
Makan malam berselimut kerja kemanusiaan oleh empat orang kantoran, plus satu orang penggembira, menunjuk gelagat berakhir sebentar lagi. Mereka nampak saling diam dan mengemasi barang pribadi milik sendiri. Yang di antaranya adalah ponsel, note kecil, dan tas kerja masing-masing.
"See you tomorrow, boss,,! Assalamu'alaikum,,!!" pamit Fadhil, Asep dan Rika kompak dan hampir bersamaan.
"Wa'alaikumsalam, terimakasih dengan kesungguhan kalian,,!" jawab Benn menanggapi. Mereka saling bersalaman dengan Benn dan juga dengan Eril.
"Kuharap kita akan berteman lebih akrab lagi, nyonya Benn,,"
Rika yang terakhir bersalaman dengan Eril, mengatakan hal itu dengan sopan dan sangat lirih. Yang disambut dengan senyum dan anggukan oleh Eril. Merasa senang dengan sambutan hangat dari salah satu pegawai Benn di gedung.
Rika juga tinggal di gedung utama lantai dua. Sedang tempat kerjanya sama lantai dengan Asep dan Fadhil di kantor lantai satu.
Eril dan Rika, mereka belum pernah saling bertemu. Sebab jalur hilir mudik mereka sama sekali tidak sama. Mungkin hanya di dapurlah kemungkinan besar bagi mereka, salah satu tempat untuk bisa saling bertemu kebetulan.
"Apa yang tadi telah Rika bilang padamu, Ril,,?" tanya Benn setelah di meja itu hanya tinggal mereka berdua saja yang duduk.
Eril memandang Benn. Ternyata tajam juga telinganya..
"Rika berharap agar kami saling mengenal lagi," terang Eril pada Benn yang diam mengamatinya.
Raut Benn nampak masam. Memundurkan badan dan menyandar di kursi. Memandang Eril yang sedang meneguk sisa air teh hangatnya dari gelas.
"Sebaiknya tidak usah berteman dengan wanita itu, Ril,," kata Benn yang terdengar agak aneh bagi Eril.
"Kenapa, Benn,,? Bukankah Rika adalah pekerjamu yang bagus?" tanya Eril tidak mengerti.
"Perempuan itu memang sangat bagus dalam bekerja. Hanya sayangnya, dia itu lesbong,," jawab Benn terdengar lirih.
"Yang betul, Benn,,? Dia nampak dewasa. Tidak aku sangka,, ternyata lesbian,,"ucap Eril termangu.
Masih merasa tak percaya jika wanita karir yang nampak smart dan elegant tadi, mempunyai fantasi yang menyimpang.
"Kau sudah kenyang? Kita ke puncak sekarang?" tanya Benn. Matanya melekati penampilan Eril yang memang telihat lebih mencolok malam ini.
"Sudah. Aku kenyang sekali, Benn. Terimakasih, kamu mengajakku keluar,," ujar Eril dengan wajah bersemangat. Benn hanya tersenyum samar sambil menaikkan alisnya. Menggoda Eril sebentar.
Lelaki itu sedang bersiap untuk on the way dengan kunci mobil yang sudah dimain putar di tangan. Dan benar-benar berdiri saat Eril telah memundurkan kursinya.
Benn tidak lagi menggandeng tangannya. Mungkin lelaki itu hanya sekedar ingin menunjuk tingkah mesra di depan para rekan kerja. Eril berjalan sangat cepat berusaha mengimbangi kaki Benn yang panjang dan laju berayun.
🌶🌶 🌶
Mobil yang senantiasa berhawa kutub sebab mesin pendingin, kini terasa sejuk sebab hembusan angin puncak menerobos menyelip masuk mobil. Benn sedang membuka sedikit kaca di pintu sampingnya. Mesin pendingin sedang tidak berguna untuknya.
"Kalian sering ke puncak, Benn?" tanya Eril memecah hening sunyi.
"Tidak lagi. Dulu sering juga,," sahut Benn santai.
"Kenapa,,?" lanjut Eril.
"Dulu,, hotel dan resto Irawan's Family juga di puncak. Tapi kemudian dijual papa dan bikin lagi di Irawan's Family yang sekarang itu." terang Benn dengan santai.
"Kamu sendiri, tidak pernah pergi ke sana?" Eril bertanya kembali. Menoleh pada Benn yang sedang tenang mengemudi.
"Sama dengan orang tuaku. Dulu sering, sekarang jarang,," sahut Benn akhirnya.
Eril terdiam, tidak lagi bertanya. Juga tidak ingin menanggapi jawaban Benn yang dikatakannya barusan. Sepertinya lelaki itu sedang enggan menerangkan.
🌶🌶🌶
Tin...!! Tin...!! Tin...!!
Benn membunyikan klakson bisingnya seperti biasa. Tidak peduli meski penjaga gerbang telah melihat kedatangannya dari jauh. Namun sikap yang sama juga ditunjukkan oleh penjaga di gerbang.
Penjaga gerbang tidak begitu panik dengan bunyi bising yang Benn tunjuk untuknya. Tetap bergerak santai membuka manual pintu gerbang. Mereka berdua sepertinya sudah saling paham dan saling mengerti akan kebiasaan masing-masing.
Vila megah di balik gerbang tinggi itu nampak lengang dengan lampu menyala terang yang dipasang di tiap pojok dan sudut.
Benn mengambil sebuah kunci dari dalam laci dashboard. Kemungkinan itu adalah kunci pintu di rumah vila.
"Hampir pukul sebelas. Mungkin semua sudah tidur. Anakmu yang gendut itu pun kurasa juga dah mimpi-mimpi, Ril."
Benn berbicara pada Eril sambil membuka pintu Vila. Hingga pintu dibuka lebar dan mereka berdua sudah masuk, tak juga ada orang yang menyambut mereka. Mungkin benar, mereka semua telah tidur.
Oh,,Evan sudah tidur.. Eril menghembus kuat nafasnya dan merasa kecewa yang sangat.
"Tuan muda, Benn..! Anda baru sampai?" tanya sopan seseorang dari arah dapur di samping. Dan nampak terheran memandang Eril.
"Mbak Sri,,, iya kami baru datang. Ini Eril, istriku,,!" kata Benn memperkenalkan.
Wajah wanita berumur itu nampak terkejut. Menyambut uluran tangan wanita cantik yang terus tersenyum manis dengan termangu-mangu.
"Benar sudah menikah? Kapan,,tuan muda Benn menikah,,?!" wajah setengah baya itu sama sekali tak percaya.
"Untuk apa bohong, mbaaak,,! Jika belum menikah, Eril tidak akan kuajak datang ke sini untuk nyusul ortuku, mbaak,," jawab Benn dengan menahan tawanya.
"Mbak, semua sudah tidur?" tanya Benn memandang asistent rumahnya yang setia itu.
"Iya, sudah tuan Benn. Mereka sudah beristirahat. Terus ada anak kecil yang lucu itu,, juga sudah tidur,," terang mbak Sri sangat gamblang. Benn mengangguk.
"Mbak, tolong buatkan satu kopi dan satu susu putih hangat, ya. Dan langsung antar ke kamarku. Makasih yo mbak,," ucap Benn sambil tersenyum.
Kemudian mengambil tangan sang istri yang sedang tersenyum-senyum ramah pada wanita setengah baya itu. Membawanya lebih masuk lagi ke dalam vila.
Aisten rumah sekaligus wanita penunggu vila yang oleh Benn dipanggil mbak Sri, tertegun dan berkerut dahi. Memperhatikan pasangan lelaki dan wanita yang tengah bergandeng mesra menuju kamar utama milik tuan muda.
Seperti tidak percaya jika Benn sudah menikah. Hanya satu yang membuat asisten itu mengakui kebenaran telinganya. Tuan muda telah membawa wanita cantik dengan tubuh berisi itu masuk ke dalam kamar pribadinya.
Meski Benn adalah lelaki brengsek dan tak terhitung lagi berapa puluh kali membawa wanita ke vila. Mereka selalu ditempatkan di salah satu kamar tamu di depan. Yang akan didatanginya saat malam atau kapan pun yang diinginkan. Baru kali inilah Benn memasukkan wanita ke kamar pribadinya. Dan itu telah bertahun-tahun yang lalu.
Asisten itu tersenyum merasa ikut lega. Benn akhirnya menemukan wanita dan menikah. Setelah sekian tahun dan lama Benn tidak membawa lagi wanita ke villa, sebab rumor jika lelaki tampan itu telah berubah jadi penyuka lelaki.
Bukan hanya rumor dan mendengar, tapi memang sudah beberapa kali juga Benn membawa lelaki tampan dan kekar ke villa. Dan tentu mbak Sri sendiri lah yang menyambut dan melayani mereka yang oleh Benn juga ditempatkan di kamar tamu.