Hasrat Palsu (Selfish Marriage)

Hasrat Palsu (Selfish Marriage)
66. Tinggal Terpisah


Hampir satu minggu Benn menitipkan Eril dan Evan di rumah orang tuanya. Tidak sekali pun Benn pergi mengunjungi mereka berdua. Meski belakangan sang mama cukup bising bertanya adakah masalah di antara mereka pada Benn, tapi Benn masih belum ingin mengambil Eril di rumah sang mama.


Merasa bahwa istri masih kecewa dan marah padanya. Sebab Eril tidak pernah mengirim pesan dan menelepon untuk dijemput atau ungkapan apapun yang menunjukkan jika wanita itu ingin bertemu. Eril tidak mengharap Benn untuk muncul di depannya.


Benn merasa galau belakangan ini. Merasa diri sedang terbanting. Terlebih dengan sikap Eril yang masih juga belum berubah, tidak ada kemajuan sama sekali. Merasa tidak berdaya dan tidak berguna sebagai suami.


Tidak lagi percaya diri untuk memaksa, menahan, atau bersikap keras pada istrinya seperti dulu. Benn merasa berubah lemah jika berhadapan dengan Eril. Menjadi lelaki yang tidak punya kekuatan. Dan lelaki yang sedang kekurangan.


🌶🌶🌶


Lelaki yang terlihat tegap dan gagah dengan jas kerja berdasi, sedang melaju kencang bersama mobilnya menuju resto Irawan's Family tengah hari. Sangat bersemangat berangkat.


Hal yang diharap dan sangat ditunggu selama ini terwujud. Eril mengirim pesan untuk bertemu siang ini. Benn menyambut gembira dan mengajak makan siang sekalian.


Wajah yang selalu terlipat ketat itu nampak cerah dan tampan. Mengingat kemungkinan jika istrinya sangat ingin bertemu dan bisa jadi sedang rindu. Hati yang sempat menciut kini sedikit mengembang dengan hangat. Benn sedang sangat bersamangat.


"Assalamu'alaikum,!" salam Benn berseru. Eril tidak menunggu di meja dalam. Tapi sedang di luar bersama Evan. Duduk di bangku depan restoran.


"Wa'alaikumussalam, Benn,!" seru Eril memberi balasan. Benn melempar senyum kaku pada balita tampan yang duduk sendiri di samping ibunya.


"Apa kabar, Ril,?" Benn hanya tersenyum tipis pada Eril. Tidak ada senyum hangat dari sang istri untuknya. Eril tetap tidak seperti dulu lagi. Hati Benn merasa tidak enak kembali.


"Baik. Benn, aku ingin bicara denganmu," ucap Eril memandang kaku pada Benn.


"Ayo ke meja saja," ucap Benn dengan datar. Berjalan di depan dan Eril mengikuti dengan Evan.


Benn membawa Eril ke meja privacy di dalam ruangan. Pasangan suami istri duduk saling jauh dengan berhadapan.


"Ingin bicara tentang apa,?" tanya Benn dengan perasaan tak menentu. Dan Eril menghela panjang nafasnya.


"Benn, aku ingin kembali ke rumahku, boleh,?" tanya Eril terdengar mengiba.


"Aku ingin bersantai sebentar saja, Benn." jawab Eril menunduk. Evan sedang memperhatikan ikan-ikan di aquarium.


"Bersantai? Kau tidak gembira tinggal bersamaku,?" tanya Benn dengan aura yang dingin. Tidak ada kehangatan lagi di antara suami dan istri itu.


Eril hanya menunduk terdiam.


"Kau ingin meninggalkan aku? Pergi dariku? Ini belum enam bulan, Ril," ucap Benn dengan malas. Namun ada harap agar Eril mengubah pikiran dan keinginannya.


"Bukan seperti itu, Benn. Kamu jika ada keperluan, masih bisa berkunjung dan menemuiku, aku tetap akan menjumpaimu, Benn." terang Eril dengan nada yang sendu.


Benn berkerut dahi dan memicingkan matanya. Kelebat syarat mendikte kepalanya.


"Kau dan Evan boleh tinggal terpisah dariku. Tapi aku yang akan mencarikan tempat untuk kalian. Jika tidak mau, jangan pernah berfikir untuk tinggal jauh dariku." ucap Benn dengan nekat menguatkan hatinya.


Berharap dengan debar agar Eril setuju. Jika tidak, dan tetap ingin kembali ke rumah lamanya, Benn tidak bisa lagi pura-pura kuat dan menahan. Bagaimanpun, Benn sebenarnya sedang krisis kepercayaan diri yang parah.


"Baiklah, Benn. Itu tidak masalah. Yang penting, aku memiliki privasi sendiri dengan anakku ," sambut Eril akhirnya.


Ah, Benn merasa lega. Sedikit terhibur, Eril masih punya kepatuhan padanya. Meski masih bersikeras juga untuk tinggal terpisah dengan dirinya.


"Terimakasih, kau mau mengikuti syaratku, Ril. Akan kucarikan tempat untukmu secepatnya." ucap Benn jujur dan sekaligus menjanjikan.


"Sama-sama, Benn. Maafkan aku ya," ucap Eril dengan menunduk.


Benn tidak mengangguk atau pun menyahut. Terdiam dengan terus memandang Eril yang menunduk.


Makanan yang diminta Benn sebelum masuk ke privacy room telah diantar. Mereka mulai makan dengan bungkam, tidak ada semangat untuk saling berbincang. Isi kepala seperti sedang dipenuhi oleh beban masalah mereka sindiri-sendiri.