evan. Mata elangnya tidak memejam. Namun kembali memandang Eril yang tersenyum kecil melihatnya, dan kemudian hilang ke luar kamar dengan membawa benda-benda yang Benn tidak paham untuk apa.
Benn membalikkan badan. Matanya yang sudah kembali terbuka sempurna menatap bocah di sampingnya dengan bermacam perasaan.
Bocah tampan dengan hidung mancung dan mata rapat memejam itu sesaat membuatnya merasa iri. Evan tidur begitu lama dan tanpa beban yang dipikul.
Juga merasa kesal dengan seseorang yang menyebabkan adanya Evan. Sedang kini entah di mana tak peduli. Dan justru anak dari pria gila yang ceroboh menabur benih itu sedang tidur lelap dan nyaman di ranjangnya.
Merasa agak kesal lagi,,, sebab adanya Evan, dirinya harus rela tidur di sofa. Meski tidur yang hanya sebentar itu sangat nyenyak, hingga Eril menyentuh membangunkan, tapi Benn merasa tubuhnya begitu pegal dan kebas saat bangun.
Lebih parah lagi, Benn tidak tenang jika membiarkan ibunya bocah itu tidak tinggal dekat bersamanya. Tidak tenang jika saling berjauhan. Mengingat Eril tengah di dekati polisi muda yang tampan itu, rasanya amat tidak suka dan sangat tidak nyaman. Benn berfikir bahwa Eril adalah istri sah yang masih tetap miliknya.
Dan tujuan utama menyimpan Eril di kamar bersamanya adalah, sang istri yang diperoleh dari iklan itu ternyata adalah alat terapi rahasia dan mujarab untuk sakitnya yang memalukan.
Namun, sekarang merasa tidak leluasa sebab adanya si Evan, anak wanita itu yang tentu akan menempel ibunya ke mana-mana.
Ah, Benn kesal sekali pada bocah yang masih saja tidur pulas di atas tempat tidur miliknya.
πΆπΆ
Pagi-pagi sekali, Benn telah melajukan mobilnya membelah jalan raya bersama ibu dan anak yang duduk di sebelahnya. Menuju rumah orang tua, terutama sang mama yang gencar meminta agar Eril dibawa ke sana.
Tidak peduli jika ternyata menantu perempuannya itu telah memiliki anak yang tidak jelas siapa bapaknya. Nyonya Donha begitu berbesar hati untuk tetap ingin bertemu Eril, perempuan pilihan anak tunggalnya. Meski sebab iklan dan hanya sebatas enam bulan.
Benn membawa mobilnya dengan kencang, agar sampai ke rumah destinasi lebih cepat. Berencana diam-diam untuk meletak Eril dan anaknya seharian di rumah ibunya. Benn akan pergi bekerja kembali ke perkantoran di gedung utama selepas makan pagi.
"Maaa,, om Peen nyetilnya ngebut,,,takuut.. Om Opan nyetilnya pelaaan, Epan ceneng, tak takuut,,," Evan tiba-tiba berkomentar.
Sang ibu yang baru menerima aduan putranya itu berusaha untuk menanggapi dengan bijak.
"Sabar ya, Vaaan... Om Benn itu mungkin punya cita-cita jadi pembalap dunia... Jadi suka ngebut, bagi om Benn itu rasanya seruuu.. Tapi om Benn lupa jika sedang membawa mama dan Evan yaa.." redam Eril sambil mengelus punggung Evan. Namun juga tidak berminat menegur cara Benn mengemudi.
Evan merasa leher dan matanya kewalahan mengejar pandangan di sisi jalan. Kini telah menyandar di pelukan ibunya dan menoleh memandang Benn dengan sebal. Pengemudi tampan itu memang begitu kuat menginjak kecepatan mobilnya. Tidak sadar telah mengganggu kesenangan bocah gimbul di sampingnya.
Tapi komentar polos bocah itu barusan, terasa tajam dan seperti duri saja terdengar. Jadi Benn tidak peduli dengan protes Evan serta jawab sindiran dari Eril. Mobil itu terus saja ditekan kencang oleh kaki kanan di pedal gasnya.
πΆπΆπΆ
Ibunya Benn telah berdiri standby saat mobil hitam itu memasuki halaman. Berhenti di sana begitu saja tanpa lebih menepikannya lagi di garasi. Sang ibu seketika paham jika Benn akan pergi lagi kemudian.
Eril merasa berdebar sambil menggenggam pergelangan tangan Evan, saat ibu mertua yang cantik itu berjalan mendekat. Melihat wajah cantik setengah tua sedang tersenyum padanya, Eril segera menyongsong mendekat meski rasanya tetap ragu.
"Apa kabar, Eril? Kenapa baru datang hari ini? Apa dia Evan, anakmu,,?" tanya ibunya Benn beruntun.
"Iya, nyonya. Ini Evan, anak lelaki saya. Maaf, ternyata nyonya sudah tahu?" tanya Eril terheran sekaligus segan, namun juga merasa sangat lega dengan sambutan hangat mertua sementaranya.
Semua debar resah, khawatir dengan sambutan yang sinis atau juga tidak ramah dari orang tua Benn, menguap dengan cepat dan berganti rasa haru. Ibunya Benn terasa manis menyambut mereka.
"Iya, itu si Benn yang cerita ke mama kemarin. Eril, jangan panggil nyonya, panggil mama saja, yaa... Eh, Evan... Yuk gandeng oma, yuk.." ucap ibunya Benn sambil mengulur tangan mengambil lengan Evan dari genggaman tangan Eril.
Ibu muda itu mengangguk menanggapi permintaan sang mertua. Lalu berjalan mengikuti mereka di belakang. Ternyata Benn sudah duduk diteras dengan santai sambil memandang mereka.
"Benn,,! Kamu sudah breakfast? Langsung ke meja makan saja, Benn,,!" seru sang mama menegur putranya.
"Papa mana, ma?!" tanya Benn, berjalan menyusul mengekori. Di belakang Eril tepatnya.
"Ada panggilan mendadak dari hotel. Entah apa masalah mereka pagi ini, mama tak ingin dengar. Tak ingin merusak moment berjumpa dengan istri kamu, Benn,,!" seru nyonya Donha dari depan sambil menggendong Evan.
Bocah tampan itu terus memandang wajah perempuan yang menggendongnya dengan sesekali memandang sang ibu di belakang. Seperti sedang tidak paham siapa orang yang menggendong tapi terus menyimpan keponya. Sikap Evan memang cukup manis dan menurut. Seperti telah paham dengan jalan hidup sang ibu sekaligus dirinya.
Mereka telah sampai di meja makan keluarga Irawan yang telah tersusun bermacam menu sarapan di atasnya. Benn duduk di sebelah Eril yang tetap tanpa Evan. Sebab bocah itu nampak patuh saat wanita yang baru menggendongnya, meletak dudukkan Evan di sampingnya.
"Evan, kamu bisanya makan apa? Nasi sama nuget ayam wortel mau? Atau nasi sama sayur sop? Atau apa,,? Lihat,,, oma masak banyak.. Eril, ayo makanlah, jangan segan-segan, yaa,," ucap ramah mama Donha sambil memandang Eril dan Benn bergantian.
"Maaa, apa saya saja yang duduk di samping , Evan? Nanti sarapan mama terganggu.,," ucap Eril merasa segan jika merepotkan.
"Eh, Eril,,kamu makan yang tenang, yaa. Mama suka,,, jadi ingat waktu Benn masih segini,,, tapi Benn itu susahnya minta ampun soal makan," keluh mama Donha sambil tersenyum.
"Tapi kan hasilnya sama juga, ma. Tetap saja gede dan pinter," pongah Benn. Sambil menyempatkan menjelingkan matanya pada Evan. Bocah itu terus mengamati dengan tatapan berjuta makna padanya.
"Evan, tadi pas di perjalanan, papa Benn ngebut nggak?" tanya mama Donha sambil meninggikan kursi Evan. Evan mengangguk-angguk dengan tatapan mengadu.
"Maa,, suruh dia panggil, om Benn,,! Aku bukan bapaknya,,!" sela Benn, berseru tidak terima dengan sebutan dari mamanya. Lelaki itu mengangkat alis tinggi-tinggi saat Eril menoleh memandangnya.
"Oh, panggil om Benn, ya Vaaan. Om yang ngebut itu dulu memang tukang balap andalan, Vaaan. Nanti oma tunjukkan piala-piala yang pernah didapat oleh om Benn. Sekarang makan dulu, yaa. Biar hebat dan suka menang kayak, om Benn,," bujuk mama Donha dengan bangga pada bocah itu.
Evan mengangguk dan menurut, membuka lebar mulutnya saat mama Donha menyodor sendok berisi makanan ke arahnya.
"Kamu buru-buru banget makannya, Benn? Mau kembali ke gedung?" tanya mama Donha sambil mengamati gelagat anak lelakinya saat makan.
"Iya, ma. Titip Eril sama dia, biar di sini dulu ya, maa,," kata Benn tergesa dengan menunjuk dagunya pada Evan. Mengabaikan wanita yang duduk di samping dan sedang menoleh kaget padanya.
"Iya, Benn. Tenang saja.." sahut kalem sang mama.
Eril kian berdebar dadanya. Meski ibu mertua berhati mulia, tetap saja terasa kikuk di perjumpaannya yang pertama.
Namun merasa bersyukur dengan adanya Evan di antara mereka. Balita lelakinya itu akan bisa menjadi pencair hangat di segala kondisi dan suasana.
πΆπΆπΆπΆ
ππππ
ππππ
Assalamualaikum..
Jangan lupa... Bermurah hatilah untuk menghempas VOTE Isnin mingguan-mu untuk otor, di karya ini ya... Arigatoo..ππ
Wassalam.